
Suara ketukan di pintu kamar Riani membangunkan tidur siangnya.
Dengan agak malas dia berjalan ke arah pintu dan segera membukanya, namun alangkah terkejutnya dia, karena saat dia membuka pintunya, ternyata orang yang mengetuk pintu bukanlah servise room seperti yang ia kira, tetapi Voila tunangan dari Rifai.
"Hai! maaf sekali kalau aku sudah mengganggu istirahat siangmu..." Ucap Viola dengan wajah penuh bersalahnya.
"Tidak apa-apa kok, justru seharusnya akulah yang minta maaf, karena menyambutmu dengan penampilanku yang masih berantakan seperti ini..." Jawab Riani yang merasa canggung karena melihat dirinya dengan masih memakai baju tidur dan rambut yang berantakan.
"Tidak apa-apa kok..."
"Tapi maaf...Boleh saya tahu, ada hal apa ya anda ke kamar saya?" tanya Riani yang masih penasaran.
"Saya cuma pengin ngobrol, karena saya merasa bosan selalu di tinggal seharian sama tunangan saya yang sibuk karena bisnisnya juga persiapan pernikahan kami, jadi...Bisakah anda jadi teman ngobrol saya?" kata Viola dengan wajah yang memelas.
"Tentu saja, mari silahkan masuk, maaf...Kamar saya berantakan" jawab Riani sambil mempersilahkan Viola untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Terima kasih..." Kata Viola dengan wajah senangnya, dengan segera Viola masuk ke dalam, sedangkan Riani segera membereskan kasur dan memberikan kursi untuk Viola duduk.
"Terima kasih..." Ucap Viola sambil duduk di kursi yang Riani persiapkan untuknya.
"Sama-sama, kopi?" tanya Riani.
"Maaf...Saya tidak minum kopi" jawab Viola.
"Kalau begitu bagaimana dengan teh?" tanya Riani lagi.
"Boleh, kalau teh saya minum terima kasih."
"Sama-sama, tidak perlu sungkan..." Jawab Riani sambil membuatkan teh untuk Viola.
"Silahkan di minum tehnya" kata Riani sambil menyuguhkan teh yang telah dia buat pada Viola.
"Terima kasih banyak, maaf sudah merepotkan..." Jawab Viola sambil menyeruput teh yang sudah ada di tangannya.
"Sama-sama, maaf...Saya tinggal dulu ke kamar mandi sebentar, tidak apa-apa kan?"
"Tentu saja tidak apa-apa, silahkan jika anda ingin ke kamar mandi dulu"
"Terima kasih, kalau begitu saya pamit dulu ke kamar mandi..."
"Silahkan..." Jawab Viola dengan senyum ramahnya kemudian kembali menyeruput tehnya.
Sedangkan Riani segera menuju ke kamar mandi sambil mengikat rambutnya.
Beberapa menit kemudian...
"Maaf kalau sudah menunggu terlalu lama"
"Tidak kok, bagaimana kalau kita sekarang jalan-jalan sambil mnegobrol santai? jujur saya sangat bosan sendirian tidak ada teman untuk mengobrol, bisakah kita berteman sekarang?" tanya Viola dengan ekspresi wajah yang kesepian.
"Tentu saja, senang berteman dengan anda" jawab Riani.
"Terima kasih, dan karena kita sudah berteman bagaimana kalau kita bicara seperti seorang teman dan aku akan memanggilmu kakak?"
"Oke, terserah kamu saja" jawab Riani tersenyum melihat tingkah Viola yang manja.
__ADS_1
"Ayo kak kita jalan-jalan di sekitar resort sekalian aku ingin menunjukkan tempat pernikahan aku dengan Ethan yang akan di gelar nanti" ajak Viola sambil menggandeng tangan Riani.
Mendengar nama tunangan Viola yang bernama Ethan, hati Riani seolah meregang karena terkejut, nama yang sama dengan pria di masa lalunya, namun segera dia tepis pikiran itu karena tidak mungkin, apalagi nama Ethan sudah umum di pakai tapi...
"Kenapa dia berbohong padanya dan menggunakan nama Rifai saat berkenalan dengannya?" pikir Riani yang berjibaku dengan hatinya yang penuh tanya.
Mungkin nanti perlu dia tanyakan langsung pada Rifai untuk mengetahui jawaban dari rasa penasarannya itu.
Meskipun di hatinya ada sebersit dugaan di hatinya, namun segera dia tepis jauh-jauh karena sangat tidak mungkin dugannya itu.
Apalagi Ethan pria masa lalunya mempunyai pribadi yang berbeda dengan Ethan tunangan Viola.
Riani hanya menurut saja saat Viola menarik tangannya dan berjalan ke sebuah hall yang besar.
Saat memasuki ruangan tersebut, terlihat tertata rapi kursi tamu undangan dan pelaminan dengan dekorasi pernikahan yang sangat indah dan megah meskipun baru beberapa persen di kerjakan.
"Bagaimana kak pelaminan pernikahan kami?" tanya Viola dengan wajah berbinar-binar karena bahagia.
"Sangat indah dan mewah, pernikahan kalian pastinya akan menjadi pernikahan yang sangat sempurna" jawab Riani tulus.
" Terima kasih...Semoga semuanya bisa berjalan lancar ya kak, jujur aku sangat gugup"
"Semua calon pengantin pasti akan merasakan seperti itu, adalah wajar..." Jawab Riani bijak.
"Begitu ya kak, apa kakak sudah menikah?" tanya Viola polos.
