KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
SI PAMAN DONALD


__ADS_3

Riani segera mengusap air matanya saat di rasa ada yang menyentuh pundaknya.


Wajah tante Grace yang tampak bahagia menandakan ada suatu kabar baik yang ingin dia sampaikan padanya.


"Nak...Tante dan Om sangat berterima kasih sekali padamu, karena bujukanmulah Ethan mau berobat ke Amerika" ucap tante Grace bahagia.


"Sama-sama Tante, sebenarnya itu juga karena ada kemauan yang kuat dari Ethannya sendiri Tan..."


"Tapi Tante yakin, tanpa bujukan darimu, belum tentu Ethan mau, jadi Tante tetap ucapkan banyak terima kasih..."


"Iya Tante, tidak perlu sungkan begitu..." Jawab Riani sambil membuka dan meminum jus delima yang ia bawa.


"Dan yang membuat Tante lebih bahagia lagi, dia bilang akan segera memberi Tante seorang cucu..."


"Uhuk! uhuk! seketika tenggorokan Riani tersedak setelah mendengar ucapan dari Tante Grace tadi.


Tante Grace segera menepuk-nepuk punggung Riani dengan wajah cemasnya.


"Kamu tidak apa-apa kan Nak?" tanyanya dengan ekspresi wajahnya yang berganti menjadi kebingungan.


"Sudah tidak apa-tante, hanya tersedak biasa, ngomong-ngomong di mana papah Rolland, om Marcel dan Om Ronand ya Tan?" tanya Riani mencoba mengalihkan pembicaraan, berharap Tante Grace tidak membahas lagi mengenai apa yang di katakan Ethan padanya mengenai cucu, tentu saja yang di maksud Ethan tentulah bukan cucu yang sebenarnya, dan sepertinya Tante Grace sudah salah paham maksud dari apa yang di katakan oleh Ethan tersebut.


"Mereka bertiga sepertinya sedang mengobrol di area merokok, kenapa Nak?"


"Ooo...Tidak apa-apa sih Tan, hanya saja sudah waktunya saya pulang, karena saya sudah lama keluar rumah, takut Ibu khawatir..."


"Kalau begitu biar Tante telepon papah Rollandmu itu"


"Oh! tidak usah Tante, biar saya tunggu Papah saja, lagi pula saya juga ingin bicara sebentar dengan Viola dan Ethan, sebelum saya pulang"


"Baiklah kalau begitu, sekali lagi terima kasih ya Nak...Sudah terlalu banyak membantu keluarga kami..." Ucap tante Grace sekali lagi sembari memeluk hangat tubuh Riani.


"Sama-sama Tante..."


.............


Seusai Viola selesai menyuapi Ethan makan, Riani kembali masuk dan mengobrol sebentar dengan mereka berdua mengenai dirinya yang akan mengadakan acara tujuh bulanan, dan memberi pengertian pada Ethan kalau dirinya akan jarang datang ke rumah sakit karena perutnya yang sudah besar.


Ethan mau mengerti dan menerima alasan Riani, karena menurutnya memang beresiko besar jika dengan perut besarnya Riani sering bolak balik rumah sakit hanya untuk menjenguknya.


Lagi pula hati Ethan sudah merasa lega setelah perbincangan empat mata dengan Riani tadi, di dalam benaknya menyimpan harapan dan optimis dengan cintanya pada Riani.


.............


Siang hari Riani bersama papah Rolland kembali ke rumah, sesampainya di sana segera mereka menikmati makan siang bersama yang sudah tersuguh dengan semua menu kesukaan Riani.


Selesai makan siang Riani berniat untuk pulang, namun papah Rolland tidak mengijinkannya.


Dia menyuruh Riani untuk istirahat dulu di kamar yang memang sudah di persiapkan untuknya.


Dan karena Riani tidak bisa menolak permintaan papah angkatnya tersebut, akhirnya dia pun tinggal.


Suasana kamar yang nyaman membuat Riani betah beristirahat, dan membuatnya bisa dengan damai tertidur dalam kamar tersebut, hingga menjelang sore mang Muh menjemput Riani untuk pulang.


.............


Sesampainya di rumah, bu Widia sudah menunggunya.


"Kamu sudah pulang nak..." Sambut bu Widia di depan pintu.


