
Om Rolland dan Iky segera menghampiri Riani yang berjalan ke arah mereka.
"Kamu tidak apa-apa Nak?" tanya Om Rolland.
"Riani tidak apa-apa Om, ayo kita pulang sekarang" ajak Riani.
"Ayo Nak..."
"Baik Mba, aku telepon Mang Muh dulu agar segera menjemput kita" kata Iky.
"Baiklah, terima kasih..."Jawab Riani singkat.
Mereka berempat pun segera berjalan meninggalkan taman tersebut dan Radja yang sedang menangis di pelukan istri siri dan anaknya.
Setelah Mang Muh sampai dengan mobilnya, segera Riani dan lainnya masuk ke dalam mobil.
Setelah itu mobil tersebut melaju meninggalkan rumah sakit tersebut.
Selama dalam perjalanan, suasana di dalam mobil sepi tanpa obrolan.
Semuanya tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing, hingga akhirnya mobil yang di kendarai Mang Muh sudah memasuki halaman rumah milik Iky.
"Ayo Nak kita turun" suara ajakan dari Om Rolland segera menyadarkan Riani yang sedari tadi tenggelam dalam pikirannya.
"Oh iya Om..." Jawab Riani, segera turun dari mobil.
Om Rolland dan Iky saling berpandangan, mereka bukannya tidak tahu apa yang sebenarnya sedang bergejolak di hati Riani, hanya saja mereka lebih memilih untuk diam, apalagi bagi Iky itu bukanlah tempatnya untuk ikut campur masalah rumah tangga Riani.
Sedangkan Om Rolland yang meskipun notabene adalah ayah kandung Riani, namun dia juga tidak berdaya dan hanya bisa mengutuk dirinya sendiri karena dia merasa tidak berguna sebagai ayah.
Tatapan sedih mata Om Rolland mengikuti langkah gontai Riani yang berada di depannya, berjalan menuju ke arah pintu masuk.
Melihat punggung putrinya yang kosong dan terlihat sangat berat karena beban masalah yang dia alami bertubi-tubi, ada perasaan sakit yang luar biasa di hati Om Rolland.
Tangis perih akhirnya pecah meskipun hanya di dalam hatinya yang tidak tega melihat penderitaan putri tercintanya itu, hingga membuat Om Rolland tanpa sadar dan reflek memeluk erat tubuh Riani, anaknya tersebut.
"Papah akan selalu ada di sisimu, jadi...Kamu bisa berbagi bebanmu itu dengan Papah, maafkan Papah yang tidak mampu menjagamu..." Bisik Om Rolland.
Riani yang terkejut dan kurang mendengar jelas perkataan dari om Rolland menjadi bingung.
"Maaf...Tadi Om bilang apa?" tanya Riani masih dalam pelukan Om Rolland.
__ADS_1
Merasa sudah keceplosan, Om Rolland segera melepas pelukkannya dan meralat perkataannya.
"Tadi Om bilang, anggap Om ini Papah kamu sendiri, karena Om juga sudah menganggap kamu seperti putri Om sendiri, dan Om ingin sekali kamu panggil Om dengan sebutan Papah, bisakah?" pinta Om Rolland.
"Tidak apa-apakah Om?" jawab Riani balik bertanya, ragu.
"Tentu saja Om tidak akan keberatan, justru Om akan sangat bahagia bila di panggil Papah oleh kamu Nak..."
"Baiklah kalau begitu Om, eh...Pah" jawab Riani masih kikuk.
"Karen kamu sudah menganggap Om sebagai Papah kamu, dan begitu juga sebaliknya, maka Papah harap ke depannya apapun masalah kamu, beban kamu, Papah harap kami bisa berbagi beban itu dengan Papah, Oke?"
"Baik Pah, terima kasih"
"Iya Nak, ayo kita sebaiknya segera masuk, lihatlah...Ibumu sudah menunggu kita" Ucap Rolland, sambil pandangan matanya tertuju pada Widya yang menatap mereka dengan pandangan mata penuh kesedihan dan penyesalan.
"Ayo Pah..."
Keduanya berjalan masuk menuju ke ruang tamu di mana Widya sudah duduk di atas sofa.
"Assalamualaikum Bu..." Ucap Riani sesampainya di depan Widya dan mencium punggung tangannya.
"Riani tidak apa-apa, kenapa tiba-tiba Ibu bertanya seperti itu?" kata Riani balik bertanya, timbul firasat dalam hatinya.
"Sebaiknya kita membicarakannya di dalam kamar saja, ayo!" ajak Bu Widya.
Riani hanya mengikuti langkah Ibunya yang berjalan menuju ke arah kamarnya, dia semakin yakin dengan firasatnya dan itu pasti tentang masalahnya yang berhubungan dengan Radja.
"Tadi Radja menelpon Ibu dan menceritakan semuanya, dia juga memohon pada Ibu agar membantunya untuk membujukmu agar tidak berpisah dengannya" kata Bu Widya setelah mereka masuk dan duduk di atas kasur.
Ternyata firasat dan dugaan Riani benar, hingga timbul perasaan menyesal di hatinya, kenapa dulu dia mau memperjuangkan Radja dan memilih untuk menikahinya, jika setiap ada masalah diantara dia dan dirinya selalu membawa Ibunya dalam masalah keluarga mereka berdua? biar bagaimanapun Riani tidak ingin selalu menyusahkan Ibunya, tapi sifat pengecut Radja yang selalu membawa Ibunya ke dalam masalah mereka berdua membuatnya hati Riani marah dan kecewa pada Radja.
