
Sementara itu om Rolland yang keluar dari kamar Riani dengan di ikuti Nando di belakangnya, berjalan menuju restoran dekat rumah sakit.
Setelah mereka duduk, sambil menunggu makanan yang mereka pesan datang, keduanya mengobrol dan membahas niat Riani berdonor.
"Nando, coba kamu nanti ikut mencari orang-orang yang golongan darahnya sama dengan temannya Riani itu di sekitar kantormu dan teman-temanmu"
"Baik Pah, tapi...Bukankah Papah adalah ayah kandung mba Riani, kenapa papah tidak menggantikannya berdonor darah? atau adakah alasan lain Pah?"
"Karena golongan darah papah tidak sama dengan Riani, dan papah yakin golongan darahnya sama dengan ibunya..." Jawabnya dengan tatapan mata yang menerawang jauh di sudut jalan.
"Jadi bagaimana pendapat papah dengan niat mba Riani?"
"Papah tetap tidak setuju jika Riani membahayakan nyawanya dan bayi dalam kandungannya"
"Lalu...Apa yang akan papah lakukan?"
"Papah akan membujuk Roro agar dia segera menghubungi ibunya Riani, dan Papah yakin setelah Roro menceritakan semua padanya, dia pasti akan datang"
"Nando sependapat dengan Papah"
"Dan Papah yakin jika ibunya datang dan membujuknya, meskipun Riani keras kepala tapi hatinya pasti akan luluh dan tidak akan menolak keinginan ibunya itu"
"Bukankah sifat keras kepala mba Riani di turunkan dari sifat Papah?" jawab Nando dengan senyumnya.
"Itu kamu tahu, jadi karena itulah papah harus melakukannya, meskipun mungkin Riani akan membenci Papah nantinya..."
"Tidak mungkinlah Pah, biar bagaimanapun Papah ayah kandungnya, Nando yakin dengam sifat mba Riani yang baik, dia pasti akan berpikir bijak, hanya saja mungkin memang butuh waktu..."
"Ya...Memang harus butuh waktu lagi, meskipun Papah sudah membuang waktu 32 tahun lamanya..."
"Kenapa Papah tidak jujur saja dan katakan pada Riani kalau Papah adalah ayah kandungnya?"
"Papah pasti akan mengatakannya, tapi nanti setelah papah bertemu dengan ibunya Riani untuk memastikan dan meminta penjelasan padanya mengenai kejadian 32 tahun yang lalu, dan mengapa selama itu diam menghilang tanpa jejak?"
"Meskipun Nando tidak tahu ceritanya secara keseluruhan, tapi Nando ikut bahagia karena papah akhirnya bisa berkumpul dengan keluarga papah dan Nando suport papah untuk memperjuangkan keluarga papah kembali..."
"Terima kasih nak, kamu memang anak laki-laki kesayangan papah yang bisa di andalkan, ayo sebaiknya kita makan, setelah itu kita menemui dokter Anita"
"Baik Pah"
Mereka berdua pun melahap makanan yang sudah terhidang di meja depan mereka.
.............
Selesainya mereka makan, segera keduanya kembali ke rumah sakit, om Rolland segera menemui dokter Anita yang bertanggung jawab atas perawatan Riani, sedangkan Nando kembali ke ruang rawat Riani, terlihat olehnya dari balik kaca jendela di dalam sana ada Roro, seorang pria yang dia tidak kenal bersama Nuna yang sedang menjenguk dan mengobrol dengan Riani.
Namun belum sempat dia masuk ke dalam tiba-tiba ponselnya berbunyi, dia pun segera mengangkat dan menjauh dari kamar Riani.
Seketika wajahnya sumringah dan bibirnya tersenyum, setelah seseorang yang meneleponnya berbicara dengannya.
Setelah menutup teleponnya Nando segera bergegas untuk masuk ke dalam, sempat terdengar olehnya pembicaraan antara mereka.
"Saya tahu niat mba Riani menolong adik saya tulus dan saya juga sangat senang mendengarnya, tapi...Saya juga keberatan dan tidak mampu menanggung kesalahan dan dosa jika terjadi sesuatu dengan mba dan bayinya nanti..."
"Insya Allah kami akan baik-baik saja, percayalah pada niat baikku dan niat baik Allah..."
