
Riani dan Ethan saling melepas pelukan mereka, mata keduanya saling menatap penuh arti dan penyesalan yang mendalam.
"Sebaiknya kita pulang, aku takut kejadian tadi terulang lagi jika kita tetap di sini..." Ucap Riani lirih.
"Maafkan aku An-an..." Ucap Ethan tertunduk merasa bersalah.
"Aku juga minta maaf Than, seharusnya...Aku menolak ciumanmu, tapi kenyataannya..."tubuhku tidak bisa berbohong..." (ucap Riani dalam hati), Aku benar-benar merasa berdosa pada bayiku ini..." Jawab Riani, dengan tangis yang akhirnya pecah.
Ethan kembali memeluk erat tubuh Riani.
"Kenapa kita seperti ini...? Kenapa aku harus mengalami semua ini...? aku sudah tidak kuat lagi..." Tangis Riani yang semakin menjadi.
"Menangislah...Keluarkan semua beban di hatimu, menangislah..."
Di kecupnya lembut kepala Riani, tercium olehnya wangi rambut yang tidak asing di hidungnya, wangi rambut yang tidak pernah berubah.
"Apa kamu masih memakai shampo rambut yang dulu?" tanya Ethan mencoba mengalihkan pembicaraan untuk meredakan tangis Riani.
Riani hanya menjawab dengan anggukan kepalanya.
Suara dering panggilan masuk membuat keduanya saling menjauhkan diri.
Dan saat Riani melihat nama si penelpon, dia agak terkejut.
Mas Radja menelpon, aku angkat dulu ya Than?"
Ethan hanya mengangguk dan menatap Riani yang berjalan menjauhinya, ada perasaan sedih melihat cinta pertamanya itu dalam keadaan tertekan seperti itu, terlebih lagi dirinya tidak bisa sama sekali membantu Riani, meski hanya sekedar menghiburnya, justru dia cenderung membuat Riani semakin sedih.
.............
"Ya Mas, ada apa?"
"Kamu sekarang di mana?"
"Aku sekarang di tepi pantai, kenapa Mas?"
"Bersama siapa kamu di sana?"
"Bersama Ethan"
"Ethan?!" kata Radja dari seberang sana dengan suara agak keras.
" Ada hal yang kami berdua ingin bicarakan" jelas Riani.
Tidak ada suara dari Radja untuk beberapa saat.
"Mas? kamu masih di sana?"
"Tapi...Haruskah di pantai dan tidak di tempat lain yang lebih ramai saat kalian membicarakan sesuatu?" Jawab Radja akhirnya.
"Kita ingin membicarakannya di tempat yang tenang Mas, apalagi hanya pantai ini yang terdekat dengan rumah"
"Maksud kamu...Biar bisa berduaan dengan mantan cinta pertamamu itu kan?" tanya Radja dengan nada cemburunya.
"Mas! ini yang membuat aku malas berbicara denganmu, karena apapun yang kita bicarakan pasti berujung dengan pertengkaran" kata Riani dengan nada kesal.
"Oke...Oke, Mas minta maaf, lalu...Kapan kita berdua bisa bicara?"
...
__ADS_1
"Dek...?"
"Besok jam dua siang Mas jemput aku"
"Baiklah, Dek! Mas tutup dulu teleponnya, ada panggilan masuk nih..."
"Oke"
"Cepatlah pulang Dek, hari menjelang sore, hati-hati dan jaga kesehatan"
"Iya Mas, ini aku akan pulang"
"Kalau begitu, Assalamualaikum..."
"Wa'alaikum salam..."
Setelah Radja menutup teleponnya, Riani berjalan kembali dan menghampiri Ethan yang masih menunggunya, terlihat olehnya Ethan sedang menatap lekat dirinya.
"Kamu kok ngliatin aku kayak gitu sih Than?" kata Riani sesampainya di depan Ethan, dengan tersipu malu.
"Kamu terlihat semakin cantik dengan perut besarmu ini" jawab Ethan polos, sambil tangannya mengelus lembut perut Riani.
Ada tatapan tulus dan penuh kasih sayang di mata Ethan hingga membuat Riani merasa terharu.
Perlahan hatinya luluh dan melupakan kesalahan Ethan dulu, terlebih perbuatannya waktu itu karena pengaruh dari sakit yang sedang dia derita.
"Semua ibu hamil akan terlihat lebih cantik dan lebih menawan, makanya kamu juga harus bisa membuat hamil Vio istrimu..."
"Kamu benar-benar ingin aku melakukan itu An-an?" tanya Ethan dengan raut wajah yang sedih dan kecewa.
Dan itu bisa terbaca dengan jelas oleh Riani.
"Andai kata aku tidak menginginkannya pun kamu tetap harus bisa melakukannya, karena dalam agama ku atau agama mu adalah wajib hukumnya untuk melakukan tanggung jawabmu sebagai seorang suami pada istrinya..."
"Tapi Than...Kamu juga harus memberikan hak Vio sebagai istri"
"Aku pernah berjanji padamu untuk menjadi suami yang baik bagi Vio, aku akan melakukannya tapi tidak untuk yang satu ini, jadi...Jangan paksa aku An-an, please..."
"Oke...Oke, maafkan aku jika terlalu memaksamu, ayo kita pulang sekarang" jawab Riani menepuk-nepuk lembut pundak Ethan dan segera mengalihkan pembicaraan.
Riani berpikir jika dia terus memaksa Ethan, takutnya akan memicu penyakitnya dan memunculkan pribadi lain dari Ethan, dan jika itu terjadi kemungkinan besar dia tidak tidak bisa menghindar, apalagi dengan keadaan sekitar yang sepi dan jauh dari pemukiman, dan posisi supir serta mobil Ethan juga jauh dari mereka berdua.