"Kebetulan aku sudah menikah" jawab Riani lagi, dengan senyum getirnya, mengingat pernikahannya kini sedang di ujung perceraian.
"Apa kakak dulu juga merasakan seperti yang aku rasakan sekarang?" tanya Viola sambil duduk di salah satu kursi tamu undangan, yang di ikuti Riani yang duduk di samping Viola, matanya ikut menyapu seluruh ruangan hall tersebut.
Melihat ekspresi wajah Viola yang begitu bahagia, dia pun ikut merasa bahagia, di mata Riani sosok Viola adalah gadis muda yang cantik dengan pribadi yang ceria, menyenangkan dan manja.
Semua pria pasti akan sangat mudah untuk jatuh cinta padanya, beruntung sekali Rifai bisa mendapatkan dan meminangnya.
Entah kenapa setiap mengingat wajah Rifai ada perasaan sakit di hatinya, tapi apa dan kenapa dia pun tidak tahu.
"Ayo kak kita melihat tempat lainnya" ajak Viola kembali menarik tangan Riani.
Riani hanya bisa pasrah dan mengikuti langkah Viola yang semangat ingin menunjukkan tempat lainnya.
Hingga akhirnya Viola menghentikan langkahnya di taman luas samping resort yang membelakangi laut.
Dengan mimbar yang belum rampung di hias, di mana nanti pastur akan berdiri memandu sepasang calon pengantin untuk mengucapkan ikrar janji pernikahan.
Penikahan yang bertema out door memang sedang tren saat ini, karena akan terasa menyatu dengan alam karena di adakan ditempat yang terbuka.
"Kak, kamu mau tidak saat pernikahanku nanti jadi pengiring pengantinku?" tanya Viola.
"Aku tidak berani, lagi pula kita kan juga baru kenal dan tidak terlalu dekat..." Jawab Riani apa adanya.
"Makanya itu agar kita bisa lebih dekat lagi, kakak harus mau jadi pengiringku" bujuk Viola.
"Kapan pernikahanmu? karena aku takut tidak bisa mengabulkan keinginanmu itu karena masa cutiku sebentar lagi habis" kata Riani beralasan.
"Besok lusa, mau ya kak..." bujuk manja Viola, melihat tingkah Viola mengingatkanya pada Zoya, hingga akhirnya Riani luluh dengan rayuan Viola dan menyetujui keinginan Viola dengan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Terima kasih ya kak, kalau begitu aku langsung pesan baju untukmu..."
"Tapi...Apa masih sempat? pernikahan akan berlangsung dua hari lagi lho"
"Tenang saja kak, serahkan saja padaku, semuanya pasti beres...Yang penting pas hari H kakak sudah bisa pakai bajunya"
"Ya sudah terserah kamu saja"
"Sebentar ya kak, aku mau bicara dengan seseorang dulu" ijin Viola sambil mengeluarkan ponsel dari saku baggy jeans nya.
Riani hanya mengangguk dan mengalihkan pandangannya pada pekerja wedding organizer.
Riani berjalan menjauhi Viola yang sedang serius berbicara, sempat terdengar olehnya, Viona sedang memesan satu stel baju pengiring pengantin untuknya.
Saat Riani sedang fokus mengamati para pekerja yang sibuk menata kursi dan berbagai hiasan di sekitarnya tiba-tiba...
"Serius sekali..." Suara Rifai mengejutkan Riani, yang langsung membalikkan badannya ke arah Rifai.
Tanpa sengaja matanya saling beradu dengan mata Rifai, hingga mereka berdua akhirnya saling mengalihkan pandangan mereka ke arah Viona yang dari kejauhan memanggil Rifai.
"Ethan!" panggil Viola, terlihat Rifai terkejut saat Viola memanggil namanya dengan sebutan Ethan dan langsung melihat ke arah Riani sejenak, lalu kembali mengalihkan wajahnya ke arah Viola yang berjalan ke arah mereka.
Perubahan wajah Rifai tadi tidak luput dari mata Riani, dia tahu kalau Rifai merasa seperti tertangkap basah karena berbohong.
"Sayang...Kerjaanmu sudah selesai ya?" tanya Viola sambil bergelanyut manja di lengan Rifai.
"Sudah" jawab Rifai singkat dengan sikapnya yang canggung.
"Kamu tahu nggak sayang, aku dan kak Riani sekarang berteman dan dia bersedia jadi pengiring wanita di pernikahan kita nanti lho" kata Viola dengan wajah sumringahnya.
"Apa kamu memaksanya?" tanya Rifai dengan nada dan ekspresi wajah datarnya.
"Sebenarnya iya, tapi yang penting kan dia akhirnya mau, ya kan kak?" kata Viola sambil menengok ke arah Riani.
Riani hanya tersenyum dan mengangguk sambil melirik sekilas ke arah Rifai.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu mengenai pernikahan kita" kata Rifai akhirnya.
"Emm...Kalau begitu aku pamit dulu, silahkan kalian lanjutkan pembicaraan kalian"
"Kakak mau kemana? kalau mau balik ke kamar, ayo kita bareng saja" ajak Viola.
"Tidak usah, aku kebetulan ada keperluan lain dan belum mau kembali ke kamar"
"Baiklah, kalau begitu hati-hati kak..."
"Iya, bye..." pamit Riani.
"Bye..."
Riani melangkahkan kakinya keluar dari tempat itu, suara manja Viola pada Rifai masih terdengar olehnya.
Entah kenapa kembali muncul perasaan kasat mata yang menyeruak dari dalam hatinya hingga terasa sakit, meski tidak seharusnya begitu...
...☆☆☆...
__ADS_1