
Pekak memperlambat kayuhan sepedanya, setelah di rasa olehnya hampir sampai di tempat tujuan.
Hingga akhirnnya pekak menghentikan sepedanya setelah sampai di depan restoran di mana Riani dan tante Grace membuat janji untuk bertemu.
"Pekak tidak ikut dengan Riani?" tanya Riani setelah turun dari sepedanya.
"Tidak perlu, ini adalah pertemuanmu dengan beliau, jadi...Pekak tidak ingin ikut campur, kamu lakukan saja yang menurutmu terbaik untuk semuanya" tolak pekak dengan senyum arifnya.
"Baik pekak, kalau begitu Riani masuk ke dalam dulu"
"Iya masuklah, jika putu sudah selesai carilah pekak di sekitar sini, karena pekak akan menunggu di sini"
"Baik pekak, terima kasih..."
Pekak mengangguk sambil tersenyum, kemudian Riani pun segera masuk ke dalam restoran tersebut.
.............
Memasuki restoran, Riani langsung melihat lambaian tangan tante Grace ke arahnya, dia duduk di ujung restoran menghadap ke arah pantai menjauh dari keramaian pengunjung restoran lainnya.
"Maaf tante saya datang terlambat, tadi di jalan ada kendala sedikit..." Ucap Riani sambil mencium hormat punggung tangan tante Grace.
"Tidak apa-apa..." Jawab tante Grace dengan senyum ramahnya, sekejap terlintas di ingatannya, tadi saat dia naik cidomo, tanpa sengaja dia melintas dan melihat kejadian di mana Riani menangis dengan tubuh gemetar sambil di temani seorang kakek tua yang ikut memandangnya sedih.
"Tante...?" Tanya Riani heran denga sikap bengong tante Grace.
"Oh maaf! duduklah...Kita makan siang dulu, tadi tante sudah memesan makanan untuk kita berdua" ucap tante grace gugup yang seketika sadar dari lamunannya.
"Baik tante, terima kasih..." Jawab Riani patuh.
Dan tidak menunggu lama akhirnya pesananpun datang.
Keduanya segera menikmati makan siang mereka.
Sambil makan dengan curi-curi pandang tante Grace menatap ke arah Riani yang sedang menikmati makannya, di lihatnya wajah perempuan yang sangat di cintai Ethan, anak kesayangannya itu.
Terlihat olehnya mata Riani masih sembab karena habis menangis tadi, di dalam hatinya ada rasa iba dan merasa bersalah pada perempuan di hadapannya itu.
Sebenarnya dia tidak ada perasaan membenci Riani dari dulu hingga sekarang, justru sebaliknya dia sangat menyanyaginya seperti putrinya sendiri, tapi keadaanlah yang memutar balikkan keadaan, hingga harus begini akhirnya.
Ingin sekali tante Grace memeluk Riani dan berkata kalau semua pasti akan berlalu dan baik-baik saja, tapi dia tahu betul itu tidak mungkin, karena secara tidak langsung keluarganya lah penyebab meninggalnya ayah Riani.
Akhirnya mereka memulai perbincangan serius setelah mereka selesai makan.
"Sebelumnya tante minta maaf karena mengundangmu untuk membicarakan hal ini..." Kata tante Grace memulai pembicaraan.
"Maaf tante, kalau boleh tahu mengenai hal apa ya?" tanya Riani masih belum mengerti.
__ADS_1
"Tentu saja mengenai Ethan..."
"Maaf sekali tante, sebelumnya saya ingin memperjelas dulu mengenai hubungan saya dengan Ethan, tanpa mengurangi rasa hormat saya pada tante, bisakah saya bicara terlebih dahulu tante?"
"Tentu saja boleh nak, silahkan..."
"Saya ingin menegaskan mengenai hubungan saya dengan Ethan, semenjak kejadian itu saya sudah memutuskan tidak ingin mempunyai hubungan dengannya lagi, apalagi sekarang saya dan Ethan sudah mempunyai pasangan hidup masing-masing"
"Syukurlah...Jujur sejak dulu tante sangat sayang padamu dan setuju dengan hubungan kalian berdua, hanya saja...Om Marcel masih sangat egois dengan keputusannya, hingga akhirnya Ethan menjadi korban keegoisannya, dan terjadi peristiwa itu yang membuat mata hati om Marcel terbuka dan menyadari kesalahannya..."
