
Setelah om Rolland keluar dari kamarnya, Riani segera membaringkan tubuhnya yang sudah mulai terasa lelah, dan dia pun segera memejamkan matanya yang sudah terasa berat.
Sedangkan om Rolland mencari tempat yang agak sepi di sudut rumah sakit untuk menenangkan hatinya sambil menghisap rokok yang ia apit di sela-sela jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Seharusnya dulu aku tidak mempercayai kata-katanya..." Kata om Rolland dalam hati mengutuk dirinya sendiri.
"Andai saja...Waktu itu aku percaya dengan kata hatiku sendiri dan tidak mudah terpengaruh oleh kata-kata orang lain, mungkin dia dan anaknya tidak akan mengalami kehidupan yang berat seperti ini, Riani...Maafkan ayahmu ini..." Katanya lagi dengan tangis yang tak terbendung lagi.
Ingatannya kembali di hari kemarin saat dia membawa tubuh Riani yang dalam keadaan pingsan menuju ke rumah sakit, dan entah kenapa hatinya tergerak untuk mengambil sampel rambut yang menempel di baju Riani, dan segera melakukan tes DNA pada rambut Riani tersebut.
Dan hasilnya baru dia tahu siang tadi yang menyatakan kalau Riani seratus persen adalah anak kandungnya, darah dagingnya, yang selama ini dia tahu sudah meninggal karena di gugurkan, setidaknya itu yang dia tahu dari orang itu, dan dengan begitu bodohnya dia karena telah mempercayai perkataan orang itu, hingga melupakan keyakinan di hatinya.
Setelah merasa sudah puas melampiaskan tangis penuh sesalnya, om Rolland segera mengambil ponselnya dan menghubungi Nando, putra kesayangannya.
Setelah Nando mengangkat dan menjawab panggilan teleponnya, om Rolland segera memberitahu semuanya dan meminta Nando untuk mempersiapkan segalanya yang berhubungan dengan Riani.
Dari mempersiapkan villa untuk Riani tinggali dan pekerjaan untuknya selama dia tinggal di sana.
"Jadi kamu sudah mengerti kan maksud dan keinginan Papah?"
"Iya Pah, Nando mengerti dan akan Nando persiapkan semuanya secepatnya"
"Bagus, terima kasih ya nak atas pengertianmu..."
"Iya Pah, sudah seharusnya Nando melakukannya"
"Kalau semuanya sudah beres, kamu bawa dan antarkan semua berkasnya ke sini"
"Baik Pah, masih adakah yang lain, yang perlu Nando lakukan Pah?"
"Tidak ada, terima kasih nak"
"Iya Pah, sama-sama"
"Kalau begitu, papah tutup dulu teleponnya ya nak, Bye"
"Iya Pah, Bye"
Om Rolland mematikan panggilannya, setelah menaruh ponselnya di dalam saku, dia beranjak bangun dari duduknya dan berjalan kembali menuju ke ruang perawatan Riani.
Saat dia masuk di lihatnya Riani sudah terlelap dalam tidurnya, dengan berjalan pelan Om Rolland menuju ke arah Riani yang terbaring dengan tenangnya.
Di benahinya selimut yang berantakan menutupi tubuh Riani, kemudian dengan penuh kasih sayang di ciumnya kening anak yang selama hampir 32 tahun ini tidak pernah bertemu.
Dengan tatapan sedih dan mata berkaca-kaca di elusnya rambut Riani.
"Maaafkan Papah nak...Semenjak bayi hingga kamu dewasa, Papah tidak pernah menimang dan menjagamu..." Bisiknya pelan.
Terlihat Riani menggerakkan tangannya ke arah perutnya dengan wajah tidak nyamannya, melihat itu Om Rolland seolah tergerak nalurinya sebagai seorang ayah, dan dengan sendirinya tangannya mengelus-elus pelan perut Riani.
Hati om Rolland merasa bahagia saat melihat perubahan wajah Riani yang mulai tenang dan nyaman kembali.
Ada kebahagiaan tersendiri dan perasaan hangat yang timbul di hatinya.
.............
