KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
POSISIKU DI HATIMU


__ADS_3

Tiga hari menjelang acara tujuh bulanan usia kehamilan Riani, persiapan pun sudah terlihat dari sekarang.


Mulai dengan menghubungi EO (Event Organizer), jasa cathering, mencatat daftar tamu yang akan di undang dan persiapan-persiapan lainnya.


Sebenarnya Riani hanya menginginkan acara tujuh bulanan yang sederhana saja, namun papah Rolland ingin acaranya di adakan dengan mewah dan meriah.


Riani hanya bisa menuruti kemauan papahnya itu, apalagi ibunya juga tidak keberatan dengan keinginan papah Roalland tersebut.


Sambil duduk santai dan mengigit jagung rebus kesukaannya, Riani hanya menatap kesibukan ibunya dan papah Rolland yang sedang mencatat daftar tamu yang akan di undang.


"Nak, apa sebaiknya kamu undang Radja juga di acara nanti? karena biar bagaimanapun dia masih suamimu dan ayah dari bayimu" kata Bu Widia.


"Iya Nak, apalagi di acara tujuh bulanan nanti, ayah dari sang bayi harus mengikuti acara tersebut dan tentunya tidak akan baik dengan penilaian orang nanti jika ayah dari bayi tidak hadir" sambung papah Rolland.


"Iya Bu, Pah...Kalian atur saja dan undang saja Radja untuk datang di acara nanti"


"Kalau begitu biar papah dan ibumu yang akan bicara langsung dengannya untuk datang di acara nanti"


"Terserah papah dan Ibu saja, mau bagaimana cara mengundangnya"


"Assalamualaikum!"


Teriakan lantang dari arah pintu masuk membuat ketiganya sontak terkejut.


Saat mereka melihat ke arah pintu ternyata yang datang adalah Maulana dan Nando.


"Kami datang...!" Kata Maulana lagi, kemudian dia mencium punggung tangan mereka bertiga, kemudian di ikuti oleh Nando yang juga segera menyalami mereka bertigaa.


"'Lana, kenapa kamu datang ke sini? lalu bagaimana dengan sekokahmu?" tanya bu Widia pada anak bungsunya tersebut.


"Lana sengaja minta ijin Bu, agar bisa mengikuti acara penting kak Riani"


"Iya tante, biar bagaimanapun mba Riani sudah menjadi bagian dari keluarga kami, jadi saya tidak bisa melewatkan acara penting tersebut" sambung Nando.


"Terima kasih banyak ya Nak Nando, selama ini sudah banyak membantu keluarga Tante..."


"Sama-sama Tante, itu sudah seharusnya saya lakukan sebagai keluarga..."


"O iya Riani, bukankah kamu nanti siang waktunya jadwal kamu untuk cek-up kandungan?"


"Iya Bu..."


"Tadi Pak Rolland bilang kalau hari ini Mang Muh ijin cuti?"


"Iya betul Bu Widia, mendadak keluarganya ada yang sakit"


"Jadi nanti siapa yang akan mengantar Riani cek-up, sedangkan kita berdua ada janji pertemuan penting di waktu yang sama?"


"Bagaimana kalau kita tunda dulu pertemuan kita dengan beliau?"


"Jangan Pak, kita sudah mendundanya dua kali, tidak enak sama beliau"


"Biar saya saja yang antar mba Riani" kata Nando menawarkan diri.


"Kamu baru saja sampai nak, sebaiknya istirahat dulu, biar nanti tante minta tolong Akbar untuk mengantar Riani"


"Iya Bu, aku juga setuju, dalam perjalanan kemari pasti capek jadi sebaiknya kamu istirahat dulu Nando, dan kamu juga Lana!"


"Baiklah Mba..."

__ADS_1


"Iya Kak..."


"Terima kasih ya Nando atas niat baikmu"


"Sama-sama Mba..."


.............


Tepat pukul satu siang Akbar pun datang, dia akan mengantar Riani periksa rutin di rumah sakit bersalin.


Selama perjalanan keduanya bernostalgia dengan mengingat kembali kebersamaan mereka dulu.


"Aku benar-benar tidak menyangka setelah 19 tahun lebih berpisah, akhirnya kita bisa bertemu lagi"


"Aku juga, apalagi saat tahu Paman berubah lebih gagah dan ganteng kayak gini, hehehe!" goda Riani sambil mentoel dada bidang Akbar.


"Gagahan mana paman Donaldmu ini dengan Radja?" tanya Akbar balik menggoda dengan membusungkan dadanya.


Riani tertunduk dan diam sesaat.


"Ya tentu saja gagahan paman Donaldku inilah!" seru Riani dengan tawa renyahnya dan mencubit gemas perut Akbar.


"Eitt! Eitt! aku lagi nyetir nih, bahaya!" Akbar kaget meski dengan tawanya.


"Sorry! sorry..." Riani segera menghentikan aksinya, dan tertawa lepas.


Akbar bisa melihat ada kesedihan di balik tawa Riani, dia tahu betul karakternya, karena meski dulu dirinya buta, namun kekurangannya tersebut sekaligus menjadi kelebihannya untuk lebih bisa menilai karakter dan perasaan orang tersebut meski hanya mendengar dari suara dan nada bicara mereka.


Keduanya saling terdiam sesaat.


Akbar segera menghentikan mobilnya karena lampu lalu lintas berwarna merah, sedangkan Riani hanya menatap lurus kedepan melihat orang-orang yang menyebrangi zebra cros dan melewati mobil mereka.


"Apakah menurut Paman semua kelihatan baik-baik saja?" jawab Riani balik bertanya.


