KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
KUNCI HIDUP


__ADS_3

Karena ada reaksi gerakan dari tangan Ethan setelah di usapkannya pada perut Riani.


Kembali dia mengusap-usapkan tangan Ethan ke perutnya.


Dan respon gerakan tangan Ethan kali ini semakin aktif di barengi dengan gerakan tubuh Ethan yang lain, ada pergerakan di mata dan bibir Ethan.


Melihat itu Tante Grace segera menyuruh Viola untuk segera memanggil dokter yang menangani Ethan.


Dengan bergegas Viola keluar ruangan.


Sedangkan tante Grace meminta Riani untuk terus melakukan gerakan tersebut sambil menggenggam erat tangan putranya tersebut dengan wajah penuh harapan.


Tidak butuh waktu lama Viola kembali bersama para dokter ahli yang menangani Ethan.


Dan untuk kelancaran pemeriksaan, dokter menyuruh ketiganya untuk menunggu di luar terlebih dahulu.


"Mah, Vio pamit sembentar ke toilet, setelah itu Vio beli makan siang untuk kita" kata Viola minta ijin.


"Baiklah, memang sudah waktunya makan siang, kasihan bayi dalam kandungan Riani, pasti sudah lapar kan?" jawab tante Grace sambil mengelus lembut perut Riani.


Sebenarnya Riani ingin menolak karena tadi sebelum masuk ke rumah sakit Riani sudah menyuruh Mang Muh untuk membeli makanan yang sangat ingin dia makan hari ini, tapi melihat perhatian yang tulus dari mereka berdua, membuat dia mengurungkan niatnya itu.


"Kak Riani, pengin makan apa?" tanya Viola.


"Iya Nak, apa yang ingin kamu makan?" tanya Tante Grace.


"Terserah makanan apa saja, tapi minumannya aku ingin jus alpukat, bisa kah Vi?"


"Tentu saja, akan aku carikan untuk Kakak"


"Thanks ya Vi..."


"Sama-sama Kak, kalau begitu Viola pamit dulu ya Mah, Kak..."


"Iya Vi, hati-hati"


Viola segera meninggalkan mereka berdua, sedangkan Riani segera mencari tempat duduk dan mengeluarkan ponselnya.


Dengan segera dia kirim SMS pada Mang Muh agar dia membeli makan siangnya tiga porsi saja.


Baru saja dia akan menaruh kembali ponselnya ke dalam tas jinjingnya, tiba-tiba suara panggilan masuk yang berdering keras membuatnya segera menarik kembali ponsel nya dan langsung menjawab panggilan yang ternyata dari Ibunya.


Grace yang melihat Riani sedang sibuk berbicara di telpon sambil sebelah tangannya mengelus dan membelai lembut perut buncitnya tersebut, membuat di hati Grace timbul perasaan bersalah.


Grace berjalan mendekati bangku di mana Riani duduk, di lihatnya dia sudah menutup ponselnya.


"Tadi yang menelpon Ibumu Nak?" tanya Grace sesampainya di depan Riani.


"Iya Tante, Ibu titip salam buat Tante"


"Terima kasih, titip salam juga buat Ibumu ya Nak"


"Iya Tante, pasti saya sampaikan..."


"Bagaimana, apakah Tante dan Om sudah bisa bertemu dengan Ibumu?"


"Sebelumnya saya minta maaf Tante, jujur saya belum bilang sama Ibu mengenai keinginan Tante dan Om ini, tapi Insya Allah...Secepatnya saya akan membicarakannya dengan Ibu"

__ADS_1


"Tidak perlu tergesa-gesa Nak, Tante tahu kok niat baik kamu untuk menjaga perasaan Ibumu, jadi pelan-pelan saja dulu, asal Ibu kamu mau bertemu dengan kami, kapanpun kami akan menunggunya dengan sabar"


Grace duduk di samping Riani, setelah menatap wajah Riani sesaat, kemudian dia memeluk Riani...


"Terima kasih banyak ya Nak, meskipun kami sudah menorehkan luka di hatimu dan keluarga, namun kamu masih mau membantu Ethan, Tante yakin tanpa seijin Ibu kamu, tidak akan ada kamu di sini, sampaikan terima kasih kami pada Ibu kamu ya Nak"


"Iya Tante, pasti saya sampaikan"


Kemudian tampak Grace melepas kalung yang sedang dia pakai.


