
Riani berjalan meninggalkan ruangan tersebut, kemudian dia kembali ke rumah Iky.
Terdengar olehnya suara tawa lepas ibunya bersama si Mbok, pribadi Mbok Sri yang ceria dan humoris membuat suasana di rumah tersebut terasa lebih ramai.
Riani segera masuk ke dalam rumah, setelah mendengar Ibunya memanggil namanya.
"Iya Bu?" jawab Riani setelah masuk dan menghampiri ibunya.
"Hari menjelang Maghrib, pamali kalau orang hamil masih di luar, harus segera masuk ke dalam rumah"
"Iya Bu maaf..."
"Ibu nggak mau terjadi sesuatu dengan calon cucu Ibu ini..." Kata Bu Widya mengelus lembut perut Riani.
"Ayo nak kita siap-siap untuk sholat Maghrib" ajak Bu Widya.
"Ayo Bu, bibi juga ya? kita sholat bareng"
"Iya Non, kalau begitu Bibi juga siap-siap dulu"
Setelah Maulana juga sudah siap, mereka semua segera menemui Mang Muh yang sdh menunggu mereka untuk menjadi Imam Sholat mereka.
Setelah selesai sholat bersama, seperti biasanya Mang Muh juga memimpin tadarusan.
.............
Setelah selesai sholat Maghrib, mereka lanjutkan dengan makan malam bersama.
Iky yang baru saja pulang bersama anggota lainnya membawa banyak makanan dari restoran seafood.
Setelah Bi Sri mempersiapkan semuanya merekapun menikmati hidangan Seafood tersebut, tek terkecuali dengan Riani yang dengan lahapnya menyantap bubur seafood yang masih hangat.
Beberapa saat kemudian Om Rolland datang membawa berbagai jenis makanan dan cemilan.
"Kenapa harus repot-repot membeli begitu banyak makanan dan Minuman?" kata Widya menyambut Rolland.
"Tidak apa-apa Bu, untuk stok setiap kali Riani ingin ngemil, karena biasanya orang hamil kalau malam-malam ingin makan sesuatu"
"Kalau begitu terima kasih banyak atas semuanya ini pak Rolland, mari Pak kita makan malam bersama, kebetulan kami sedang makan malam dan Iky membeli banyak makanan"
"Baiklah, kebetulan saya juga belum makan malam dan sudah sangat lapar, terima kasih banyak Bu"
"Sama-sama Pak, mari..." Ajak Widya, mereka berdua berjalan menuju ruang makan di mana Riani, Maulana dan Iky sedang menikmati makan mereka.
"Pah...Ayo kita makan bareng" sambut Iky.
"Iya Om, mari makan" sambut Riani pula.
"Baiklah, terima kasih..." Om Rolland menarik kursi dekat Widya kemudian duduk.
Mereka semua akhirnya melanjutkan makan malam.
Pukul sepuluh malam Om Rolland pamit pulang setelah membicarakan rencana Riani untuk menjenguk Ethan besok.
Sedangkan Riani setelah sholat Isya kembali berkutat dengan laptop nya, mulai memeriksa dan mendata hal-hal yang berhubungan dengan proyek Mega Restoran.
Suara nada panggilan masuk menghentikan kegiatan Riani yang masih serius dengan laptopnya.
Setelah melihat siapa yang menelponnya, senyum tersungging di bibirnya.
"Assalamualaikum Mi-Ro, gimana kabarnya" kata Riani setelah mengangkat teleponnya.
"Alkhamdulillah baik An-an ku sayang, bagaimana kabarmu dan calon keponakanku?" jawab Roro.
"Alkhamdulillah...Aku dan juga kandunganku baik-baik juga sehat semuanya"
"Alkhamdulillah, syukurlah...Oh ya! aku sudah memberikan surat pengunduran dirimu di HRD dan pihak kantor belum memberi keputusan"
"Oo ya sudah nggak papa, terima kasih banyak ya Mi-Ro sudah membantuku untuk mengurus semuanya...
"Sama-sama, tapi...Teddy terus mendesakku dan selalu menanyakan keberadaanmu, sebenarnya aku tidak tega dan juga tidak enak hati sama dia"
"Tapi kamu tidak memberitahunya kan?"
"Tentu saja tidak, karena kamu memintaku untuk tidak memberitahunya, jadi hingga sekarang semuanya aman, kamu tenang saja ya..."
