KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
MENANTU SATU-SATUNYA


__ADS_3

Radja celingukkan saat melihat tempat duduk Riani sudah kosong, pandangannya menyapu ke seluruh sudut arah.


"Kamu sedang mencari Riani nak?" tanya Bu Widya.


"Iya Bu, tadi dia duduk di sini..."


"Riani ada di kamarnya, dan tadi Ibu lihat dia sudah tidur"


"Sebenarnya ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengannya Bu, dan dia juga sudah setuju setelah para tamu sudah pulang, kita akan berbicara..." Kata Radja dengan nada kecewanya.


"Mungkin Riani lupa dan juga kelelahan"


"Mungkin..." Jawab Radja lagi.


Melihat ekspresi wajah Radja seperti itu membuat hati Widya merasa iba.


"Kalau begitu, malam ini kamu tidurlah di sini, besok kamu bisa bicara dengannya"


Radja terkejut saat mendengar perkataan dari mertuanya itu.


"Apa tidak apa-apa Bu?" tanya Radja tidak yakin.


"Nak, kamu pasti tahu sejak awal Ibu tidak pernah ikut campur masalah kalian, dan Ibu kurang setuju dengan keinginan Riani yang ingin berpisah denganmu, apalagi sekarang kalian akan segera mempunyai momongan, meski Ibu juga tidak rela jika Riani menderita karena selalu di sakiti olehmu..."


"Maafkan aku Bu..." Kata Radja dengan suaranya yang penuh penyesalan.


"Sudahlah, semua Ibu serahkan pada kalian berdua, sekarang ibu akan siapkan baju ganti untukmu"


"Terima kasih Bu..."


Widya hanya mengangguk dan menepuk pelan pundak Radja, kemudian dia pergi meninggalkannya.


.............


Setelah acara selesai, Radja segera mandi dan berganti baju, dan karena dia tidak tahu di mana letak kamar Riani, dia hanya duduk di atas sofa ruang tamu.


"Kenapa kamu malah duduk di sini nak?" tanya Papah Rolland saat melihatnya duduk bengong sendirian.


Radja yang saat itu sedang melamun, tersentak kaget dan langsung berdiri.


"Iya Om, tadi Ibu menyuruh saya untuk tidur di kamar Riani, tapi saya tidak tahu di mana letak kamarnya?" jawab Radja gugup.


"Mari Om antar kamu ke kamarnya" ajak Rolland sambil merangkul penuh sahabat pundak Radja.


"Baik Om, terima kasih..." Jawab Radja yang canggung di rangkul seperti itu.


"Ini kamar istrimu, masuklah!" kata Rolland sesampainya mereka di depan pintu kamar.


"Baik Om, terima kasih..."


"Sama-sama, kalau begitu Om pergi dulu"


"Iya Om..." Pandangan Radja mengikuti langkah Rolland yang pergi meninggalkannya.


Kemudian dengan sangat pelan dan hati-hati Radja membuka pintu dan menutupnya kembali.


Perlahan ia langkahkan kakinya menuju ranjang di mana istrinya sudah tertidur dengan pulasnya.


Di tatapnya wajah Riani tersebut dengan penuh kerinduan sekaligus kesedihan.


Di belainya dengan lembut wajah dan rambut Riani, tanpa terasa air matanya mengalir dan terjatuh ke wajah istrinya tersebut.


"Maafkan aku Dek...Maafkan aku..." Tangis Radja.


"Kenapa kita harus berakhir seperti ini...?" Rintih Radja, penuh kesakitan.

__ADS_1


"Eghh..." Igau Riani sembari mengubah posisi tidurnya, tangannya memegang perutnya.


Melihat ekspresi wajah istrinya dengan dahi yang berkerut karena tidak nyaman dengan perutnya yang besar, membuat Radja pelan-pelan mengecup lembut dahi dan perutnya, kemudian perlahan dia baringkan tubuhnya di samping Riani dan tangannya mengelus-elus pelan perut istrinya itu.


