KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
IKATAN KELUARGA MESKI TAK SEDARAH


__ADS_3

Saat Riani keluar, terlihat olehnya Viola sedang duduk di bangku yang letaknya tidak jauh dari rumah tersebut.


Tatapan matanya yang kosong membuat Riani semakin yakin, kalau sebenarnya perasaan Viola terluka.


Tidak ada seorang wanita manapun yang tidak akan terluka hatinya jika tahu kalau perasaan laki-laki yang di cintainya terbagi atau bahkan tidak mencintainya.


"Kamu tidak kedinginan Viola?! angin di luar sangat dingin, ayo sebaiknya ayo masuk ke dalam!" kata Riani dengan suara agak keras memanggil dan mengajak Viola untuk masuk.


Viola terkejut mendengar suara Riani yang menurutnya datang secara tiba-tiba.


Dia pun menoleh ke arah Riani yang berjalan ke arahnya.


"Tidak apa-apa kak, aku di luar saja..." Tolak Viola sambil berdiri menunggu Riani sampai di tempatnya.


"Tapi di sini anginnya sudah mulai sangat dingin, ayo kita pergi ke dalam dan minum teh, sekalian ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu, dan akan lebih nyaman jika kita bisa membicarakannya di ruangan yang hangat di dalam sana" bujuk Riani agak memaksa, karena setelah sampai di depan Viola, Riani segera menggandeng dan menarik paksa tangan Viola untuk mengikuti langkahnya masuk ke dalam rumah.


Mau tidak mau Viola pun terpaksa mengikuti langkah Riani dari belakang.


.............


Setelah keduanya masuk ke dalam rumah dengan segera Riani membawa Viola ke dalam kamarnya.


Awalnya Viola bengong dengan pemandangan kamar Riani, ada perasaan sakit dan sedih di hatinya.


Riani bukannya tidak tahu perasaan Viola, justru dia sengaja membawa Viola ke kamarnya karena ada yang perlu di perjelas agar kelak tidak ada salah paham diantara dia, Viola dan Ethan.


Setelah Viola duduk di tepi ranjang, Riani segera keluar dan pergi ke arah dapur, dia mencari dan membuat teh jahe untuk Viola, karena tadi tangan Viola sangat dingin, mungkin karena terlalu lama dia menunggu di luar, dan Riani merasa sangat bersalah akan hal itu.


Setelah dia selesai membuat dua cangkir teh jahe, dengan segera Riani membawanya masuk ke dalam kamar, namun sebelumya dia ke arah ruang tamu untuk memastikan keadaan Ethan.


Di lihatnya Ethan masih tertidur dengan pulasnya, dan kali ini posisinya meringkuk seperti anak kucing yang menggemaskan.


Dengan sangat pelan di tutupnya jendela yang berada di depan Ethan, karena angin yang masuk sudah mulai terasa dingin.


Setelah menutup jendela dan tetap tidak ada reaksi dari Ethan yang tidurnya kelihatan semakin nyenyak, dengan jalan pelan-pelan dia berlalu menuju kamarnya.


Setelah masuk ke dalam kamar, dia memberikan satu cangkir teh jahenya pada Viola, kemudian Riani duduk depan Viola dan menyeruput teh jahenya dengan pelan, begitu pula dengan Viola.

__ADS_1


"Aku tahu saat kamu melihat kamar ini ada rasa sakit dan benci di hatimu, maaf bukannya aku sok tahu, tapi aku tahu betul perasaanmu karena jika aku berada di posisimu pasti akan memikirkan dan merasakan hal yang sama, biar bagaimanapun aku juga seorang wanita, aku sengaja membawamu ke kamar ini karena ada yang perlu aku jelaskan agar kamu tidak salah paham, kamu lihat dua foto yang berukuran besar itu?" tanya Riani sambil menunjuk ke arah dua foto yang terpajang di dinding yang ada di samping mereka.


