KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
MASIH TERJEBAK DENGAN CINTA MASA LALUNYA


__ADS_3

Selama dalam perjalanan kembali ke rumah Rolland, Riani dan om Marcel mengobrol seputar kehamilan Riani, membuat mereka menjadi dekat dan melupakan kejadian kelam di masa yang silam lalu.


Tanpa mereka sadari, akhirnya keduanya sudah sampai di rumah, di mana papah Rolland dan om Ronand sudah menunggu mereka.


Melihat kedatangan Riani dan om Marcel, tanpa menunggu keduanya sampai di depan mereka, dengan segera mereka berdua mengampiri mereka dengan wajah cemas mereka membuat Riani dan om Marcel bertanya-tanya dalam hati, ada apa gerangan sehingga membuat mereka berdua harus memasang wajah cemas seperti itu.


"Ada apa Pah, Om?" tanya Riani mengerutkan dahinya.


"Ada apa Nand?" tanya Marcel pada Ronand, besannya itu.


"Mas, kita sebaiknya ke rumah sakit sekarang!" jawab Ronand, sambil buru-buru menarik punggung Marcel.


"Kita juga harus ikut nak, karena kamu sangat di butuhkan di sana sekarang" sambung Rolland.


"Baik Pah..."


Mendengar perkataan dari papah Rolland, Riani langsung mengerti, ini tentunya berhubungan dengan Ethan, dan pasti telah terjadi sesuatu dengannya.


"Apa telah terjadi sesuatu dengan Ethan anakku?" tebak om Marcel, yang ternyata sepemikiran dengan Riani.


"Iya Mas, tadi mendengar Riani ada di sini, Ethan memaksa untuk keluar dari rumah sakit karena ingin bertemu dengannya"


"Siapa yang memberitahu saya ada di sini Om?" tanya Riani.


"Tadi saat papah sedang bicara lewat telepon dengan ibumu, kebetulan Om Ronand juga sedang berbicara dengan Viola dan tanpa sengaja Ethan mengetahui keberadaanmu di sini" jelas papah Rolland.


"Dan dokter melarang Ethan untuk keluar dari rumah sakit karena alasan medis, salah satunya karena keadaan emosi Ethan yang tidak stabil di khawatirkan beresiko tinggi jika pihak rumah sakit membiarkannya keluar dari rumah sakit" lanjut om Ronand.


"Kenapa kamu tidak memberitahuku? kamu bisa menelponku kan?" kata om Marcel.


"Sebenarnya aku akan melakukan itu Mas, tapi segera aku urungkan karena takut mengganggu pembicaraan kalian, karena aku yakin pembicaraan kalian juga penting" jelas Ronand.


"Ya sudah, sebaiknya kita segera ke rumah sakit sekarang, tapi sebelumnya kamu minum jus delima ini dulu nak, tadi papah khusus membuatnya untukmu" kata papah Rolland sembari menyerahkan segelas jus delima yang dari tadi dia pegang.


"Kalau begitu kami berangkat duluan ya Bang" kata Om Marcel.


"Oke, kalian berangkatlah dulu, nanti aku dan Riani menyusul"


"Hati-hati Om..."


Keduanya mengangguk, kemudian tanpa di komando, om Ronand dan om Marcel segera berjalan keluar menuju mobil mereka.


"Kamu minumlah pelan-pelan, tidak perlu buru-buru..."


"Baik Pah, terima kasih..."


Riani meneguk pelan jus delimanya, setelah habis dan duduk sebentar dia dan papah Rolland berjalan keluar dan masuk ke dalam mobil untuk menyusul om Ronand dan om Marcel.

__ADS_1


Dalam perjalanan menuju ke rumah sakit tiba-tiba Riani meminta papah Rolland untuk menghentikan mobilnya.


Meski sedikit heran dengan permintaan anaknya tersebut, namun dia tetap saja menghentikan mobilnya.