"Tuhan sudah melihat niat baik tulus mba Riani, sehingga Tuhan memberi jalan lain, sekaligus membuktikan kalau Tuhan sangat menyayangi mba Riani..." Ucap Nando yang berjalan masuk.
Riani, Roro, Andy dan Nuna langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah Nando yang berjalan menuju ke arah mereka.
"Maksud kamu Nando?" tanya Riani tidak mengerti.
__ADS_1
"Baru saja aku mendapat kabar, ada kerabatku yang golongan darahnya sama dengan adik dari bang Andy, dan dia bersedia untuk berdonor, sekarang dia sedang menuju ke sini"
"Alkhamdulillah..." Ucap semuanya serempak.
"Tapi...Bukankah kata Nuna butuh dua kantong darah, yang berarti butuh dua orang pedonor darah? berarti masih kurang satu lagi" kata Riani.
"Itu juga sudah kami persiapkan, jadi mba Riani tidak perlu khawatir dan tidak perlu berdonor darah" kata Nando.
"Betul itu nak, kamu tidak perlu berdonor darah, karena itu juga sudah ada dan sedang di persiapkan" sahut om Rolland yang tiba-tiba masuk ke dalam dan berjalan menuju ke arah Roro.
"Alkhamdulillah ya Allah...Terima kasih om dan semuanya yang mau dengan rela membantu saya dan adik saya..." Ucap Andy dengan mata yang berkaca-kaca penuh haru.
"Iya nak Andy sama-sama, Nak Roro bisakah kita keluar sebentar? ada yang ingin om bicarakan denganmu..." Bisik Om Rolland pelan pada Roro.
"Baik Om" jawab Roro yang juga sambil berbisik, karena dia tahu, om Rolland sampai bicara dengan berbisik seperti itu, ini pasti karena hal penting yang menyangkut Riani.
"An-an aku keluar sebentar ya" kata Roro lagi.
"Iya Mi-Ro..." Jawab Riani dengan tatapan penuh tanya.
Roro segera berjalan keluar ruangan, di susul dengan om Rolland yang juga berjalan keluar setelah dia berbicara sebentar dengan Nando.
Sedangkan Riani hanya menatap penuh arti kepergian mereka berdua.
"Kalau begitu saya juga pamit, sekali lagi terima kasih banyak ya Mba Riani, Bang Nando atas bantuannya..."
"Iya Ndy sama-sama" jawab Riani dengan di barengi anggukkan Nando.
"Nuna juga pamit dulu Kak Riani, Bang Nando...Sudah waktunya juga Nuna pulang, takut Mamah khawatir"
"Iya Nuna, kamu hati-hati ya..."
"Hmm...Tidak perlu bang, terima kasih..." Tolak Nuna, ramah.
"Tidak apa-apa Nuna, apalagi hari sudah petang, biarkan Nando mengantarmu" bujuk Riani.
"Tidak usah kak, beneran kok tidak apa-apa Nuna pulang sendiri saja, biar bang Nando di sini bisa nemenin kak Riani"
"Ya sudah, aku juga tidak bisa memaksamu"
"Ayo Nuna kita keluar bareng saja, kebetulan ada yang ingin abang bicarakan denganmu" ajak Andy yang sedari tadi hanya terdiam mendengar pembicaraan mereka bertiga.
"Baik Bang, ayo kita keluar"
"Kami pamit sekarang Mba Riani, Bang Nando"
"Silahkan, terima kasih ya sudah menjengukku..."
"Sama-sama..."
Andy dan Nuna beranjak dari duduk mereka dan berjalan keluar meninggalkan Nando dan Riani yang masih melihat dan mengiringi kepergian mereka.
.............
"Oh ya mba, ini ada kunci rumah yang nantinya akan di tinggali mba Riani setelah keluar dari rumah sakit ini" kata Nando sambil menyerahkan beberapa kunci pada Riani.
"Terima kasih ya Nando, kamu dan papah kamu sudah sering membantuku, aku jadi tidak enak hati..."