"Mengenai sadar tidak sadarnya om Marcel itu tidak akan bisa merubah semua yang telah terjadi tante..."
"Semenjak kejadian itu kamu pasti sangat membenci keluarga kami, terutama Ethan kan nak?"
"Jujur...Bohong kalau saya bilang tidak benci jika mengingat kejadian dulu, apalagi baru-baru ini aku baru mengetahui kalau Ethan ternyata masih hidup, sedangkan yang setahu saya saat kejadian itu dia sudah meninggal, sedangkan untuk memaafkan, mungkin sebaiknya pada ibu saya, karena bukan hanya saya saja, tapi keluarga saya yang juga ikut merasa terluka karena kehilangan orang yang kami kasihi, lagi pula sekarang apa gunanya lagi minta maaf jika semua sudah terjadi dan tidak bisa kembali pada semula bukan?"
"Banyak hal yang terjadi bersamaan dengan kecelakaan itu nak..." Kata tante Grace dengan tatapan kosong penuh kesedihan.
"Tante perlu ketahui semenjak kecelakaan yang merenggut ayah saya, hari-hari saya lalui dengan mimpi buruk dengan kejadian itu dan keluarga saya harus bangkit dari keterpurukan dan kesedihan, melanjutkan hidup tanpa tulang punggung pasti tante tahu bagaimana rasanya, sedangkan kalian...sepertinya melewati hari dengan tenang tanpa rasa beban bersalah...(Kata Riani melanjutkan dalam hati) di palingkan wajahnya ke arah lain mencoba menahan air matanya.
"Tante, Ethan, dan atas nama om Marcel minta maaf atas kejadian yang menimpa ayahmu...Meski tante tahu kalau permintaan maaf kami ini sudah sangat terlambat..." Hati tante Grace di hinggapi rasa bersalah yang sangat dalam, karena dia tahu pasti semenjak ayahnya Riani meninggal hari-hari Riani dan keluarganya pasti sangatlah berat mereka lalui, itulah kenapa dia pasrah jika Riani masih menyimpan kebencian pada keluarganya.
"Sudahlah tante, itu sudah berlalu begitu lama, jadi...Saya rasa tidak perlu membahas hal ini lagi..."
"Tapi...Tante rasa harus menceritakan semua mengenai yang terjadi pada Ethan semenjak kematian surinya hingga dia bisa hidup dan sadar kembali, juga kenapa dia bisa bidup lagi hingga sekarang..."
"Buat apa tante? toh sekarang dia sudah bahagia dengan istrinya sekarang dan saya juga memastikan kalau saya akan menjauh darinya dan tidak akan pernah menemuinya, bahkan mengganggu kebahagiaannya"
"Baiklah, saya akan dengar cerita tante..." Jawab Riani akhirnya menyerah dengan dengan desakan tante Grace.
"Tapi mungkin sebaiknya jangan di sini, kita cari tempat lain yang lebih nyaman untuk menceritakan semuanya yang tentunya akan memakan waktu..."
"Terserah tante mau di mana, saya ikuti tante saja..."
"Ayo kita jalan dan cari tempat di pinggir pantai" ajak tante Grace.
"Baik tante..."
Riani hanya menurut saja dan mengikuti langkah wanita paruh baya yang dulu pernah menjadi tetangga dan sangat dekat dengannya itu.
.............
Mereka berduapun sampai dan duduk di pinggiran pantai.
"Setelah tante menceritakan semuanya, tante harap hubunganmu dengan Ethan menjadi lebih baik meskipun bukan sebagai kekasih lagi.
Riani hanya mengangguk ragu, tante Grace mengerti dan memaklumi jika Riani belum bisa sepenuhnya melupakan dan memaafkan atas kejadian silam.
__ADS_1
"Waktu itu, saat om Marcel mengusir ayahmu, dan tante membiarkanmu untuk yang terakhir kalinya melihat jasad Ethan..." Tante Grace memulai ceritanya dengan mata berkaca-kaca dan tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
"Saat om Marcel mengusir ayah saya, saat itu pula terakhir kali saya melihatnya dalam keadaan hidup..." Lanjut Riani dengan senyumnya yang getir penuh kelukaan hati.
