KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
TIDAK TERLAMBAT PULA BAGINYA


__ADS_3

Suara ketukan pintu menyadarkan kembali lamunan Riani.


Saat dia menoleh ke arah pintu, sudah berdiri Ibunya yang menatap sedih ke arahnya.


"Boleh Ibu bicara sebentar Nak?"


"Aku tahu apa yang akan Ibu bicarakan denganku"


"Jadi...Bisakah kamu memberi waktu untuk Ibu menjelaskan dan menceritakan semuanya?"


"Baiklah, tapi...Mengapa baru sekarang Ibu mau mengatakan semuanya?"


"Karena ini permintaan dari Almarhum ayah kamu sebelum kamu lahir, dia membuat Ibu berjanji untuk tidak mengungkapkan identitasmu yang sebenarnya, hingga akhirnya...Ibu bertemu kembali dengan ayah kandungmu, yaitu papah Rollandmu, tapi itu pun Ibu tidak langsung menyetujuinya, karena ibu sudah terikat dengan janji tersebut"


"Lalu bagaimana ceritanya, Ibu bisa berpisah dengan papah Rolland hingga bertemu dengan ayah?"


"Akan Ibu ceritakan semuanya...


Dengan seksama dan wajah serius, Riani mendengarkan semua detail kalimat yang keluar dari mulut ibunya tersebut...


Widya menceritakan semua dari awal masa lalunya hingga dia bertemu dengan Alfiz Sofyan Pradityo, seorang pria yang menolongnya dalam pelarian dan mau menerima apa adanya dia yang saat itu sedang hamil untuk menjadi istrinya, dia juga dengan tulus mau menjadi ayah sambung bagi bayi tersebut...


Dengan mata berkaca-kaca Widya mengingat kembali moment terakhir saat bersama suaminya dan kata-kata terakhirnya sebelum kepergiannya untuk selamanya...


"Sayang...Apakah aku sudah menjadi ayah yang sempurna untuk anak kita Riani?" tanya Alfiz, saat mereka berdua berada di pembaringan menjelang tidur.


"Tentu saja...Bahkan kamu jauh melebihi sempurna sebagai ayah sambung Riani...Terima kasih ya sayang...Karena selama ini sudah menjaga dan melimpahkan kasih sayangmu pada kami berdua..."


"Itu sudah seharusnya seorang suami dan seorang ayah lakukan, Sayang...Bolehkan aku minta satu janji padamu?"


"Apa itu?"


"Aku mohon..Jangan pernah ungkapkan Identitasku sebagai ayah sambungnya pada Riani, hingga aku tidak ada kelak, kecuali...Jika dia akhirnya bertemu dengan ayah kandungnya, semua keputusan kembali aku serahkan padamu, karena aku percaya kamu tahu apa yang terbaik buat Riani"


"Suamiku sayang...Sampai kapanpun bagiku dan Riani kamu adalah ayah yang terbaik melebihi ayah kandung, dan apalah arti sebuah title ayah kandung, jika cinta dan kasih sayangmu sudah melebihi dari ayah kandungnya? dan aku akan memegang janjiku untuk tetap memyimpan rahasia ini..."


"Terima kasih ya sayang, tapi... Tetap saja ikatan darah tidak bisa mengkhianati perasaan sebagai jejak keluarga"


"Iya, ku tahu itu, sudahlah kamu jangan terlalu banyak berpikir, satu yang pasti, aku akan memegang janjiku padamu, Ayolah kita segera tidur!"


"Baiklah, hmmm...Good night and Love you Istriku..." Ucap Hafiz, mengecup kening dan bibir Widya


"Good night, love you to suamiku..."


"Lalu kenapa sekarang Ibu memutuskan untuk mengungkapkan semuanya?" pertanyaan Riani menyadarkan kembali dari lamunannya dan segera menyeka ujung matanya yang hampir meneteskan air mata.


"Karena Ibu tahu ini yang terbaik untukmu..."


"Lalu...Bagaimana dengan janji Ibu dengan ayah?"


"Keputusan Ibu ini termasuk janji Ibu pada ayahmu juga Nak...Ibu tidak memaksamu untuk langsung bisa menerima papahmu, pelan-pelan saja"


"Apakah Ibu masih mencintai papah Rolland?"


"Papah Rolland sudah menjadi cinta di masa lalu Ibu, dan orang yang hingga sekarang masih Ibu cintai hanyalah Ayahmu..."