"Foto yang sebelah kiri adalah foto kami berdua saat masih pacaran, cinta monyet anak SMP seperti itulah, tapi kamu tidak perlu khawatir, karena sekarang aku dan dia cuma sebatas sahabat yang sudah memiliki pasangan hidup masing-masing"


"Aku tidak berpikiran sampai sejauh itu kak, hanya saja bohong, jika aku mengatakan aku tidak cemburu, aku tidak sakit hati, tapi...Jika ini bisa membantu kesembuhan Ethan, paling tidak meringankan beban sakit Ethan, aku rela menahan kecemburuan dan kesakitan hatiku ini kak..."


"Ethan memang tidak salah memilihmu, dan aku juga percaya pada penilaianku padamu, jujur...Jika aku ada di posisimu, mungkin aku sudah tidak kuat setiap kali melihat sakitnya kambuh dan melihat penderitaannya, aku benar-benar salut padamu"


"Terima kasih kak atas pujiannya, aku melakukan semua ini karena aku adalah istrinya dan aku sangat mencintainya, meskipun...Aku tahu dia tidak mencintaiku" kata Viola dengan ekspresi wajah sedihnya.


"Maksud kamu?" tanya Riani heran.


"Ethan menikahiku bukan atas dasar cinta kak, namun sebagai tanda balas budi..."


"Balas budi?" tanya Riani semakin tidak mengerti.


"Dulu saat Ethan dan mamah Grace berpisah dengan papah Marcel, keadaannya pada saat itu sangat terpuruk hingga bisnisnya hampir bangkrut, karena ibu dari adik tiri Ethan kabur membawa uang perusahaan hingga membuat perusahaan terlilit hutang dalm jumlah yang sangat besar, papah Marcel hampir saja melakukan bunuh diri, namun papahku sahabat dari papah Marcel segera menolong perusahaannya dan selalu mensuport dia untuk bangkit dari keterpurukan dan membuat papah mertuaku sadar" jawab Viola bercerita.


"Oo...Jadi seperti itu, tapi aku rasa Ethan ada rasa simpati padamu, jadi tolong kamu juga jangan pesimis seperti itu, perjuangkan dia, perjuangakan cintanya..."


"Terima kasih atas dukungannya, hanya saja...Di hati Ethan hanya ada kak Riani seorang, jadi tidak apa-apakah jika aku mengejar dia, cinta pertamaku?"


"Terima kasih banyak atas ijinnya kak" ucap Viola sambil memeluk erat tubuh Riani.


"Mungkin kamu berpikir begitu mudahnya aku melupakan cinta Ethan bukan?" kata Riani setelah mereka berdua saling melepas pelukan mereka.


Viola mengangguk, di hatinya memang ada rasa penasaran, kenapa Riani begitu mudahnya hilang rasa cintanya pada Ethan.


"Kamu lihat foto yang di sebelah kanan, itu foto ayahku, aku dan Ethan saat kami berumur lima tahun, dan saat melihat foto kami bertiga yang tersenyum bahagia, aku menyadari satu hal bahwa sebenarnya kita adalah satu keluarga meski bukan sedarah" jelas Riani pada Viola.


"Tapi aku tetap masih belum mengerti, mengapa kakak menganggap Ethan sebagai satu keluarga?"


"Karena saat itu aku sangat membencinya karena kesalahan tidak langsung kedua orang tua Ethan yang mengakibatkan ayahku mengalami kecelakaan dan meninggal, tapi saat melihat foto ini dengan wajah bahagia ayahku, aku menyadari kalau aku telah salah membencinya, karena setahuku ayah sangat menyayangi Ethan dan mengatakan kalau kita adalah satu keluarga meskipun tidak sedarah, dan tidak boleh ada perselisihan diantara kami, ayahku pasti akan sangat bersedih jika tahu aku sangat membencinya dengan kesalahan yang tidak dia lakukan..." Riani menghentikan ceritanya, di dadanya terasa sangat sesak jika memikirkan apa yang sudah terjadi di masa yang sudah sangat berlalu itu.


Melihat Riani yang berusaha menahan tangis kesedihannya, Viola kembali memeluk hangat tubuhnya.


Viola berpikir saat Riani keluar menghampirinya saat dia duduk menunggu di luar tadi, dia melihat mata Riani merah dan sembab, mungkin inilah penyebabnya, Viola menatap kembali foto ayah Riani.

__ADS_1


Viola melepaskan pelukkannya setelah Riani sudah mulai tenang.


