
Iky membukakan pintu mobil untuk Riani sesaat setelah mang Muh menghentikan mobilnya di depan rumah.
Dengan senyum ramahnya Iky menyambut Riani yang segera turun dari mobil.
"Kamu sudah pulang Ky? kapan kamu datangnya?" tanya Riani dengan senyum sumringahnya.
"Iya Mb, baru satu jam yang lalu"
Mereka berdua pun berjalan masuk ke dalam rumah sambil mengobrol santai mengenai sekitar pekerjaan Iky.
Setelah mereka berdua sampai di ruang tamu, Riani mengernyitkan keningnya saat melihat sosok gadis remaja berhijab yang segera berdiri ketika melihat Riani dan Iky datang.
"Assalamualaikum Kak..." Ucap gadis tersebut langsung menyambut keduanya dengan mencium punggung tangan Riani dan memberi salam pada Iky dengan mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
Riani masih bingung karena dia benar-benar belum pernah melihat dan mengenal gadis manis di depannya tersebut.
"Ee...Duduklah Dek" kata Iky, mempersilahkan.
Riani mengalihkan pandangannya pada Iky dengan raut wajahnya yang masih bingung.
Iky yang di lihat Riani seperti itu hanya mengangkat kedua bahunya.
"Akhirnya Mba Riani pulang juga..." Kata Andy yang berjalan dari arah luar dengan Nuna mengikuti di belakangnya.
Riani dan Iky serempak menoleh ke arah mereka.
Andy dan Nuna berjalan ke arah gadis tersebut.
"Perkenalkan Mba, ini adik saya Eksi namanya..." Kata Andy memperkenalkan gadis yang berada si sampingnya tersebut.
"Oo...Ini adik kamu yang di rumah sakit dulu itu ya?" tanya Riani dan spontan mengelus lembut kepala gadis yang bernama Eksi tersebut.
"Iya Kak..."Jawab Eksi dengan senyum tersipu malunya.
"Ayo, silahkan duduk!" kata Iky mempersilahkan mereka.
Mereka semua pun duduk, Mbok Sri datang dari arah dapur sambil membawa baki yang penuh berisi gelas air minum dan makanan ringan.
Setelah menyuguhkan dan mempersilahkan, mbok Sri kembali ke dapur.
"Silahkan di nikmati..." Kata Iky selaku tuan rumah.
"Maaf...Saya pamit untuk ganti baju sebentar" kata Riani setelah meneguk teh hangatnya.
"Iya..." Jawab semuanya.
Riani segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya.
__ADS_1
Saat dia masuk ke dalam kamar, terlihat oleh Riani, Ibunya sedang mengambil amplop dari balik tumpukkan bajunya.
"Apa itu Bu?" tanya Riani sambil menutup kembali pintu kamarnya.
"Uang sekedarnya untuk membantu Ibunya Eksi berobat..."
"Ibu sudah bertemu dengan Eksi?"
"Sudah tadi dan mengobrol sebentar, kamu mau ikut tidak berkunjung ke rumahnya Eksi?"
"Ibu mau ke rumah mereka?"
"Iya, Ibunya Andy dan Eksi ternyata sahabat lama Ibu, jadi Ibu ingin bertemu sekaligus menjenguknya, karena kata mereka Ibunya sedang sakit"
"Sepertinya kapan-kapan saja Bu ikut ke rumah mereka, badanku lemes semua, ingin tidur sebentar"
"Kalau kamu kurang enak badan, sebaiknya Ibu tunda dulu ke rumah merekanya"
"Jangan Bu, tidak enak sama Andy dan Eksi, aku tidak apa-apa kok, cuma kecapekan saja..."
"Ya sudah, kamu istirahatlah dulu, ibu keluar ya?" kata Bu Widya membelai lembut kepala Riani.
Setelah berganti baju dan mengambil tas jinjingnya Bu Widya pun keluar kamar, meninggalkan Riani yang juga sedang berganti baju.
Selesai berganti baju Riani membaringkan tubuhnya yang terasa lemas, meskipun dia baru saja melakukan perawatan tubuh di Spa.
Namun dia segera bangun kembali saat ingat bahwa dia belum ngobrol sekaligus pamit untuk istirahat pada Iky dan lainnya yang masih berada di ruang tamu.
Namun hampir saja Riani sampai di ruang tamu, tanpa sengaja dia mendengar pembicaraan antara Ibunya dengan Andy yang membuat Riani terkejut.
"Sekali lagi terima kasih banyak, karena tante sudah sudi berdonor darah sehingga bisa menyelamatkan nyawa adik saya" Ucap Andy.
"Iya nak Andy, sama-sama, tante senang sudah bisa membantu Eksi, apalagi setelah tahu bahwa kalian adalah anak dari sahabat lama tante"
"Jadi yang mendonorkan darah Ibu?" tanya Riani yang berjalan ke arah mereka, membuat semuanya terkejut, terutama ibunya dan Andy.
"Nak...Katanya mau istirahat?" kata bu Widya terkejut.
"Tadi rencanaya mau pamit sama mereka, kalau aku mau istirahat duluan, tapi ternyata mendengar permbicaraan yang mungkin tidak seharusnya aku dengarkan, Ibu belum menjawab pertanyaan dariku..."