Wajah Riani kembali tenang dan tertidur dengan lelapnya, sedangkan Radja menatap lekat-lekat wajah Riani, seolah itu untuk yang terakhir kalinya dia bisa memandangnya sedekat itu.


Dengan tangannya yang tetap mengelus perut Riani, perlahan tapi pasti mata Radja pun ikut terpejam.


.............


Pagi harinya Riani terbangun dari tidurnya, rupanya semalam saat dia terlalu asyik bermain ponsel dan berselancar di dunia maya, tanpa dia sadari telah tertidur.


Namun dia merasa ada yang salah, karena bantal di bawah kepalanya terasa hangat dan bergerak, dan tangannya juga merasakan mendekap sesuatu yang empuk.


Dan saat matanya di arahkan ke arah tangannya betapa terkejutnya dia karena tangannya berada di atas perut dan kepalanya ternyata juga berada di dada seorang pria.


Dengan perlahan dan hati-hati ia arahkan wajahnya ke atas, dan betapa terkejutnya dia saat melihat wajah Radja, suaminya yang masih tertidur dengan pulasnya, dengan tangan Radja berada di posisi perutnya.


Pantas saja saat semalam perutnya terasa tidak nyaman, dia merasa ada yang mengelus-elus lembut perutnya itu, ternyata itu bukanlah mimpi, melainkan memang kenyataan.


"Tapi...Kenapa Mas Radja bisa berada di ranjangku sekarang?" gumam Riani lirih.


Kembali di tatapnya wajah Radja, wajah suaminya yang sudah begitu lama tidak dia lihat sedekat ini.


Seharusnya dia bahagia karena sekarang bisa tidur bersama kembali seperti layaknya suami istri pada umumnya, tapi sayang...Ini mungkin hanya mimpi sesaat baginya, karena kenyataan yang sebenarnya dia sudah memutuskan untuk menyerah dengan hubungan mereka.


seketika ingatannya kembali pada kejadian demi kejadian yang menyakitkan perasaannya waktu itu, hingga timbul kembali kebencian dan kekecewaan yang teramat dalam.


Namun saat dia kembali menatap wajah pria yang dulu pernah dia perjuangkan dan teringat bahwa sekarang ada calon buah hati di perutnya, perlahan kebenciannya menyurut hingga beralih dengan perasaan Ikhlas.


Perlahan Riani melepaskan tangan Radja yang masih memegang perutnya, dan beringsut turun dari ranjang.


"Kamu sudah bangun Dek...?" Tanya Radja yang terbangun.


"Hemmm, aku pergi mandi dulu Mas" jawab Riani.


Setelah Riani masuk ke dalam kamar mandi, Radja pun bangun dari pembaringannya.


Setelah merapikan tempat tidur, Radja duduk bersandar di kursi dekat ranjang, matanya menatap lekat-lekat pintu kamar mandi, menunggu dengan sabar.


Akhirnya Riani keluar dengan wajah dan tubuhnya yang segar, melihat rambut basah Riani, hasrat Radja pun menggeliat menyiksanya.


Riani melirik ke arah Radja, dan melihat gelagat yang langsung Riani sadari apa yang akan terjadi selanjutnya jika dia tidak segera menghindarinya.


"Sebaiknya kamu segera mandi Mas, setelah itu kita sarapan, aku sudah lapar" kata Riani datar sambil memberikan handuk pada Radja.


"Baiklah..." Jawab Radja menunduk lesu.


Sebelum masuk ke dalam kamar mandi Radja sempat menatap punggung istrinya yang membuka pintu dan keluar dari kamar.


Setelah bayang Riani menghilang di balik pintu, Radja menunduk dan menggela nafas panjang kemudian berkata dengan lirih.


"Sebegitu tidak inginkah kamu bersamaku Dek...?" Desah Radja sembari mengalungkan handuk ke lehernya dan berlalu masuk ke dalam kamar mandi dengan lesu.


.............


Semua mata tertuju ke arah Radja yang berjalan menuju ke arah meja makan.


