
Radja segera berdiri dari duduknya, saat melihat Riani sudah kembali dari toilet sambil memegangi dan mengelus-elus perutnya dengan wajah penuh peluh dan terlihat seperti sedang menahan rasa sakit.
"Kamu tidak apa-apa kan Dek?" tanya Radja dengan wajah cemasnya.
Dengan penuh perhatian Radja memapah pundak Riani.
"Tidak apa-apa mas, cuma ini si dedek bayi lincah banget, gak mau diem..." Jawab Riani yang akan kembali duduk.
"Boleh aku pegang dan bicara dengan calon bayi kita Dek?" tanya Radja sambil membantu Riani yang terlihat kesusahan saat akan duduk.
Riani tersenyum dan mengangguk.
Saat Radja menyentuh perut besar Riani, tiba-tiba kembali bayi bergerak merespon sentuhan dari ayahnya tersebut, tampak siluet tangan dan kaki si bayi.
Radja terkejut bahagia, tanpa dia rasa air mata haru mengalir deras membasahi pipinya.
Di ciumnya lembut siluet tersebut berkali-kali.
"Maafkan ayahmu ini nak...Karena tidak bisa menjadi orang tua yang baik untukmu ..." Ucap Radja lirih.
Mendengar ucapan Radja, hati Riani sangat sedih, ada perasaan tidak rela jika mengingat kelak anaknya merasakan kasih sayang orang tuanya yang tidak lengkap, namun dia juga menyadari jika ada anak lain yang lebih membutuhkan Radja.
Perasaannya campur aduk, di palingkan wajahnya untuk menyembunyikan air mata yang siap mengalir.
"Dek...Maafkan Mas, karena tidak bisa menjadi suami dan ayah yang bertanggung jawab buat kalian berdua..." Ucap Radja dengan suara bergetar, penuh penyesalan.
"Aku sudah ikhlas menerima semuanya Mas, jadi kamu tidak perlu terlalu merasa bersalah..."
"Maafkan aku..." Tangis sesal Radja.
"Aku sudah memaafkanmu Mas, biarlah lembar kelam masa lalu pernikahan, kita kubur dalam-dalam, kelak jangan pernah di ungkit lagi, karena hanya akan membuka luka lama"
Radja hanya mengangguk, masih hanyut dalam tangis sesalnya.
"Jadi...Aku mohon padamu mas, beri kami berdua ruang, karena kami hanya ingin hidup tenang tanpa tertekan dengan masalah masa lalu pernikahan kita, sehingga anak kita akan tumbuh tanpa beban"
"Baik Dek, aku tahu yang terbaik untuk anak kita, dan itu dengan cara kita berpisah, meski itu keputusan yang sangat berat untukku, dan tidak rela melepaskan pernikahan kita, tapi apa dayaku...?"
"Aku mengerti kok Mas, mereka lebih membutuhkanmu..." Jawab Riani berat, mencoba untuk ikhlas, perlahan tangan Riani mengelus punggung tangan Radja, sebagai bentuk dukungan.
"Kenapa aku begitu bodoh...Sehingga tidak menyadari bahwa aku telah begitu banyak menyakitimu, aku memang tidak pantas untukmu, dan aku yakin Teddy lah yang pantas melanjutkan tanggung jawabku menjagamu dan anak kita..."
"Mas...Tanpa ayah penggantipun anak kita akan bahagia, karena dia di kelilingi orang-orang yang akan menyayanginya..."
"Aku juga yakin akan hal itu Dek, tapi...Sebagai ayah kandungnya, aku juga tidak mau egois dan menyadari jika aku tidak bisa memberi kasih sayangku secara penuh padanya, jadi kelak aku mau membuatnya merasakan kasih sayang yang penuh dari kedua orang tuanya yang lengkap meski bukan dariku..."
"Aku paham maksud mu mas, sudahlah...sebaiknya kita pulang sekarang"
"Umm...bisakah untuk yang terakhir kalinya kita jalan ke Mall untuk membeli perlengkapan bayi kita?"
"Baiklah..." Jawab Riani tidak tega, meski sebenarnya untuk perlengkapan bayi sudah di beli dan siap semenjak dua bulan yang lalu, namun demi menjaga perasaan Radja, Riani menyetujui permintaan ayah dari calon anaknya itu.
__ADS_1
.............
Sesampainya di toko baju bayi, Radja nampak bingung dan segera menghampiri Riani kembali yang sedang duduk melepas lelah.
"Dek, calon anak kita laki-laki atau perempuan?"
"Calon anak kita perempuan Mas..."
"Apa capekmu sudah hilang?"
"??..." Riani hanya memperlihatkan ekspresi kebingungannya dari pertanyaan Radja.
"Jika kamu sudah tidak capek, sebaiknya kita cari bareng-bareng baju dan perlengkapan bayi untuk calon putri kita, karena kamu pasti lebih paham mengenai hal ini"
"Baiklah, kalau begitu ayo kita berdua bersama-sama mencari dan memilihnya"
"Ayo! jalan pelan-pelan saja Dek..." Papah lembut tangan Radja di pundak Riani.
Sekali lagi dengan lembut Radja mengelus perut Riani.
Riani hanya tersenyum dan berjalan mengikuti langkah Radja.
...
Setelah satu jam lamanya mereka berkutat di area toko perlengkapan bayi tersebut, akhirnya Radja membayar semua barang yang sudah mereka pilih bersama di kasir.
Setelahnya Radja segera membawa Riani kembali pulang dengan mobilnya.
Setelah ngobrol sebentar dengan ibu mertuanya, Radja pun pamit untuk pulang, dengan di antar Riani hingga ke mobil.
