KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
MENJAUH DAN MENGHILANG


__ADS_3

Keesokkan siang harinya dengan di antar Bu Widya Riani melakukan pemeriksaan kandungannya.


Sambil menunggu antrian di ruang USG, dia mengobrol dengan ibunya.


"Kamu harus jaga baik-baik kandunganmu ini nak, karena dia calon cucu pertama Ibu" kata Bu Widya, mengelus lembut perut Riani sambil tersenyum bijak.


"Pasti Bu, ini juga calon bayi yang sudah lama Riani tunggu-tunggu..." Jawab Riani sambil memegang tangan Ibunya yang masih mengelus lembut perutnya.


Sepasang suami istri muda, yang baru saja keluar dari ruang USG nampak sangat bahagia.


Sang suami dengan penuh haru mengelus perut sang istri dan mencium lembut keningnya.


Melihat adegan itu ada perasaan iri melihat kemesraan mereka, harusnya Riani juga bisa seperti itu, hanya saja mungkin itu akan menjadi angannya belaka, karena takdir sudah berkehendak lain.


Melihat ekspresi wajah sedih anak perempuannya itu, Bu Widya ikut sedih namun dengan segera dia sembunyikan dan mencoba memberi suport Riani.


"Kamu juga bisa bahagia tanpa harus seperti mereka nak...Kemarin Radja sudah menceritakan semuanya pada Ibu dan dia memohon pada Ibu untuk memberi pengertian padamu" kata Bu Widya, memegang pundak Riani.


Riani segera mengalihkan pandangannya dari sepasang suami istri muda tersebut.


Kepalanya menunduk mencoba meyembunyikan perih di hatinya saat mendengar nama Radja, suaminya itu.


Karena saat mendengar nama Radja, maka ingatannya kembali pada luka demi luka yang telah Dia berikan padanya.


"Lalu...Apa jawaban Ibu?" tanya Riani berusaha menatap mata Ibunya itu dan memaksakan diri untuk tersenyum, meskipun lebih terlihat senyuman pahit yang di paksakan.


"Ibu hanya bilang, itu adalah masalah kalian berdua dan Ibu tidak bisa ikut campur, semua keputusan Ibu kembalikan padamu Riani..."


"Aku belum bisa berpikir Bu, saat ini aku hanya fokus pada calon bayiku ini, lalu...Apakah Ibu memberitahu pada Radja kalau saat ini aku sedang hamil?"


"Tidak, Ibu tidak memberitahu dia mengenai kehamilanmu, karena Ibu tahu kamu tidak menginginkannya..."


"Terima kasih ya Bu..." Riani memeluk erat tubuh ibunya, seolah membutuhkan dukungan penuh darinya.


"Kamu tidak perlu khawatir dan sedih, ada Ibu di sini nak..." Jawab Bu Widya yang membalas pelukan erat Riani, air matanya pun tak tertahankan dan mengalir, namun segera ia usap saat melepaskan pelukannya, karena nama Riani sudah di panggil, tiba gilirannya untuk masuk ke dalam ruang USG.


Dengan di temani Ibunya dan di bimbing sang suster, Riani masuk ke dalam setelah menarik nafas dan menghela panjang.


.............


Beberapa menit kemudian Riani dan Bu Widya keluar dari ruang USG, pemeriksaan pun berjalan lancar.


Tampak wajah sumringah dari keduanya.


Berkali-kali Riani mengelus lembut perut buncitnya yang tertutup baju yang dia pakai.


Saat mereka berdua kembali dan masuk ke dalam kamar Riani, ternyata di dalam sudah ada Roro, Teddy dan Nando yang sedang mengobrol.


Perbincangan mereka terhenti saat Riani dan Bu Widya masuk ke dalam.


"Bagaimana pemeriksaannya Ai?" tanya Teddy tidak sabar.


"Alkhamdulillah...Semuanya lancar" jawab Bu Widya.


"Iya Ted, semuanya lancar kok..." Sambung Riani.


"Lalu apa yang Dokter katakan Mba?" tanya Nando.


"Dan apakah bisa kamu keluar dari rumah sakit ini?" tanya Roro.


"Kata Dokter aku sudah jauh lebih baik dan pulih, jadi aku juga bisa secepatnya keluar dari rumah sakit" jawab Riani sambil duduk di tepi ranjangnya.

__ADS_1


"Lalu kira-kira kapan Mba Riani akan keluar dari rumah sakit ini?" tanya Nando lagi dengan di barengi anggukan Roro dan Teddy yang juga ingin bertanya hal itu.