Melihat dirinya menjadi pusat perhatian semua orang yang sudah menunggunya, membuat dirinya merasa canggung, hingga ia berkali-kali mengusap kepalanya sendiri karena salah tingkah di tatap oleh banyak mata seperti itu.


"Duduklah nak, ayo kita sarapan" ajak Rolland.


"I...Iya, terima kasih Om..." Jawab Radja, canggung.


Dia segera duduk diantara mertua dan istrinya.

__ADS_1


"Makanlah nak..." Kata Widya sambil menyerahkan piring yang sudah berisi nasi kepada menantunya itu.


"Terima kasih Bu..."


Riani hanya sekilas melirik tanpa ekspresi ke arah mereka, hatinya hanya merasa getir melihat kedekatan antara mertua dan menantu tersebut yang masih terjalin dengan baik, meski prahara sedang berhembus pada keluarganya.


Sedangkan Iky, Lana dan Nando menikmati sarapan mereka dalam diam tanpa bersuara.


.............


Setelah selesai sarapan Riani kembali sibuk di depan layar laptopnya.


"Dek, bisa kita bicara sebentar?" tanya Radja yang mengampirinya.


"Aku sekarang sedang sibuk Mas..." Jawab Riani, dengan mata yang masih fokus pada layar laptopnya.


"Aku menagih janjimu semalam Dek, karena benar-benar ada hal penting yang harus kita bicarakan..."


"Apalagi sih yang perlu kita bicarakan? bukankah semuanya sudah jelas Mas?"


"Belum semuanya Dek..."


"Ya sudah, aku janji besok lusa aku akan meluangkan waktu berbicara denganmu"


"Terima kasih Dek..."


"Sama-sama, aku cuma tidak ingin berdebat denganmu Mas"


"Oh, oke...Kalau begitu aku pamit pulang dulu ya Dek"


"Iya Mas, hat-hati"


Radja mengangguk, dia hendak mencium kening istrinya itu, namun Riani segera menghindarinya.


Hati Radja merasa pedih dengan penolakan Riani tersebut, dengan senyum pahitnya dia hanya bisa mengelus perut Riani.


"Ayah pulang ya Nak, jangan nakal dan yang nurut sama Bunda ya..." Bisik Radja di depan perut Riani.


Setelahnya Radja segera keluar dari kamar Riani, kemudian berpamitan pada semua orang, termasuk mertuanya.


"Hati-hati dan salam untuk anak istrimu..." Ucap Bu Widya dengan senyum tulusnya.


Melihat betapa tulus mertuanya mengucapkan itu, seketika rasa bersalahnya semakin menjadi-jadi hingga akhirnya pertahanan pria yang terlihat kokoh tersebut akhirnya runtuh.


Dia menangis penuh penyesalan dalam pelukan mertuanya.


"Ampuni...Maafkan aku Bu..."


"Ibu sudah memaafkanmu...Semuanya adalah ujianmu dengan Riani untuk mendapatkan momongan, sayangnya...Kalian tidak bisa melaluinya" kata bu Widya sambil menepuk-nepuk punggung Radja.


"Semuanyan salahku Bu, yang tidak bisa menahan ujian, hingga akhirnya Riani pun menyerah..."


"Sudahlah, tidak perlu siapa yang salah, semuanya sudah berlalu, dan apapun yang terjadi dengan hubungan kalian nanti, bagi Ibu...Kamulah menantu Ibu satu-satunya..."


Radja hanya tertunduk diam seribu bahasa.


"Sekarang kamu pulanglah, tenangkan hati dan pikiranmu dulu..."


"Baik Bu, kalau begitu saya pamit..." Jawab Radja yang kemudian mencium punggung tangan mertuanya itu.


Bu Widya mengangguk.


Radja masuk ke dalam mobil dan kemudian melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumah yang menjadi tempat singgah istri dan keluarganya tersebut.


Radja menyadari betul arti ucapan mertuanya tadi, meski dia di anggap sebagai menantu satu-satunya, Namun bukan berarti dia menantu yang terbaik baginya...

__ADS_1


...☆☆☆...


__ADS_2