KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
LANGIT DI LUAR LANGIT


__ADS_3

Angan Teddy melayang ke dua hari yang lalu, saat dia selesai membicarakan kerja sama pembukaan cabang restoran milik Wak Made di jakarta.


Tanpa sengaja dia bertemu kembali dengan Zoya, dan dia berusaha meyakinkan Zoya untuk percaya padanya, kalau dia tidak akan pernah ada niat menyakiti Riani.


Hingga pembicaraan antara Teddy dan Zoya terdengar Wak Made dan Arga.


Singkat cerita akhirnya Teddy menceritakan semua kisah ceritanya dengan Riani dari awal hingga akhir, yang membuat Zoya, Arga dan wak Made bersimpati pada Teddy.


Hingga akhirnya Zoya memberitahu di mana keberadaan Riani, dan secara kebetulan wak Made juga mempunyai black card jadi dia berusaha membantu Teddy agar bisa masuk ke resort X dan menemui Riani.


Dia merasa sangat beruntung, karena telah menemukan orang-orang yang tulus membantunya untuk mengejar kembali cintanya.


"Ted...Ted!" suara Riani yang memanggil-manggil namanya, membuatnya tersadar dari lamunannya.


"I...Iya Ai, maaf...Ada apa Ai?" jawab Teddy gugup.


"Sebaiknya kita pulang, karena hari sudah malam..." Kata Riani yang juga heran melihat Teddy yang bengong.


"Baiklah, ayo kita pulang...Aku antar kamu dulu"


"Oke, terima kasih..."


"Sama-sama Ai, jangan sungkan seperti itu, kayak aku ini siapa aja Ai"


"Iya Ted...Ayo cepetan pulang, aku takut nanti hujan lagi..."


"Ayo..."


.............


Riani segera masuk ke kamarnya, sedangkan Teddy masih memandang pintu kamar Riani yang sudah tertutup rapat.


Setelahnya dia beranjak pergi dengan langkah tak berdaya, yang seolah tak di anggap berada.


"Aku merasa gagal menata bahasa untuk bisa merayumu kembali padaku Ai..." Ucap Teddy lirih, dia merasa seperti menjalani hidup yang tak hidup.


Sedangkan di balik pintu, Riani segera berbalik menyandarkan tubuhnya setelah mengintip dari lubang pintu dan melihat Teddy pergi.


Riani dengan langkah tanpa gontai menuju ke ranjang dan duduk di pinggirnya.


Setelah dengan duduk, tetap saja pikirannya kalut penuh kabut.

__ADS_1


Banyak bayangan masa lalu yang kembali menghampirinya, bayangan yang tak mungkin ada dan bisa kembali lagi juga bayangan yang tepat ada di depannya yang menginginkannya untuk kembali ia genggam, namun...Ada rasa tidak percaya mengikat jiwanya, luka yang telah tertoreh di hatinya membuatnya semakin sulit untuk melangkah menggapai bayangan itu...


Di hempaskan tubuhnya hingga terbaring di atas ranjangnya, dengan menghela nafas panjang dia berusaha membuang semua beban bayangan itu, hingga akhirnya dia tenggelam dalam rentanya perjalanan hidup ke sebuah mimpi.


.............


Suasana pagi membangunkannya dari mimpi panjang yang tidak ingin dia akhiri.


Namun dia merasa harus bangun dan keluar untuk menenangkan pikirannya ke tempat di mana Randi pernah mengajaknya waktu itu.


Setelah merasa segar sehabis mencuci muka dan menggosok giginya dia berganti pakaian dengan kaos dan jeans pendeknya yang santai.


Kemudian dia keluar kamar dan mengunci pintu, dan entah kenapa dia merasa ada orang yang sedang memperhatikannya, dengan reflek dia memalingkan wajahnya ke samping kanannya, dan benar saja, dia melihat laki-laki yang semalam berpapasan dengannya, yang wajahnya mirip dengan sosok laki-laki yang dia kenal dulu sekali... Meski dia lebih dahulu meninggalkannya dalam luka di tinggal untuk selamanya.


Laki-laki tersebut ternyata tinggal di samping kamarnya, mungkin waktu semalam berpapasan dengannya saat bersama seorang wanita cantik dia tidak terlalu memperhatikan di kamar mana mereka masuk.


Di lihatnya laki-laki tersebut tersenyum ramah dan mengangguk padanya, dengan senyum manis Riani membalasnya.


Setelah Riani merasa cukup berbasa-basi dan saling menyapa tanpa kata dengan laki-laki tersebut, dia melanjutkan niatnya untuk ke restoran menikmati sarapan terlebih dahulu.


Laki-laki tersebut pun di lihatnya ikut berjalan di belakangnya, meski Riani merasa risih karena seolah dia di lucuti dengan pandangan dari lelaki di belakangnya itu.


"Oo maaf... Kalau begitu silahkan anda duduk di sini, biar saya cari meja lain..." Ucap Riani sambil berdiri dari duduknya.


