
Keesokkan siangnya Riani mendengar kabar baik dari Andy, kalau adiknya sudah sepenuhnya mendapatkan donor darah dan sudah melewati masa kritisnya.
Dengan di bantu Roro menggunakan kursi roda, Riani segera menemui Andy yang berada di ruang perawatan, karena adiknya sudah di pindahkan dari ruang ICU.
"Bagaimana keadaan adikmu Ndy?" tanya Riani sesampainya dalam ruang perawatan adiknya tersebut.
"Alkhamdulillah Mba, kata dokter keadaan adik saya sudah mulai stabil, hanya menunggu dia sadar saja"
"Syukurlah kalau begitu, jadi orang kedua yang mendonorkan darah sudah datang?"
"Sudah Mba, semalam beliau datang dan langsung mendonorkan darahnya"
"Kalau boleh tahu, siapa orang kedua yang mendonorkan darahnya?" tanya Riani lagi.
Mendengar pertanyaan Riani, Andy sekilas melihat ke arah Roro yang berdiri di belakang Riani.
"Saya tidak terlalu mengenal beliau, tapi setahu saya beliau masih kerabat dari Om Rolland" jawab Andy setelah Roro memberi isyarat padanya.
Teringat kembali pembicaraan semalam antara dirinya dengan Roro, Om Rolland dan tante Widya yang tak lain adalah ibu dari Riani.
"Jadi saya mohon nak Andy jangan memberitahu Riani perihal saya berdonor darah, karena saya paham betul sifat Riani, meskipun dia bisa di bujuk tapi pasti akan berlarut-larut menjadi beban dalam pikirannya, sedangkan masa-masa kehamilan saat ini tidak boleh terlalu tertekan dan stres karena memikirkan beban dalam hatinya"
"Baik Tante, saya pasti akan menjaga amanah Tante, sekali lagi terima kasih banyak atas kerelaan Tante membantu adik saya"
"Iya nak Andy, sama-sama..."
"Jadi, jika nanti Riani menanyakan identitas pendonor kedua, kamu jawab saja seperti yang tadi aku katakan" kata Roro memastikan agar Andy ingat kata-katanya.
"Iya nak Andy, kamu ikuti saja intruksi dari Roro, semua karena demi kebaikan agar perasaan Riani tetap stabil sehingga kesehatan dan bayi dalam kandungannya tetap terjaga" sambung om Rolland.
"Baik Om, saya akan selalu mengingatnya...
Angan Andy kembali saat dia mendengar suara Riani memanggil namanya sambil menepuk tangannya.
"I...Iya Mba?" jawab Andy tergagap.
"Kalau begitu aku balik ke ruanganku dulu ya, ayo Mi-Ro" Kata Riani berpamitan, Roro mengangguk sambil memandang ke arah Andy dan tersenyum penuh arti.
"Kami pamit dulu" kata Roro dengan aura penuh kharismatiknya, yang membuat Andy terpaku dengan kekagumannya.
"I...Iya mba, terima kasih atas kunjungan kalian" jawab Andy yang lagi-lagi tergagap.
"Sama-sama..."
Roro mendorong kursi roda Riani keluar dan berjalan menjauh menuju ruangan Riani.
__ADS_1
.............
Sesampainya di dalam ruangan Riani sangat terkejut karena di ujung ruangan telah duduk Teddy dengan mamahnya yang sedang mengobrol, mereka berdua segera mengalihkan pandangannya ke arah Riani dan Roro yang sedang berjalan ke arah mereka.
"Ibu, Teddy?! kok ibu bisa datang ke sini?" tanya Riani yang terkejut sekaligus heran, karena ibunya datang bersama Teddy.
"Aku yang membawa ibumu ke sini, dia menghubungiku dan sangat mengkhawatirkanmu, maaf ya Ai..." Kata Teddy.
"Tapi aku yang memberitahu tante mengenai kondisimu An-an, jadi aku juga minta maaf..." Timpal Roro dengan wajah bersalahnya.
"Jadi kalian berdua bersekongkol untuk membawa ibuku ke sini? bukankah sudah ku katakan dengan jelas kalau aku tidak ingin membuat ibuku khawatir dengan keadaanku sekarang?" kata Riani dengan nada kecewanya.