"Iya...Ibu mendonorkan darah untuk membantu Eksi"
"Lalu bagaimana dan dari siapa Ibu bisa tahu kalau Eksi membutuhkan pendonor darah yang jenis golongan darahnya sama dengan Ibu? tidak mungkin itu kebetulan kan?"
"Awalnya Ibu menelpon nak Roro untuk menanyakan kabar tentangmu, karena waktu itu kamu tidak ada kabar dan ponselmu juga tidak bisa di hubungi, dan dari situlah Roro cerita mengenai keinginanmu untuk berdonor darah yang tentu saja ibu keberatan dengan keputusanmu itu, apa lagi kamu sedang hamil dan kondisi yang lemah, jadi ibu mengajukan diri untuk menggantikanmu, jadi...Bukankah ini bisa di bilang juga dengan kebetulan?"
"Lalu kenapa Ibu harus menyembunyikan hal ini dariku?"
__ADS_1
"Ibu tahu kamu, dengan sifatmu itu...Ibu yakin kamu tidak akan mengijinkan Ibu, di tambah kamu juga sedang hamil dan sakit jadi Ibu khawatir jika Ibu tidak menyembunyikan ini akan memperburuk keadaanmu..."
"Bu, maafkan aku...Yang membuat Ibu sampai berpikiran jauh seperti itu, semata-mata demi kebaikanku"
"Semua Ibu pasti akan melakukan hal yang sama, kelak kamu juga akan mengalaminya juga"
"Maaf Mba jika kami semua menyembunyikan hal ini dari Mba..." Ucap Andy merasa bersalah.
"Maafkan Eksi juga ya Kak, Tante, karena sudah membuat masalah diantara kalian..."
"Bukan salahmu Eksi, tapi aku...Andaikan aku tidak datang menemui kak Riani dan memintanya untuk membantuku mungkin tidak akan terjadi seperti ini" kata Nuna merasa lebih bersalah.
"Sudah...Jangan saling merasa bersalah, ambil hikmahnya saja, contohnya sekarang, karena kejadian ini tante akan segera bertemu kembali dengan sahabat lama Tante yang sudah puluhan tahun terpisah..." Kata Bu Widya menengahi
"Betul itu, aku tidak menyalahkan kalian kok, lagi pula salah paham yang terjadi diantara kami berdua sudah biasa terjadi dan itu lumrah dalam sebuah keluarga..."
Tarikan nafas lega dari Nuna, Andy dan Eksi pun terdengar bersamaan.
"Sekali lagi terima kasih banyak atas kesudian dan ketulusan Tante juga Mba Riani membantu kami" ucap Andy lagi, terharu.
"Iya sama-sama, jangan sungkan seperti itu, kita sesama harus saling membantu, siapa yang tahu suatu saat nanti justru Tante dan Riani butuh bantuan kalian, iya kan?" jawab bu Widya bijak.
"Eee...bagaimana kalau sebelum kalian ke rumah Andy kita makan siang dulu? Mbok Sri sudah selesai masaknya" Usul Iky yang sedari tadi hanya diam menyimak.
"Baiklah, memang sudah waktunya makan siang juga, ayo semuanya kita makan siang bersama!" ajak bu Widya yang segera bangun dari duduknya, kemudian menggandeng Nuna dan Eksi menuju ke ruang makan.
.............
Selesai makan siang dengan di antar mang Muh, Bu Widya, Andy, Nuna dan Eksi segera berangkat ke rumah keluarga Andy dan Eksi.
Setelah mobil yang di kendarai mang Muh keluar dan menghilang di balik bayangan bagunan yang menjulang tinggi, Iky minta ijin masuk terlebih dahulu untuk beristirahat di kamarnya.
Sedangkan Riani karena belum ada niat untuk tidur siang, dia mengambil buah delima dan meladonya sambil duduk di kursi teras rumah dan bermain game di ponselnya.
Angin semilir yang berhembus sejuk dan menciptakan nada indah yang keluar dari gemerisik dedaunan pohon yang saling bersentuhan, seolah menemani waktu santai Riani yang sudah lama tidak dia rasakan.
Hingga datang sesosok pria dengan perawakan tinggi tegap menghampiri Riani yang masih fokus bermain game dan memakan satu demi satu biji dari buah delima dan mencecap air dari buah tersebut.
"An-an!" panggil pria tersebut dengan suara khas seraknya tersebut.
Riani seketika mendongakkan kepalanya mendengar nama kecilnya di panggil, yang notabena hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahui nama itu.
Dan saat dia melihat siapa yang berdiri di depannya, betapa terkejutnya dia.
"Kamu?!" hanya satu kata yang keluar dari mulut Riani dengan matanya yang terbelalak karena terkejut.
"Iya An-an, ini aku...Masihkah kamu mengenali dan mengingatku?" jawab sosok pria tersebut dengan senyum misteriusnya.
__ADS_1
Riani hanya diam dan berpikir keras mencoba mengingat sosok pria di depannya itu, karena satu hal yang pasti, bahwa dia adalah pria yang pernah ia kenal dekat di masa lalunya, ya...Pria di masa lalunya, meskipun beberapa hari yang lalu dia sudah mengenalnya...
...☆☆☆...