"Iya Mi-Ro terima kasih, tapi... "
__ADS_1
"Tapi kenapa An-an?"
"Sepertinya aku belum bisa pindah ke luar kota, dan tinggal beberapa hari lagi di kota ini"
"Memangnya ada apa An-an?"
"Kemarin Viola, istri Ethan menemuiku dan memberitahu kalau Ethan sekarang sedang kritis di rumah sakit karena mencoba bunuh diri dengan meminum racun..."
"Apa?! sampai sebegitunya dia karena putus asa tidak bisa menemukanmu?"
"Iya Mi-Ro, dan karena itu Viola memohon padaku untuk menjenguk Ethan dan berharap setelah kedatanganku Ethan bisa melewati masa kritisnya"
"Lalu apa keputusanmu, dan akankah kamu datang untuk menjenguknya?"
"Iya, besok aku akan datang menjenguknya"
"Terus kamu datang di temani siapa?"
"Ibu dan Om Rolland"
"Nanti kamu yang hati-hati ya An-an, karena aku rasa Radja juga sedang mengikutiku da menyelidiki keberadaanmu, aku khawatir dia akan membuat masalah"
"Kamu tenang saja Mi-Ro, karena ada dua pengawal juga yang akan ikut bersamaku ke rumah sakit"
"Syukurlah kalau begitu...Tapi kamu tetap harus hati-hati dan jaga kandunganmu"
"Iya, pastinya Mi-Ro..."
"Kalau begitu aku tutup dulu ya teleponnya, kamu istirahatlah dan jangan tidur terlalu malam"
"Oke!"
"Bye, Assalamualaikum..."
"Bye, Wa'alaikum salam..."
"Tuuuut..." Bunyi tanda Roro sudah menutup teleponnya membuat Riani meletakkan ponselnya kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kamar.
Terlihat Ibunya, Iky dan Maulana sedang berbincang santai.
"Kamu belum tidur Nak?" tanya Bu Widya.
"Kamu cepatlah istirahat, jangan terlalu malam tidurnya"
"Iya Bu"
"Ibu buatkan susu dulu untukmu"
"Baik, terima kasih Bu..."
Bu Widya bangun dari duduknya dan segera berjalan menuju ke arah dapur.
Sedangkan Riani duduk diantara Maulana dan Iky.
"Bagaimana Mba, apakah besok jadi ke rumah sakit untuk menjenguk Ethan?" tanya Iky membuka obrolan.
"Jadi, tadi aku sudah membicarakannya dengan papah kamu"
"Apa Lana boleh ikut Kak" tanya Maulana.
"Tidak usah Dek, kamu di sini saja"
"Baiklah..."
"Ini susunya, kamu minumlah setelah itu beristirahatlah"
"Iya Bu, terima kasih..."
Riani meminum habis susu yang di berikan oleh ibunya tersebut, setelah itu dia pamit untuk kembali ke kamarnya, karena dia juga sudah merasakan kantuk yang luar biasa.
Dan tanpa menunggu lama setelah tubuh Riani di atas kasur, dengan cepat matanya tertidur dengan lelapnya.
.............
Pukul delapan pagi, Om Rolland sudah datang menjemput Riani dan Ibunya untuk mengantar mereka berdua ke rumah sakit.
Setelah sarapan Riani, Bu Widya, Om Rolland, Iky dan satu pengawal lainnya berangkat menuju ke rumah sakit di mana Ethan di rawat.
__ADS_1
Dengan sigap dan hati-hati Mang Muh melajukan mobilnya meninggalkan rumah.
.............
Sesampainya di rumah sakit mereka segera menuju ke ruangan ICU di mana Ethan berada.
Saat hampir sampai di ruangan ICU tersebut terlihat orang-orang yang Riani kenal sedang berkumpul di pintu masuk.
Tante Grace, Om Marcel, Viola dan pria yang wajahnya mirip dengan Om Rolland, dan Riani bisa menebaknya itu adalah Om Ronand, ayah Viola.
Mereka semua terlihat cemas, hati Riani jadi merasa kalau ada sesuatu yang sedang terjadi.
Melihat kedatangan Riani dan rombongannya, dengan segera Viola menghampiri Riani dan langsung memeluknya erat dengan tangisnya yang pecah, membuat Riani menyadari bahwa terjadi sesuatu dengan Ethan di dalam.
Hati Riani menjadi tidak karuan, dan merasa iba pada Viola.
