
Tengah malam Riani terbangun dari tidurnya, panggilan alam memaksanya harus ke toilet.
Setelah selesai dari kamar mandi, dia berniat kembali ke ranjangnya namun segera dia urungkan saat matanya melihat sosok pria yang tertidur pulas di sofa.
Di langkahkan kakinya ke arah sofa, meskipun dia bisa menebak siapa sosok pria yang tidur tersebut, namun tetap saja untuk memastikan hatinya dia mencoba melihat wajah yang hanya di terangi sinar temaram dari lampu kamar di samping ranjang Riani.
Terlihat olehnya, sketsa wajah yang tampan dengan garis wajah yang tegas di tambah bulu mata yang panjang dan bulu alis yang tebal.
Dulu semasa dia pacaran dengan Teddy selama hampir lima tahun tidak pernah dia melihat wajah Teddy sedekat ini, apalagi saat dia tertidur dengan pulas seperti itu.
Dengan kagum Riani menikmati ketampanan wajah sang adam yang ada di depannya itu.
Sambil agak berjongkok dia mendekati wajah Teddy yang masih tertidur pulas, dengan pelan dan hati-hati jarinya menelusuri seluruh wajah pria yang pernah singgah di hatinya itu.
Ada perasaan sedih hadir di hatinya, karena biar bagaimanapun Teddy pernah singgah dan mengisi hari-harinya saat mereka masih berpacaran dan bukanlah waktu yang singkat mereka menjalin hubungan kasih mereka.
Tanpa Riani sadari, air matanya mengalir, karena dia baru menyadari bahwa masih ada ruang untuk Teddy di hatinya.
Apalagi setelah dia melihat dan merasakan sendiri betapa tulusnya Teddy merawatnya saat dia sakit.
Ada penyesalan menyeruak di hatinya, karena dia telah meninggalkannya dan menikah dengan orang lain tanpa tahu jelas alasan mengapa Teddy saat itu meninggalkannya.
"Maafkan aku Ted...Jika waktu itu aku tidak terlalu gegabah memutuskan mencari penggantimu dan mencari jawaban terlebih dahulu alasan mengapa kamu meninggalkanku saat itu, mungkin tidak akan menjadi seperti ini...Kamu tidak akan menderita seperti ini yang terikat dengan perasaanmu padaku, sekali lagi maafkan aku..." Bisik Riani, air mata yang mengalir deras, akhirnya jatuh ke pipi Teddy hingga membuatnya bangun dan membuka matanya.
Melihat reaksi Teddy yang mendadak bangun, Riani gugup dan langsung berusaha untuk bangkit, namun belum sempat dia berdiri di tariknya oleh Teddy tangan Riani hingga dia jatuh di atas tubuh Teddy yang langsung memeluknya erat.
Dengan sekuat tenaga Riani meronta dan berusaha lepas dari pelukan Teddy, namun sia-sia karena tenaga Teddy lebih kuat, akhirnya Riani pasrah dalam dekapan Teddy.
"Kenapa kamu menangis Ai?Hatiku sakit bila melihatmu menangis seperti itu..." Bisik Teddy sambil berkali-kali mencium kepala Riani dengan penuh kasih.
"Aku menangis karena rasa bersalahku padamu Ted...yang dengan egoisnya memutuskan mencari penggantimu dan menikah dengannya tanpa aku mencari jawaban terlebih dahulu tentang alasanmu meninggalkanku..." Jawab Riani di sela-sela isak tangisnya.
"Sayang...Dalam hal ini aku juga ikut andil bersalah...Karena tidak memberimu kesempatan untuk tahu alasanku mengapa lebih memilih meninggalkanmu tanpa kata..." Bisik Teddy dalam tangis perihnya, sambil semakin erat memeluk tubuh Riani, seolah tidak ingin melepaskan dan kehilangan lagi untuk yang kesekian kalinya.
"Kenapa kita harus berakhir dengan seperti ini Ted...?" Ucap Riani, akhirnya meledaklah tangisnya yang masih dalam pelukan Teddy.
"Mungkin memang ini takdir kita Ai, maafkan aku..."
"Tapi kenapa harus se-menyakitkan ini Ted..." Tanya Riani sambil menatap ke arah Teddy.
"Aku tahu, karena aku juga sangat sakit dengan keadaan ini..."