"Yang aku dengar kamu dan Radja akan bercerai?"


"Wah...Paman Donaldku ini bisa dengan cepat mengetahui informasi rencana perceraianku ya?" jawab Riani dengan senyum getirnya.


"Hal apapun yang berhubungan dengan Winnie tersayangku ini, apa sih yang tidak aku tahu?" balas Akbar sambil mencubit lembut pipi Riani.


"Terima kasih atas perhatian Paman, tapi maaf...Aku belum siap untuk menceritakan semuanya saat ini..."


"Tidak apa-apa, aku juga tidak mau memaksamu"


Akbar kembali melajukan mobilnya karena lampu sudah menyala warna hijau.


Kembali suasana hening menyelimuti keduanya, hingga akhirnya mobil telah berhenti di parkiran rumah sakit bersalin.


Akbar segera turun dan membukakan pintu mobil untuk Riani dan membantunya untuk turun dari mobil.


"Terima kasih paman..." Ucap Riani setelah agak kesusahan turun karena perutnya yang membatasi geraknya.


"Sama-sama, ayo!"


Tidak perlu menunggu lama, tiba giliran Riani telah tiba.


"Boleh aku ikut untuk melihat perkembangan si jabang bayi?" pinta Akbar.


Riani berpikir sejenak, kemudian akhirnya dia mengangguk, setuju.

__ADS_1


Riani tidak menyangka saat melihat Akbar meneteskan air matanya ketika dia melihat dan dan mendengar detak jantung bayinya di layar monitor USG.


Hati Riani merasa terharu sekaligus miris, karena pria yang menemaninya untuk menyaksikan moment menakjubkan tersebut bukanlah suaminya dan ayah dari si bayi.


.............


Setelah selesai cek-up mereka berdua langsung menuju parkiran mobil untuk kembali pulang ke rumah.


"Sebentar lagi kamu akan melahirkan, jangan terlalu banyak kegiatan yang membuatmu capek demi menjaga kesehatanmu dan calon keponakanku"


"Siaaap Paman Donald!"


Akbar tersenyum geli melihat tingkah calon ibu yang bersikap kekanakan tersebut, namun Akbar menyukainya, dengan begitu Akbar bisa tahu bahwa Winnie kesayangannya itu sudah menjadi wanita yang kuat dan tegar.


"Terus kapan Paman nikah?"


"Nanti" jawab Akbar dengan mata tetap fokus menyetir.


"Tapi nantinya sampai kapan? inget umur, hihihi..." Kelakar Riani.


"Baru juga 35 tahun, masih banyak waktu lah..." Jawab Akbar percaya diri.


"Lalu sudah ada calonkah?"


Akbar hanya menggelengkan kepalanya.


"Masa sih? padahal Paman... Wajah ganteng, tubuh tinggi gagah dan mapan, harusnya banyak perempuan yang tergila-gila sama paman dong...?"


"Aku yang belum siap menjalin hubungan serius dengan wanita, untuk saat ini aku cuma ingin fokus bekerja dulu"


"Tapi...Ngomong-ngomong kedua orang tua paman kan kerja di kedutaan Amerika, lalu...Kenapa Paman lebih memilih berkerja di Indonesia dan sebagai bodyguard? sedangkan Paman bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik di sana"


"Karena aku ingin menemui dan menjagamu, Winnie kesayangku..." Jawab Akbar dalam hati.


"Hei! kok malah bengong?"


"Aku lagi nyetir nih..." Jawab Akbar, dan saat mobilnya kembali berhenti di lampu merah, Akbar menghela nafas panjangnya dan mengalihkan pandangannya pada Riani yang duduk di sampingnya.


"Hhhh...Karena aku ingin melakukan sesuatu yang dulu aku tidak bisa lakukan"


"Maksud paman?" tanya Riani, tidak mengerti dengan maksud dari jawaban Akbar.


"Ya, intinya aku ingin tinggal di Indonesia dan melakukan banyak hal yang dulu aku tidak bisa melakukannya karena dulu aku buta"


Akbar kembali menjalankan mobilnya karena lampu sudah berganti warna hijau.


"Kamu ingat dulu saat aku buta, sebagian besar waktuku hanya di habiskan dalam rumah saja, hingga kamu dan Pooh datang mengisi hari-hari gelapku dengan mengajakku menikmati dan merasakan yang tidak dapat aku lihat...Terima kasih banyak untuk kalian berdua " jawab Akbar sambil mengelus lembut kepala Riani.


Riani hanya mengangguk lemah, ada kesedihan di hatinya, karena dirinya dan Pooh sudah tidak mungkin untuk bersama lagi.


"Apakah kamu tahu di mana Pooh sekarang?" kata Riani dengan pertanyaan yang menyelidik dan menguji, sejauh mana Akbar mengetahui kabar dan keberadaan Pooh sekarang.


"Aku tahu kok..." Jawab Akbar dengan senyum misteriusnya, seolah tahu apa yang sedang di pikirkan oleh Riani.


Riani menghela nafas panjangnya, matanya di alihkan lurus ke arah depan jalan, pandangannya kosong, tidak tahu apa yang harus dia pikirkan.


Melihat ekspresi Riani tersebut membuat hati Akbar merasa iba dan sedih.


"Maafkan aku Winnie...Jika kehadiranku tidak bisa membuatmu tertawa penuh bahagia seperti dulu, karena aku tahu persis posisiku di hatimu...namun apapun posisiku di hatimu, aku akan selalu berada di belakangmu, meskipun itu tidak akan merubah posisiku di hatimu..." Bisik hati Akbar dalam diam...

__ADS_1


...☆☆☆...


__ADS_2