
Dengan pelan Roro membuka pintu kamar Riani, di lihatnya dia sudah tertidur pulas dengan air mata yang masih terlihat belum mengering.
Melihat sahabatnya dengan keadaan seperti itu hati dan perasaan Roropun ikut merasakan sakit juga, karena biar bagaimanapun Riani sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.
"An an...An an...Tidur saja kamu tidak tenang seperti itu..."
Gumam Roro saat melihat wajah dan dahi Riani yang berkerut mungkin karena Riani mengalami mimpi buruk dalam tidurnya.
Di ciumnya kening Riani penuh kasih sayang dan ajaibnya wajah Riani kembali tenang, membuat Roro tersenyum.
Kemudian dia meninggalkan kamar Riani dan pelan-pelan menutup kembali pintu kamar Riani.
.............
Riani seketika terbangun saat alarm jam di ponselnya berbunyi, dengan segera dia menuju ke kamar mandi dan membasuh wajahnya setelah selesai menyikat gigi.
.............
Saat Riani keluar dari kamar terlihat di ruang makan Roro sedang menyiapkan sarapan mereka berdua.
"Pagi An an, ayo makan dulu sarapanmu..." Ajak Roro setelah melihat Riani yang sudah rapi memakai pakaian kerjanya keluar dari kamarnya.
"Pagi Mi Ro, Oke! terima kasih..." Jawab Riani yang langsung duduk dan menyantap sarapannya, entah kenapa pagi ini Riani merasa sangat lapar.
Melihat sahabatnya makan dengan lahapnya membuat Roro merasa senang, karena itu berarti keadaan Riani masih baik-baik saja.
"Owh iya An an, cuti tahunan kamu sudah di Acc, dua hari lagi kamu bisa cuti" kata Roro di sela-sela makannya.
"Baiklah, Thanks banget ya Mi Ro, kalau begitu aku akan booking tiket pesawat dan hotel sekarang" jawab Riani yang langsung membuka aplikasi Traveloka untuk memesan tiket dan booking hotel.
Selesai sarapan mereka berdua bersama-sama berangkat kerja menggunakan mobil Roro.
.............
Sesampainya di kantor Riani di buat terkejut saat di hadang Teddy tepat di pintu masuk kantornya.
"Pagi Ai!" sapa Teddy dengan suara penuh semangat.
"Pagi Ted, tumben kamu sudah berdiri di depan kantorku dengan wajah penuh semangat seperti itu?"
"Kamu sudah sarapan belum Ai?" kata Teddy balik tanya dan tidak menjawab pertanyaan Riani.
"Sudah, tadi sarapan di rumah sama Roro, kamu belum jawab pertanyaanku tadi Ted?"
"Apa kamu tidak mempersilahkan aku untuk masuk dulu Ai?"
"Oke...Oke...Masuklah!" kata Riani akhirnya sambil membuka pintu kantornya, Teddy langsung masuk dan duduk di sofa depan meja kerja Riani.
"Kamu jadi liburan kemana Ai selama cuti?" tanya Teddy penasaran, sedangkan yang di tanya sudah sibuk berkutat dengan berkas-berkas di depannya.
"Ai...Kamu dengar tidak apa yang aku katakan?" tanya Teddy lagi dengan penuh kesabaran.
"Aku dengar Ted..."
"Kalau dengar kenapa tidak di jawab Ai?" kata Teddy dengan memasang wajah memelas.
"Lagian kalau aku jawab aku berlibur dimana, memangnya kamu mau apa Ted?"
__ADS_1
"Ya cuma pengin tau aja Ai, aku khawatir kalau kamu berlibur sendirian..."
"Aku bisa jaga diri kok Ted, dan terima kasih atas perhatiannya.."
"Tapi Ai...Setidaknya kalau aku tahu kamu berlibur di mana, aku bisa tenang memantaumu"
"Nggak perlu Ted, justru dengan kamu yang begitu aku akan tidak nyaman dan tidak bisa benar-benar menikmati liburanku"
"Maaf...Kalau memang kamu tidak nyaman dengan perhatianku, aku juga tidak mau mempersulit kamu Ai"
"Terima kasih atas pengertianmu dan maaf Ted...?"
"Tidak apa-apa, kalau begitu aku keluar dulu ya Ai" pamit Teddy sambil beranjak dari duduknya.
Riani hanya melihat Teddy berdiri dari duduknya, dia teringat akan cerita Roro tentang Tedy semenjak putus dari dirinya.
kembali Riani melihat Teddy yang pergi meninggalkan kantornya, melihat punggungnya yang kesepian, tiba-tiba terbesit rasa bersalah di hatinya.
"Maafkan aku Tedd..." Bisiknya dalam hati.
.............
Hari keberangkatanpun telah tiba...
"Tok...Tok...Tok! An an bangun! kamu mau ketinggalan pesawat, udah telat nih! teriak Roro berusaha membangunkan Riani sambil mengetuk pintu kamar Riani dengan keras.
Riani tersentak bangun, setelah melihat jam di ponselnya yang masih menunjukkan pukul 6 pagi.
Diapun berjalan ke arah pintu dengan setengah nyawa, dan saat membuka pintu, hujan lokal membasahi wajah Riani yang membuat matanya langsung terbuka lebar.
"Aduh Mi Ro...Jam berapa sekarang sudah membangunkanku?" tanya Riani sambil tangannya menutup suber hujan lokal yang membasahi wajahnya.
"Bebebeebbe mmpppppphhh?!" kata Roro yang membuat Riani menyadari ternyata tangannya masih menutup mulut dan hidung Roro.