"Jika memang begitu, lalu kenapa Ibu menikah dengan papah Rolland, bukankah asal aku menerima papah Rolland sebagai ayah kandungku, Ibu tidak perlu menikah dengannya?"


"Bukankah sudah Ibu bilang tadi, karena Ibu tahu ini yang terbaik untukmu..."


"Apakah Ibu benar-benar sudah yakin ini yang terbaik untukku?"

__ADS_1


"Ya nak...Ini memang rumit, kejadian di masa lalu antara Ibu dan papah Rolland adalah sebuah kesalah pahaman, tapi di balik kejadian itu akhirnya ibu bisa bertemu dan berjodoh dengan almarhum ayah kamu, jadi kita hanya bisa menerima saja kalau takdir kita dari Tuhan memang harus seperti itu..."


Riani hanya terdiam dan menela'ah kalimat Ibunya yang memang ada benarnya juga.


"Namun ada alasan yang lebih penting kenapa ibu memutuskan untuk menikah dengan papah Rolland kamu" lanjut Widya.


"Apa itu bu?" tanya Riani


penasaran.


"Hhhh...Sebelum itu, ibu ceritakan dan beritahu kamu dulu silsilah keluarga Ibu yang sebenarnya"


"Baiklah..." Jawab Riani semakin penasaran.


"Nama lahir Ibu sebenarnya adalah ISABELLA VANBELRG, termasuk masih keturunan bangswan di negara Belanda, dan karena kakek kamu menikahi wanita Indonesia dari golongan orang biasa, dia lebih memilih untuk pindah ke Indonesia dan membangun kerajaan bisnisnya di sini.


"Jadi aku...?!" kata Riani tak bisa berkata-kata lagi, terkejut.


"Ya nak, kamu generasi ketiga dari keluarga besar Vanbelrg, tapi...Kehamilan ibu di luar nikah waktu itu, mencoreng nama baik keluarga besar Vanbelrg, jadi ibu di keluarkan dari penerus keluarga Vanbelrg, dan Ibu waktu itu lebih memilih melarikan diri menyelamatkanmu dari keinginan keluarga besar untuk mengaborsi kandungan ibu waktu itu, hingga akhirnya ibu bertemu dengan ayahmu dan mengganti semua identitas Ibu"


"Kamu ingat saat Ibu dan papah Rolland tidak bisa menemanimu saat ke rumah sakit?"


Riani hanya menganggukkan kepalanya, dia ingat saat Ibunya dan papah Rolland dengan terburu-buru untuk menemui seseorang yang terlihat sangat penting, itu terlihat dari cara mereka menyebut beliau dengan segan, meski Riani sendiri tidak tahu siapa sebenarnya yang mereka panggil beliau tersebut.


"Saat itu kami berdua akan menemui utusan langsung dari keluarga utama di Belanda yang meminta dokumen keluarga kakek dan keluarga kita untuk pengurutan dan pengesahan silsilah keluarga besar Vanbelrg secara legal"


"Aku mengerti sekarang kenapa kalian berdua memutuskan untuk menikah, ini karena permintaan mereka kan?"


"Kurang lebih seperti itu, tapi hal yang paling penting kami inginkan adalah yang terbaik untukmu dan calon cucu ibu"


"Lalu, bagaimana dengan Maulana Bu, apakah dia sudah di beritahu mengenai semua ini?"


"Untuk identitasmu sebagai anak kandung papah Rolland, biarlah dia tidak perlu tahu, karena Ibu tidak ingin perasaan dan sikapnya berubah setelah mengetahui kebenarannya"


"Ibu juga tahu itu, tapi...Biarlah tetap seperti itu, berjalan mengalir saja..."


Suara ketukan kembali terdengar dari arah luar pintu kamar.


"Ya, Siapa?! jawab Widya.


"Saya Tante, Nando!"


"Masuk saja nak Nando!"


Dengan pelan Nando membuka pintu, pandangannya yang ragu-ragu, membuat Nando tidak lantas masuk ke dalam kamar tersebut.


"Masuklah nak Nando! tidak apa-apa" kata Bu Widya yang melihat Nando masih berdiri di depan pintu yang sudah terbuka.


"Baik Tante" jawab Nando, sopan.


Kemudian diq berjalan menuju ke arah Riani dan Bu Widya.


"Ada apa Nak?" tanya Bu Widya sesampainya Nando di depan mereka.


"Maaf tante, saya khawatir sama papah..."