Dan saat Riani turun kemudian berjalan menghampiri penjual jagung rebus di pinggir jalan, papah Rolland tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


Bergegas papah Rolland ikut turun dan menghampiri Riani yang sedang memilih jagung rebus yang masih dalam panci kukus besar dengan kepulan uap panasnya.


"Sebaiknya beli yang banyak nak, buat orang-orang di rumah sakit nanti, soalnya Om Ronand kamu itu juga sangat suka makan jagung rebus" kata papah Rolland sambil ikut memilih jagung tersebut.


"Baik pah, lalu apakah papah juga suka makan jagung rebus?"


"Meski papah dan om Ronand kembar, tapi tidak semuanya harus sama, termasuk selera kami berdua, contohnya papah suka sekali buah delima, sedangkan om Ronand tidak suka, begitu pula dengan jagung rebus ini, papah tidak terlalu suka sebaliknya om Ronand bisa di bilang maniak jagung, karena setiap makanan dan olahan dari bahan jagung pasti dia sangat suka, dan favoritenya ya jagung rebus ini" jawab papah Rolland bercerita.


"Ada yang seperti itu ya pah? meski kembar tapi tak selalu sama"


"Adalah, contohnya papah dan om Ronand ini" canda papah Rolland.


Keduanya pun tertawa, termasuk penjual jagung yang ikut tertawa karena sedari tadi mendengarkan obrolan dua pembelinya tersebut.


Setelah papah Rolland menyerahkan beberapa lembar uang untuk membayar jagung yang mereka beli, keduanya kembali ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan.


"Kenapa tidak di makan jagungnya nak? bukannya kamu ngidam pengin makan jagung kan? sampai-sampai menghentikan mobil di tengah perjalanan" tanya papah Rolland, karena dia melihat Riani bolak-balik menatap jagung yang ia letakkan di samping tempat duduknya.


"Tidak apa-apa pah, Riani takut nanti mobil papah kotor"


"Beneran tidak apa-apa Pah?"


"Beneran nak, makanlah"


"Terima kasih Pah..." Wajah Riani seketika berubah girang, dengan cepat dia mengambil jagung yang masih mengepulkan uapnya, dan setelah mengupas kulitnya dengan agak terburu-buru dia memakan jagung tersebut.


"Pelan-pelan nak..." Papah Rolland tersenyum sambil menepuk lembut pundak Riani.


Dengan agak malu Riani mengangguk dan tersenyum.


Papah Rolland tertawa kecil saat melihat ekspresi putri kesayangannya tersebut, dan dengan agak gemas dia mengelus kepala calon ibu yang akan memberikannya seorang cucu tersebut.


Di elus kepalanya seperti itu ada perasaan aneh dan hangat yang menggelitik di relung hati Riani, perasaan kasih sayang seorang papah Rolland di rasanya sama dengan kasih sayang mendiang ayahnya, kehangatannya memenuhi semua ruang hatinya.


Tepat setelah Riani menghabiskan jagung keempatnya, mobil mereka sudah sampai di parkiran rumah sakit.


Setelah papah Rolland memarkirkan mobilnya dan Riani meminum bekal jus delima yang dia bawa, keduanya segera turun dari mobil.


Namun baru saja mereka berdua berjalan beberapa langkah menyusuri koridor, tanpa sengaja keduanya berpapasan dengan Viola yang berjalan dengan tergesa-gesa.


"Nak, kamu mau kemana? sepertiny terburu-buru sekali?" tanya om Rolland, menghentikan langkah Viola.

__ADS_1


Viola terkejut melihat kedatangan om Rolland dan Riani.


"Om Rolland, Kak Riani?! Vio mau ke Dokter Ahli yang menangani Ethan om..Karena sekarang dia kembali tidak sadarkan diri, Om Rolland dan kak Riani temui saja papah dan Om Marcel, mereka sudah menunggu kalian"


"Ya sudah, kamu pergilah, segera temui dokternya, sekarang kami akan menemui mereka" kata om Rolland.


