
Riani turun dari mobil setelah sampai di rumah, dan mang Muh memasukkan mobil ke dalam garasi.
Terlihat oleh Riani Ibunya dan om Rolland sudah menunggunnya di teras rumah.
Terlihat jelas ekspresi wajah cemas mereka berdua.
Belum sampai Riani menuju teras, om Rolland yang tidak sabar segera berjalan menjemput Riani, kemudian di susul bu Widya di belakangnya.
"Nak kamu tidak apa-apa? kami berdua sangat khawatir menunggu kepulanganmu yang memakan waktu lebih lama dari biasanya, padahal Roro bilang kamu sudah pulang sejak siang tadi" kata om Rolland yang berjalan di samping Riani.
"Maaf...Sudah membuat Papahkhawati..."
"Segeralah masuk, hari sudah menjelang petang, kemudian mandi, Ibu buatkan teh hangat dulu untukmu" kata Bu Widya memeluk pundak anaknya dengan hangat, saat melihat ekspresi wajah putrinya tersebut dia langsung menangkap suatu tanda bahwa pasti telah terjadi sesuatu padanya.
"Baik Bu, terima kasih...Riani pamit masuk dulu Pah"
"Iya Nak..."
Seperginya Riani, Rolland langsung menatap Widya dan mengeryitkan dahinya dengan ekspresi wajah membutuhkan jawaban dari Widya.
Widya hanya menggelengkan kepalanya dan berlalu meninggalkan Rolland yang masih bengong karena tidak mengerti maksud dari gelengan kepala Widya tersebut.
Sekian detik kemudian Rolland tersadar dan segera menyusul Widya yang berjalan menuju ke arah dapur.
"Apa maksud dari gelengan kepalamu tadi Bel? dan apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan anak kita?" tanya Rolland sedikit berbisik di telinga Widya.
"Aku juga belum tahu tepatnya apa yang sudah Riani alami, tapi yang jelas pasti sudah terjadi sesuatu saat Riani di rumah sakit tadi" jawab Widya yang juga dengan berbisik.
(Masih dengan berbisik)
"Kalau begitu aku akan mencari tahu dan menanyakannya pada Roro"
"Aku setuju itu, segera kamu hubungi dia"
"Kalau begitu aku keluar dulu biar lebih leluasa saat berbincang dengan Roro"
Widya hanya mengangguk dan pandangannya mengikuti Rolland yang keluar dari dapur hingga hilang di balik pintu depan.
Timbul perasaan haru dan bersalah yang bercampur aduk di hatinya.
.............
Saat Rolland sudah berada di luar di keluarkan ponsel dari saku celananya.
Kemudian di pencetnya nomor Roro yang ia minta dan ia simpan saat di rumah sakit dulu, saat dirinya meminta bantuan pada Roro untuk menghubungi Ibu dari Riani, yaitu Widya.
Dan karena kejadian itu pula Roro akhirnya mengetahui bahwa Om Rolland adalah ayah kandung dari Riani, yang membuat Roro tidak menyangka dengan hal itu, karena sejak kecil Roro bersahabat dengan Riani, dia tidak pernah mendengar mengenai status sebenarnya Almarhum om Alfiz, yang berarti ayah sambung dari Riani, tapi selama dia bersahabat dengan Riani, terlihat karena kasih sayang tulus dan perhatian om Alfiz pada Riani seperti pada putri kandungnya sendiri, bahkan terkesan sangat memanjakan Riani kala itu, jadi saat Roro mengetahui fakta yang sebenarnya saat Om Rolland menceritakan semua dan mengaku bahwa dialah sebenarnya ayah kandung Riani, hampir saja membuatnya tidak percaya, jika tidak dia mendengarnya langsung dari mulut om Rolland sendiri.
.............
__ADS_1
Semenjak saling bertukar nomor Roro dan Om Rolland berkomunikasi jika ada hal yang perlu di bicarakan mengenai Riani, seperti saat ini ada yang ingin Rolland tanyakan pada Roro mengenai perubahan sikap Riani semenjak dia pulang dari menjenguk Teddy di rumah sakit.
