
Setelah acara ikrar janji pernikahan sudah selesai, pesta dansa pun di mulai.
Viola dan ayahnya memulai dansa pertama mereka, sebagai pembuka acara.
Setelah satu lagu selesai, berlanjut dengan dansa pasangan, dari mempelai pengantin dan pasangan dansa lainnya.
Riani hanya duduk di bangku tamu sambil melihat pasangan yang berdansa.
Teddy menghampiri Riani dan mengajaknya untuk berdansa bersamanya.
"Apakah kamu mau berdansa denganku?" ajak Teddy mengulurkan tangan sambil membungkukan badannya ke arah Riani.
"Tapi Ted...?" Jawab Riani agak malas bangun dari duduknya.
"Ayolah Ai, untuk kali ini saja...Aku ingin berdansa denganmu...?" Kata Teddy memohon pada Riani dengan wajah memelasnya.
Melihat ekspresi wajah Teddy seperti itu, hati Riani akhirnya luluh, di ulurkannya tangan Riani pada Teddy yang langsung di sambut senyum bahagia Teddy.
Mereka berdua pun menuju ke arena dansa, Teddy dan Riani hanyut dalam dansa dengan musik yang mengalun lembut, dari kejauhan terlihat dua pasang mata menatap kedekatan mereka, sepasang mata menatap dengan penuh rasa cemburu, sedangkan sepasang mata yang lainnya menatap mereka dengan penuh misteri.
Setelah musik berakhir Riani dan Teddy turun dari arena dansa.
Riani langsung duduk kembali di kursinya, sedangkan Teddy mengambil dua gelas minuman, satu gelas dia berikan pada Riani.
"Terima kasih..." Riani langsung menghabiskan minuman yang berupa jus apel itu hanyasekali teguk.
"Apa mau lagi minumannya?" tanya Teddy setelah melihat Riani meneguk habis minumannya
"Tidak, thanks..."
"Kamu Riani kan?" terdengar suara wanita dari arah belakangnya, membuatnya spontan berbalik ke arah tersebut, dan betapa terkejutnya dia karena ternyata tante Grace sudah berdiri tepat di belakangnya.
"Tante Grace?! maaf kalau saya tidak menemui dan menyapa tante terlebih dahulu" kata Riani sambil mencium punggung tangan tante Grace.
"Tidak apa-apa nak, sudah lama sekali kita tidak bertemu ya? tapi kamu kok bisa langsung mengenali tante ya..." Tanya tante Grace heran.
"Ya, hampir dua belas tahun, kebetulan Viola adalah teman saya, dan semalam dia mengirim foto kalian, jadi saya langsung mengenali tante dan om" jawab Riani.
"Oo begitu, Viola sekarang menantu tante, dia gadis yang baik, kalau boleh tante tahu siapa laki-laki ini?" tanya tante Grace sambil menengok ke arah Teddy.
"Perkenalkan ini Teddy, teman sekaligus atasan saya, dan Teddy...Ini tante Grace, dulu beliau tetangga sebelah rumahku" jawab Riani sambil saling memperkenalkan mereka masing-masing.
Teddy dan tante Grace saling bersalaman dan tersenyum ramah.
"Ya sudah, tante kembali menemui para tamu dulu ya nak Teddy, Riani" pamit tante Grace.
"Iya tante silahkan..." Jawab Riani dan Teddy bebarengan.
"Kapan-kapan kita mengobrol lagi, tante kangen sekali sama kamu, terkadang memang ada masa lalu yang harus kita lupakan meskipun itu sakit..." Bisik Tante Grace saat memeluk Riani.
Mendengar kata-kata itu, seolah tante Grace memperingatkan Riani agar tidak mengungkit kembali kejadian itu.
"Tante tidak perlu khawatir, karena saya sudah melupakan dan mengubur dalam-dalam masa lalu itu..." Jawab Riani dengan tenangnya, setelah mereka saling melepas pelukannya.
Tante Grace pun tersenyum lega setelah mendengar jawaban dari Riani, kemudian dia segera pamit dan berjalan ke arah para tamu undangan dengan senyun ramahnya.
__ADS_1
"Sebenarnya ada apa Ai, kenapa tante Grace terlihat waspada denganmu?" tanya Teddy yang ternyata peka dengan situasi yang barusan terjadi.
