KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
WANITA TANGGUH


__ADS_3

Riani dan Teddy melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah kakek dan neneknya Randi.


Tanpa terasa mereka berdua akhirnya sampai, di rumah tersebut.


Saat mereka memasuki halaman rumah, ternyata pekak dan dadong sudah menunggu mereka di teras rumah.


Melihat Riani dan Teddy dengan segera Pekak dan Dadong menghampiri mereka.


"Selamat datang nak, ayo segera masuk, cuaca lagi angin kencang..." Kata dadong mengambil alih kursi roda Riani dari tangan Teddy.


"Iya Dadong, terima kasih..." Jawab Riani lemah.


"Kita makan siang bersama setelah itu kalian boleh istirahat, terutama putu Riani, kamu harus benar-benar istirahat" sambung Pekak, sambil merangkul akrab pundak Teddy.


"Saya sangat setuju dengan Pekak, kondisi tubuh Riani saat ini memang sangat lemah, jadi dia harus istirahat total"


"Kalian kompak sekali ya perhatiannya sama putu Dadong ini..." Kata Dadong sambil mengelus kepala Riani penuh kasih sayang.


"Ayo langsung ke ruang makan, Dadong baru saja selesai masak untuk makan siang, mumpung masih hangat, ayo kita makan!" Ajak Pekak penuh semangat.


"Apa kita tidak menunggu Randi dulu?" tanya Riani.


"Randi tadi sudah kirim pesan sama Dadong kalau kita makan saja dulu, dia mungkin agak terlambat pulang, karena cuaca yang kurang bagus..."


"Maafkan Riani karena sudah minta tolong Randi untuk mengambil obat di gili meno" ucap Riani sambil melirik ke arah Teddy yang memasang wajah merasa bersalah.


"Jangam minta maaf begitu, dia dan kami tidak keberatan sama sekali mengenai hal itu, dia pasti akan baik-baik saja, jadi kamu tidak perlu khawatir putu" jawab Pekak yang di barengi anggukkan Dadong, sebagai tanda setuju dengan perkataan Pekak.


Dengan di bantu Teddy, Riani turun dari kursi rodanya dan berpindah duduknya ke kursi makan.


Dengan suasana yang hangat penuh kekeluargaan, mereka berempat menikmati makan siang dengan di selingi obrolan ringan dan candaan kecil.


Setelah selesai makan dan meminum obatnya, Riani beristirahat di kamarnya, sedangkan Teddy setelah makan siang memang benar-benar ijin keluar sebentar untuk menemui seseorang katanya, entah itu kliennya tau bukan, Riani tidak tahu.


.............


Menjelang senja Riani terbangun dari istirahat siangnya saat suara panggilan masuk berbunyi, dan saat dia melihat layar ponselnya, lagi-lagi nomor asing tanpa nama, namun tanpa pikir panjang Riani langsung mengangkatnya.


"Iya hallo..." Jawab Riani.


"Hallo nak Riani, ini tante..." Terdengar suara perempuan yang sangat Riani kenal, dia terkejut saat tahu tante Grace yang tak lain adalah mamahnya Ethan meneleponnya.


Dia menduga pasti ada hal penting yang perlu tante Grace bicarakan dengannya.


"Iya Tante Grace, ada apa ya tante menghubungi saya?" tanya Riani agak gugup.


"Bisakah kita bertemu? karena ada hal penting yang perlu tante bicarakan denganmu"


"Mengenai hal penting apa ya tante?"


"Untuk lebih terperincinya, sebaiknya kita bertemu saja, bagaimana nak?"


"Baik tante, kalau begitu kita bertemu di mana dan kapan?"


"Sekarang kamu di mana, apakah masih di resort X?"


"Sekarang saya ada di Gili Trawangan, tinggal dengan keluarga"


"Oke baiklah, karena kebetulan tante besok juga ada urusan di gili trawangan, jadi besok siangan sekitar jam dua kita bertemu di restoran dekat situ saja, bagaimana?"


"Baik tante..."


"Oke kalau begitu tante tutup teleponnya ya, besok tante kabari lagi, bye..."

__ADS_1


"Iya tante, bye..."


Riani mematikan ponselnya setelah tante Grace di menutup teleponnya.


Dengan perasaan gundah, Riani membaringkan lagi tubuhnya, namun beberapa saat kemudian dia kembali bangun dan duduk di atas kasurnya.


