
Setelah ketiganya memasuki ke dalam hutan, langkah Ethan terhenti dan di ikuti dua perempuan yang berjalan di belakangnya.
Mata Riani dan Viola seketika terkesima melihat bangunan mungil berdiri kokoh di tengah-tengah hutan.
Di sekelilingnya di tumbuhi berbagai tumbuhan hijau dan berbagai jenis bunga dengan kupu-kupu yang berterbangan di sekitarnya.
"Bagaimana An-an, apakah kamu suka?" tanya Ethan dengan wajah bahagianya.
"Ma...Maksud kamu Fa'i?" tanya Riani dengan tergagap dan bingung.
"Butuh waktu lama untuk menemukan tempat ini, hingga akhirnya aku menemukan tempat hampir seperti yang ada di negeri dongeng impianmu.
"Rumah di negeri dongeng?" tanya Riani, bingung.
"Iya, apakah kamu sudah lupa? dulu saat kita kecil, kita sama-sama suka baca buku cerita bergambar, aku suka cerita petualangan dan kamu suka cerita negeri dongeng, dan aku inagt sekali bahwa kamu pernah ber-keinginan untuk membangun rumah mungil yang mirip dengan rumah di negeri dongeng tersebut bila sudah besar nanti" jawab Ethan menjelaskan dan berusaha mengingatkan kembali kenangannya bersama Ethan di masa kecil dulu.
Ingatan Riani kembali di masa kecilnya saat dia berumur delapan tahun, saat dia sudah duduk di bangku Sekolah Dasar, setiap waktu istirahat sekolah dia dan Ethan pasti lebih memilih pergi ke perpustakaan untuk membaca buku cerita kesukaan mereka masing-masing.
Riani juga ingat saat dia mengatakan pada Ethan kalau dia bercita-cita membangun rumah seperti di negeri dongeng saat dia besar nanti...
Tatapan Riani kembali pada sosok pria yang sedang menatapnya penuh harap.
Ethan alias Fa'i yang sedang berdiri tegak seolah dia ingin menunjukkan bahwa dirinya kuat, namun sebenarnya jiwanya rapuh.
Riani menghela nafas panjang dan berat, hatinya sedih bila memikirkan teman masa kecilnya sekaligus cinta pertamanya itu menderita.
"Aku sudah mengingatnya, tapi.. Itu cita-citaku dan aku ingin mewujudkannya dengan hasil jerih payah dan tanganku sendiri Fa'i..." Jawab Riani akhirnya mencoba meyakinkan Ethan.
"Aku hanya ingin ikut mewujudkannya denganmu An-an, apakah tidak boleh?" tanya Ethan lagi dengan mimik wajahnya yang sedih.
"Iya, tentu saja boleh tapi...Tidak seperti ini juga"
"Aku sudah mengalihkan rumah ini atas namamu" kata Ethan sambil mengambil gulungan kertas di balik bajunya, yang sekali lihat Riani tahu kalau itu adalah sertifikat tanah.
"Tapi Fa'i aku benar-benar tidak bisa, karena ini terlalu besar bagiku..." Riani menolak menerima sertifikat tersebut, apalagi Viola yang adalah istri dari Ethan juga ada di situ, Riani merasa sangat tidak enak hati.
Dia sangat tahu persis perasaan Viola jika dia berada di posisinya saat ini, pasti akan sangat menyakitkan melihat dan menyaksikan suaminya memberi hadiah sebuah rumah pada wanita lain.
"Kalau kamu tidak mau, sobek saja sertifikat rumah ini..." Kata Ethan dengan wajah dan tatapan matanya yang terlihat kecewa, sambil menyerahkan paksa sertifikat tanah itu di tangan Riani.
Riani berniat segera mengembalikan lagi sertifikat rumah ke tangan Ethan, namun tiba-tiba Viola mencegah Riani dengan menarik kembali tangan Riani, kemudian dia menggelengkan kepalanya, dengan maksud agar Riani tidak melakukan itu.
Riani kekeh dan berniat akan tetap mengembalikannya yang menurutnya bukanlah haknya.
Namun baru saja Riani akan menyusul Ethan yang sedang berjalan masuk ke dalam rumah tersebut dengan wajah yang terlihat ngambek, kembali dia di hentikan oleh Viola, namun kali ini dengan cengkraman yang lebih kuat.
__ADS_1
Dengan bibir yang tersenyum namun wajah dan matanya yang serius, dia menganggukkan kepalanya yang seolah mengatakan kalau dia tidak apa-apa.
Belum sempat Riani berpikir lagi, tangan Viola sudah menarik Riani mengikuti langkah Ethan yang sudah masuk ke dalam rumah yang di atas pintu di beri nama "Rumah Negeri Dongeng An-an."