__ADS_1
Setelah di rasa Riani sudah tidak gusar lagi, om Rolland meninggalkan ruangan tersebut dan memberikan Riani waktu untuk istirahat lebih lama, sebelum membuka pintu, kembali dia melihat ke arah wajah Riani yang terlihat penuh kedamaian, dia pun tersenyum, kemudian dengan pelan dia membuka dan menutup kembali pintu tersebut setelah dia keluar.
Baru saja om Rolland berjalan beberapa langkah di koridor, dia berpapasan dengan Roro yang juga berjalan menuju ke arah kamar perawatan Riani.
"Selamat siang Om!" sapa Roro sopan dan ramah.
"Siang nak Roro, kamu mau menjenguk Riani ya?"
"Iya om, saya sengaja ambil cuti tahunan agar bisa menjaganya, om juga habis menjenguk dia ya?"
"Iya, sekarang om mau kembali ke kantor, ada kerjaan"
"Terima kasih ya om, sudah menjenguk dan menjaga Riani selama saya tidak ada"
"Sama-sama nak Roro, om juga minta tolong jaga dia untuk om"
"Baik, om saya akan menjaganya sebaik mungkin..." Jawab Roro, meskipun di dalam hatinya merasa heran dengan perkataan om Rolland yang terakhir, karena seolah dia sangat ingin melindungi dan menjaga Riani.
"Terima kasih banyak ya nak Roro, kalau begitu om pamit dulu"
"Iya om, hati-hati..."
Setelah mengangguk, om Rolland berjalan menjauh meninggalkan Roro yang masih berdiri di tempatnya sambil menatap kepergian om Rolland.
Dalam hati dan pikirannya ada perasaan penasaran dan mencoba menerka mengenai perhatian om Rolland pada Riani yang dianggapnya berlebihan, untuk orang yang baru saling mengenal.
"Sebenarnya ada hubungan apa antara Riani dan Om Rolland? jika melihat perhatiannya pada Riani yang seperti itu pasti ada sesuatu, apalagi mereka baru saling kenal, kecuali...Ah! tidak mungkin! tapi...Wajah mereka berdua ada kemiripan, ah...Mungkin hanya perasaanku saja, lagi pula sejak kecil aku berteman dengan Riani aku tidak pernah mendengar cerita masa lalu keluarga Riani, mereka keluarga yang utuh dan bahagia..." Kata Riani dalam hati, pikirannya berkecamuk dengan dugaan-dugaan yang tak pasti.
Dia tersadar dari lamunanya dan segera beralih minggir dari tempat dia berdiri, karena ada rombongan dokter yang mendorong pasien dengan kondisi seperti habis mengalami kecelakaan, sedangkan di belakangnya nampak seorang laki-laki dan gadis muda mengikuti rombongan tersebut, Roro sempat melihat ekspresi wajah mereka tersebut yang penuh dengan kecemasan dan kesedihan.
Sesampainya di sana, terlihat olehnya Riani sedang tertidur dengan pulasnya.
Dengan penuh hati-hati Roro jalan berjingjit meninggalkan ruangan.
.............
Riani terbangun dan kemudian dia mengambil ponselnya, dengan segera dia membaca pesan dari Roro yang memberitahu kalau dia keluar sebentar membeli makanan untuk dirinya.
Dan karena merasa bosan Riani berniat jalan-jalan di sekitar rumah sakit untuk sekedar mencari udara segar, karena dia merasa pengap dan suntuk selalu berada di dalam ruangan.
Dengan susah payah dia berjalan dengan bertumpuan pada besi tempat kantong infusnya sebagai tongkat berjalannya.
Dengan jalan berlahan dia melangkah setapak demi setapak keluar dari ruangannya.
Saat melewati taman kecil di tengah-tengah rumah sakit Riani merasa segar dengan angin kecil yang berhembus menerpa wajahnya.
Dia pun duduk di salah satu bangku taman tersebut, sambil mengistirahatkan kakinya yang mulai terasa lemas.
Di hirupnya udara melalui hidungnya dalam-dalam, kemudian di hembuskan kembali perlahan.
Setelah beberapa menit duduk dan di rasa kakinya sudah kuat lagi, dia kembali melanjutkan langkahnya untuk mengelilingi sekitar rumah sakit.
Namun saat dia berjalan di sekitar ruang ICU dari kejauhan dia melihat sosok pria yang dia kenal dan tidak asing di ingatannya.