Kedua tangan Teddy memegang wajah Riani, dengan lembut di usapnya air mata mantan kekasihnya itu.
__ADS_1
"Melihatmu sedih dan terluka seperti ini, hatiku juga sakit Ai..." Ucap Teddy sambil menatap lekat-lekat wajah Riani dengan tangan masih berada wajah Riani.
"Ai...Masihkah ada harapan untukku mendapatkan hatimu kembali Ai? aku masih sangat cinta dan sayang padamu Ai..." Ucap Teddy dengan tatapan matanya yang sendu.
"Tapi Ted...." Belum sempat Riani menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba dengan lembut Teddy mengulum bibir Riani, dan entah karena terbawa suasana Riani tidak menolak ciuman Teddy bahkan cenderung menikmati dan hanyut dalam ciuman itu.
Akhirnya mereka tersadar dan saling melepaskan ciuman mereka yang meninggalkan nafas yang berburu.
"Ini tidak benar Ted...Kita telah berdosa..." Ucap Riani berbisik di sela-sela nafasnya yang masih berburu.
"Maafkan aku Ai...Ini semua salahku..." Hanya itu yang bisa Teddy ucapkan sembari memegang wajah Riani lalu kemudian memeluknya penuh penyesalan.
"Tapi Ted...kita benar-benar berdosa sekarang..."
"Lalu bagaimana dengan Radja, suamimu yang berkali-kali meniduri wanita lain?" tanya Teddy sinis.
"Ka...Kamu tahu dari mana Ted?" tanya Riani terkejut.
"Mungkin karena perasaanku yang tidak tenang, hingga tanpa sengaja aku mendengar apa yang terjadi denganmu, kamu tahu Ai...Mendengar itu hatiku geram, sakit..."
"Lalu apa bedanya aku dengan Radja sekarang Ted? aku sekarang sama dengannya, seorang istri yang tidak bisa menjaga kesuciannya..." Ratap Riani sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Ai...Tadi kita berciuman karena kita terbawa suasana perasaan kita, dan itu karena kesalahanku yang terlebih dahulu menciummu jadi...Jangan menyalahkan dirimu sendiri"
"Tapi kalau aku tadi tidak menik...maksudku membalas ciumanmu tidak akan terjadi kan..." Kata Riani sambil mengalihkan wajahnya yang merona merah karena malu.
Sejenak Riani terlena dengan setuhan-sentuhan Teddy yang menggelora, namun tiba-tiba bayangan wajah Ethan melintas di pikirannya yang seketika menyadarkan dari hasratnya yang terpancing dengan belaian dan sentuhan Teddy.
Di dorongnya tubuh Teddy menjauh dari tubuhnya, Teddy terkejut dengan gerakan reflek Riani, jiwa kejantanannya yang dari tadi memuncak seketika hilang dan berganti dengan kesadaran dan penyesalan.
"Maaf Tedd, aku tidak bisa bisa..." Kata Riani sambil menatap lekat-lekat mata Teddy.
Teddy melihat ada kejujuran di mata Riani atas sikapnya, dengan pelan Teddy menghela nafasnya.
"Seharusnya akulah yang meminta maaf padamu Ai..." Jawab Teddy sambil bangkit dari duduknya dan membelai lembut kepala Riani.
"Maaf...Sebaiknya kamu kembali ke kamarmu, aku tidak ingin terjadi hal-hal seperti ini lagi" kata Riani sambil melepaskan tangan Teddy yang masih bertengger di kepalanya.
"Baiklah aku akan pergi, tapi aku ingin memastikan terlebih dahulu, bila aku pergi tidak akan terjadi apa-apa denganmu kan?"
"Tentu saja Ted, sekarang aku sudah baikan dan aku pastikan padamu aku baik-baik saja" jawab Riani berusaha meyakinkan Teddy.
"Baiklah kalau begitu aku pergi dan jika nanti ada apa-apa segeralah menghubungiku"
"Baiklah, aku pastikan itu..."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu aku pergi sekarang, kamu di sini hati-hati..."
Riani hanya menjawab dengan anggukan kepalanya, Teddy kembali mengelus kepala Riani, kemudian berjalan menuju pintu.
"Ted! terima kasih..." Ucap Riani penuh arti, Teddy hanya mengangguk dan tersenyum, kemudian keluar dan kembali menutup pintu kamar Riani.
Terdengar suara langkah Teddy yang menjauhi kamarnya.