"Tidak apa-apa Ted, hanya ada rahasia di masa lalu diantara kami" jawab Riani penuh teka-teki.
"Oo begitu..." Kata Teddy singkat, karena dia tahu sifat Riani, kalau dia sudah berkata seperti itu, maka mau seperti apa rasa penasaran Teddy, dia tidak akan pernah mendapatkan jawabannya meski dia mendesak Riani sekalipun.
"Lalu acara selanjutnya apa ya Tedd, jujur aku merasa lelah sekali..." Tanya Riani, dia merasa tubuhnya lemas sekali dan tidak bertenaga, mungkin karena semalaman dia tidak bisa tidur.
Melihat wajah Riani yang pucat, Teddy khawatir dan segera memapah tubuh Riani untuk kembali duduk di kursinya.
"Untuk acara selanjutnya para tamu menikmati hidangan makan siang sedangkan acara resepsi pernikahan akan di adakan besok sore" jawab Teddy menjelaskan, dan dengan penuh perhatian dia memberikan segelas air pada Riani.
"Terima kasih ya Ted, maaf...Aku sudah sering merepotkanmu..."
"Jangan bilang begitu, aku khawatir sekali melihatmu seperti ini, sebaiknya kamu istirahat dulu ya, ayo aku antar kamu kembali ke kamar" ajak Teddy.
"Tapi aku tidak enak sama Viola,Ted..."
"Viola pasti akan mengerti kok, yang paling penting kesehatanmu Ai, ayo aku antar kamu berpamitan dulu pada mereka berdua" ajak Teddy.
"Baiklah, ayo..."
"Ayo aku bantu, kamu jalan pelan-pelan saja" Riani hanya mengangguk tanda setuju.
Teddy memapah Riani dengan memegang pundak Riani yang berjalan sambil berpegangan di lengan Teddy.
Sesampainya di depan pasangan pengantin yang sedang sibuk beramah-tamah dengan para tamu, Teddy dan Riani pamit untuk kembali ke kamar.
Melihat wajah Riani yang pucat, Viola langsung khawatir dan menyuruh Teddy mengantar Riani ke kamarnya, sedangkan Ethan hanya melihat keduanya dengan pandangan penuh artinya.
"Iya Ted, perutku sangat mual Ted, ingin muntah rasanya..." Kata Riani sambil memegang perut dan mulutnya.
"Maaf ya Ai..." Kata Teddy, kemudian...
"Aa! Teddy turunkan aku!" teriak Riani kaget dengan gerakan Teddy yang tiba-tiba menggendongnya.
"Maaf Ai, aku tidak bisa kalau menunggumu jalan, aku takut kamu tidak kuat, wajah kamu sangat pucat seperti itu" jawab Teddy yang tidak mengindahkan permintaan Riani.
"Tapi malu Ted, banyak orang yang melihat kita..." Kata Riani menundukkan kepalanya, karena mereka baru keluar dari taman tempat acara pernikahan Viola dan Ethan.
Dan saat Teddy melihat di sekitar, memang banyak mata yang melihat mereka berdua, tapi dia tidak perduli, karena dalam pikirannya ingin segera membawa Riani kembali ke kamarnya agar bisa istirahat lebih cepat.
Di sisi lain ada mata Ethan yang terlihat marah dan cemburu saat dia melihat adegan Teddy yang menggendong Riani.
.............
Sesampainya di kamar Riani, Teddy meletakkan tubuh Riani dengan pelan, karena di lihatnya Riani sudah tertidur dalam gendongannya.
Dengan lembut di selimutinya wanita yang hingga sekarang masih sangat ia cintai dan sayangi itu, di lapnya leher, wajah dan kening Riani yang berkeringat dengan handuk basah.
Melihat wanita terkasihnya tergolek lemas tidak berdaya seperti itu, air mata Teddy akhirnya jatuh tak tertahankan.
"Andai aku bisa menukar deritamu, aku rela menanggung semuanya, asalkan kamu bahagia wanitaku..." Bisik Teddy pelan di telinga Riani, yang terlelap.
Setelah di lihatnya Riani sudah tertidur pulas, Teddy berniat pergi dan mencari makanan lembut di luar untuk Riani, karena dia tahu kalau dari pagi perut Riani belum terisi apa-apa.