"Iya Bu..." Jawab Riani lesu.


"Nak...perutmu sudah besar, riskan jika kamu terlalu sering bolak balik ke rumah sakit..."


"Iya Bu, Riani juga sudah bilang dengan Ethan dan keluarganya, mereka mengerti kok dan justru menyuruh Riani untuk istirahat"

__ADS_1


"Syukurlah kalau mereka mau mengerti..."


"Hemm...Riani istirahat dulu ya Bu"


"Istirahatlah, sebelumnya kamu mandi dulu gih, Ibu akan buatkan jus untukmu..." Kata bu Widia sambil membimbing anaknya menuju ke kamarnya.


Setelah itu dia menuju ke dapur untuk membuatkan jus delima kesukaan Riani...


...........


Sore harinya setelah Riani bangun dari tidur siangnya, dia mencoba merilekskan tubuhnya dengan berjalan mengitari halaman rumah dan depan rumah basecamp.


Dan saat dia sedang berjalan di depan rumah basecamp di teras nampak sosok laki-laki yang dia kenal sedang menatap lekat ke arahnya.


Sesaat kemudian Akbar pun berjalan menuju ke arahnya.


"Bagaimana kabarmu Winnie?" sapa Akbar dengan senyum misteriusnya.


Mendengar nama sapaan yang Akbar ucapkan, seketika Riani tersentak kaget dan langsung memeluk Akbar erat-erat dengan tangisnya yang mulai pecah.


"Paman Donald ku..."


Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Riani di sela-sela tangisnya, dia tidak menyangka kalau Akbar yang dia kenal sekarang adalah Akbar yang sama yang ia kenal dulu.


Akbar tersenyum haru dengan menahan tangisnya sambil memeluk balik erat tubuh Riani.


"A...Aku tidak menyangka kalau paman...Paman...Sekarang..." Kata Riani yang terbata-bata dan tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.


Keduanya saling melepas pelukan mereka.


"Kamu tidak menyangka kalau pamanmu ini berubah menjadi semakin ganteng dan gagah kan?" lanjut Akbar.


Riani mengangguk cepat.


"Yeah...Mataku sekarang bisa melihatmu Winnieku..." lanjut Akbar lagi sambil mencubit gemas kedua pipi Riani.


"Ayo kita temui ibuku, dia pasti akan terkejut!" Ajak Riani sambil menarik manja tangan Akbar.


"Tapi Ibumu sudah pernah melihatku..."


"Tapi dia belum tahu kan kalau kamu itu sebenarnya paman Donald ku?" jawab Riani sambil menarik paksa tangan Akbar, yang enggan beranjak dari tempatnya berdiri.


"Iya, Ibumu belum tahu yang sebenarnya"


"Ya Iya, makanya itu ayo kita temui dia, ibuku pasti akan sangat senang jika mengetahuinya, Ayolah demi calon keponakanmu ini..." Rayu Riani sambil mengelus-elus perut besarnya itu.


Akbar melihat ke arah perut besarnya Riani kemudian dengan lembut mengelus perut Riani, dia pun menghela nafas panjang...


"Baiklah...Ayo kita temui Ibumu" jawab Akbar sambil merangkul erat pundak Riani.


Mereka berdua berjalan menuju ke Rumah.


Saat keduanya masuk dengan segera Riani memanggil Ibunya yang sedang berada di dapur.


"Ibu! Cepet sini!"


Bu Widia segera bergegas menuju ke ruang tamu, perasaannya merasa cemas mendengar teriakan anaknya tersebut, takut telah terjadi sesuatu dengannya.


"Ada apa Nak!" tanya Bu Widi sesampainya di depan mereka.


"Tidak ada apa-apa Bu, aku cuma ingin mempertemukan ibu dengannya..." Jawab Riani sembari menunjuk ke arah Akbar.


"Kami sudah bertemu sebelumnya, iya kan Nak Akbar?" tanya Bu Widia sambil melihat ke arah Akbar.


Akbar mengangguk hormat sebagai jawabannya.

__ADS_1


"Tapi ini Akbar paman Donaldku, yang Ibu sering memanggilnya Si Endut itu Bu!" kata Riani lagi Antusias.


"Ehem...Ehem..." Akbar berdegem dan salah tingkah saat mendengar sapaan Ibu Widia padanya dulu dengan sebutan Si Endut.