Riani terduduk lemas di sofa, tangannya yang gelisah mengusap wajahnya kemudian meremas-remas rambutnya.
Hatinya galau, perasaannya kacau balau mengingat kejadian yang barusan terjadi, jika saat itu bayangan wajah Ethan tidak melintas di pikirannya mungkin dia sudah habis termakan gelora kejantanan Teddy.
Namun yang lebih membingungkan pikirannya, kenapa harus wajah Ethan yang terlintas di pikirannya dan bukannya Radja yang notabene masih suaminya? dan lagi wajah Ethan yang terlintas tadi, sebenarnya wajah Ethan yang mana, apakah Ethan pria di masa lalunya, atau Ethan yang baru saja menikah dan resmi menjadi suami Viola?
Pikirannya bingung, kalut bercampur aduk dengan perasaannya pada Teddy yang perlahan kembali menyeruak dari dalam hatinya yang sudah lama terkubur di sudut ruang hatinya.
Di lihatnya jam sudah menunjukkan pukul empat pagi, perlahan Riani bangun dari sofa dan berjalan menuju kasur empuknya.
Dan saat tangannya menyentuh kasur tersebut, bayangan mimpi saat dia sedang bercinta dengan Teddy kembali terlintas, yang membuat seluruh tubuh Riani merinding.
Dengan segera di enyahkan bayangan mimpi itu dengan berkali-kali dia menggelengkan dan memukul kepalanya, kemudian di hempaskannya tubuhnya di atas kasur.
Namun pikirannya kembali menelisik bayangan mimpi tersebut, karena dia merasa ada yang janggal dengan mimpi itu.
Karena saat dia bermimpi bercinta dengan Teddy, dari bisikannya, sentuhannya dan desahannya terasa sangat nyata di telinga Riani.
Apalagi saat keduanya mencapai puncaknya, perasaan nikmat dan puas itupun terasa benar-benar nyata...
Perasaan Riani menjadi ragu, akankah itu benar-benar mimpi atau justru benar-benar nyata terjadi? Riani kembali tersentak dan terduduk di atas kasurnya.
"Ah! tapi tidak mungkin Teddy melakukan itu di saat dirinya tidak sadar kan?" Elak Riani mencoba tolak kenyataan jika memang benar Teddy melakukannya.
"Atau mungkin karena aku sudah terlalu lama tidak di sentuh oleh Radja suaminya, hingga ada keinginan bercinta dan menimbulkan mimpi itu, tapi kenapa aku harus bercinta dengan Teddy di mimpi itu dan bukan Radja?" kembali hati Riani bergejolak menolak dan mematahkan penilaian dan pemikiran mengenai kejadian itu sebagai mimpi.
"Entahlah...Sebenarnya kejadian itu betul tidaknya mimpi atau bahkan kenyataan hanya Teddy dan Tuhanlah yang tahu jawabannya..." Pasrah Riani, biarlah dia simpan momen mimpi dan kejadian tadi di hati dan menutupnya rapat-rapat, saat ini pikiran dan perasaannya ruwet dengan kejadian bertubi-tubi yang dia alami sepanjang hari ini.
Kelak dia berusaha tidak akan mengungkit lagi kejadian itu di depan Teddy dan berusaha akan bersikap biasa nanti.
Biarlah sosok Teddy akan tetap dia simpan di sudut ruang hati Riani sebagai pria yang pernah singgah di hatinya.
Rini kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur, di tariknya selimut yang tergeletak berantakan di ujung kakinya, di ambilnya bantal yang terjatuh di lantai dan di letakkannya kembali pada tempatnya, setelah semuanya terlihat rapi di matanya, akhirnya Riani kembali menarik selimut dan menutupi tubuhnya.
Rasa hangat kini menyelimuti tubuhnya, sehangat perasaannya yang timbul kembali karena kasih sayang Teddy yang tulus merawatnya saat dia terpuruk sakit tak berdaya.
Biarlah semua berlalu, biarlah Teddy sang mantan hanya bisa tinggal di sudut ruang hatinya, namun dia yakin, suatu saat nanti ada seseorang yang bisa memberi sepenuhnya ruang hatinya pada Teddy.
__ADS_1
Hingga akhirnya Riani tertidur pulas dengan iringan nyanyian binatang yang menyambut pagi...
...☆☆☆...