
Dalam perjalanan pulang Riani dan Radja berjalan penuh kebisuan, tidak ada obrolan sama sekali diantara mereka, Radja yang berniat mengantar Riani hingga ke resort di mana dia menginap, awalnya di tolak oleh Riani, namun karena Radja agak memaksa, akhirnya Rianipun hanya diam dan mengiyakan saja dengan anggukan.
Tidak butuh lama, akhirnya mereka berdua sampai di lobi resort.
"Kamu di sini jaga diri baik-baik ya Dek, aku besok siang terbang balik ke Jakarta"
"Baik mas, kamu juga hati-hati" jawab Riani sambil mencium punggung tangan Radja sebagai bentuk penghormatan seorang istri pada suaminya, namun dengan cepat Radja menarik tangan Riani dan memeluk tubuh istrinya itu.
Riani hanya diam dan membiarkan Radja memeluknya, karena biar bagaimanapun dia masih sah sebagai istrinya dan halal saja jika Radja memeluknya.
Setelah beberapa menit Radja melepaskan pelukannya, dan sebelum pergi dia mencium lembut kepala dan kening Riani.
"Aku pamit dulu, I love you istriku..." Ucap Radja dengan mata berkaca-kaca.
"Hati-hati mas..." Jawab Riani sambil berusaha menahan gejolak hatinya yang bergemuruh menahan perasaan yang campur aduk dari perasaan sakit, sedih dan marah.
"Ya, aku pasti akan hati-hati, Assalamualikum..."
"Wa'alaikum salam..."
Riani hanya menundukkan kepalanya saat Radja kembali mengelus pelan kepalanya, kemudian dia tidak bergeming saat Radja pergi meninggalkannya keluar dari lobi resort.
Hanya matanya saja yang menatap ke arah Radja yang berjalan menjauh hingga menghilang dari pandangannya.
Riani membalikkan tubuhnya yang lemas, kemudian di langkahkan kakinya berjalan menyusuri lorong yang menuju ke arah kamarnya.
Tanpa dia sadari ada sepasang mata mengawasinya, sosok misterius dengan sepasang mata yang sama, selalu mengintai dan mengikuti Riani.
.............
Malam harinya Riani lewati hanya diam di dalam kamar saja, karena besok dia harus bangun pukul enam pagi, untuk menghadiri sekaligus mendampingi pengantin wanita sebagai pengiringnya.
Baru saja Riani mendapat pesan di ponselnya dari Viola, dan memberi tahu padanya kalau Viola dan Ethan sedang menjamu makan malam orang tua mereka.
Bahkan Viola mengirim foto suasana makan malam mereka di salah satu restoran mewah.
Namun saat dia melihat lebih teliti foto itu alangkah terkejutnya Riani karena di foto itu nampak sepasang suami istri paruh baya yang wajahnya Riani kenal, mereka sedang tersenyum bahagia memeluk pundak Viola.
" Apakah Viola anak kedua dari mereka berdua? tapi setahuku mereka memang mempunyai dua anak tapi laki-laki semua..." Bisik Riani dalam hati.
"Kling!" suara pesan masuk kembali berbunyi, Riani kembali membaca pesan dari Viola.
"Mereka ini calon mertuaku kak, bagaimana menurutmu?" tanya Viola, sambil kembali mengirimkan foto yang kedua pada Riani, dia pun sangat terkejut, hatinya seolah pecah berantakan oleh satu tembakan yang tepat mengenai sasaran.
Tangannya bergetar hebat hingga ponsel yang ia pegang terjatuh di ikuti tubuh Riani yang terduduk tanpa ada tenaga lagi.
"Tidak mungkin Ethan masih hidup...Mungkin dia adik tiri Ethan yang dulu pernah dia ceritakan, tapi...tidak mungkin...Nama dan wajahnya bisa mirip sekali dengannya, Sebenarnya ada misteri apa di balik semua ini? aku benar-benar bingung..." Kata Riani sambil meremas rambut di kepalanya dengan wajahnya yang terlihat sangat stres.
Hingga semalaman Riani tidak bisa tidur, matanya yang terbuka menerawang memikirkan kembali foto dari viola tersebut...