Rasa cinta Viola yang besar membuat Riani berpikir, betapa sangat beruntungnya Ethan mempunyai istri seperti dia.
Riani hanya terdiam dan menepuk-nepuk pundak Viola yang masih menangis di pundaknya, sedangkan Om Rolland tampak serius berbicara dengan Om Ronand, tante Grace dan om Marcel.
Sedangkan Iky dan rekannya hanya terdiam.
Sesaat kemudian seorang Dokter keluar dari ruang ICU dengan tergesa-gesa, membuat semua orang menuju ke arahnya.
"Bagaimana dengan keadaan anak saya Dok?" tanya tante Grace, cemas.
"Siapa diantara kalian yang bernama An-an?" kata sang Dokter.
Mendengar nama yang di sebutkan oleh Dokter tersebut, membuat Riani terkejut, karena itu adalah nama kecilnya dan hanya Ethan dan Roro yang tahu.
"Saya Dok!" jawab Riani segera.
"Anda masuklah, karena tadi sebelum keadaannya ngedrop dan kembali kritis pasien sempat menyebut nama Anda" Kata sang Dokter dan segera membukakan pintu untuk Riani.
Dan tanpa berpikir panjang, Riani segera masuk ke dalam setelah memakai baju khusus.
Hati Riani bergetar saat melihat tubuh Ethan yang terbaring tak berdaya dengan berbagai macam alat medis menempel di tubuhnya.
Perasaan takut dan trauma pada Ethan karena kejadian itu seketika hilang semuanya dan berubah menjadi perasaan sedih dan iba.
"Sekarang Anda coba berbicara pada pasien, dengan cara membisikkan kalimat-kalimat pendukung yang bisa membuatnya kembali dan bisa melewati kritisnya" kata sang Dokter tadi.
"Baik Dokter..."
Riani segera berjalan menuju ke arah Ethan, sedangkan Doker yang lain masih sibuk berusaha menangani dan menolong Ethan.
Di dekatkannya mulut Riani ke arah telinga Ethan.
"Fa'i...Ini aku An-an, sekarang aku di sini untuk menjemputmu, cepatlah kembali..." Bisik Riani lembut dengan tangan membelai pelan rambut Ethan, tanpa dia sadari airmatanya mengalir deras.
"Tolong...Jangan seperti ini lagi dan jangan membuatku merasa sedih dan merasa bersalah karena keadaanmu yang seperti ini..." Kata Riani lagi dengan suaranya yang bergetar.
Tiba-tiba air mata mengalir di wajah Ethan, dengan di barengi suara alat deteksi jantung milik Ethan yang kembali normal.
Semua Dokter di ruangan tersebut menarik nafas lega.
"Terima kasih sudah membantu kami untuk menyelamatkan pasien dan melewati masa kritisnya..." Ucap sang Dokter dengan senyum leganya.
"Sekarang Anda boleh keluar dan menunggu kabar dari kami, selanjutnya biar kami yang akan menangani pasien, sekali lagi terima kasih..." Ucap sang Dokter dengan senyum ramahnya.
"Baik Dokter, sama-sama..."
Riani segera beranjak dan berjalan keluar setelah melepas baju khususnya.
Semua orang segera mengerumuninya setelah melihat Riani keluar dari ruangan tersebut.
"Bagaimana keadaannya Nak?" tanya tante Grace.
"Bagaimana keadaan Ethan Kak?" tanya Viola, setelah Riani terdiam lama dan tidak menjawab pertanyaan dari ibu mertuanya itu.
"Sekarang Ethan sudah melewati masa kritisnya dan sekarang kita tinggal menunggu kabar selanjutnya, karena Dokter di dalam sedang menindak lanjuti keadaan Ethan..." Jawab Riani lemas.
Semuanya langsung menarik nafas lega.
Om Rolland yang merasa khawatir karena melihat Riani dengan wajah pucatnya dan langkahnya yang lemas segera mendekatinya dan merangkul pundaknya, kemudian menuntunnya ke arah tempat duduk.
Riani tenggelam dalam pikirannya, angannya kembali teringat dengan wajah Ethan yang menangis.
__ADS_1
Saat itu perasaan Riani merasa sangat sedih, dan semua rasa tidak nyamannya seketika itu juga runtuh dan luluh pada Pria yang pernah membuatnya merasa bahagia sekaligus menderita dulu, ya... Kini hatinya telah luluh...
...☆☆☆...