"Memangnya apa yang terjadi dengan papah kamu Nak? barusan dia baik-baik saja kok?" tanya Widya, khawatir.


"Setiap kali papah sangat tertekan, sedih dan gelisah, maka sakitnya akan kambuh"


"Memangnya papah sakit apa Nan?" tanya Riani, ikut khawatir.

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu pasti apa istilah dari penyakit papah, tapi setiap kali dia mnegalami perasaan yang seperti itu maka dia akan terdiam, tenggelam dalam dunianya sendiri tanpa menghiraukan makan, minum dan orang-orang di sekelilingnya, bahkan sampai mengurung diri hingga berhari-hari..."


"Kenapa papah kamu bisa ada penyakit seperti itu nak?!" tanya Bu Widya lagi, terkejut.


Riani melihat ada kesedihan di mata ibunya tersebut.


"Saya juga tidak tahu Tante, tapi kata dokter penyebabnya adalah karena depresi akut yang berkepanjangan"


"Lalu adakah obat untuknya?"


"Dokter hanya memberinya obat penenang dan terapi secara rutin, tapi obat sebenarnya adalah kebahagiaannya..."


"Lalu sekarang Papah di mana Nan?"


"Dia sekarang masih duduk di ruang tengah, tap...Tante, Mba...Saya mohon maaf kalau lancang meminta sesuatu pada kalian..."


"Maksud kamu Nak?" tanya Bu Widya.


"Saya mohon berikanlah kebahagiaan pada Papah, saya tahu kalianlah penawar dan obat terbaik untuk hati dan pikirannya dari racun depresi yang sudah menahun dalam tubuhnya..."


"Jadi Nak Nando sudah tahu siapa kami sebenarnya?"


"Ya Tante, Papah memberitahu saya mengenai hasil tes DNA milik mba Riani, jadi...Maukah Tante dan Mba Riani menerima saya menjadi satu keluarga dengan kalian dan menolong Papah?"


"Tentu saja Nak..." Jawab Bu Widya lembut.


"Terima kasih Tante, Mba..." Tanpa ragu-ragu Nando memeluk hangat Bu Widya dan Riani.


"Ada dua hal yang ingin Tante minta darimu Nak Nando"


"Apa itu Tante?"


"Yang pertama tetap jaga Rahasia mengenai hal ini dari Maulana dan yang lainnya, Tante ingin semua tetap berjalan seperti biasanya, dan yang kedua Tante ingin mulai dari sekarang kamu memanggil Tante dengan Ibu, seperti Riani dan Lana memanggil tante, bagaimana kamu bisa kan Nak?"


"Tentu saja bisa Tante, maksud saya Ibu..." Jawab Nando terharu.


"Sekarang ayo kita temui papah kalian!" ajak Bu Widya.


"Baik Bu!" jawab Riani dan Nando kompak.


Ketiganya segera berjalan ke arah ruang tamu di mana papah Rolland berada.


Dan benar seperti apa yang di katakan oleh Nando, sesampainya di sana terlihat oleh Riani, keadaan Papah Rolland yang duduk mematung dengan pandangan kosong dan mata tak berkedip.


Hati Riani merasa sedih, karena baru kali ini melihat papah Rolland, ayah kandungnya itu terlihat sangat menyedihkan seperti itu.


Tanpa pikir panjang di peluknya tubuh ayah sedarahnya itu dengan erat.


"Pah...Riani di sini, kembalilah Pah...Riani sangat sayang dan merindukan Papah..." Bisik Riani di sela-sela tangisnya.


Seolah tersadar dari dunia antah brantahnya, pupil mata Rolland kembali membesar dan seketika membalas pelukan Riani dengan eratnya, kemudian terdengar isak tangisnya...


"Riani anakku...Maafkan Papah..." Ucapnya dengan bibir yang bergetar.


Riani mengangguk berkali-kali, tak kuasa menahan perasaannya yang bercampur aduk, antara sedih dan bahagia.


Nando tersenyum lega karena melihat papahnya sudah kembali normal.


Sedangkan Widya ikut hanyut dalam tangis penuh haru melihat ayah dan anak saling berpelukkan seperti itu.


Bagi Riani meski sudah sangat terlambat mengetahui kebenaran ayah kandungnya, namun tidak terlambat pula baginya untuk menerima dan mengakui Papah Rolland sebagai ayah kandungnya, meski Almarhum ayahnya lah yang tetap terbaik baginya...

__ADS_1


...☆☆☆...


__ADS_2