
Pagi harinya, saat Riani terbangun dari tidurnya, hanya nota kecil dan pesan singkat dari Roro yang menyuruhnya untuk memakan sarapan yang telah dia belikan untuknya.
Sekilas Riani melirik ke arah bungkusan putih yang isi di dalamnya Riani bisa menebaknya.
Kemudian dia mengambil ponselnya dan mengetik pesan untuk Roro.
"Terima kasih ya Mi-Ro atas sarapannya...😘😘😘" Ucap Riani di pesannya.
Tidak lama menunggu, Roropun membalas pesan Riani.
"Iya An-anku sayang...Cepat di makan sarapannya mumpung masih hangat, aku kerja dulu sebentar dan mengurus cutiku, jaga diri dan kandunganmu..."
"Iya Mi-Ro, kamu juga hati-hati"
"Oke, bye..."
"Bye..."
Dengan susah payah Riani berusaha untuk duduk, perutnya sudah terasa sangat lapar, di elus-elusnya pelan perutnya.
Kemudian di ambilnya bungkusan makanan tersebut yang masih terasa hangat saat tangannya menyentuh bungkusan tersebut.
Dengan agak susah payah Riani mencoba untuk menelan makanan yang sudah masuk ke dalam mulutnya, namun lagi-lagi dia merasa mual dan ingin memuntahkannya kembali.
Di sisi lain Teddy yang baru membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan melihat Riani yang kesusahan makan dan berusaha menahan rasa ingin muntahnya dengan bergegas Teddy menghampirinya.
"Masih belum bisa makan Ai?" tanya Teddy sesampainya di samping tempat tidur Riani, dengan penuh perhatian di tepuk-tepuknya lembut punggung Riani, agar Riani tidak tersedak.
"Sudah berapa kalinya aku coba untuk bisa makan Ted, tapi tetap saja tidak bisa dan selalu mual-mual ingin muntah setiap kali makanan masuk ke dalam mulutku..."
"Sini biar aku yang suapin, pasti nggak akan muntah..." Kata Teddy penuh percaya diri.
Dia segera mengambil kotak yang berisikan bubur dari tangan Riani.
Riani hanya diam pasrah sambil melihat Teddy yang sedang mengambil teh susu yang dia beli di tengah perjalanan tadi.
"Kamu nggak kerja Ted?"
"Aku kerja, tapi aku ijin keluar untuk menengok mamahku, tadi di kantor aku ketemu Roro dan dia memberitahuku kalau kamu di rumah sakit sendirian, tidak ada orang yang menunggumu, jadi aku sekalian menengokmu..."
"Bagaimana keadaan tante sekarang?"
"Alkhamdulillah...Mamah sudah lebih baik, apa kamu ingin bicara dengan mamahku, biar aku hubungi dia sekarang, karena dia bilang sangat kangen denganmu..."
"Nanti saja Ted, aku akan menemuinya jika ada kesempatan dan ku sudah sehat, untuk sementara ini biarkan dia istirahat dan konsentrasi pada kesembuhannya dulu" jawab Riani sambil menelan bubur dari suapan Teddy.
Teddy tersenyum, dugaannya benar kalau Riani tidak akan merasa mual dan muntah jika makan dari suapan tangannya, dalam hatinya merasa takjub karena untuk yang kesekian kalinya hal ini terjadi.
Ada perasaan bangga dan percaya diri dalam hatinya, karena dia yakin masih ada harapan lagi untuknya bisa kembali bersama Riani.
Setelah Riani selesai makan dan minum obat, dia dan Teddy mengobrol sebentar masalah pekerjaan, sebenarnya dalam hati Teddy merasa keberatan jika dalam keadaan sakit Riani masih memikirkan pekerjaan, tapi dia juga sangat tahu karakter Riani yang seorang pekerja keras dan loyal serta bertanggung jawab dalam pekerjaannya, jadi dia hanya mengikuti keinginan Riani.
"Apa ibu sudah mengetahui mengenai keadaanmu ini Ai?" tanya Teddy mengalihkan pembicaraan.
"Belum..." Jawab Riani singkat dengan mata yang masih menatap serius gambar desain interior di ponselnya.
"Apa kamu tidak ingin memberitahu mereka Ai?"
"Aku tidak ingin membuat mereka khawatir Ted, apalagi Ibuku" Jawab Riani, tapi kali ini dia sambil menatap wajah Teddy.