"Tidak perlu...Anda duduklah di sini, biar saya yang pindah di tempat lain" kata laki-laki tersebut dengan ramah yang seolah tahu kalau Riani tidak ingin berbagi mejanya dengan orang lain.


"Baik, terima kasih dan maaf..."


"Oo! tidak perlu minta maaf, saya yang salah karena main duduk-duduk saja, tidak perlu sungkan begitu..."


"Kalau begitu sekali lagi terima kasih..."


"Sama-sama..." Kemudian laki-laki itu berjalan mencari meja kosong yang lain.


Riani menikmati menu sarapannya yang berupa roti bakar dengan telur gulung, dia menyeruput kopinya yang masih panas dengan pelan.


Saat dia berbicara denga laki-laki tersebut dia benar-benar yakin kalau pria itu benar-benar mirip dengan dia, dari mata dan senyumnya dan bahkan dari suaranya yang juga persis sama.


Setelah memikirkan itu, matanya kembali berusaha mencari sosok pria tersebut, dan alangkah canggungnya dia karena saat matanya menemukan sosok pria itu yang duduk agak jauh dari mejanya, ternyata pria itu juga sedang menatap ke arahnya, hingga mata mereka saling beradu.


Dengan buru-buru Riani mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan berpura-pura sambil kembali menyeruput kopinya.

__ADS_1


.............


Setelah Riani merasa sudah cukup kenyang, dia melangkahkan kakinya keluar restoran, di lihatnya pria tersebut juga sudah tidak berada di tempat duduknya lagi.


Di langkahkan kakinya menuju rental penyewaan sepeda yang berada dekat denga resort, setelah selesai membayar uang senilai harga sewa per-jamnya, Riani dengan santai mengayuh sepedanya.


.............


Tidak lama kemudian, dia pun sampai di tempat tersembuyi itu.


setelah di sandarkan sepedanya di sebuah pohon, dia berjalan sebentar ke arah rindangnya pohon bakau, kemudian dengan beralaskan pasir dia duduk di bawah pohon bakau yang teduh.


Angin sepoi-sepoi memainkan ujung rambutnya yang menutupi wajahnya.


Sambil duduk memeluk lutut sendirian di pinggir lantai, dia menengadahkan wajahnya ke atas langit.


Di lihatnya langit yang seolah mengerti isi hati Riani, sedang membelah awan putih dan memperlihatkan pemandangan langit di luar langit yang membuat Riani menyadari akan hidup, bahwa cobaan yang ia alami sekarang mungkin belum seberapa, karena di luar sana pasti ada orang yang mengalami cobaan yang lebih berat darinya...


Dengan santai sambil merentangkan tangannya Riani menjatuhkan tubuhnya di atas pasir, dia tidak perduli dengan rambut dan bajunya yang kotor.


Angin yang sejuk membawa angannya seolah berada di padang savana yang bertebaran dengan bunga-bunga dengan berbagai warna dan harumnya.


Dengan pelan di hirupnya udara segar ke dalam paru-parunya sesaat kemudian dia lepaskan dengan menghela nafasnya dengan panjang, begitu terus dia lakukan berulang-ulang, terlihat dia menikmati proses hidupnya dalam bernafas, karena udaralah dia bisa hidup.


Dia merasa sangat bersyukur karena bisa hidup dengan baik hingga sekarang, meski cobaan selalu datang silih berganti menghampirinya, tapi dia yakin akan bisa melaluinya dengan sabar dan penuh ikhas.


Kembali dia menghela nafasnya, kemudian dia mengambil hand phonenya, di pasangnya head set di telinganya.


Dia memilih beberapa lagu pop dengan dengan musik yang melo.


Lagu pun mulai terdengar di telinganya, meski dia tidak pandai bernyayi, dengan suaranya yang pelan dan pas-pasan dia mulai berdendang mengikuti lagu lawas yang saat ini sedang dia dengar, lagu milik Letto yang berjudul Seberkas Cahaya.


Setelah beberala list lagu sudah dia dengarkan dan mengikuti irama lagunya, akhirnya Riani berhenti dari dendangannya, karena rasa kantuk yang membebani matanya, hingga membuatnya tak bisa mengelak untuk memejamkan matanya yang sudah terkantuk-kantuk, hingga semua lagu yang dia pilih selesai dia dengarkan.


Tidur pulasnya di siang hari membawanya dalam mimpi, dengan di saksikan langit dan di iringi musik alam berupa deburan ombak.


Sedangkan di sisi tempat lain, terlihat sepasang mata sedang mengawasinya yang berdiri tidak jauh dari tempat Riani tertidur.


Dari tatapan matanya yang melekat pada Riani yang seolah ada kerinduan yang teramat sangat dan telah terpendam begitu lamanya, hingga dia tidak ingin terjadi apa-apa pada Riani dan ingin menjaganya untuk selamanya jika dia bisa...


...☆☆☆...

__ADS_1


__ADS_2