Pria tersebut sedang berdiri dengan wajah penuh kecemasan di depan pintu ruang operasi, sesekali dia berjalan mondar-mandir tidak tenang.
__ADS_1
Sedangkan di sampingnya berdiri seorang gadis muda yang berusaha menenangkannya, meskipun dari wajah gadis tersebut juga tidak bisa menyembunyikan ekspresi kecemasannya tersebut.
"Andy...?" Bisik Riani dalam hati.
Di hampirinya Andy yang masih belum menyadari kedatangan Riani.
"Andy, kamu sedang apa di sini lalu...Siapa yang ada di dalam ruang operasi?" tanya Riani sesampainya di samping Andy sambil menepuk lembut pundaknya.
Andy yang terkejut langsung menoleh ke arahnya.
"Mba Riani?! mba kenapa juga ada di sini?" kata Andy balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan dari Riani.
"Aku sedang di rawat di sini, lalu siapa yang sedang di operasi?"
"Ah! maaf...Tadi saya terlalu cemas jadi lupa menjawab pertanyaan mba Riani tadi, adik saya mba...Dia baru saja mengalami kecelakaan motor..."
"Ya Tuhan...Lalu bagaimana keadaannya sekarang?"
"Saya juga belum tahu mba, sudah satu jam lebih operasi berlangsung dan dokter juga belum ada yang keluar untuk memberitahu keadaannya..."
"Kamu yang sabar ya..."
"Iya mba, terima kasih..." Jawab Andy mengangguk pelan.
Baru beberapa menit mereka berhenti mengobrol, lampu ruang operasi sudah padam, yang menandakan kalau operasi telah selesai.
Tidak lama kemudian seorang dokter keluar dari ruang tersebut dengan tergopoh-gopoh.
Melihat hal itu, Andy, Riani dan gadis muda yang bersama Andy pun menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan adik saya Dok?" tanya Andy cemas.
"Operasi berhasil hanya saja dia masih belum melawati masa kritisnya dan masih perlu pengawasan dari kami, jadi masih harus di rawat di ruang ICU dulu dan yang paling penting saat ini dia kehilangan banyak darah, jadi ia perlu transfusi darah, hanya saja..." Kata Dokter menjelaskan sekaligus menghentikan kaliamatnya dengan ragu-ragu.
"Hanya saja apa Dok?" tanya Riani penasaran.
"Begini, saat ini pihak kami sedang menghubungi pihak bank darah di rumah sakit dan PMI, untuk menanyakan adakah stok kantong darah untuk golongan Rhesus positif, karena golongan darah yang langka ini, kami tidak yakin di tempat mereka ada golongan darah tersebut..." Jawab Dokter tersebut pesimis.
"Golongan darah Rhesus...?" Gumam Riani pelan.
"Lalu saya harus bagaimana dan apa yang harus saya lakukan Dok?" tanya Andy dengan wajahnya yang semakin cemas.
"Untuk berjaga-jaga mungkin lebih baik anda mencari pendonor darah di keluarga ataupun kerabat anda, karena adik anda sangat memerlukan darah tersebut sesegera mungkin untuk bisa melewati masa kritisnya..."
"Baik Dokter terima kasih, kalau begitu saya segera mencarinya sekarang, Nuna kamu juga tolong cari tahu siapa tahu ada keluarga atau teman kamu yang mempunyai golongan darah AB- dan mau mendonorkannya..." Pinta Andy pada gadis muda yang ternyata bernam Nuna tersebut.
"Baik Bang..."
Tanpa menunggu lama Andy dan Nuna segera membuka ponselnya dan menghubungi sejawat mereka, yang sekiranya ada yang memiliki golongan darah yang cocok dengan adiknya Andy.
Riani hanya duduk di salah satu kursi dan menyaksikan keduanya yang sedang sibuk menghubungi orang-orang yang mereka kenal.
Dalam hati Riani sedang bergejolak, pergumulan antara hati nurani dan fakta, hati nurani yang ingin menolong adiknya Andy, karena faktanya golongan darah dia juga Rhesus, dan dia juga tahu kalau di masa kehamilan sangat di sarankan dan bahkan tidak boleh oleh dokter untuk dia mendonorkan darahnya.
Riani hanya diam membisu dalam pergolakan hati yang membuatnya dalam posisi yang serba sulit...
__ADS_1
...☆☆☆...