Terdengar suara nada dering sebuah lagu dari posel Roro, yang menandakan ponselnya aktif, namun Roro belum mengangkatnya.
Hingga di panggilan kedua akhirnya Roro mengangkat panggilan dari Rolland.
"Hallo...Maaf sekali Om, tadi di panggilan pertama tidak keangkat, ada apa ya Om?" tanya Roro dari seberang sana.
"Tidak apa-apa Nak Roro, Om tahu kamu sangat sibuk, begini...Om ingin tanya sesuatu"
"Silahkan, apa itu Om?" jawab Roro sopan.
"Saat Riani tadi di rumah sakit, apa yang sudah terjadi dengannya? karena saat dia pulang wajahnya terlihat sangat sedih dengan mata yang sembab"
"Kalau untuk hal itu saya juga belum mendapatkan jawabannya dari Riani Om, karena saat saya menanyakan padanya dia bilang belum siap dan membutuhkan waktu untuk menjawabnya"
"Lalu sebenarnya apa yang terjadi sebelumnya saat Riani menjenguk Teddy?"
"Yang saya tahu, setelah Teddy tersadar dia meminta saya untuk memberinya waktu berbicara hanya berdua dengan Riani, setelahnya saya tidak tahu apa yang di bicarakan oleh Teddy dengan Riani, yang jelas setelah pembicaraan mereka selesai, baik Riani maupun Teddy sama-sama berwajah sedih dengan mata sembab"
"Hmmm...Lalu apakah Teddy menceritakan padamu apa sebabnya mereka bisa begitu?"
"Sama halnya dengan Riani, Teddy juga memberikan jawaban yang sama, saat saya tanyakan hal itu Om..."
"Oo jadi begitu...Jujur Om sangat khawatir dengan keadaan Riani sekarang ini dan cemas akan mempengaruhi bayi dalam kandungannya jika dia terus begini..."
"Saya mengerti perasaan Om, maaf...Jika jawaban saya tidak bisa membantu Om Rolland..." Ucap Roro merasa tidak enak hati.
"Saya tidak merasa di repotkan kok Om"
"Syukurlah...Oh ya! nanti Om mengutus dua orang yang bernama Andy dan Akbar untuk menggantikanmu menjaga Teddy, setelah mereka datang kamu pulanglah beristirahat"
"Baik Om, terima kasih"
"Sama-sama...Kalau begitu Om sudahi dulu, terima kasih ya nak Roro..."
"Iya Om, sama-sama..."
Setelah Rolland mematikan teleponnya, dia segera kembali masuk ke dalam, berniat untuk menemui Widya lagi dan memberitahu dia mengenai pembicaraannya dengan Roro tadi.
Namun niatnya itu segera dia urungkan kembali dan segera menghentikan langkahnya saat dirinya melihat Widya sedang menyuguhkan teh hangat pada Riani yang duduk di sampingnya.
Di ambilnya kembali ponsel yang baru saja dia masukkan ke dalam kantong celanaya, lalu dengan gerakan jarinya yang gesit Rolland mengetik pesan dan dia kirimkan pada nomor yang dalam daftar nomor kontak bertuliskan dengan nama ISABELLA ku.
Setelah pesan terkirim, Rolland melanjutkan langkahnya mendekati dua perempuan yang sangat berarti dan berharga baginya tersebut.
Riani dan Widya secara bersamaan mengalihkan pandangan mereka ke arah suara langkah Rolland yang berjalan mendekati mereka berdua.
Rolland yang di tatap oleh Widya dan putrinya itu seketika merasa kikuk karena seolah menjadi pusat perhatian mereka berdua.
__ADS_1
"Pah..." Sapa Riani dengan suara lemahnya.
Mendengar suara Riani yang tanpa daya tersebut membuat Rolland mempercepat langkahnya, dan saat Widya menatap ke arahnya, segera Rolland memberi kode pada Widya dengan cara mengangkat ponselnya dengan maksud agar Widya membuka ponselnya.
Melihat kode yang di tunjukkan oleh Rolland, Widya langsung mengerti.
"Nak...Ibu masuk ke dalam dulu ya? Ibu mau ambil ponsel dulu, dan menelpon Lana, soalnya Ibu sudah berjanji akan menghubunginya setelah dia sudah masuk sekolahnya" kata Widya beralasan.