"Jangan salahkan mereka berdua, Ibu ke sini karena mengkhawatirkan keadaanmu, apalagi beberapa hari ini tidak ada kabar sama sekali darimu, membuat Ibu cemas, jadi Ibu menanyakanmu dan meminta bantuan mereka berdua untuk membawa ibu ke sini..." Bela Widya.
"Tapi Bu..."
"Sudahlah nak...Lagi pula apa kamu tega membiarkan ibu mencemaskanmu karena tidak ada kabar beberapa hari ini?" Bujuk lagi sambil memberi isyarat pada Roro agar memberi waktu mereka berdua untuk bicara.
"Eee...Kalau begitu kami pamit keluar sebentar, biar tante bisa ngobrol dengan An-an lebih leluasa" kata Roro sambil menarik tangan Teddy agar keluar dan memberi waktu ibu dan anak tersebut mengobrol dari hati ke hati.
Teddy yang awalnya tidak ngeh, akhirnya hanya pasrah mengikuti langkah Roro, meskipun dia ingin sekali mengobrol dengan Riani, perasaan rindu di hatinya seolah menolak untuk jauh dari sisi Riani.
Setelah Roro dan Teddy keluar dan menghilang di balik pintu, Bu Widya pun memulai perbincangan.
"Roro memberitahu Ibu agar tidak menceritakan mengenai kehamilanmu pada Radja dan Teddy, kenapa kamu menyembunyikan kehamilanmu pada Teddy Nak?" tanya Widya sambil membelai lembut kepala Riani.
"Apakah bayi dalam kandunganmu...
"Tentu saja bukan Bu, bayi ini adalah darah daging Raja" Jawab Riani buru-buru memotong kalimat Ibunya itu, karena dia tahu apa yang akan ibunya katakan selanjutnya.
"Lalu kenapa kamu harus menyembunyikan kehamilanmu pada Teddy? sedangkan alasanmu agar Radja tidak mengetahui mengenai kehamilanmu Ibu bisa maklumi itu"
"Aku juga tidak tahu jelas alasan yang sebenarnya, tapi...Aku hanya benar-benar ingin tenang Bu..."
"Lalu bagaimana dengan suamimu? tadi tanpa sengaja Ibu mendengar perbincangan antara Nak Nando dengan Ayahnya mengenai Radja yang sudah mempunyai anak dengan istrinya yang lain, apakah kamu tidak ingin menceritakan sendiri pada Ibumu ini Nak?" tanya Bu Widya lagi dengan tatapan penuh kesedihan karena hatinya merasa sangat miris melihat anak perempuan kesayangannya itu sangat menderita dengan kehidupan pernikahannya.
"Untuk sementara ini aku belum bisa memutuskan tindakan apa yang akan aku ambil selanjutnya mengenai hubunganku dengan Mas Radja, sekarang ini aku hanya ingin menjauh darinya dan menenangkan diri dan hati di suatu tempat di mana orang yang tidak ingin aku temui tidak bisa menemukanku"
"Ya sudah sayang...Kalau memang itu keputusanmu, ibu pasti akan selalu mendukungmu, karena ibu tahu ini pasti adalah yang terbaik untukmu" kata bu Widya sambil membelai perut dan mencium kening Riani penuh kasih sayang.
"Yang paling penting kamu dan calon cucu ibu ini sehat dan baik-baik saja, maka ibu akan mendukung dan lakukan apapun keputusanmu" kata bu Widya lagi.
"Terima kasih Bu, atas pengertian Ibu...Dan maaf jika aku telah mengecewakanmu...Karena sudah gagal membina rumah tangga dengan suami pilihanku sendiri karena dulu tidak mendengarkan nasehat Ibu..." Ucap Riani penuh dengan tangisan penyesalan.
"Ibu tidak menyalahkanmu mengenai keputusanmu dulu, saat lebih memilih Radja sebagai suamimu, karena Ibu yakin kamu sudah memikirkan dengan matang kenapa memutuskan itu, dan kamu siap dengan resikonya jadi...Ibu yakin kamu akan menjadi wanita dan seorang Ibu yang kuat kelak..."
__ADS_1
Akhirnya tangis Riani pun pecah dalam pelukan Ibunya.
Dengan penuh kasih sayang di belainya rambut Riani, dalam hati Bu Widya ikut merasakan sedih dan sakit hatinya melihat derita yang sedang di alami putri terkasihnya itu.