"Tante harap kamu mau menerima tanda terima kasih Tante ini" katanya sambil meletakkan kalung tersebut di atas telapak tangan Riani.


Riani sontak kaget dan berniat mengembalikan kalung tersebut, namun dengan cepat Grace segera mengatupkan telapak tangan Riani, menutup dan menggenggam erat tangan Riani yang ada kalungnya tersebut.


"Tante mohon terimalah...Kalung ini sangat berarti bagi tante, karena pemberian dari Almarhumah Ibu Tante, dari Tante remaja hingga sekarang Tante selalu memakainya, tapi kini Tante melepasnya, karena sudah waktunya kalung ini berpindah pada orang yang tepat"


"Tapi Tante...Bukankah seharusnya orang yang menerima barang berharga ini adalah Viola, menantu Tante?"


"Viola memang menantu kesayangan Tante, tapi orang yang sangat Ethan cintai adalah kamu Nak, dan Tante akan menganggap orang yang Ethan cintai adalah anak Tante sendiri, jadi kamu pantas menerima kalung ini, Tante mohon terimalah..." Pinta Grace, sambil meremas lembut telapak tangan Riani.


"Baiklah Tante, saya tidak bisa menolaknya juga kan? terima kasih..."


"Sama-sama Nak, sini Tante bantu pakaikan!" kata Grace dengan wajahnya yang berubah sumringah.


Di ambilnya kalung itu dari telapak tangan Riani, kemudian dia pakaikan pada leher Riani.


Memang tepat kalung ini di pakai oleh kamu, nampak lebih cemerlang dan bersinar kilau permatanya..." Kata Grace menatap kalung yang bergelanyut indah di leher Riani dengan wajah puasnya.


Kemudian Grace memeluk erat tubuh Riani.


"Sekali lagi, terima kasih banyak ya Tan"


"Maafkan saya...Karena sayalah Ethan menderita sekarang ini..."


"Kamu tidak bersalah Nak, Ethan menderita karena karma dari perbuatan kami, sebagai orang tuanya yang tidak bisa memberikannya sebuah keluarga normal seperti layaknya keluarga yang lain, jadi...Semua yang terjadi tidak ada hubungannya denganmu, justru kamilah yang merasa sangat bersalah dengan kejadian yang dulu menimpa ayah dan keluargamu..." Ucap Grace.


Keduanya saling melepas pelukan mereka.


"Kamu perlu tahu, orang yang paling merasa bersalah dengan kejadian itu adalah Om Marcel, hingga dia menderita Insomnia akut, karena dia sering di hantui dengan mimpi-mimpi kejadian waktu itu.


"Jadi Om Marcel juga sama menderitanya dengan kami Tan?"


"Betul Nak, bahkan dia lebih tersiksa dari Tante dan Ethan, tapi karena gengsinya yang tinggi, dia tidak mau mengekspresikan perasaannya itu dan bahkan menolak untuk berobat ataupun sekedar menjalani terapi dengan penyakit Insomnia akutnya itu"


"Saya juga dulu tidak bisa lepas dari mimpi-mimpi itu, namun berkat dorongan dan semangat dari keluarga, Akhirnya semua bisa berlalu, jadi Tante dan Viola harus memberi dukungan pada Om Marcel dan Ethan, agar bisa lepas dari bayang-bayang kelam tersebut..."


"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi kunci kesembuhan mereka ada pada keluargamu, terutama kamu Nak"


"Maksud Tante?"


"Kamu tahu betul kalau Ethan hingga sekarang masih sangat mencintaimu, sedangkan Om Marcel setiap dia bangun dari Mimpi buruknya, setelahnya dia akan menangis dan selalu menyebut namamu..."


"Om Marcel meyebut nama saya setiap kali bangun dari mimpi buruknya?" tanya Riani terkejut dan heran.


"Betul nak, dan Tante juga tidak tahu kenapa bisa begitu, tapi setiap kali Tante bertanya padanya, Om Marcel tidak pernah menjawabnya dan itu berlangsung semenjak kejadian itu hingga sekarang"


"Jadi semua penyebabnya karena saya?"