"Sekali lagi maafkan kami nak..." Tangis tante Grace akhirnya, sambil menundukkan kepalanya menahan kesedihannya.
"Sebenarnya Ethan juga tidak kalah menderitanya denganmu..." Kata tante Grace lagi melanjutkan ceritanya masih dengan tangis sesenggukkannya saat dia mengingat dan melihat betapa menderitanya Ethan anak kesayangannya itu.
"Maksud tante?" tanya Riani bingung.
"Seperti yang kamu ketahui, Ethan meninggal karena over dosis narkoba, dia sangat frustasi saat om Marcel melarangnya menemuimu lagi.
Saat kamu melayat dan terjadi kecelakaan itu, teriakanmu yang melihat kecelakaan itu membuat semua orang keluar dan saat itulah tanpa sengaja tante melihat mata Ethan yang terpejam bergerak, dan di lanjutkan dengan jari tangannya, seolah kehidupan baru telah kembali saat dia mendengar suaramu nak..."
Riani hanya diam tak bergeming.
"Saat keadaan sangat kacau waktu itu, akhirnya tante dan om Marcel memutuskan membawa Ethan terlebih dahulu ke rumah sakit, karena kami melihat ambulance sudah datang menolong ayahmu..."
"Lalu bagaimana dengan Ethan?" tanya Riani singkat.
"Saat kami membawa dia ke rumah sakit, tanda kehidupan Ethan memang sudah kembali, tapi...
"Tapi apa tante?" tanya Riani lagi, tapi kali ini dia merasa penasaran.
"Tapi dia koma, dan tidak bangun-bangun hingga satu tahun lamanya, kami hampir putus asa, namun kami mendengar di Singapura ada rumah sakit yang bagus, membuat kami tidak hilang harapan, hingga akhirnya kami memutuskan untuk membawanya untuk mendapat perawatan di sana...
Setelah satu bulan di rumah sakit akhirnya Ethan tersadar dari komanya, akan tetapi orang yang pertama kali di carinya adalah kamu nak Riani..."
Mata Tante Grace kembali berkaca-kaca, hati Riani pun melunak setelah mendengar cerita tante Grace.
"Bahkan dia menolak menjalani perawatan lanjutan sebelum dia bertemu denganmu, hingga akhirnya dokter menyarankan kami untuk mencarimu tapi...Saat kami ke rumahmu ternyata sudah kosong, tetangga bilang kalau kamu dan keluarga pindah dari rumah itu dan tidak ada yang tahu kemana kalian pindah, kami sangat putus asa waktu itu, hingga akhirnya..."
Tante Grace menghentikan kalimatnya, terlihat dia berusaha keras menahan emosi kesedihan di hatinya, berkali-kali dia menarik nafasnya dalam-dalam agar bisa lebih tenang dan tidak menangis lagi.
"Jika tante sudah tidak kuat untuk menceritakannya, sebaiknya tidak usah di lanjutkan..." Kata Riani sambil menepuk lembut perempuan paruh baya tersebut.
"Tidak apa-apa tante harus melanjutkan dan menyelesaikan ceritanya, beri waktu tante untuk menata dan menenangkan hati dulu..."
"Baiklah kalau tante memang tidak keberatan untuk melanjutkan ceritanya, pelan-pelan saja"
Tante Grace mengangguk lemah, matanya menatap jauh ke arah laut di depannya, bibirnya yang masih bergetar karena menahan kesedihan di hatinya.
Melihat ekspresi wajah tante Grace yang penuh kesedihan, hatinya merasa iba, biar bagaimana pun dia juga seorang wanita yang mempunyai empati besar dalam hal perasaan.
Mungkin karena dia seorang ibu, melihat dan mengingat anaknya yang menderita pasti akan bersedih, apalagi bagi tante Grace Ethan adalah anak satu-satunya baginya.
Sebenarnya hati Riani penasaran dengan lanjutan cerita dari tante Grace, tapi dia tidak mau memaksa dan mendesaknya, biarlah tante Grace menenangkan hatinya terlebih dahulu.
__ADS_1
Akhirnya Riani hanya menunggu sambil ikut menatap hamparan luas laut di depannya, dalam hatinya merasa mungkin sudah waktunya dia melepaskan belenggu kebencian dan berdamai dengan masa lalu...
...☆☆☆...