Dari balik kaca jendela luar terlihat sepasang mata yang menatap mereka berdua dengan tangis penuh penyesalan dan kesedihan yang mendalam, apalagi saat melihat Riani sedang menangis, hatinya sakit seolah tersayat sembilu melihat darah dagingnya tersebut menderita.
Sedangkan Nando sang putra yang berdiri di sampingnya hanya bisa menepuk lembut punggung om Rolland untuk menghiburnya, kemudian membimbing ayahnya berjalan pergi mencari tempat yang lebih tenang.
.............
Sementara itu Roro dan Teddy yang sedang duduk di salah satu kantin rumah sakit, tampak serius membicarakan sesuatu.
"Apa Riani sudah yakin akan mengundurkan diri dari pekerjaannya?" tanya Teddy pada Roro.
"Iya Ted, dia sudah yakin karena ini demi kesehatannya, tubuh dan perasaannya sekarang sedang ngedrop banget, setelah semua masalah yang telah menimpanya, apalagi masalah prahara rumah tangganya yang di ambang kehancuran.
"Aku tahu itu Ro, tapi...Perusahaan masih sangat membutuhkannya, dia bisa ambil cuti lagi hingga dia baikan asalkan dia tidak mengundurkan diri" kata Teddy lagi, berharap Roro bisa membujuk Riani untuk membatalkan niat Riani tersebut.
"Keputusan Riani sudah bulat Ted, aku harap kamu bisa mendukungnya, demi kesehatan jiwanya"
"Aku pasti akan selalu mendukung apa yang terbaik untuknya, hanya saja..."
"Aku tahu kamu takut tidak sering bertemu dengannya lagi kan? kamu tidak perlu kuatir Ted, setahu aku bukankah kalian ada projek bersama, dan aku yakin setelah projek itu berjalan kalian akan sering bertemu lagi"
"Iya sih, tapi...Entah mengapa aku merasa kalau Riani akan menjauh dan menghilang dari pandanganku Ro, ada perasaan takut aku akan kehilangan dia..."
"Aku tahu pasti besarnya cintamu pada Riani, dan aku akan selalu mendukung perasaanmu padanya, hanya saja tolong kamu beri waktu Riani untuk menenangkan hatinya terlebih dahulu, karena kejadian yang dia alami baru-baru ini"
"Baiklah, aku minta tolong padamu untuk selalu memberitahuku mengenai kabar dan perkembangannya, karena hanya kamulah harapanku satu-satunya untukku bisa mengetahui keadaannya"
"Iya Ted, aku pasti akan memberi kabar mengenai dia dan membantumu..."
"Terima kasih ya Ro"
"Sama-sama Ted..."
"Maafkan aku Ted...Jika sekarang dan ke depannya nanti aku akan berbohong padamu, tapi aku janji pada saatnya nanti aku pasti akan membantumu, karena bagiku kamu adalah penolongku jadi aku akan sekuat tenaga membantu demi kebahagiannmu..." Ucap Roro dalam batinnya, dia merasa sangat bersalah pada Teddy, namun apa dayanya karena baginya meskipun Teddy sudah dia anggap sahabat dan keluarga sendiri sama seperti halnya pada Riani, akan tetapi Riani lebih membutuhkannya di masa-masa sulitnya saat ini.
Dengan mata penuh iba di tatapnya Teddy yang sedang melamun sambil mengaduk-aduk jus di gelasnya, kemudian dia menyeruputnya dengan ekspresi wajah yang kosong.
Keduanya terdiam menikmati minuman dan tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
Meskipun di hati Teddy merasa ada sesuatu yang Riani dan Roro sembunyikan darinya, namun dia berusaha berfikir positif dan berprasangka baik, karena baginya demi kebaikan Rianilah yang ia utamakan dan dia rela melakukan apa saja demi kebahagiaannya.
Sedangkan dalam pikiran dan hati Roro, dia sangat yakin jika Teddy mengetahui kalau ada sesuatu yang di sembunyikan dan di rahasiakan darinya, namun apapun penilaian dan prasangka Teddy terhadapnya, dia akan terima dengan lapang dada, karena dia lebih memilih menjaga Riani dan keinginanya, agar dia dapat melihat dan merasakan kembali keceriaan dan kehangatannya, sosok Riani yang dulu seperti itu...
__ADS_1
..."Maafkan aku Ted...Sekali lagi maafkan aku, biarlah apapun prasangka mu terhadap sikapku akan aku terima..."...
...☆☆☆...