KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
KISAH CINTA ROLLAND DAN ISABELLA


__ADS_3

"ISABELLA VANBELRG! pantas saja selama bertahun-tahun aku mencarimu tapi tidak bisa menemukanmu, itu karena kamu dengan identitas barumu" Ucap om Rolland sambil berjalan ke arah Widya yang sedang berjalan keluar rumah sakit dan menghentikan langkahnya setelah mendengar Rolland memanggil namanya dan nama besar keluarganya yang sudah dia tinggalkan sejak 33 tahun lamanya.


"Karena aku sudah nyaman dan bahagia dengan identitas baruku" jawab Widya dan kembali melangkahkan kakinya.


"Mari duduk dan berbicara" ajak Rolland sambil berjalan cepat menyusul langkah Widya.


"Bukankah semalam sudah di bicarakan dengan jelas semuanya?" jawab Widya dingin sambil tetap melangkah tanpa memandang ke arah Rolland yang berjalan di sampingnya.


"Tapi aku ingin lebih jelas membicarakan mengenai Riani anak kita?"


Seketika Widya menghentikan langkahnya, yang membuat Rolland sedikit terkejut dan sontak ikut menghentikan langkahnya.


"Bukankah aku sudah berbaik hati memberimu kesempatan untuk berada di sampingnya sehingga kamu bisa melihat dan menjaganya?! tanya Widya dengan nada suaranya yang berusaha dia tekan karena emosi dalam hatinya.


"Iya, iya aku tahu, tapi bisakah kita duduk di suatu tempat dan membicarakan lagi mengenai hal ini, please...Aku mohon Bella" Ajak Rolland dengan suara lembutnya, dia berusaha membujuk wanita yang masih sangat ia cintai itu.


Dia tahu kalau saat ini widya sedang emosi, karena dia tahu betul karakternya.


"Please Bella...Kita duduk dan bicara, oke?" bujuk Rolland lagi sambil memegang lembut pundak Widya, karena wanita yang pernah membuatnya jatuh cinta itu masih terdiam tanpa ada jawaban.


Widya hanya menghela nafas panjang.


Melihat reaksi Widya tersebut, Rolland tersenyum dan segera mengajak Widya menuju parkiran di mana mobilnya berada.


Sesampainya di parkiran Rolland membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan Widya untuk masuk.


Setelah itu mobil mereka melaju menjauh meninggalkan rumah sakit menuju ke salah satu pantai di sekitar jakarta.


.............


Setelah butuh waktu lumayan lama, akhirnya mobil mereka sampai juga di pantai yang menyimpan kenangan kisah cinta mereka berdua dulu, Rolland memarkir mobilnya, kemudian dia mengajak Widya duduk di pinggiran pantai.


Dengan beralasan tikar yang mereka sewa dari tempat penyewaan sebelumnya, merekapun duduk dan melanjutkan pembicaraan mereka.


"Kenapa kamu mengajakku ke tempat ini? dan apalagi yang ingin kamu bicarakan denganku?" tanya Widya kurang nyaman, karena pantai ini membuatnya kembali teringat kenangan dulu.


"Karena tempat ini adalah saksi kisah kasih kita dulu, dan juga aku ingin memohon padamu bisakah aku mengatakan dan mengakui pada Riani kalau aku adalah ayah kandungnya?"


"Aku sudah memberimu kesempatan untuk lebih dekat dengan Riani dan dengan syarat jangan memberitahu identitasmu padanya dan kamu sudah menyetujui itu tadi malam, tapi sekarang kamu masih ingin meminta lebih?" tanya Widya dengan senyum sinisnya.


"Aku mohon Bela, beri aku kesempatan untuk membayar 32 tahun hutangku padanya..."


"Kalau aku tahu kamu akan seperti ini, semalam saat pertama kali aku tahu itu kamu, maka aku tidak akan pernah membuat kesepakatan seperti itu dan membawa Riani pergi dari sini"


"Sebenci itukah kamu padaku Bel?"


"Tentu kamu tahu jawabannya tanpa harus aku jawab bukan?"


"Lalu apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku pada kalian berdua?"

__ADS_1


"Cukup ikuti aturan yang kita sepakati, jangan pernah kamu ungkapkan identitas aslimu pada Riani, dan jika kamu melanggar janji maka aku akan membawa Riani pergi dan menghilang lagi dari hadapanmu"


"Tidakkah ini terlalu kejam Bella?"