"Oh maaf...! "Pantas saja aku tadi tidak mengerti bahasamu..." Gumam Riani sambil melepas tangannya dari mulut dan hidung Roro, di lihatnya wajah Roro sudah merah karena hampir kehilangan nafasnya.
"Kamu cewek apa dedemit sih?! Tenaga kok kaya kuli bangunan" kata Roro dengan nafasnya yang masih tersengal-sengal.
"Lagian ada apa sih, pag-pagi sudah kayak gledek sama hujan lokal saja?" tanya Riani santai sambil menggaruk-garuk kepala dan perutnya.
"Aku tuh bantu bangunin kamu An an! bukannya kamu harus terbang ke bali jam 8 pagi ini?"
"Aduhh Mi Ro...Aku tuh terbangnya jam 8 malam bukan jam 8 pagi..."
"Apa?! jadi aku salah mengira jam?! padahal aku bela belain bangun pagian ternyata..."
"Lagian yang mau berlibur siapa yang heboh siapa hehehe..?"
"Aku kayak gini juga karena mau bantuin kamu An an"
"Aku tahu Mir Ro ku sayang...Terima kasih ya...Kalau gitu aku balik tidur dulu" kata Riani sambil mencubit sayang pipi Roro.
"Ya sudah, aku juga mau siap- siap berangkat kerja dulu dan untuk sarapan sudah aku siapkan di meja makan"
"Oke, terima kasih..."
.............
__ADS_1
Mata Riani seketika terbuka dan langsung bangun dari tempat tidurnya saat mendengar suara pintu depan rumah di ketuk berkali-kali.
Setelah membasuh wajahnya sebentar dengan segera dia menuju ke pintu, dalam hatinya penasaran siapa yang datang, karena saat dia melihat jam masih menunjukkan pukul 8 pagi.
"Jika Roro yang datang tidak mungkin, karena dia dan Roro masing-masing memegang kunci, lalu siapa?" batin Riani, dan saat dia membuka pintu betapa terkejutnya ia saat tahu yang datang adalah Radja.
"Mas Radja?! kamu kenapa pagi-pagi datang ke sini?"
"Kita perlu bicara Dek, sekarang"
"Tidak bisa sekarang Mas, aku mau bersiap-siap untuk pergi, lagi pula apa kamu tidak kerja Mas?"
"Aku masuk kerja shif dua, kamu mau pergi kemana Dek?"
"Aku cuma butuh tempat yang tenang Mas, tempat di mana aku bisa berpikir jernih dan bisa memutuskan langkah apa yang harus aku lakukan selanjutnya untuk masalah kita"
"Tolong dek, maafkanlah aku, berikan aku kesempatan untuk berubah dan memperbaiki semuanya..."
"Untuk sekarang ini aku belum bisa memikirkan apa-apa Mas dan bagaimana hubungan kita selanjutnya juga aku belum bisa memutuskan sekarang"
"Kenapa dek, bukankah aku sudah menepati kata-kataku untuk mempertemukanmu dengan Dini?"
"Ya itu benar, tapi saat aku bertemu dengannya dan tahu kalau dia juga korban karena telah kamu bohongi dengan statusmu, aku jadi butuh waktu lebih lama lagi untuk berpikir"
"Baiklah dek, aku tidak akan memaksamu dan tidak akan mengganggu waktumu selama berfikir mengenai keputusan hubungan kita selanjutnya..."
"Terima kasih Mas atas pengertiamu, kalau begitu tidak ada yang perlu di bicarakan lagi bukan?"
"Tidak ada, tapi aku mohon dek...Pikirkan kembali dan beri aku kesempatan untuk berubah..."
"Akan aku coba Mas, maaf...Aku akan bersiap-siap, kalau tidak ada lagi yang di bicarakan sebaiknya Mas pulang saja"
"Baiklah kalau begitu aku pulang dulu ya dek, hati-hati dan jaga kesehatanmu selama berpergian..." Kata Radja sambil memegang lembut pundak Riani.
Riani hanya mengangguk pelan sambil sebisa mungkin menyembunyikan air matanya.
Radja beranjak dari duduknya dan setelah menatap sebentar wajah Riani istrinya, diapun pamit kemudian keluar meninggalkan rumah tersebut.
Setelah Radja keluar dan berjalan menjauhi rumah Roro, dengan segera Riani menutup pintu dan berlari ke kamarnya.
Kemudian diapun menumpahkan tangisnya yang sedari tadi dia tahan, karena pertemuannya dengan Radja tadi membuat hatinya yang semakin terluka dan terasa sangat menyakitkan baginya.
.............
Beberapa jam kemudian setelah Riani berhenti dari tangisnya dengan segera bersiap-siap untuk pergi ke bandara.
Sebelum keluar dari rumah Roro dia memberi tahu Roro terlebih dahulu kalau dia sudah berangkat menuju ke bandara.
.............
Dalam pesawat dia duduk dengan posisi kursi dekat jendela pesawat.
Di tatapnya kota yang tertutup awan, ingatannya pun kembali pada pertemuan dan perbincangannya dengan Radja.
"Maaf Mas Radja...Untuk saat ini aku cuma butuh waktu dan tempat untuk sendiri, untuk memikirkan semua yang telah terjadi...Sehingga kita pun bisa untuk saling intropeksi diri...Dan aku akan selalu ikhlas menunggu perubahanmu..." Batin Riani dengan berlinang air mata.
To Be continued..
__ADS_1