............
Hingga menjelang pagi Riani tetap tidak bisa tidur.
__ADS_1
Akhirnya Riani memutuskan segera mandi dan mengambil air wudhu, dia merasa sudah saatnya untuk berkeluh kesah pada sang pemilik hidup.
Setelah dia selesai sholat Shubuh dan bertadarus hingga fajar menampakkan sinarnya, Riani segera melanjutkan untuk ber-Dhuha.
Entah sudah berapa lama dia tidak melakukan sholat Dhuha, dia sudah terlalu sibuk dengan pekerjaan dan masalah dalam hidupnya, hingga lupa dengan keberadaan Tuhan, sang pencipta alam.
"Ya Allah...Ampunilah dosa hambamu ini...Berikanlah jalan keluar dan petunjuk-Mu atas masalahku ini..." Rintih Riani dalam isak tangisnya yang penuh kesakitan.
Setelah tangisnya reda, Riani segera berganti baju khusus pengiring pengantin yang Viola berikan padanya.
Baju itu dia terima dari butik yang di titipkan pada resepsionis saat dia kembali ke resort bersama Radja kemarin malam.
Setelah memakai baju dan sedikit menata rambut serta merias tipis wajahnya, Riani segera keluar menuju kamar pengantin yang berada tepat di samping kamarnya.
Saat dia mengetuk pintu kamar Viola, ternyata yang membuka pintu adalah Ethan, sontak Riani terkejut setengah mati.
"Masuk, Viola sudah menunggumu..." Kata Ethan dengan wajah datarnya.
"Baiklah, permisi..." Jawab Riani sambil menerobos masuk, hingga membuat Ethan bergeser ke samping memberi jalan untuk Riani.
Saat Riani masuk ternyata di sana ada tiga pengiring pengantin perempuan lainnya, dia langsung bergabung dengan mereka.
"Kak kamu sudah datang, ayo aku perkenalkan dengan teman-temanku ini..." Kata Viola menyambut Riani dengan wajah bahagianya.
Kemudian dia memperkenalkan satu-persatu temannya itu.
"Honey, aku kembali ke kamarku dulu, para pengiring pengantin pria sudah datang dan berkumpul di kamarku" pamit Ethan, sekilas matanya melirik ke arah Riani kemudian mencium lembut kening Viola yang sebentar lagi menjadi istrinya itu.
Melihat adegan itu, hati Riani terasa sakit, ingin rasanya dia menemukan jawaban atas perasaannya itu.
.............
Viola tampak cantik dan anggun dengan gaun pengantinnya.
Terdengar suara ketukan dari luar, Riani segera membuka pintu, nampaklah di depan pintu sosok laki-laki paruh baya dengan senyum arifnya.
"Sayang, apakah sudah siap?" tanya pria yang ternyata ayah Viola.
"Viola sudah siap pah, ayo sekarang kita keluar..." Jawab Viola dengan nada khas manjanya.
"Selamat ya nak, sebentar lagi kamu akan menjadi Nyonya Ethan, jadilah istri yang baik dan patuh..." Nasehat sang ayah.
"Iya Pah..." Jawab Viola haru.
"Sekarang kamu sudah tidak menjadi tanggung jawab papah lagi, jadi kelak jagalah keutuhan keluargamu, jaga anak-anak dan suamimu..." Kata sang ayah dengan suara bergetar dan tangis harunya.
"Viola pasti akan melakukan nasehat papah..." Jawab Viola sambil memeluk ayahnya, kemudian sang ayah mencium sayang kening anak perempuannya itu.
Suasana haru terasa di seluruh ruangan, Riani pun ikut tersentuh dengan kasih sayang Ayah dan anak tersebut, maklum dia semenjak remaja sudah tidak bisa merasakan kasih sayang seorang ayah lagi karena sang ayah pergi untuk selamanya karena sebuah kecelakaan.
"Ayo sayang kita segera ke altar, acara pernikahanmu segera di mulai" kata sang ayah.