__ADS_1


"Bukan begitu Nak, tapi Tante yakin sekali kalau kesembuhan mereka kuncinya pada dirimu, jadi bantu mereka, tolonglah orang-orang terkasih Tante, Tante Mohon..." Grace akhirnya tidak kuasa menahan tangisnya.


Di peluknya tubuh renta yang sedang tersedu-sedu itu, Riani tidak tega juga melihat kesedihan Grace tersebut.


"Saya akan berusaha membantu, tapi...Bagaimana caranya saya bisa membantu mereka Tante?"


"Kamu sudah membantu Ethan, dan Tante yakin dengan kamu bertemu dan berbicara empat mata dengan Om Marcel maka dia akan membuka hatinya dan mau mengungkapkan semuanya yang selama ini mengganggu hati dan pikirannya"


"Apa Tante yakin dengan hal ini? karena saat pertama kali bertemu di rumah sakit ini, saya merasa justru Om Marcel tidak nyaman dengan kehadiran saya" tanya Riani ragu.


"Tidak Nak, justru sebaliknya...Setelah pertemuan itu, malamnya justru Om Marcel lebih gelisah dari hari-hari biasanya"


"Jadi...Saya harus bicara dengan beliau?"


"Betul Nak, cari waktu dan tempat yang tepat, Tante yakin sekali kamu bisa bicara dengannya dan membantunya"


"Baiklah, saya akan coba"


"Terima kasih banyak Nak, nanti Tante akan coba atur waktu pertemuanmu dengannya, dan bicara dengannya, jika dia sudah setuju, Tante akan segera menghubungimu"


"Baiklah Tante..."


"Sama-sama Tante..."


Merekapun kembali berpelukan dan meleplaskan pelukan mereka saat Viola sudah kembali membawa makan siang untuk mereka.


.............


Setelah mereka bertiga selesai makan siang, Dokter yang memeriksa Ethan pun keluar.


Dia membawa berita baik, Ethan sudah sadar dari komanya meskipun belum sepenuhnya, karena Ethan belum membuka matanya, hanya gerakan-gerakan dari tubuhnya yang mulai intens, dan dokter yakin jika sebentar lagi Ethan akan membuka matanya.


Kabar tersebut membuat semuanya menangis bahagia.


Riani segera pamit untuk pulang , karena Ibunya dan Om Rolland sudah berkali-kali menelponnya.


Wajar mereka begitu, karena Riani sudah terlalu lama di rumah sakit, mereka khawatir dengan keamanan kandungan Riani.


Setelah berpamitan Riani menemui dua bodyguardnya yang berada agak jauh darinya, dia sengaja meminta Andy dan Akbar agar mengawasinya dari jauh karena dia tidak mau membuat Viola dan Tante Grace tidak nyaman.


Ketiganya berjalan keluar rumah sakit menuju parkiran, di mana Mang Muh sudah siap dengan mobilnya.


Setelah semuanya masuk ke dalam mobil, Mang Muh segera menjalankan mobilnya meninggalkan parkiran rumah sakit.


Selama dalam perjalanan pulang, Mang Muh, Andy dan Akbar terdiam dan berusaha tidak mengeluarkan suara, karena mereka melihat Riani sudah tertidur dengan pulasnya karena kelelahan.


Ketiganya saling berpandangan dan beralih pada Riani, wanita yang menurut orang yang bernama Tante Grace adalah kunci hidup bagi sembuhnya Ethan dan Om Marcel.


Setidaknya itu yang Andy dan Akbar dengar melalui alat penyadap yang mereka pasang di tas Riani, tanpa sepengetahuan Riani.


Karena permintaan dari Om Rolland, untuk berjaga-jaga agar apabila ada sesuatu yang terjadi mereka bisa segera bertindak.


Dengan pelan dan hati-hati Andy melepas alat penyadap yang menempel di tas Riani.


Setelah terlepas alatnya tanpa membangunkan Riani yang masih tertidur, Andy dan Akbar pun menarik nafas lega.


Akbar tersenyum penuh arti melihat wajah pulasnya Riani, dalam hatinya ada perasaan yang terbendung dan ingin dia curahkan semuanya pada wanita yang juga pernah menjadi kunci hidup kesembuhannya waktu itu...

__ADS_1


...☆☆☆...


__ADS_2