
Lamunan Teddy buyar saat Roro dan om Rolland telah kembali dan masuk ke dalam.
"Kalian sudah kembali..." Kata Teddy.
"Memangnya kalian dari mana?" tanya Tante Widya.
"Kami membicarakan sesuatu Tante, karena tadi Ethan dan istrinya datang ke sini..." Jawab Roro.
"Oo...Jadi yang tadi kamu bilang ada tamu yang datang dan ingin menemui Riani adalah Ethan, iya kan Ted?" tanya tante Widya yang mengalihkan pandangannya ke arah Teddy yang salah tingkah.
"I...Iya Tante, karena tadi tante tidak menanyakannya jadi saya tidak memberitahukan siapa yang datang" jawab Teddy gugup dan tidak enak hati.
"Tidak apa-apa Teddy...Kamu benar kok, lagi pula tante juga tidak menganggap hal itu penting, apa lagi Ethan sudah menjadi masa lalu bagi Riani dan dia juga sudah mempunyai kehidupannya sendiri, hanya saja...Kenapa dia bisa tahu kalau Riani ada di sini dan ingin menemuinya?" tanya Tante Widya cemas.
"Di hanya ingin menjenguk Riani saja Tante, karena setahu saya Viola, istrinya Ethan juga teman baik Riani" jawab Roro, mencoba menenangkan tante Widya.
"Iya Widya, kamu fokus saja dengan kesehatan Riani dan jangan pikirkan yang lain" hibur Om Rolland.
Roro yang mendengar perkataan Om Rolland dengan memanggil tante Widya dengan begitu akrabnya membuat ingatannya kembali pada perbincangannya dengan om Rolland dua hari yang lalu, saat Om Rolland minta bantuan padanya agar segera menghubungi tante Widya dan membujuknya untuk berdonor darah, menggantikan Riani, sehingga bisa mengurangi resiko besar jika Riani tetap kekeh untuk berdonor darah.
Awalnya Roro bingung, kenapa om Rolland bisa tahu jenis donor tante Widya dan bisa mengenalnya, namun akhirnya rasa penasaran Roro terjawab setelah om Rolland menceritakan semuanya, ternyata dugaannya waktu itu tidak salah.
Hanya saja...Om Rolland memintanya untuk berjanji agar tetap menyimpan rahasia ini dan tidak memberitahukan pada Riani dan tante Widya mengenai dirinya yang sudah mengetahui semuanya.
Roro melihat ke arah jam yang menempel di tangannya, kemudian dia segera bangkit dari duduknya dan menghampiri tante Widya.
"Tante...Saya pamit pulang dulu, karena sebentar lagi jam besuk sudah hampir habis..."
"Iya nak...Hati-hati ya di jalan dan terima kasih selama ini sudah menjaga Riani..."
"Iya Tante sama-sama, oh ya! Maaf...Besok saya tidak bisa menemani Riani karena saya harus masuk kerja, ada rapat mendadak dan penting di kantor, tolong nanti sampaikan pada An-an"
"Iya nak, nanti pasti Tante sampaikan pada Riani, kamu fokuslah dengan perkerjaanmu"
"Baik Tante, terima kasih..."
Tante Widya menjawab dengan mengangguk dan memeluk penuh hangat tubuh Roro.
"Kalau begitu saya juga pamit Tante, sekalian aku antar kamu bagaimana?" ajak Teddy pada Roro.
"Baiklah, thanks ya Ted..."
"Sama-sama Ro..."
"Kalau begitu kami pamit dulu ya Tante, Om..."
"Iya, kalian yang hati-hati dan terima kasih" jawab Om Rolland.
"Iya Om..."
__ADS_1
Roro dan Teddy berjalan keluar ruangan, hanya tertinggal Om Rolland, Tante Widya dan Riani yang masih tertidur dengan pulasnya.
Setelah bayangan Roro dan Teddy menghilang, Tante Widya berjalan mendekati tubuh Riani yang terbaring tidur dengan wajah tenangnya.
Tante Widya tersenyum, kemudian dengan penuh kasih sayang di ciumnya kening Riani dan berbisik...