"An-an...Ayo! katanya mau pulang?"
Tepukan lembut Ethan di punggung tangan Riani membuatnya tersadar dari lamunan.
"Sorry...Sorry, Ayo!"
Riani segera mendorong kursi roda Ethan, kemudian keduanya meninggalkan tempat tersebut.
Sesampainya di mobil, sang sopir dengan sigap kembali membantu Ethan untuk naik ke dalam mobil.
Dengan tangkas supir menjalankan mobilnya setelah sang tuannya memberikan perintah.
.............
Baru saja Riani turun dari mobil Ethan, Ibunya dan papah Ethan sudah menghampirinya dengan tatapan cemas mereka.
"Tante, Om...Saya pamit pulang dulu" ucap Ethan berpamitan.
__ADS_1
"Iya nak Ethan, hati-hati..." Jawab bu Widya, hatinya sedih, andai saja tidak ada kejadian yang merenggut suaminya, dia pasti sudah memeluk dan mnegelus-elus kepala Ethan seperti dulu.
Widya melihat mobil Ethan yang berjalan menjauh dan menghilang, setelah itu dia mengajak Riani masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di ruang tamu dan mendudukkan Riani, Widya dan Rolland menatap serius pada Riani.
Melihat Ibu dan papahnya bersikap seperti itu membuat Riani timbul firasat yang tidak enak di hatinya.
"Ada apa Bu, Pah? kenapa kalian berdua menatapku seperti itu?" tanya Riani heran.
Mereka tidak segera menjawab melainkan saling pandang, seolah mereka tidak berani mengatakannya dan saling mendorong untuk berbicara pada Riani.
Melihat mereka yang seperti itu membuat Riani merasa kalau Ibu dan Papah angkatnya itu terlihat cocok dan seperti ada ikatan yang tak terlihat diantara mereka berdua.
Memikirkan itu Riani hanya tersenyum simpul.
"Ayo Bu, katakan saja...Ada apa sebenarnya?" tanya Riani lagi, karena tidak ada kata sepatahpun yang keluar dari mulut mereka berdua.
"Ehem! selama Ethan tadi bersamamu apakah penyakitnya kambuh? karena ibu sangat mengkhawatirkanmu setelah Lana memberitahu kalau kamu sedang keluar dengannya" jawab Ibu Widya.
"Selama aku bersamanya sakit Ethan tidak kambuh, buktinya aku masih baik-baik saja sekarang"
"Syukurlah kalau begitu..."
"Tapi Bu, aku rasa bukan hal ini yang sebenarnya ingin Ibu katakan, dan ada hal yang lebih penting dari ini kan?" tanya Riani, peka dengan sikap Ibunya yang terlihat menutupi sesuatu, apalagi saat dia melihat ekspresi Papah Rolland yang menghela nafas panjang saat Ibunya menjawab pertanyaannya tadi.
"Begini Nak, kamu benar...Sebenarnya ada hal penting yang ingin Papah dan Ibumu beritahukan, kami...kami berdua..." kata Rolland ragu-ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Kalian berdua apa Pah?" tanya Riani yang mulai tidak sabar dengan jawaban yang bertele-tele dari papah angkatnya itu.
"Kami berdua sudah menikah!" celetuk Bu Widya.
Mendengar jawaban spontan dari Ibunya, Riani seketika terkejut, dan lebih terkejut saat dia mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Papah angkatnya tersebut...
"Papah adalah ayah kandungmu Nak, maaf selama ini tidak menjagamu..." Kata papah Rolland dengan bibir yang bergetar.
Dan saat Riani menatap mata papah Rolland dengan pengakuannya itu, terlihat dengan jelas olehnya ada kejujuran di sana.
"Kalian bercanda kan? kalau Ibu dengan Papah ingin menikah, menikah saja...Aku pasti akan memberi ijin kalian, tapi tidak dengan cara seperti ini juga kan?" jawab Riani antara tidak percaya dan ragu-ragu.
"Nak...Maafkan Ibu ya, karena sudah menyembunyikannya selama ini, sebenarnya ..."
"Bu! Aku belum siap mendengar semuanya, maaf...Aku capek, ingin istirahat, aku masuk kamar dulu" potong Riani, dia segera beranjak dari duduknya dan meninggalkan mereka berdua yang tertunduk dan kemudian saling bertatapan penuh dengan kesedihan.
"Istriku, sebaiknya kamu bujuk dia, coba bicara dan jelaskan semuanya alasan kenapa kita harus menikah" kata Rolland.
"Baiklah, aku akan bicara dengannya sekarang"
Rolland mengangguk, kemudian Widya segera bangun dari duduknya dan meningglkan Rolland yang masih terpaku memandang kepergian istrinya tersebut.
.............
Riani masih tertegun di depan cermin.
Di elus-elus perutnya dengan lembut.
"Maafkan Bunda ya Nak...Kamu belum lahir saja sudah banyak mengalami hal-hal yang berat seperti ini...Bunda yakin kamu kelak akan menjadi anak yang kuat..." (Bisik Riani dengan mata yang berkaca-kaca)
Hatinya gundah, dia percaya bahwa apa yang di katakan Ibu dan papahnya adalah sebuah kenyataan yang jujur, tapi...Kenapa selama ini dia tidak tahu apa-apa? dan kenapa semenjak dia lahir ibunya tidak pernah menceritakan perihal ayah kandungnya? dan juga kenapa baru sekarang mereka ungkapkan semuanya?
__ADS_1
Banyak pertanyaan dalam benaknya yang ingin terjawabkan, namun di hati kecilnya dia juga tahu kalau perasaannya belum siap untuk mendengar dan menerima semuanya, karena hal itu terlalu mendadak baginya...
...☆☆☆...