"Kejam katamu?! karena kejadian yang dulu aku terusir dari keluarga besarku, dan karena kamu lebih percaya perkataannya, aku terseok-seok mencari tempat berlindung dan rumah untuk bayiku!" ungkap Widya yang mulai terbawa emosi.


"Itu memang salahku yang terlalu percaya perkataannya, maafkan aku..." Ucap Rolland sambil berusaha memeluk tubuh Widya.


"Bukankah saat kita melakukan "itu" aku pernah berkata jika aku hamil, maka apapun yang terjadi aku akan mempertahankan bayi kita" jelas Widya berusaha mengelak, menghindar dari pelukan Rolland.


"Aku tahu semua salahku, hingga aku menyadari dan mengikuti kata hatiku bahwa berita itu bohong sehingga aku berusaha mencarimu" kembali Rolland berusaha memeluk Widya.


"Tapi semuanya terlambat sebelum kamu menyadari Rolland..." Tangis Widya dalam pelukan Rolland.


Rolland hanya menangis pedih dan memeluk erat wanita terkasihnya tersebut.


.............


"Sebenarnya apa yang terjadi, saat kamu menghilang dan aku mendengar kabar kalau kamu meninggal saat akan melakukan aborsi?" tanya Rolland saat tangis Widya reda dan melepaskan diri dari pelukannya.


"Saat itu memang aku akan melakukan aborsi, tapi atas kemauan keluarga besarku, tapi karena aku ingin mempertahankan bayiku, aku berhasil kabur dari rumah sakit dan mungkin untuk menutupi rasa malu dan menjaga nama baik keluarga besar, akhirnya di sebarkan berita bahwa aku telah meninggal" cerita Widya.


"Itu yang aku dengar mengenai kabarmu dari mulut wanita itu" kata Rolland dengan nada geramnya.


"Apakah wanita itu adalah Cristina, sepupuku yang akan di jodohkan denganmu dulu?"


"Betul, tapi aku tidak pernah mencintainya dan tidak pernah menyetujui perjodohan itu, kamu tahu pasti bahwa wanita yang aku cintai hingga sekarang ini hanyalah kamu Bella..."


"Itu salahku karena aku tidak bisa menjagamu hingga hatimu perpaling dariku, tapi aku tidak keberatan, karena biar bagaimanapun dia yang telah mau menjaga kamu dan Riani..."


"Dia tidak hanya mau menerimaku dan bayi dalam kandunganku waktu itu, tapi dia juga yang telah memberiku sebuah keluarga yang hangat"


"Tapi Bel, bisakah kamu memberikan aku kesempatan sekali lagi untuk memiliki hatimu?"


"Maafkan aku, hingga sekarang ini aku masih sangat mencintainya, karena hanya dialah satu-satunya pria yang membuatku merasa bahwa hidup sangatlah berarti, dan mengajarkan aku akan artinya hidup dengan memperkenalkan agama dan Tuhannya, sehingga aku percaya akan adanya Tuhan yaitu Allah..."


"Kamu sekarang seorang Muslimah?"


"Ya, begitu juga dengan Riani"


"Puji syukur, jika kamu telah mendapatkan kedamaian dengan agamamu yang sekarang, karena sebenarnya aku juga sudah tertarik dengan Islam, hanya saja..."


"Jangan pernah kamu masuk Islam jika hatimu masih bimbang, aku juga tidak akan memaksamu, karena itu adalah hak hakikimu menentukan keyakinanmu"


"Aku tahu itu, lalu...bagaimana dengan keinginanku untuk mengungkapkan identitas asliku?"


"Aku tetap tidak menyetujuinya Rolland, tolong kamu mengerti... Keadaan Riani saat ini sedang tidak stabil, dan demi kesehataannya aku melarangmu melakukan itu, coba kamu pikir jika dia tahu identitas kamu yang sebenarnya betapa akan syoknya dia, karena selama ini yang dia tahu ayah kandungnya adalah Almarhum Alfiz"


"Baiklah, aku akan mengikuti semua keinginanmu, akan ku lakukan apapun demi kebaikan anak kita"

__ADS_1


"Terima kasih atas pengertianmu"


"Tapi...Aku tetap berharap jika nanti keadaan Riani sudah stabil dan membaik, aku bisa mengatakan padanya siapa aku sebenarnya, aku mohon Bella..."