Dia masih ingat betul saat dengan gemasnya Bu Widia memanggilnya dengan sebutan Si Endut, dia tidak merasa sakit hati dengan sebutan tersebut, justru sebaliknya dia merasa mendapatkan kasih sayang yang lebih, hangat dan akrab seperti keluarga sendiri setiap kali dia di panggil dengan sebutan Paman Donald ataupun si Endut.


Lamunan Akbar seketika buyar saat dengan tiba-tiba Bu Widia memeluk hangat tubuhnya lalu memegang erat wajahnya.


"Kamu benar Si Endut kesayanganku itu...?" Tanya Bu Widia dengan wajahnya yang terlihat sangat bahagia.


"Iya Mih..." Jawab Akbar tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca, terharu.


"Mamih sampai pangling dan tidak menyangka, Mamih masih ingat betul si Endut yang dulu masih bocah dengan tubuh yang menggemaskan, tapi sekarang kamu berubah total, waktu 19 tahun lamanya sudah merubahmu menjadi pria gagah, ganteng dan tidak endut lagi..." Kata Bu Widia sambil mengelus lembut kepala Akbar dan mata yang berkaca-kaca penuh kerinduan seorang ibu.


"Tapi Ndut tetap ingin Mamih panggil Endut terus..."


"Iya, selamanya kamu tetap si Endut kesayangan Mamih kok..."


"Tapi sekarang paman donald sudah nggak pantes lagi di panggil Endut Bu..."


"Hush! kamu yang seharusnya jangan panggil Endut dengan sebutan paman lagi, kalian kan cuma terpaut tiga tahun lebih tua Endut darimu, lebih pantesnya jika di panggil abang, iya kan Ndut?"


"Tidak apa-apa kok Mih, Endut lebih suka di panggil paman Donald sama Winnie kesayangku ini" jawab Akbar sambil kembali mencubit lagi kedua pipi Riani.


Kembali Ibu Widia memeluk erat si Endut kesayangannya tersebut.


"Lalu bagaimana kabar kedua orang tuamu nak?"


"Kedua orang tua Ndut kabarnya baik-baik saja Mih, dan mereka berdua saat ini masih bertugas di kedutaan Amerika"


"Syukurlah kalau keadaan mereka baik-baik saja, titip salam untuk kedua orang tuamu ya nak"


"Iya Mih akan Ndut sampaikan salam Mamih"


"Lalu bagaimana mata kamu bisa melihat lagi? coba ceritakan sama Mamih"


"Dua tahun lalu saat kedua orang tua Ndut di pindah tugaskan ke Amerika, Ndut menjalani operasi transplantasi mata...


Mereka bertiga akhirnya larut dalam obrolan hangat mengenai perjalan hidup Akbar selama 19 tahun yang lalu...


.............


Menjelang maghrib akhirnya Akbar pamit untuk kembali di basecampnya.


Dengan di antar Riani hingga teras, Akbar kembali memeluk dan mencium kening Riani dengan sangat lembut.


"Aku pulang dulu ya Winnie, kamu harus jaga baik-baik calon keponakanku ini" kata Akbar sambil mengelus perut buncit Riani.


"Iya Ndut...Eh paman Donald..."


"Dasar kamu..." Kata Akbar, menggelengkan kepalanya, kemudian dengan gemas mengacak-acak rambut Riani.


Mereka berdua akhirnya tertawa lepas dan kembali saling berpelukan.


"Aku balik sekarang ke basecamp, kamu segeralah masuk, hari mau maghrib, tidak bagus untuk jabang bayi"


"Iya, kalau begitu aku masuk dulu"


Akbar mengangguk, kemudian dia menatap Riani yang berbalik dan masuk ke dalam.


Setelah Riani sudah masuk ke dalam, Akbar pun segera meninggalkan rumah tersebut dengan senyuman penuh kebahagiaan dan kepuasan, karena ternyata ibu Widia masih mengingatnya sebagai si Endut kesayangannya dan Riani masih mengingatnya sebagai *P**aman Donald* nya.


Akbar segera masuk ke dalam rumah basecamp, sementara itu dari kejauhan sepasang mata menatap penuh amarah dan kecemburuan pada Akbar si Paman Donald...


......☆☆☆......

__ADS_1


__ADS_2