"Baik Bu, nanti Riani juga nyusul telfon Lana, setelah Ibu selesai telfon dia..."
"Baiklah, nanti Ibu ngomong sama Lana"
Riani mengangguk, Widya bangun dari duduknya kemudian menyapa Rolland yang sudah berdiri di samping Riani.
Kemudian Widya berjalan menuju kamarnya, sedangkan Rolland mengikuti langkah Widya dari sudut matanya hingga Widya menghilang di balik pintu.
"Bagaimana keadaan Teddy sekarang ini Nak?" tanya Rolland setelah duduk di kursi yang ada di samping Riani.
"Teddy sudah sadar Pah, Alkhamdulilah..."
"Puji Tuhan, Syukurlah kalau begitu...Lalu bagaimana dengan keadaanmu Nak?" tanya Rolland lagi penuh makna.
"Riani juga baik-baik saja Pah...?" Jawab Riani dengan dahinya yang berkerut, seakan menangkap maksud tertentu dari pertanyaan Rolland.
"Nak...Apapun yang kamu alami, kamu rasakan, entah itu perasaan senang, sedih, suka ataupun duka, dan jika kamu ingin berbagi perasaan itu dengan Papah, maka Papah akan sangat senang jika kamu mau menceritakan semuanya..." Kata Om Rolland berusaha membujuk Riani dengan cara halus.
Mendengar perkataan Rolland, Riani langsung paham maksud dari perkataannya tersebut.
"Saat ini Riani belum siap dan mungkin tidak akan siap untuk menceritakannya Pah...Dan mungkin ini tidak akan pernah Riani ceritakan, biarlah cerita yang satu ini biar Riani pendam dan simpan sendiri..."
"Nak...Papah mengerti dan Papah tidak akan memaksamu untuk menceritakan semuanya yang sedang terjadi, yang membuat putri Papah ini bersedih, tapi...Papah harap demi kesehatanmu dan calon anakmu ini jangan paksakan diri untuk memendam kesedihanmu itu sendirian yang hanya akan membuatmu stres dan akibatnya tidak akan baik juga untuk kandungamu yang sudah besar ini..."
"Riani tahu maksud baik dan kekhawatiran Papah, tapi...Saat ini Riani benar-benar belum siap untuk menceritakannya, maaf ya Pah..."
Dengan lembut Riani menggenggam tangan Rolland.
"Ya sudah, tidak apa-apa dan Papah juga tidak aka memaksamu, tapi kamu harus ingat satu hal dan sekali lagi Papah katakan, jika kamu merasa sudah tidak kuat dengan beban yang kamu rasa, maka ingatlah masih ada Papah dan Ibu kamu yang akan ikut memikul beban perasaanmu itu, mengerti?"
"Riani mengerti Pah...Terima kasih Pah sudah mau menjadi Ayah Riani..."
Riani memeluk Rolland dengan tangisnya yang tertahan.
Dengan penuh penyesalan Rolland mencium kening putrinya yang berada di dalam pelukannya tersebut, kemudian membelai lembut kepala Riani dengan penuh kasih sayang.
Di depan pintu kamar terlihat Widya yang berdiri mematung melihat ayah dan anak tersebut saling berpelukan, berlahan menghapus air matanya yang mengalir deras, di sisi tangannya yang lain memegang ponsel yang masih menyala, hatinya sedih setelah membaca isi pesan dari Rolland.
Riani, purti kesayangannya tersebut tidak pernah ada habisnya mendapat cobaan dan masalah dalam hidupnya.
Namun Widya harus kuat karena dia sebagai ibunya harus selalu ada di sampingnya, seperti halnya dengan Rolland yang sebenarnya ayah kandung Riani.
__ADS_1
"Nak...Jangan pernah takut untuk tetap melangkah maju, meski di belakang dan di depanmu sudah menghadang banyak rintangan, karena masih ada kami berdua Nak...Yang akan selalu mendampingimu melewati rintangan hidupmu itu..." Bisik Widya dalam tangisan...
...☆☆☆...