"Hati-hati Mas..."
"Iya Dek, kamu juga jaga kesehatan dan jaga kandunganmu baik-baik..."
"Iya Mas, emmm...Lusa sepertinya aku bisa memenuhi syarat kamu yang ketiga Mas..." Kata Riani pelan dan mendekatkan mulutnya ke arah telinga Radja.
Mendengar perkataan Riani, Radja yang tadinya sudah menyalakan mobil segera mematikan kembali mobilnya karena terkejut.
"Be...Benarkah itu Dek?!" tanya Radja terbata-bata dengan wajahnya yang sumringah.
Riani hanya mengangguk tersenyum.
"Sekarang Mas pulanglah, besok lusa jam 8 pagi jemput aku"
"O...Oke! baiklah, nanti...nanti besok lusa aku datang untuk menjemputmu, sekarang aku pulang ya Dek?" jawab Radja dengan perasaan bahagianya.
Kembali Riani menganggukkan kepalanya.
"Assalamualaikum..."
"Wa'alaikum salam..."
__ADS_1
Radja menyalakan kembali mobilnya dan kemudian melajukan mobilnya meninggalkan Riani yang masih berdiri memegangi perutnya.
Melalui kaca spion mobilnya Radja melihat istrinya masuk ke dalam rumah.
Radja tidak tahu apakah dia harus bahagia atau sebaliknya, setelah mendengar keputusan Riani tadi, di satu sisi Radja bahagia karena akhirnya dia bisa tinggal bersama kembali dengan Riani meski itu hanya sesaat dan untuk yang terakhir kalinya, namun di sisi lain Radja juga sedih karena itu berarti Riani ingin secepatnya berpisah darinya.
Radja menghembuskan nafasnya yang berat, dengan perasaannya yang gundah di lajukan mobilnya ke arah rumahnya yang dulu, yaitu rumah milik bersama dirinya dengan Riani.
Sesampainya di rumah tersebut Radja memarkirkan mobilnya, kemudian dia mengambil ponsel di dalam saku bajunya dan menghubungi nomor yang tertera dengan nama Lorenza.
Terdengar suara Lorenza dari seberang sana menjawab panggilan Radja.
"Ya Mas, kamu sekarang di mana?"
"Aku di rumahku yang lama, Za...Malam ini aku tidak pulang, aku ingin menenangkan diri, tolong kamu bicara dengan Gala dan beri tahu dia agar malam ini tidak perlu menungguku, bilang saja aku lembur kerja"
"Iya Mas, nanti aku akan bicara dengannya dan memberi pengertian padanya, kamu tenang saja dan baik-baiklah jaga kesehatanmu Mas"
"Oke, terima kasih Za, kalau begitu aku sudahi dulu teleponnya"
"Baiklah Mas"
Radja mematikan teleponnya kemudian dia keluar dari mobilnya dan perlahan membuka pintu rumah.
Dengan berjalan pelan dan tatapan penuh kesedihan di sapunya satu demi satu sudut ruangan.
Ingatannya kembali dengan kenangan saat-saat mereka berdua tinggal bersama, ada kebahagiaan dan kesedihan telah mereka lalui.
Namun akhirnya kesalah pahaman dan kecemburuan Radja yang berujung perselingkuhannya membuat Riani menyerah dan meninggalkan rumah.
Hingga sebagai pelampiasan frustasinya, Radja kembali membuat kesalahan, perselingkuhan demi perselingkuhan dia lakukan.
Hingga Tuhan menghukumnya dengan di hadirkan mantan pacarnya di masa lalu sebelum dia mengenal Riani, dia bernama Lorenza dan yang lebih membuatnya menyadari akan dosa-dosanya adalah saat Lorenza datang bersama dengan seorang anak laki-laki yang ternyata keturunanya, anak kandungnya dan dia mengidap penyakit berbahaya leukemia.
Sungguh adil Tuhan telah menghukumnya, karena tidak cukup hanya itu saja, Tuhan juga membalas dosa-dosanya dengan membuat dia merasakan sakitnya di selingkuhi, saat Radja melihat Riani berciuman dengan Ethan di pantai waktu itu.
Seketika itu Radja menyadari betapa sakitnya perasaan Riani saat dirinya berkali-kali menyelingkuhinya.
Air mata penyesalan mengalir deras di pipi Radja saat mengingat kembali dosa-dosanya dan kenangan pahit yang telah ia torehkan pada Riani, dalam rumah tangganya.
Matanya menatap lekat pada bingkai foto pernikahannya dengan Riani yang bertemgger di dinding.
Dengan tangan gemetar Radja mengambil bingkai foto tersebut, dengan penuh kesedihan di usapnya berkali-kali foto pernikahan tersebut.
Air matanya yang semakin deras mengalir, jatuh membasahi bingkai foto yang dia pegang.
Kemudian di peluknya erat bingkai foto tersebut dalam tangis penyesalan yang semakin dalam akan dosa-dosanya dan rasa kehilangan yang teramat menyakitkan hatinya.
Radja menyadari jika foto yang dia peluk saat ini, hanya akan menjadi kenangan dalam sejarah hidupnya, kenangan manis sekaligus kenangan pahit yang akan selalu tertoreh dalam hati dan ingatannya.
Tangis Radja pun semakin menjadi, tubuhnya yang terguncang, suaranya yang tertahan yang menguras semua tenaga dan pikirannya hingga membuatnya terkulai lemas dalam tidur kelelahan di atas lantai yang dingin, dengan tangan yang masih memeluk erat foto pernikahannya dengan Riani yang sebentar lagi hanya akan menjadi lembar kelam masa lalu pernikahan...
__ADS_1
...☆☆☆...