__ADS_1
"Iya pah, ayo..." Dengan sifat manja seorang anak, dia berjalan sambil menggandeng ayahnya, sesekali Viola terseyum haru pada sang ayah.
"Viola gugup pah..." Kata Viola di sela-sela jalannya.
"Jalan pelan-pelan saja nak, lumrah kalau kamu gugup, semua calon pengantin pasti akan merasakan hal yang sama seperti itu.
Akhirnya semua berjalan keluar menuju taman di mana acara penikahan di adakakan.
Sesampainya di taman terlihat pemandangan dengan jalan berlantaikan bunga-bunga yang berwarna-warni menuju altar yang juga dengan indahnya berhiaskan bunga-bunga.
Di samping kanan dan kiri kursi tamu undangan terlihat kue pengantin dengan bentuk yang cantik dan elegan.
Dengan anggunnya Viola yang di dampingi ayahnya dan di belakangnya di iringi pendamping pengantin termasuk Riani berjalan menuju Altar, di depan altar sudah menunggu pendeta dan Ethan yang berdiri di sana tersenyum menyambut Viola.
Melihat senyum bahagia Viola dan Ethan, Riani berpikir mereka memang patut untuk bahagia.
Setelah ayah Viola menyerahkan putrinya pada Ethan, sang ayah segera duduk di kursi paling depan.
Kini saatnya kedua mempelai di bimbing oleh pendeta untuk mengucapkan ikrar suci pernikahan.
.............
Akhirnya ikrar janji pernikahan bisa di lakukan oleh kedua mempelai dengan lancar dengan berakhir penanda tanganan surat pernikahan dan tepukan tangan para tamu undangan yang ikut bahagia menyaksikan pernikahan mereka.
Saatnya mereka saling memakaikan cincin pernikahan, Riani yang di tunjuk sebagai pembawa cincin pernikahan untuk mempelai pria, dia maju ke arah pengantin membawa baki dengan kotak kecil berisikan cincin pengantin.
Saat Riani mendekat ke arah pengantin menyerahkan cincin tersebut pada Viola, tanpa dia sadari Ethan melihat ke arahnya.
Setelah Viola mengambil cincin tersebut Riani kembali ke tempat semula, namun saat Viola akan memakaikan cincin tersebut ke jari Ethan, tiba-tiba tangan Ethan bergetar hebat hingga cincin itupun terjatuh menggelinding ke arah Riani.
Dengan sigap Riani mengambil cincin tersbut dan dia berniat mengembalikan pada Viola, namun segera di cegah Ethan yang langsung mengambil cincin tersebut dari tangan Riani dan langsung di sematkan di jarinya sendiri, setelah itu Ethan membisikkan sesuatu ke telinga Viola yang membuatnya mengangguk tanda mengerti.
Hingga insiden kecil tersebut berlalu dan berlanjut ke sesi selanjutnya yaitu pelemparan buket bunga pengantin dan pemotongan kue pernikahan.
Saat sesi pelemparan bunga para pengiring pengantin di wajibkan ikut andil untuk perebutan buket bunga yang di lempar pengantin perempuan.
Di sanalah Riani bertemu dengan Teddy yang juga sebagai pengiring pengantin pria untuk Ethan.
Riani dan Teddy pun saling tersenyum sambil bersiap-siap untuk rebutan menangkap buket bunga dari Viola.
Saat bunga di lempar, riuh ramai perebutan buket bunga pun terjadi.
Hingga akhirnya, bungapun jatuh di tangan Teddy, yang langsung di berikan pada Riani sambil berlutut.
Melihat yang di lakukan Teddy, Riani kaget namun segera dia menerima bunga dari Teddy untuk menghindari masalah nantinya jika dia meolak bunga tersebut.
Tepuk tangan riuh pun terdengar, tanpa sengaja mata Riani menangkap ekspresi wajah Ethan yang terlihat sangat sedih, membuat hati Riani bertanya ada apa gerangan...
__ADS_1
Hanya jawaban penuh misteri yang dia temukan di sana, namun segera tidak Riani perdulikan, karena yang terpenting sekarang adalah pernikahan Ethan dan Viola bisa berjalan lancar...
...☆☆☆...