"Jadi...Saat ini aku lebih nyaman menganggapnya sebagai saudara laki-laki ku dan akan aku lakukan apapun untuk kesembuhannya..."


Mendengar pernyataan Riani, kini giliran Viola yang menangis penuh haru, dalam hatinya dia merasa lega dan sangat berterima kasih sekali karena Riani sudah membebaskan hatinya dan memberinya kesempatan besar untuk mengejar dan mengambil hati juga cinta Ethan.


"Terima kasih banyak ya kak sudah mau melepas Ethan dan maaf jika aku terlalu tamak yang ingin memiliki Ethan seutuhnya..."


"Iya sama-sama, bagiku itu wajar bagi seorang istri yang ingin memiliki suami sendiri seutuhnya, akupun ikut merasa lega karena beban perasaanku yang selama ini aku rasakan akhirnya terjawab sudah, dan untuk menyembuhkan Ethan apapun caranya akan aku lakukan, aku hanya ingin kamu mendukungku untuk menolongnya, tanpa ada rasa khawatir aku akan merebutnya kembali" kata Riani terus terang sambil menggenggam erat kedua tangannya, agar Viola mau mengijinkan dan mendukung niatnya tanpa ada rasa curiga di hatinya.


"Tentu saja aku akan mendukung dan mengijinkanmu untuk membantu suamiku, karena aku dari awal tidak pernah keberatan asal ini demi kebaikannya dan kesembuhannya, aku percaya pada kak Riani..." Jawab Viola dengan senyum ikhlasnya.


"Terima kasih atas pengertianmu, jadi kedepannya kita harus bisa bekerja sama demi kesembuhan Ethan"


"Baik kak, aku juga sangat berterima kasih padamu karena kakak mau membantu kesembuhannya"


"Sama-sama, oh iya! ini aku kembalikan sertifikat rumah ini padamu, karena aku tidak bisa menerima pemberian yang terlalu besar ini, dan karena seharusnya ini adalah hak kamu..." Kata Riani sambil menyerahkan sertifikat rumah pada Viola.


"Bukankah kakak tadi bilang kalau kita adalah satu keluarga meski bukan saudara, anggaplah rumah ini sebagai tanda kasih sayang kami untuk kak Riani sebagai keluarga, jadi...Tolong ke depannya jangan pernah ungkit lagi masalah sertifikat rumah ini, aku mohon kakak mau menerima dan simpanlah kembali sertifikat rumah ini..." Tolak Viola sambil kembali memberikan sertifikat yang tadi sudah berpindah ke tangannya.


"Tapi..." Jawab Riani ragu.


"Tolonglah kak, terima ini demi kesembuhan Ethan..." Bujuk Viola.


"Baiklah, terima kasih atas pemberian besar kalian ini" jawab Riani akhirnya menerima kembali sertifikat rumah itu.


"Sama-sama kak..." Keduanya kembali saling berpelukan, ada perasaan hangat yang mengalir di hati mereka.


.............


Setelah keduanya saling melepaskan pelukan penuh tangis haru, Riani dan Viola keluar dari kamar menuju ruang tamu di mana Ethan masih tertidur dengan lelapnya.


Perasaan Riani dan Viola seperti ada benang merah yang saling berhubungan dengan mereka.


Mungkin Riani yang dulu pernah begitu mencintai Ethan, begitu pula dengan Viola yang sekarang sangat mencintai suaminya, perasaan mereka yang terhubung karena mencintai orang yang sama, membuat hubungan keduanya semakin erat dan kuat untuk saling bekerja sama membantu Ethan bangkit dari keterpurukannya dan bangun dari kesadarannya hingga dia berani dan mampu meninggalkan kenangan masa lalunya yang menjerat dan mengikat jiwanya.


Kesalahan, penyesalan, kesedihan, kebencian dan dendam biarlah berlahan memudar hingga berganti dengan kesadaran, memaafkan, kebahagiaan dan penerimaan dengan keikhlasan...

__ADS_1


Karena bagi mereka berdua itu semua hanyalah ujian, dan tidaklah ada yang penting lainnya saat ini, selain ikatan keluarga meski tak sedarah, yang menyatukan mereka...


...☆☆☆...


__ADS_2