"Ibu tahu kamu anak yang hebat dan kuat, tetaplah seperti itu anakku sayang..."
Om Rolland mendekati tante Widya dan merangkul lembut pundak ibu dari anak perempuannya itu.
"Aku sudah tahu semuanya mengenai hubungan antara anak kita dengan Radja, Teddy dan Ethan..."
"Lalu...Sebagai ayahnya apa yang akan kamu lakukan dengan mereka?" tanya Widya datar.
"Sebagai seorang ayah, aku akan melakukan yang terbaik untuk anakku dan tidak akan perduli dengan mereka semua, tapi jika diantara dari mereka ada yang menyakiti anakku, aku tidak akan segan-segan bertindak hingga di luar batasku..."
"Lalu bagaimana denga Radja, suami Riani? seperti yang sudah kamu tahu, dia sudah sering kali mengkhianati dan menyakiti anak kita dan yang terakhir kali dia malah sudah mempunyai anak dari wanita lain, sedangkan di sisi anak kita sekarang sedang hamil anaknya, sungguh ironis nasib anak kita bukan?" kata Widya, kali ini dengan nada sedih dan sudah tidak bisa membendung tangisnya lagi.
Rolland langsung memeluk erat tubuh Widya, hatinya ikut menangis pedih dan merasa terkoyak, perasaannya penuh dengan penyesalan karena dua wanita yang sangat dia sayangi begitu menderita.
Rasa bersalah yang membuncah membuatnya yang meskipun dia seorang pria akhirnya tidak kuasa lagi menahan tangisnya...
Kebangunan Riani dari tidurnya memaksa Rolland dan Widya kembali berpura-pura menjadi seperti orang asing yang baru saja kenal.
"Nak, kalau begitu Om pamit dulu, Om ingatkan kembali kalau besok adak cek rutin kehamilan dan USG"
"Iya sama-sama, om pasti sampaikan salam kamu pada Nando, kalau begitu om pamit dulu ya Nak..." Ucap Om Rolland sambil mengelus lembut kepala Riani.
"Iya Om, hati-hati di jalan"
"Saya pamit dulu ya Bu Widya..." Ucap Rolland dan berjalan menuju ke arah Widya, kemudian menyalaminya untuk berpamitan.
"Iya Pak Rolland, terima ksih atas bantuan anda selama ini pada anak saya, hati-hati di jalan ya Pak..." Jawab Widya sambil tersenyum ramah dan membalas jabatan tangan Rolland.
"Sama-sama dan tidak perlu sungkan begitu bu Widya, Riani sudah saya anggap seperti anak kandung saya sendiri" jawab Rolland dengan masih menggenggam erat tangan Widya.
"Syukurlah, kalau begitu hati-hati di jalan dan Bye" jawab Widya mengulang kembali ucapan perpisahan dan melepaskan paksa tanganya dari genggaman Rolland yang masih erat di tanggannya dan meremas tangan Rolland dengan sekuat tenaga.
"Oh! oke, kalau begitu saya pergi sekarang Bye..." Ucap Rolland yang akhirnya tersadar setelah merasakan sakit di tangannya karena remasan kuat tangan dari Widya.
Rolland kemudian berjalan keluar ruangan.
Setelah bayangan tubuh Rolland hilang di balik pintu, tiba-tiba Riani menanyakan pertanyaan yang membuat Bu Widya terkejut.
"Sebelumnya ibu sudah mengenal om Rolland kan Bu?" tanya Riani menyelidik, karena dia merasa saat ibunya dan om Rolland saling berinteraksi , seketika atmosfir di ruangan terasa berubah dan berbeda.
"Kamu ini nak...Dari mana ibu bisa mengenalnya? sedangkan Ibu baru bertemu dengannya saat di rumah sakit ini" jawab Bu Widya hati-hati, karena dia tidak mau jawabannya menimbulkan kecurigaan di hati Riani.
"Tapi...Kenapa setiap aku melihat Ibu dan Om Rolland berbicara dan bersikap kok aku merasa atmosfirnya berubah ya Bu?" tanya Riani lagi penuh heran.