"Kata Dokter tunggu pemberitahuan selanjutya" kali ini Bu Widya ikut menjawab.


"Kalian sudah lama tiba di sini?" tanya Riani.


"Kami baru saja tiba kok An-an..." Jawab Roro.


"Ini saya sengaja membawa jus Delima kesukaan Mba Riani dari rumah" kata Nando sambil menyerahkan tas berisi botol dengan isi jus Delima di dalamnya.


"Wah...Terima kasih ya Nando, kebetulan sekali sudah tiba waktu makan siang" jawab Riani sumringah sambil menerima tas tersebut dan mengambil botolnya.


"Ini aku juga sudah membawa makanan yang kamu pesan, ayo makan mumpung masih hangat..." Kata Roro yang juga membawa nasi uli pesanan Riani yang sebelum ke ruang USG dia sempat mengirim pesan pada Roro dan minta di belikan nasi uli.


"Terima kasih banyak ya Mi-Ro" Riani segera membuka bungkusan tersebut.


"Sama-sama An-An..."


"Terima kasih banyak ya nak Roro, sudah sering di repotin Riani..."


"Sama-sama...Tidak apa-apa kok Tante"


"Ayo kalian semua juga makan, karena nak Roro membeli banyak nasi ulinya lho" lanjut Bu Widya lagi.


"Iya Tante, terima kasih..." Jawab Teddy dan Nando serempak.


Mereka pun menikmati makan siang yang di penuhi dengan suasana keakraban dan kehangatan.


Menjelang sore satu persatu merekapun pamit pulang, hanya ada Roro yang masih tinggal di sana.


"Jadi...Sebenarnya apa yang Dokter katakan mengenai kesehatanmu dan kapan kamu bisa pulang?" tanya Roro yang menyadari kalau ada yang Riani dan Bu Widya sembuyikan, namun tidak ia ungkapkan tadi, karena masih ada Teddy saat itu.


"Dokter bilang kalau Riani sudah bisa pulang besok pagi dan Tante sudah menghubungi dan memberitahu Om Rolland mengenai hal ini" Jawab Bu Widya yang sudah mulai membereskan pakaian dan barang-barang pribadi milik Riani.


"Jadi aku minta tolong padamu Mi-Ro, uruskan mengenai pengunduran diriku dan sampaikan maafku pada Teddy ya..." Ucap Riani.


"Baiklah, aku pasti akan urus semuanya, jadi kamu tidak perlu khawatir"


"Dan...Tolong nanti jangan beritahu Teddy, terutama Radja mengenai tempat tinggalku yang baru" Pinta Riani lagi.


"Tentu saja An-an, kamu tenang saja dan fokus dengan kesehatanmu dan bayi dalam kandungamu saja, oke?" jawab Roro.


"Oke, thanks ya Mi-Ro..."


Roro mengangguk tersenyum dan melanjutkan membantu bu Widya beberes.


Bu Widya tersenyum dan memeluk lembut pundak Roro, sebagai ucapan terima kasihnya.


Beberapa saat kemudian mereka berdua pun selesai membereskan dan mengepak barang-barang Riani, sehingga bila besok Riani keluar dari rumah sakit bisa langsung pergi dan tidak perlu repot lagi.


Roro dan Bu Widya pun duduk untuk beristirahat sejenak sambil mengobrol dan membicarakan mengenai rencana Riani yang akan tinggal di mana setelah keluar dari rumah sakit.


Sedangkan Riani sendiri terlihat sudah tertidur pulas di ranjangnya.


"Lalu setelah An-an keluar dari Rumah sakit apakah rencana Riani untuk tinggal di salah satu villa Om Rolland jadi Tante?"


"Sepertinya tidak jadi, karena Riani takut jika masih tinggal di daerah yang masih dekat sekitar Jakarta maka Teddy ataupun Radja akan berusaha mencari dan menemuinya" jelas tante Widya.


"Jadi maksud Tante, Riani berencana tinggal di luar daerah?"


"Ya seperti itulah..."

__ADS_1


"Lalu apakah An-an akan tinggal di sekitar kota tempat tinggal Tante?"


"Tentu saja tidak nak Roro, Tante takut jika Riani tinggal di kota tersebut, Teddy dan Radja akan tetap bisa mencari dan menemukannya, dan itu di khawatirkan akan mempengaruhi kesehatan dan kandungannya"


"Kalau begitu kalian akan tinggal di mana nantinya?" tanya Roro lagi yang mengerti kekhawatiran Tante Widya sebagai orang tua.


