
Acara berkebun Riani dan Zoya pun selesai, setelah mereka berdua mencuci kaki dan tangan, mereka segera masuk ke dalam rumah setelah Dadong memanggil mereka untuk sarapan bareng.
Riani dan lainnya sudah duduk menghadap meja makan untuk sarapan, dengan menu apa adanya mereka segera menikmati sarapan dengan di selingi obrolan ringan.
Selesai sarapan Pekak memanggil dan mengajak Riani ke ruang tamu untuk membicarakan sesuatu.
"Apa ada sesutu yang serius untuk di bicarakan dengan saya Pekak?" tanya Riani meskipun sebenarnya dia tahu apa yang akan di bicarakan Pekak dengannya, karena tadi di kebun Zoya telah memberitahunya.
"Semalam Randi sempat bicara dengan Pekak, kalau putu ingin mencari tempat yang tenang tanpa ada orang yang bisa mengganggu liburan putu Riani, benar kah?"
"Benar Pekak, tapi saya tidak tahu kalau Randi langsung secepat itu mengatakan pada Pekak..."
"Nak...Kami semua sudah menganggap kamu sebagai bagian keluarga kami, putu Pekak dan Dadong, jadi...Apapun jika demi kebaikanmu kami semua pasti akan membantumu"
"Terima kasih banyak atas perhatian kalian semua, sebenarnya tadi Zoya sudah memberi tahu, kalau Pekak dan Randi baru saja dari Gili Air untuk membooking kamar di resort X untuk saya, tapi..." Kata Riani tidak melanjutkan.
"Tapi apa Nak?" tanya Pekak sambil mengeryitkan dahinya.
"Bukannya dengan begini saya sudah sangat merepotkan kalian, dengan adanya saya tinggal di sini saja sudah merepotkan kalian, di tambah dengan masalah yang saya bawa..."
"Kami membantu putu tulus, dan kami tidak merasa keberatan juga tidak merasa repot kok..." Jawab Dadong yang datang dari arah kamar.
"Ini Ki kartunya..." Kata Dadong sambil menyerahkan kartu berwarna hitam kepada Pekak.
"Terima kasih Ni, kartu ini putu bawalah dan nanti saat sampai di resort X serahkah saja kartu ini pada resepsionis, nanti mereka tahu dan akan mengantar putu ke kamar yang tadi Pekak dan Randi pesankan..." Kata Pekak sambil
menyerahkan kartu tadi kepada Riani.
"Lalu bagaimana dengan biayanya sendiri Pekak, biar saya ganti..." Tanya Riani sambil melihat kartu hitam yang sudah ada di tangannya.
"Tidak perlu putu ganti, anggap saja ini sebagai tanda terima kasih kami karena putu sudah menyelamatkan Zoya, dan kami sangat tulus jadi tolong jangan tolak pemberian dari kami..." Kata Dadong yang sudah berdiri di samping Riani.
" Tapi...Ini sepertinya terlalu mewah buat saya, karena setahu saya resort X ini sangat mahal untuk biaya per kamarnya..." Kata Riani ragu-ragu, karena menurutnya ini terlalu berlebihan jika hanya untuk membalas budinya.
"Kami tahu apa yang putu pikirkan, kami benar-benar tulus seperti putu saat menolong Zoya kami, dan kenapa kami melakukan semua ini karena semata-mata demi mewujudkan keinginan putu untuk mencari ketenangan hati dan pikiran tanpa adanya gangguan dari siapapun, dan karena kami ingin melihat putu bahagia, jadi jangan terlalu di pikirkan..." Kata Dadong yang seolah tahu dengan apa yang di pikirkan Riani.
__ADS_1
"Betul kata Dadongmu itu, putu Riani sudah kami anggap seperti anggota keluarga sendiri, jadi jangan terlalu di pikir berat dan nikmati saja dengan apa yang telah kami siapkan untuk putu, berbahagialah, oke?" kata Pekak tersenyum tulus.
"Baiklah, kalau begitu saya ucapkan banyak terima kasih atas semuanya..." Jawab Riani akhirnya, meski dalam hatinya masih banyak pertanyaan mengenai asal-usul dari kartu hitam yang dia pegang tersebut, karena kalau di lihat-lihat kartu member yang saat ini dia pegang hanya bisa di miliki oleh para eksekutif dan para pengusaha.
Dan kartu hitam ini biasanya di pakai khusus untuk booking kamar di resort kelas VVIP, Lalu bagaimana Pekak bisa memiliki kartu ini? itu yang menjadi teka-teki.
Pasti ada rahasia di balik kartu hitam tersebut, hanya Pekak, dan Dadonglah yang tahu jawabannya.
Di kala Riani masih tenggelam dalam pikirannya tiba-tiba Zoya datang dari arah belakang yang langsung memeluk erat tubuhnya.