"Aku belum bisa menjanjikan itu padamu, dan aku juga tidak bisa menjamin, saat kamu mengungkapkan semuanya, Riani akan menerimamu sebagai ayah kandungnya, karena semenjak dari kandungan hingga dia dewasa dia tidak pernah bertemu denganmu dan juga aku tidak pernah menceritakan padanya mengenai hal ini"


"Kenapa kamu tidak menceritakan kenyataan yang sebenarnya saat dia sudah tumbuh besar?"


"Karena semua ini atas permintaan Alfiz, dia tidak mau jika aku menceritakan semua maka dia akan mempertanyakan mengapa ayah kandungnya tidak bersamanya dan mencari tahu keberadaanmu, Alfiz khawatir semua itu akan mempengaruhi perkembangan jiwanya"


"Sungguh mulia hati suamimu, sayang...Aku belum sempat mengucapkan terima kasih padanya"


"Itulah kenapa aku hingga sekarang masih sangat mencintainya dan tidak bisa melupakannya..." Mata Widya kosong dan berkaca-kaca menatap ke arah garis ujung laut, tiba-tiba perasaannya sangat merindukan almarhum suaminya tersebut.


Melihat ekspresi wajah Widya yang seperti itu, membuat Rolland semakin putus asa, karena dia merasa sudah tidak ada kesempatan lagi untuk memperoleh kembali hati Widya.


Dia tidak bisa menyalahkan dan memaksakan perasaan Widya, biar bagaimanapun apa yang terjadi di masa lalu semuanya karena kesalahannya.


Akan terlihat egois bagi Widya jika dia terlalu memaksakan keinginannya atas perasaannya.


"Hhhh...Baiklah, aku tidak akan memaksakan dan menuntut hak apapun dari kalian berdua, asalkan aku bisa di samping kalian dan melihat Riani bahagia aku rela, meskipun aku harus menjadi orang asing bagi kalian berdua" kata Rolland akhirnya dengan nafas beratnya, setelah keduanya diam untuk beberapa saat lamanya.


"Terima kasih Rolland, dan satu hal lagi yang kuinginkan darimu, aku mohon...Jangan pernah ungkit lagi masa lalu kita, aku ingin kamu menganggap percintaan kita di masa itu sebagai kenangan, karena jika aku mengingat itu hatiku akan sangat sakit karena luka hatiku saat itu..."


"Baiklah, maafkan aku Bel...Karena sudah membuat lubang luka yang besar di hatimu, sekali lagi maafkan aku..." Tangis Rolland sambil menggenggam erat kedua tangan Widya dan menciumnya berkali-kali.


"Sudah, sudah Rolland...Aku sudah memaafkanmu, sekarang mari kita buka dan mulai lembaran baru sebagai teman bagaimana?"


Rolland hanya mengangguk pelan, dia sudah tidak sanggup berkata-kata lagi, apalagi saat mendengar ucapan terakhir Widya, yang menginginkan hubungan mereka hanya sebatas teman saja, namun apa dayanya untuk menolak keinginan wanita dari anaknya tersebut.


Kemudian Rolland langsung memeluk erat tubuh Widya, seolah itu sebagai pelukan terakhirnya.


Widya hanya diam membiarkan pria yang pernah mengisi masa lalunya itu memeluk erat tubuhnya, pikirnya anggap saja pelukan itu sebagai tanda perpisahannya dengan pria di masa lalunya.


.............


"Sepertinya kita sudah terlalu lama di sini, sebaiknya kita segera pergi dari sini Rolland..." Kata Widya setelah Rolland melepaskan pelukkannya


"Baiklah, kamu mau kemana, akan aku antar?"


"Aku harus segera kembali ke rumah sakit, takut Riani khawatir mencariku"


"Baiklah, ayo!"


Widya hanya mengangguk dan bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah Rolland meninggalkan pantai.


Sesampainya di mobil keduanya segera masuk kedalam dan mobil pun melaju berjalan meninggalkan pantai tersebut.


Pantai yang dulu sering mereka datangi saat menjalin kasih, pantai yang penuh dengan kenangan mereka berdua.

__ADS_1


Kini...Pantai itu hanyalah bagian dari kenangan mereka berdua dan menjadi saksi bisu kisah cinta Rolland dan Isabella di masa lalu, kisah cinta yang berakhir dengan pedih dan saling terluka...


...☆☆☆...


__ADS_2