Matanya beralih ke arah jam dinding, hampir waktunya jadwal dokter mengecek kesehatannya.
"Aku lelah Ted...Ingin istirahat, kamu pergilah jenguk mamah kamu, salam untuk beliau dan terima kasih ya Tedd..." Kata Riani, berusaha mengusir Teddy dengan alasan yang masuk akal dan dengan cara yang halus.
__ADS_1
Karena Riani tidak ingin Teddy mengetahui mengenai kehamilannya, saat dokter mengecek kondisinya nanti.
"Baiklah, kamu istirahatlah...Tapi nanti siang aku akan datang lagi saat waktunya kamu makan siang"
"Tidak perlu repot-repot Ted, nanti ada Roro yang akan menemaniku, kamu pasti sudah tahu kalau dia akan mengambil cutinya untuk menemaniku.
"Iya, aku sudah tahu itu...Kalau begitu aku pergi dulu, kamu segeralah istirahat" kata Teddy dengan raut wajah kecewanya.
"Oke, salam buat tante dan terima kasih Ted"
"Oke, Assalamualaikum..."
"Wa'alaikum salam..."
Dengan berat hati Teddy pergi keluar meninggalkan Riani sendirian.
.............
Tiba waktunya pemeriksaan rutin bagi Riani karena Dokter Anita yang memeriksanya telah datang.
"Selamat pagi Bu Riani, saya cek dan periksa dulu ya perkembangan kesehatan ibu ?"
"Selamat pagi Dok, silahkan Dok"
"Bolehkah saya bertanya mengenai kandungan saya Dok?"
"Tentu saja, silahkan"
"Jujur, saya sampai sekarang masih bingung dan belum percaya kalau saya hamil, karena selama saya belum mengetahui kehamilan saya, menstruasi bulanan saya masih rutin meskipun tidak lancar dan tidak teratur apakah itu sehat Dok?"
"Boleh saya tahu kapasitas menstruasi anda banyak atau sedikit?"
"Menstruasi saya dari dulu sedikit dan kadang flek saja Dok, oleh karena itu saat mendengar saya hamil, saya benar-benar kaget, apakah itu normal Dok?"
"Sebenarnya itu karena pengaruh hormon anda, yang membuat siklus menstrusi anda tidak teratur, tapi jika di lihat dari keadaan bayi yang sehat dalam kandungan, anda tidak perlu khawatir, hanya masalahnya pada lemahnya kandungan anda yang saya sarankan untuk anda tidak melakukan kerja berat dan tidak boleh terlalu stres, karena saya khawatir akan mempengaruhi kesehatan bayi yang ada dalam kandungan anda nantinya"
"Saya sarankan anda untuk bed rest total demi kesehatan dan keselamatan bayi dalam kandungan anda ini"
"Baiklah Dok, akan saya pikirkan baik-baik saran dari anda"
"Kalau begitu saya permisi dulu ya Bu"
"Ya Dok, terima kasih..."
"Sama-sama..."
Dokter Anita pun tersenyum ramah, kemudian dia keluar meninggalkan Riani.
.............
Setelah pemeriksaan yang di lakukan oleh Dokter Anita selesai, tidak lama om Rolland pun datang.
Tapi entah kenapa Riani merasa kalau kali ini kedatangan om Rolland terasa berbeda bagi Riani.
Karena perhatian om Rolland seperti kasih sayang seorang ayah pada anaknya, sangat hangat.
Saat om Rolland membelai lembut kepalanya, Riani melihat om Rolland menitikkan air matanya.
"Om Rolland kenapa?" tanya Riani polos.
"Ah! tidak apa-apa..." Jawab Om Rolland sambil mengusap matanya yang basah dan mengalihkan wajahnya ke arah lain.
"Bagaimana keadaan bayi di kandunganmu nak? lalu apa lagi yang di katakan Dokter Anita?" tanya om Johan beruntun, berusaha mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Kata Dokter, bayiku tidak apa-apa dan sehat hanya saja...Kandungan saya yang lemah Om"
"Lalu apa yang Dokter Anita anjurkan nak?"
"Beliau menyuruhku untuk bed rest total om?"'
"Om juga setuju dengan pendapat Dokter Anita jika melihat kondisi kandunganmu yang seperti itu, demi keselamatan si jabang bayi"
"Lalu...Apa rencanamu selanjutnya nak?"