"Kak Riani nikmati saja petualangan kakak di Gili Air nanti, dan jangan pikirkan yang lain, lepaskan semua beban dan masalah yang sedang kak Riani alami sekarang, bebaskanlah semua, jangan perdulikan yang lainnya, kakak ke sini kan untuk berlibur, jadi...Nikmatilah liburan kakak" kata Zoya setelah melepaskan pelukannya.
"Iya sayang, kamu memang paling pintar dan mengert kakak,, terima kasih ya..." Jawab Riani dan mencubit gemas pipi tembem Zoya yang langsung meringis kesakitan.
Saat melihat wajah Zoya, dia sering merasa iri karena meski usianya masih belia, tapi pemikirannya jauh melebihi orang dewasa, Riani sering di buatnya terkejut dengan hal-hal yang di lakukan gadis berusia remaja tersebut, entah dari cara pemikirannya ataupun kemandiriannya.
"Bli nanti kalau kak Riani berangkat ke Gili Air, Zoya boleh ikut mengantar ya?" rengek Zoya yang tiba-tiba sudah ada di samping Randi tanpa Riani sadari.
Pandangannya langsung beralih ke arah Zoya yang sedang merayu kakaknya.
"Asyik...Zoya boleh ikut mengantar kak Riani, kalau begitu Zoya juga mau ikut berkemas, terima kasih ya Bli" ucap Zoya, kemudian dia mencium pipi kakaknya dan dan segera pergi masuk ke dalam kamarnya.
Melihat tingkah kedua cucunya, Pekak dan Dadong hanya tersenyum dan gelengkan kepala.
"Oke, sekarang juga aku berkemas, sekali lagi terima kasih banyak atas semuanya..." Kata Riani sambil membungkukkan badannya sebagai tanda terima kasih, sedangkan Pekak dan Dadong menjawabnya dengan senyuman tulus dan belaian lembut penuh kasih sayang di kepalanya.
.............
Menjelang tengah hari terlihat Randi dan Zoya sudah menunggu Riani di teras, sedangkan Riani sendiri sedang berpamitan dengan Pekak dan Dadong di ruang tamu.
Dengan bersimpuh di bawah kaki keduanya dan bersimbah air mata.
"Riani pamit dulu, maafkan jika selama ini Riani merepotkan kalian, dan terima kasih sekali...Karena sudah menerima Riani di rumah ini, dan Riani bisa merasakan kehangatan serta ketulusan kasih sayang kalian semua..." Ucap Riani di tengah isak tangisnya.
"Justru kamilah yang seharusnya berterima kasih, karena kehadiran putu membuat perubahan yang baik buat Zoya" jawab Dadong yang memudian mengusap air matanya.
__ADS_1
"Benarkah? syukurlah kalau Riani bisa membawa perubahan baik di keluarga ini, Riani pasti akan merindukan kalian..."
"Kalau nanti ada waktu dan kesempatan datanglah lagi kemari, karena pintu rumah ini selalu terbuka untuk putu..." Jawab Pekak terharu.
"Pasti! pasti Riani akan mampir lagi ke sini menengok kalian, kalau begitu Riani pamit dulu..."
"Pergilah Nak, hati-hati dan kamu harus kuat juga tegar karena kami yakin kamu pasti bisa..." Kata Dadong sambil mengelus lembut kepala Riani yang masih bersimpuh.
Akhirnya tangis Riani pecah, terasa berat baginya untuk meninggalkan keluarga baru yang sangat memperhatikannya.
Dengan berat hati akhirnya Riani melangkahkan kakinya meninggalkan dua orang tua yang sudah dia anggap sebagai orang tuanya sendiri.
.............
Dengan menggunakan perahu boat, Riani, Randi dan Zoya meyebrangi lautan menuju Gili Air.
Hanya dalam kurang lebih setengah jam jarak tempuh, akhirnya perahu boat yang mereka tumpangi siap mendarat.
Terlihat pemandangan di pinggiran pantai dengan pasir putihnya.
Berjejernya perahu nelayan dan perahu boat, kemudian sepasang ayunan yang menjadi simbolik dan ciri khas dari gili air.
Setelah dia turun dari perahu boat, dia ingi melihat dan mencoba sepasang ayunan yang menjadi ikon gili air dan sudah menjadi buah bibir para traveler.
Sesampainya di ayunan tersebut dia pun mencoba di salah satu ayunan.
Dalam hati, Riani berdoa dan berharap semoga di gili air ini menjadi persinggahan terakhirnya dalam mencari ketenangan hati tanpa adanya perasaan was-was dengan kehadiran orang yang tidak ia inginkan.
Biarlah Gili Air menjadi saksi persinggahan terakhirnya untuk bisa melepaskan diri dari masalahnya, dan bisa berjalan tegak lagi menyambut masa depan...
...☆☆☆...
__ADS_1