__ADS_1
"Ah...Mungkin itu cuma perasaan kamu saja, sudahlah... Jangan berpikiran yang macem-macem, yang paling penting sekarang jaga kesehatanmu demi bayi yang ada dalam kandunganmu" jawab Bu Widya berusaha mengalihkan pembicaraan dan mengelus lembut perut anaknya yang sedang mengandung calon cucunya itu.
"Sudah...Jangan terlalu kamu pukirkan, istirahatlah yang cukup...Karena besok akan cek kandungan lagi" kata Bu Widya lagi, saat dia melihat ekspresi kurang puas anaknya setelah mendengar jawaban darinya.
"Baiklah, semoga saja besok hasilnya baik ya Bu...Jadi aku bisa secepatnya keluar dari rumah sakit ini dan segera pindah ke tempat yang tenang demi calon bayiku ini..."
"Amin...Insya Allah nak..."
.............
Riani tetap tak bisa memejamkan matanya, pikirannya penuh dengan peristiwa yang seharian ini dia alami.
Di mulai dengan datangnya Raja hingga di susul dengan kedatangan Ethan dan Viola, dan mereka semua adalah orang-orang yang saat ini tidak ingin dia temui.
Hingga kedatangan mereka hari ini membuatnya lumayan syok dan menimbulkan keinginannya untuk segera pergi dari rumah sakit ini.
Di lihatnya sang Ibu sudah tertidur dengan pulasnya di sofa dekat ranjangnya.
Dengan pelan-pelan dan hati-hati Riani turun dari ranjangnya dan berjalan menuju ke tempat di mana ibunya tertidur.
Sesampainya di samping tubuh ibunya yang masih terlelap, di tatapnya dalam-dalam wajah wanita yang telah melahirkannya itu.
Terlihat kerutan lelah di usia senjanya, namun tidak mengurangi kecantikan wanita paruh baya tersebut.
Tanpa Riani sadari, air matanya sudah mengalir membasahi pipi, ada rasa penyesalan dan perasaan bersalah bergelanyut di hatinya.
Di usapnya lembut dan pelan wajah ibunya itu.
"Maafkan aku Bu...Karena anakmu ini belum bisa membahagiakanmu...Tapi aku berjanji padamu akan satu hal, walau apapun yang akan terjadi nantinya, aku tidak akan pernah menyerah dengan keadaan dan harus bisa mencapai kebahagiaanku bersama anakku kelak, sehingga tidak akan membuatmu khawatir lagi padaku, jadi...Ibu juga harus mencari kebahagiaanmu ya..." Bisik Riani dalam hati.
Riani mengusap air matannya yang mengalir deras di pipinya, sedangkan sebelah tangannya menutup mulutnya agar suara tangisnya tidak keluar sehingga tidak membangunkan tidur Ibunya.
Dengan sesekali di selingi sesenggukkan di sela-sela tangisnya, Riani berjalan menuju kembali ke ranjangnya.
Sesampainya di ranjang dan merebahkan tubuhnya Riani menarik selimutnya hingga menutupi perutnya, karena dia tidak ingin calon bayinya merasa kedinginan.
Rasa sayang Riani pada calon bayinya, membuat dirinya pun menyadari bahwa segala apapun yang sudah terjadi padanya adalah tempaan hidup yang harus dia lakoni untuk bisa memperoleh hadiah teristimewa dari Tuhan.
Akhirnya Riani tersenyum, dan mengelus-elus lembut perutnya yang dia rasakan sudah mulai membesar, tak ada hal lain yang bisa membuatnya merasa sangat bahagia selain kehadiran sang buah hati, karena kini dia sudah mendapatkan hadiah teristimewa dari Tuhan.
"Terima kasih banyak Tuhan...Karena Engkau telah mempercayakan hadiah istimewa ini padaku..." Ucap Riani lirih.
.............
Mungkin karena terlalu lelah hati dan pikirannya, sehingga hanya dalam hitungan waktu beberapa menit saja Riani sudah tertidur dengan pulasnya.
Melepaskan semua ujian dan tempaan hidup yang selama ini dia jalani...
...☆☆☆...
__ADS_1