Lalu di ambilnya dompet kecil yang khusus untuk meletakkan perhiasan yang selalu dia bawa setiap kali dia berpergian.


Di bukanya dompet itu, di ambilnya kantong kain kecil berwarna putih.


Di ambilnya benda yang ada di dalam kantong tersebut, dan terlihatlah cincin dengan ukiran pegasus di tangannya.


Angannya kembali mengingat kenangan saat-saat indah bersama Ethan dulu, cinta monyet, cinta pertamanya.


Tapi...Kejadian itu telah menghancurkan semuanya dan membuatnya merasa benci akan kenangan itu, meski hati masih ada tempat untuk sosok Ethan, tapi dia lebih memilih melepaskan dan melupakannya, agar tidak timbul perasaan dendam di hati Riani.


Di letakkannya cincin tersebut di meja kecil dekat ranjangnya.


Dalam pikirannya, apapun yang terjadi besok saat dia bertemu dengan tante Grace, dia harus dan bisa menghadapinya.



Terdengar oleh Riani suara Randi yang baru saja pulang daru gili meno, dia sedang berbicara dengan pekak, dadong dan Teddy.


Riani segera keluar dari bilik kamarnya, dia berjalan menuju ke ruang tamu di mana semua orang sedang duduk.


"Kamu sudah bangun putu?" tanya pekak saat melihat Riani.


"Sudah pekak..." Jawab Rini berjalan pelan.


"Duduklah, ini ada singkong goreng masih hangat, makanlah, dadong buatkan teh hangat untukmu..." Kata dadong sambil menuntun Riani duduk, kemudian menuju ke dapur.


"Bagaimana tubuhmu Ai, masih lemas kah?" tanya Teddy, perhatian seperti biasanya.


"Maaf mba, aku baru bisa pulang, karena cuaca yang berangin, banyak perahu yang tidak berani menyebrang, jadi aku menunggu sampai sore.


"Iya tidak apa-apa, terima kasih banyak dan maaf sudah sering merepotkanmu..."


"Jangan sungkan seperti itu mba, ini obatnya lebih baik di minum sekarang mba..."


"Ini teh hangatnya, segeralah di minum, biar perutmu lebih enakan" kata dadong sambil menyerahkan teh hangat pada Riani.


"Terima kasih dadong..." Riani segera meminum obatnya dan menyeruput teh hangat yang ada di tangannya, perutnya langsung terasa hangat dan lebih nyaman, rasa mual yang biasanya dia rasakan kini berangsur-angsur tidak dia rasakan lagi, kemudian dia menggigit singkong hangat yang gurih dan manis, hasil kebun yang ada di samping rumah.


"Pekak, dadong...Nanti besok siang jam satu, aku ijin keluar sebentar untuk menemui seseorang, katanya dia ingin bicara hal yang penting denganku..." Ijin Riani.


"Kita pasti ijinkan, tapi...Bagaimana dengan kondisi tubuhmu sendiri, apa sudah kuat untuk keluar?" tanya dadong.


"Biar pekak antar kamu pakai sepeda, bagaimana?"


"Biar tiang (sebutan aku dalam bahasa Bali) saja pekak yang mengantar mba Riani..." Kata Randi pada kakeknya, dia takut dengan kakeknya yang sudah sepuh tersebut tidak cukup kuat tenaganya.


"Pekak tahu yang sedang kamu pikirkan putu...Pekak masih kuat untuk mengayuh sepeda membawa putu Riani, sambil olah raga juga, jadi kamu tidak usah khawatir" jawab pekak tersenyum melihat kekhawatiran cucunya itu.


"Lagi pula bukankah besok kamu harus balik ke Bali, mengantar Zoya ke Universitas yang adikmu ingin pilih itu?" kata dadong mengingatkan Randi.


"Ah iya...putu lupa dadong!" jawab Randi sambil menepuk jidatnya.


Semuanya tertawa melihat tingkah Randi, termasuk Teddy, meski dalam pikirannya ingin sekali dia yang mengantar Riani, tapi dia tidak berani, karena dia khawatir akan ada salah paham nantinya, meskipun sebenarnya dia penasaran siapa yang akan Riani temui besok siang nanti...


.............


Keesokkan siang harinya, Riani dengan membonceng sepeda yang di kayuh pekak, berangkat menuju ke restoran yang sebelumnya sudah di konfirmasi oleh tante Grace lewat pesan singkat.