"Sama-sama Mba, ini memang yang seharusnya kami lakukan"
"Terkadang aku sampai bingung dengan sikap papah kamu, karena kalau di ingat-ingat orang pertama yang tidak setuju dengan kekehnya saat aku ingin berdonor adalah beliau, sampai-sampai dia sibuk mencari pendonor lain untuk menggantikanku"
__ADS_1
"Bagiku wajar dengan apa yang di lakukan oleh papah, karena dia sangat mengkhawatirkan Mba"
"Tapi...Jujur terkadang perhatiannya sempat membuatku kurang nyaman"
"Begitulah papahku, kalau sudah sayang pada seseorang pasti apapun akan dia lakukan, apalagi Mba Riani adalah..." Nando segera menghentikan kalimatnya setelah dia sadar dan hampir saja keceplosan.
"Kenapa nggak di lanjutin Nan?" tanya Riani penasaran.
"Ya karena Mba Riani adalah putri...Maksud aku Papah sudah menganggap Mba Riani seperti putrinya sendiri" Jawab Nando tergagap sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Oo begitu, tapi tetap saja kurang nyaman..."
"Mba Riani harus terbiasa dengan perhatian Papah, anggap saja perhatian tersebut sebagai tanda kasih sayang seorang ayah pada putrinya"
"Meskipun aku kurang mengerti maksud di balik kata-katamu, tapi aku akan mencoba untuk merasa nyaman dengan perhatian beliau" jawab Riani, meskipun masih penasaran dengan jawaban ambigu dari Nando.
Pandangan Riani dan Nando teralihkan dengan kembalinya Roro, tapi kali ini dia tidak bersama om Rolland.
"Apa sudah selesai bicaranya Mi-Ro?" tanya Riani basa-basi, karena sesungguhnya hati dia penasaran dan ingin mempertanyakan apa sebenarnya yang di bicarakan antara Roro dan om Rolland.
Namun niatnya itu segera dia urungkan, karena masih ada Nando dan dia merasa tidak enak padanya.
"Sudah" jawab Roro singkat sambil meletakkan buah dan air minum mineral yang baru saja dia beli di kantin rumah sakit.
"Kalau begitu saya keluar dulu, Papahku kirim pesan agar saya segera menemuinya, karena kerabatku yang akan berdonor sudah datang"
"Oke" jawab Riani dan Roro bebarengan.
"Terima kasih banyak, karena sudah mau membantu adik temenku"
"Sama-sama mba, tidak perlu sungakan seperti itu"
.............
"Mi-Ro, tadi sama om Rolland membicarakan mengenai apa?" tanya Riani setelah Nando keluar dari kamarnya, dia sudah tidak bisa lagi menutupi rasa penasarannya.
"Ya tentu saja membicarakan mengenai kamu tentang banyak hal"
"Maksudnya tentang aku dan banyak hal yamg seperti apa Miro? jawabanmu jangan ambigu seperti itu deh..." Tanya Riani lagi, tidak sabar dan merajuk.
"Ya mengenai pengunduran diri kamu dari pekerjaan, rencana kamu tinggal di rumah om Roland setelah keluar dari rumah sakit ini, dan mau di bawa kemana hubungan kamu dengan Radja nantinya"
"Beliau membahas semua itu? tidak habis pikir aku, kenapa om Rolland bisa sangat perhatian denganku hingga sampai ke hal-hal pribadiku?"
"Itu karena dia care banget sama kamu An-an, dan bagiku dia pantas menjadi ayahmu"
"Maksud kamu Mi-Ro?"
"Maksud ku adalah...Betapa beruntungnya kamu karena masih mempunyai keluarga yang sangat perhatian dan menyayangimu, coba lihat aku yang tidak seberuntung kamu, aku sebatang kara dan hanya mempunyai seorang teman masa kecil yaitu kamu" jawab Roro yang sudah duduk di samping Riani sambil memegang lembut kedua pipi Riani.
"Kamu jangan bilang begitu Mi-Ro, aku juga sudah menganggapmu seperti kakak perempuanku sendiri, jadi anggaplah keluargaku adalah keluargamu juga..." Kata Riani sambil memegang lembut telapak tangan Roro.
"Terima kasih ya An-an, karena sudah menerimaku, sehingga aku bisa merasakan kehidupan dan kehangatan sebuah keluarga"
Riani hanya mengangguk dengan matanya yang berkaca-kaca.
Hingga akhirnya mereka larut dalam pelukan dan tangis penuh keharuan.
Meskipun Riani tahu pasti ada rahasia di balik jawaban ambigu Nando dan Roro, namun dia tetap bersyukur karena telah di kelilingi orang-orang yang begitu perhatian dan menyayanginya...
...☆☆☆...
__ADS_1