"Nanti jika kami sudah pasti dan menempati rumah kami yang baru, kita akan segera memberitahu kamu, karena om Rolland lah yang mengatur semuanya"


"Oo begitu..." Roro hanya manggut-manggut tanda mengerti.


"Lalu bagaimana dengan Ryan dan Lana tante?" tanya Roro lagi mengenai kedua adik laki-laki Riani.


"Maulana akan ikut tinggal dengan kami dan segera pindah sekolahnya, sedangkan Ryan karena kuliahnya sudah semester akhir dan tidak bisa di tinggalkan, jadi sementara tetap tinggal kota tersebut dan tinggal di kos-kos an dulu untuk menghindari kejaran Rajda "


"Baiklah, saya mengerti...Saya harap Tante segera menghubungi dan memberi kabar padaku jika nanti sudah berada di tempat tinggal yang baru"


"Pasti, tante pasti akan segera memberitahumu, karena Tante yakin kalau Riani juga pasti akan memberi kabar padamu, karena Tante tahu kalian bedua sudah saling terikat seperti saudara"


"Amin...Insya Allah, terima kasih banyak ya Tan karena sudah percaya padaku..." Ucap Roro terharu.


"Sama-sama nak, Tante juga sangat berterima kasih sekali padamu, karena selama ini sudah selalu berada di samping Riani, bahkan dalam kondisi terpuruknya sekalipun, kamu tetap setia berada di sampingnya dan tidak meninggalkannya, sehingga dia tidak kehilangan semangatnya untuk bertahan"


"Iya Tante, sama-sama...."


Mereka berdua pun saling berpelukan.


Setelah saling melepaskan pelukan mereka, keduanya mengalihkan pandangan mereka ke arah Riani yang baru saja mengigau dan merubah posisi tidurnya.


Roro dan Tante Widya pun saling pandang dan tersenyum merasa tenang, karena melihat Riani yang tertidur dengan wajahnya yang damai.


.............


Pagi harinya saat Riani terbangun, ternyata Om Rolland dan Nando sudah datang ke rumah sakit untuk menjemput Riani dan membawanya ke rumah yang baru.


"Kita akan tinggal di mana Om?" tanya Riani penasaran setelah dia masuk dan duduk ke dalam mobil.


"Untuk sementara ini kamu dan Ibumu tinggal di apartemen Nando selama dua hari dulu sambil menunggu orang yang Om utus untuk menjemput adikmu kembali"


"Iya Mba, setelah itu aku dan Papah akan membawa Mba dan keluarga ke tempat tinggal yang baru di Bali"


"Bali?" tanya Riani dan Ibu Widya, agak terkejut.


"Iya Mba, ke Bali"


"Kenapa harus ke Bali?" tanya Bu Widya semakin penasaran.


"Karena di Bali adalah tempat yang netral dan aku rasa Teddy juga Radja akan sulit untuk menemukan kalian" jawab Om Rolland.


"Iya Mba betul, dan kebetulan Papah juga punya Villa di sana jadi akan lebih nyaman jika kalian tinggal di sana, dan satu lagi jika kita memilih tempat yang sudah pernah Mba Riani kunjungi dan tinggali, seperti di Gili Meno dan Gili Trawangan, yang kami takutkan mereka akan menemukan Mba Riani, dan juga yang kami khawatirkan akan membangkitkan kembali ingatan kejadian yang tidak mengenakkan di hati Mba, sehingga nantinya Mba Riani justru tidak nyaman" jawab Nando menjelaskan.


"Kamu betul Nando dan juga masuk akal sekali, terima kasih banyak karena kalian sudah benar-benar menolongku dan keluargaku, hingga memikirkan sedemikian detailnya demi kebaikanku dan calon bayiku" Ucap Riani terharu.


"Iya, sama-sama" jawab Om Rolland dan Nando bebarengan.


"Ayo jalan Mang!" perintah Om Rolland pada supirnya.


"Baik Pak..."


Sang sopirpun melajukan mobilnya meninggalkan Rumah Sakit.


Sedangkan Riani hanya melihat bangunan Rumah Sakit yang mulai menjauh dari balik kaca jendela mobil.

__ADS_1


Perasaannya seolah ikut menjauh dan menghilang seiring menghilangnya bayangan bangunan tersebut...


...☆☆☆...


__ADS_2