"Nak...?" Suara Bu Widya menyadarkan Riani, yang terdiam lama dan hanyut dalam pikirannya.
"I...Iya Bu?"
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Bu Widya, cemas.
"Tidak apa-apa Bu..."
"Kok tadi di tanya Ibu malah terdiam lama dan bengong, beneran kamu nggak apa-apa?" tanya Bu Widya lagi, memastikan.
__ADS_1
"Iya Bu bener...Dan Riani mohon pada Ibu, jika Radja kembali menelpon Ibu dan meminta bantuan Ibu, jangan di dengerin kata-kata dia"
"Lho, memangnya kenapa biar bagaimanapun dia masih suamimu hingga saat ini dan ayah dari bayi yang sedang kamu kandung"
"Iya Bu, Riani tahu tapi...tadi saat kami berdua bertemu, sudah kami bahas dan bicarakan semuanya, juga sudah jelas aku memberitahu keputusanku padanya mengenai hubunganku denga dia selanjutnya mau bagaimana, lalu dia mau apa lagi? dengan sifat pengecutnya yang seperti itu meminta bantuan Ibu untuk mempertahankan rumah tangga kita yang sudah jelas tidak bisa di perbaiki?" kata Riani dengan nada kesalnya.
"Sudah...Sudah jangan terbawa emosi tidak baik untuk perkembangan janinmu, Ibu tahu perasaanmu"
"Kalau Ibu tahu perasaanku, kenapa Ibu mau saja mendengarkan kata-kata Radja?"
"Tentu saja Ibu tahu perasaanmu, karena anak Ibu adalah kamu, anak yang Ibu kandung selama sembilan bulan lebih, merawat dan menjaganya hingga besar dan tumbuh dewasa seperti sekarang ini, tapi apakah salah jika Ibu juga ingin memperjuangkan kebahagiaan anaknya?" tanya Bu Widya menatap dalam-dalam ke arah Riani dan menggenggam lembut kedua tangan Riani.
"Dan Ibu melakukan semuanya semata-mata demi kebahagiaanmu Nak..." Lanjut Bu Widya lagi, setelah menunggu beberapa saat, namun anaknya tersebut tidak menjawab dan tetap terdiam.
"Apa Ibu tahu apa yang membuatku bahagia?"
"Yang Ibu tahu, kebahagiaanmu adalah kebahagiaan Ibu juga, jadi apapun keputusanmu, dan jika itu menurutmu akan membuatmu dan anakmu bahagia nantinya, maka Ibu akan menurutimu untuk tidak membantu Radja"
"Terima kasih banyak Bu...Karena menurutku tidak semua keluarga yang bahagia adalah keluarga yang utuh, apalagi jika di lihat dari masalahku, jika aku memaksakan diri untuk tetap mempertahankan keutuhan keluarga di atas keluarga lain, maka aku yakin bukannya kebahagiaan yang akan aku dan anakku dapatkan nantinya, melainkan perasaan kurang sempurna di dalam kehidupan satu atap dua keluarga.
"Ibu paham sekali maksudmu Nak, lakukanlah apa yang menurutmu harus kamu lakukan, tapi kamu juga harus siap dengan segala konsekuensinya dari keputusanmu itu, karena Ibu tahu betul rasanya menjaga dan mendidik anak tanpa seorang suami sangatlah berat..."
"Iya Bu, aku tahu itu kok, dan aku sudah siap juga sudah memikirkannya secara matang keputusanku ini, jadi Insya Allah...Aku sudah siap dengan segala konsekuensinya"
"Syukur Alkhamdulillah jika kamu memang sudah memikirkannya matang-matang keputusanmu itu, jadi kelak tidak akan timbul penyesalan..."
"Insya Allah...Aku tidak akan pernah menyesal dengan keputusanku ini Bu..."
"Semoga kamu bisa menjalaninya dengan lancar, dan Ibu yakin kamu wanita yang tangguh, jadi tidak akan kesulitan menjaga dan merawat anak tanpa seorang suami"
"Amin...Insya Allah, Ibu adalah panutanku, Ibu saja yang merawat tiga orang anak tanpa Ayah di sisi Ibu selama puluhan tahun bisa kok, masa Riani jadi single parent satu anak saja tidak bisa? harus bisa dong!" ucap Riani penuh semangat, membuat Bu Widya tertawa dengan tingkah laku putri semata wayangnya itu.
Akhirnya Ibu dan anak tersebut saling berpelukkan untuk saling memberi dukungan satu sama lain.
Dalam hati Riani ada perasaan bangga bisa di lahirkan oleh seorang Ibu yang kuat seperti Ibunya tersebut.
Dan juga ada perasaan bahagia karena mempunyai seorang Ibu yang pengertian dan selalu mendukungnya walau apapun keputusannya mengenai masalah yang sedang di hadapinya.
Hingga dalam hati Riani bertekad diri agar kelak dia juga bisa menjadi Ibu panutan bagi anaknya nanti, meskipun harus menerima konsekuensinya, setiap kali dia mengambil keputusan dalam hidupnya, ya...Konsekuensi hidup yang meskipun berat nantinya dia akan tetap bertahan dan berjalan maju tanpa harus menengok ke belakang lagi...
...☆☆☆...
__ADS_1