__ADS_1


Dalam perjalanan dengan penuh semangat pekak mengayuh sepedanya.


Ada rasa haru dan tangis kerinduan di hati Riani akan sosok ayahnya saat mengenang masa-masa kecilnya yang di manja dan di sayang oleh sang ayah dulu.


Tiba-tiba timbul rasa sakit yang teramat sangat saat mengingat detik-detik kepergian ayah tercintanya itu.


Hingga membuat tangan dan tubuhnya bergetar, air matapun tak terelakkan mengalir dengan derasnya.


Hingga pekak yang sedang mengayuh sepedapun terkejut karena sepedanya ikut bergetar dan hampir saja oleng dan jatuh, dengan segera pekak menghentikan kayuhan sepedanya.


"Kenapa nak?" tanya pekak bingung saat dia turun dari sepedanya dan melihat Riani turun dengan tubuh bergetar dan menangis.


"Maafkan Riani ayah...Semua karena salah Riani..." Kata Riani berjongkok sambil bicara sendiri.


Melihat Riani yang terlihat sangat terpukul dan sedih, pekak merasa iba, dengan pelan di ajaknya Riani berdiri dan duduk di pinggiran jalan.


Riani yang masih menangis sesenggukan duduk di samping pekak yang dengan penuh sabar menunggu Riani sambil menepuk-nepuk lembut pundak Riani.


.............


Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya tangis Riani berhenti.


"Maafkan Riani, karena hampir membuat kita terjatuh dari sepeda tadi..." Kata Riani akhirnya.


"Tidak apa-apa nak, sebenarnya ada apa, coba kamu ceritakan pada pekak?"


Riani pun menceritakan semuanya...


Mata pekak berkaca-kaca dan terlihat ikut sedih mendengar kisah pilu Riani, dengan penuh kasih sayang di peluknya tubuh Riani seolah ingin menunjukkan kasih sayangnya sebagai seorang ayah pada putri terkasihnya.


"Jadi orang yang yang akan kamu temui nanti adalah ibu dari Ethan?" tanya pekak setelah melepaskan pelukannya.


"Iya, dan Riani rasa dia ingin membicarakan sesuatu yang berhubungan dengan anaknya itu"


"Lalu bagaimana sikap putu saat bertemu beliau nanti?"


"Riani akan bersikap biasa, karena jujur, Riani tidak ingin lagi berhubungan dengan keluarga mereka..."


"Ya, sebaiknya memang begitu, putu harus melupakan semua kejadian yang berhubungan dengan masa lalu putu yang kelam seperti itu..."


"Iya pekak, Riani akan melakukan itu..."


"Kalau begitu ayo sebaiknya kita segera lanjutkan perjalanan kita, karena sepertinya kita sudah telat, beliau pasti menunggu putu"


"Baik, ayo pekak..."


Dengan segera pekak kembali menaiki dan mengayuh sepedanya lagi setelah Riani sudah duduk di belakangnya.


Tapi kali ini pekak mengayuh sepedanya dengan pelan, karena di pikirannya masih terganggu dan terngiang-ngiang cerita dari Riani.


Dia salut dengan sikap Riani yang kuat menghadapi semua cobaan dalam hidupnya, dari cobaan di masa lalu dan sekarang, karena menurutnya tidak ada perempuan yang mampu menghadapi semua itu.


Menurutnya Riani seorang anak perempuan yang tangguh dan mampu bangkit dari semua cobaan yang selama ini dia hadapi.


Dan jika dia mengingat kembali saat dia melihat Riani yang menangis tersedu-sedu dengan tubuh yang bergetar, hatinya ikut merasakan sakit dan sedih, mungkin jiwa sebagai orang tua ikut terpanggil.


Sedangkan di sisi Riani, pandangan matanya yang kosong, hatinya yang terlalu lelah membuat otak dan pikirannya tidak mau bekerja.


Dia hanya ingin segera menemui tante Grace dan menegaskan padanya kalau dia tidak ingin mempunyai hubungan lagi dengan keluarganya sehingga dia tidak terikat lagi dengan masa lalu kelamnya itu.


Ingin dia tunjukkan padanya kalau seorang Riani adalah wanita tangguh meski di bayang-bayangi masa lalu yang kelam...


...☆☆☆ ...

__ADS_1


__ADS_2