"Saya masih belum tahu Om, tapi yang jelas saya pasti akan resign, hanya saja...Kapan saya masih belum tahu, karena saya juga baru saja naik jabatan, rasanya kurang bertanggung jawab jika saya langsung resign"
"Lalu...Apakah kamu sudah memberi kabar orang tuamu?"
"Saat ini saya belum berani memberi kabar mengenai hal ini pada ibu, karena saya tidak mau membuatnya bersedih, apalagi hubungan saya dan suami saat ini sedang ada masalah..."
"Maaf...Jika Om ikut campur, tapi jika suamimu sudah memiliki keluarga lain seperti itu, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?"
Riani tersentak mendengar perkataan Om Rolland yang ternyata mengetahui masalah dia dengan suaminya.
"Maaf...Saat kamu jatuh pingsan, perempuan yang kamu datangi rumahnya waktu itu ternyata keluar mengejarmu di belakang untuk memberimu payung, dan saat Om telusuri dan tanyakan padanya ternyata dia adalah istri Radja yang baru-baru ini Om ketahui kalau dia adalah suamimu" kata Om Rolland menjelaskan dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tidak apa-apa Om, hanya saja... Saya mohon mengenai kehamilanku ini saya harap om bisa menyimpannya rapat-rapat entah itu dari Radja, ataupun Teddy"
"Om janji, tapi...Setelah kamu keluar dari rumah sakit apakah kamu akan kembali ke rumahmu atau ke rumah Roro?"
"Saya akan kembali ke rumah Roro om, sepertinya saya belum siap kalau saya harus pulang ke rumah, apalagi sekarang ini saya sedang hamil, jadi tidak ingin berurusan dengannya dulu..."
"Apakah suamimu dan Teddy tahu rumah Roro?"
"Mereka berdua tahu om"
"Kalau seperti itu, akan tidak nyaman kamu tinggal di rumah Roro, mereka berdua pasti akan datang menemuimu..."
"Lalu apa yang harus saya lakukan om? apakah saya harus mencari rumah lain?"
"Itu ide yang bagus, demi menjaga calon bayimu, sebaiknya memang kamu harus pindah dari rumah Roro, dan kebetulan om punya rumah yang belum di tinggali, jadi...Kamu bisa tinggal di sana, om rasa kamu akan cocok dan betah di sana karena suasana dan lingkungannya yang sejuk dan tenang"
"Tapi om...Itu pasti biaya sewanya mahal, saya takut saya tidak mampu membayarnya..."
"Kamu tidak perlu membayar uang sewa sepeserpun nak, kamu cukup menjaga baik-baik kesehatanmu dan calon bayi kamu, bagi om itu sudah cukup"
"Tapi saya tidak bisa menerima dengan cuma-cuma om..."
"Ya sudah, begini saja...Nanti jika kamu memang jadi resign dari pekerjaanmu, kamu boleh bekerja untukku, kebetulan saat ini om butuh sekretaris pribadi, bagaimana?"
"Tapi om , saya tidak ada pengalaman dan basic pendidikan menjadi sekretaris..." Jawab Riani ragu.
"Tidak apa-apa nak, ini cuma bersifat sementara, sambil menunggu proyek mega restoran yang kita sepakati waktu itu berjalan"
"Baiklah kalau begitu saya setuju om"
"Kamu tidak harus pergi ke kantor, cukup kamu lakukan perkerjaanmu di rumah saja, nanti Nando yang akan mengantar laptop dan berkas-berkas padamu"
"Baik om, terima kasih banyak Om, karena sudah banyak membantu saya dan maaf...Jika saya sudah merepotkan Om dan Nando"
"Tidak perlu berterima kasih nak, anggap saja ini sebagai penebus kesalahan Om di masa lalu..."
"Maksud Om?"
"Tidak ada maksud apa-apa, kamu istirahatlah, om keluar dulu karena masih ada urusan di kantor" elak om Rolland dengan berusaha mengalihkan pembicaraan.
Riani mengangguk mengiyakan, pandangannya tertumpu pada punggung sosok paruh baya yang keluar meninggalkannya, dalam pikirannya masih tersirat rasa penasaran dengan kata-kata om Rolland tadi.
__ADS_1
"Sebenarnya apa maksud dari perkataan om Rolland dengan penebus kesalahan?" bisik Riani dalam hatinya...
...☆☆☆...