"Baik Om, kalau begitu Vio pergi dulu, Kak, aku pergi dulu ya?" kata Viola pada Riani dengan wajah yang tidak bisa lagi menyembunyikan kelelahannya.


"Pergilah Vi..."


Viola segera melanjutkan langkahnya meninggalkan Om Rolland dan Riani.


Di lihatnya papah Rolland memandang kepergian Viola dengan tatapan Ibanya, itu bisa di mengerti oleh Riani, karena dia pun merasakan hal yang sama.


"Kasihan dia, demi cintanya dia rela mengalami semua ini, sedangkan dia tahu betul jika Ethan belum bisa menerima dan memberikan hatinya, padahal dia dulu anak yang sangat manja, namun karena cinta dia bisa berubah dan menjadi wanita kuat seperti itu..." Gumam papah Rolland, sambil menggelengkan kepalanya.


"Semua salah Riani pah...Yang muncul diantara mereka sebagai kekasih di.masa lalu Ethan..." Sesal Riani.


"Itu bukan salahmu Nak, Tuhan sudah mengatur semuanya hingga kalian di pertemukan kembali di saat Ethan masih terjebak dengan cinta masa lalunya, dan papah Rasa Tuhan pasti punya maksud dan tujuan kenapa kalian di pertemukan kembali, dan papah juga yakin jika kehadiranmu bisa membantu penyembuhannya"


"Tapi...Dengan Riani sering membantunya bukankah akan membuat Ethan semakin dalam terjebak dengan cinta masa lalunya Pah?"


"Ya itulah...Ibarat kata kamu diantara pilihan dua sisi mata pisau, kamu memang bisa membantu Ethan, namun di sisi lainnya akan membuat Ethan semakin tidak bisa melepaskanmu..."


"Itulah Pah...Dan Riani tidak ingin menyakiti hati Viola, jadi...Bukankah lebih baik Riani menghilang darinya? biarlah Riani yang menjadi jahat di matanya asalkan dia bisa terlepas dari jebakan cinta masa lalunya"


"Apakah kamu masih mencintainya nak?" tanya Papah Rolland dengan ekspresi wajahnya yang serius.


"Jujur Pah...Riani juga tidak tahu perasaan cinta Riani pada Ethan masih ada atau tidak, tapi yang jelas Riani tidak mau menyakiti perasaan Viola, karena Riani melihat ketulusannya mencintai Ethan..."


"Hmmm..." Papah Rolland hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Sekarang ini Riani hanya fokus dengan kandungan Riani dan persiapan untuk melahirkan nanti, jadi tidak terlalu memikirkan hal yang lainnya"


"Papah juga setuju dengan perkataanmu itu, lalu apa rencanamu?"


"Setelah acara tujuh bulanan dan menjelang hari kelahiran, Riani akan berbicara dan berdiskusi dengan orang tua Viola dan orang tua Ethan mengenai niat Riani untuk berhenti membantu dan tidak akan menemui Ethan lagi, seperti yang tadi sudah Riani bilang, biarlah Riani yang dianggap jahat oleh mereka, asalkan keputusan Riani nanti yang terbaik untuk Ethan, Viola dan Riani sendiri"


"Papah akan selalu mendukung apapun keputusanmu Nak...Sekarang sebaiknya kita segera menemui mereka, untuk mengetahui kondisi terakhir Ethan..." Ajak papah Rolland sembari memeluk pundak Riani.


"Baik Pah..."


Riani kembali melangkahkan kakinya menelusuri koridor mengikuti langkah papah Rolland.


Dia berharap semoga keputusannya nanti untuk benar-benar menghilang di kehidupan Ethan adalah keputusan yang tepat, sehingga Ethan bisa mandiri menata kembali perasaannya yang masih terjebak dengan cinta masa lalunya...


...☆☆☆...

__ADS_1


__ADS_2