Namu baru saja dia melangkah, tiba-tiba dia di kagetkan dengan suara rintihan Riani.
__ADS_1
"Dingin...Aku ingin muntah...Aku kedinginan..." Rintih Riani.
Melihat itu Teddy segera mengambil plastik di sekitar ranjang kemudian membantu Riani untuk duduk.
"Jika kamu ingin muntah, muntahlah, muntahlah Ai..." Kata Teddy pelan sambil meletakkan plastik di bawah mulut Riani.
"Hoek...hoek...!" Riani memuntahkah isi perutnya yang hanya berisi air, karena memang dari pagi perutnya kosong.
Randi yang duduk di sampingnya dengan telaten menepuk-nepuk punggung dan memijit leher Riani.
Setelah Riani selesai muntah, Teddy mengelap bersih mulut Riani, kemudian membantunya minum air hangat yang sempat Teddy masak tadi.
Setelah agak reda, di rebahkannya kembali tubuh Riani di atas kasur dengan pelan.
Teddy segera membereskan dan membersihkan sisa-sisa muntahan Riani dan membuang sampahnya.
Riani yang sudah membuka matanya, melihat Teddy yang dengan telaten dan tidak jijik merawatnya hanya menangis penuh haru.
"Meski aku kini hanya mantan wanitamu, tapi kenapa kamu masih mau merawatku seperti ini, tolong Ted...Jangan membuat hatiku goyah..." Bisik Riani dalam hatinya.
Tiba-tiba Riani merasakan sangat dingin, tubuhnya seketika menggigil hebat hingga giginya saling beradu yang menimbulkan bunyi.
Mendengar gemeretak gigi Riani, Teddy langsung menghampirinya.
"Apa yang kamu rasakan Ai?" tanya Teddy semakin cemas.
"A...Aku kedinginan Ted..." Jawab Riani di sela-sela gemeretak giginya.
Teddy langsung menyelimuti Riani dan memeluknya, namun gemertak gigi Riani semakin intens membuat Teddy semakin cemas, di pegangnya wajah Riani yang pucat dan dingin.
Hingga tanpa pikir panjang lagi akhirnya...
Di cium dan di lumatnya bibir Riani yang dingin, Riani yang setengah sadar hanya pasrah dan tidak tahu apa yang sedang terjadi.
"Maafkan aku Ai...Hanya ini yang harus aku lakukan, kelak jika kamu membenciku karena kejadian ini maka aku akan menerimanya, dan jika suamimu tidak bisa menerimanya, maka biar aku yang betanggung jawab terhadapmu dan menerima dosaku..." Bisik Teddy dalam tangis dan perih di hatinya, pelan namun pasti tubuhnya semakin menyatu dengan tubuh Riani.
Hanya genggaman tangan mereka yang saling terkait erat dan desahan memburu keduanya yang terdengar, hingga akhirnya mereka menuju puncaknya secara bersamaan, yang membuat tubuh Riani pelan-pelan menghangat dan gemeretak gigi Rianipun terhenti entah sejak kapan.
.............
Teddy terbangun dari tidur lelahnya, di lihatnya wajah Riani yang tidak pucat lagi.
Di usapnya lembut wajah Riani yang berkeringat, Teddy tersenyum bahagia melihat cinta pertamanya itu terlelap dengan wajah damainya.
Kembali di ciumnya bibir dan kening wanita terkasihya itu, kemudian dia bangkit dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
.............
Selang beberapa menit Teddy pun selesai mandi, setelah memakai kembali bajunya dia berjalan menuju tubuh Riani yang berselimut namun belum terlapisi sehelai benang pun.
Dengan telaten, Teddy mengelap seluruh tubuh Riani dengan handuk yang di basahi air hangat, setelah selesai dia mamakaikan kembali baju Riani dan membersihkan tempat tidur Riani.
Karena dia ingin Riani tidur dan berisirahat dengan nyaman.
Dalam hatinya tidak ada penyesalan dengan apa yang barusan terjadi bersama Riani, dia melakukan semuanya karena niat hatinya yang tulus mencintai dan menyayangi Riani, karena apapun rahasia di masa lalu wanita terkasihnya itu, dia tidak perduli...
...☆☆☆...
__ADS_1