Saat keduanya masuk ke dalam rumah, ternyata pemandangan di dalam rumah lebih menakjubkan hingga membuat Riani dan Viola tertegun dan terbengong-bengong dengan pemandangan yang benar-benar seperti replika rumah yang ada di negeri dongeng.
"Bagaimana An-an, sama tidak seperti bayanganmu waktu kecil dulu?" tanya Ethan sambil memeluk tubuh Riani dari belakang yang membuatnya sangat terkejut dan kembali pada kesadarannya.
"Sangat bagus dan sesuai dengan bayanganku, terima kasih sekali ya Fa'i..." Jawab Riani sambil melepaskan pelukan Ethan.
Biar bagaimanapun Viola adalah istri Ethan, dan Riani harus bisa menjaga perasaannya, meskipun Viola secara tidak langsung mengatakan tidak apa-apa, tapi dalamnya perasaan seseorang tidak ada yang tahu...
"Maaf...Kalau begitu saya tunggu di luar saja, biar ada waktu buat kalian..." Pamit Viola dengan senyuman yang di paksakan.
Riani berniat mencegah Viola keluar dari rumah, namun dengan segera Ethan menghentikannya dan menarik tangan Riani hingga tumbuhnya kembali dalam pelukan Ethan.
"Fa'i kamu jangan begini...Kamu kan sudah tahu kalau aku sudah bersuami, kalau kamu seperti ini terus, aku tidak akan menerima rumah ini dan tidak akan bisa datang ke sini..." Ancam Riani menjalankan strateginya untuk berjaga-jaga agar tidak terjadi sesuatu yang tidak dia inginkan.
"Iya baiklah, aku tahu dan aku tidak akan macam-macam selama kamu masih berstatus istri orang, tapi aku akan tetap menantimu sampai kapanpun An-an..." Kata Ethan sambil memeluk semakin erat tubuh Riani, kemudian melepaskan pelukannya setelah mengecup lembut kepala Riani.
"Terima kasih atas pengertianmu..."
"Tapi kamu harus janji padaku, selama kita berdua di sini, di rumah ini aku ingin kamu selalu menemaniku..."
"Tapi saat ini aku sedang di tunggu kakek dia yang akan menjemputku tadi"
"Kalau begitu aku antar kamu menemui sekaligus ijin pada kakek kamu, bagaimana?"
"Panjang umur, baru saja aku membicarakannya, Pekak sekarang menelponku..." Bisik Riani dalam hati, setelah melihat layar ponsel dan tahu pekak meneleponnya.
"Nak kamu sekarang di mana, Pekak cari-cari di toko tapi tidak kamu tidak ada di sana?" tanya Pekak dengan nada suara yang penuh kekhawatiran.
"Riani minta maaf sekali karena tidak memberitahu Pekak terlebih dahulu...Tadi di toko Riani bertemu dengan teman Riani dan langsung di ajak dia ke rumahnya, sekarang Riani ada di rumahnya"
"Tidak apa-apa nak, asalkan kamu baik-baik saja pekak sudah tenang, hubungi Pekak lagi jika nanti nak Riani akan pulang..."
"Iya Pekak, maaf...Sudah merepotkan"
"Tidak apa-apa nak, kalau begitu pekak ke rumah wak Made dulu, jangan lupa hubungi Pekak kalau sudah mau pulang"
"Iya pekak, hati-hati..."
Setelah Pekak menutup teleponnya, Riani mematikan teleponnya.
"Siapa yang menelpomu?" tanya Ethan yang sudah duduk di kursi dekat jendela sambil menatap keluar jendela dengan pemandangan hutan dan laut yang memanjakan mata.
"Kakekku, dia dari tadi cemas menungguku, sepertinya aku harus pulang"
__ADS_1
"Bisakah kamu menemaniku duduk sebentar di sini An-an? setelah itu kamu boleh pulang, aku janji"
"Baiklah, aku temani kamu sebentar"
Riani berjalan menuju ke arah Ethan yang sedang menatapnya syahdu, kemudian dia duduk di samping Ethan.
Keduanya hanya saling terdiam sambil menatap goresan Tuhan yang yang saling beradu keindahan.
"Andai kita bisa selalu seperti ini hingga sampai tua ya An-an..." Bisik Ethan lirih.
Belum sempat Riani menjawab, tiba-tiba kepala Ethan terjatuh dan bersandar di pundak Riani yang membuatnya terkejut.
Dan saat dia melihat dengan seksama ke arah wajah Ethan, ternyata dia tertidur dengan pulasnya.
"Wajah yang tenang seperti inilah, yang aku inginkan Ethan...Aku mohon jangan ada derita lagi di hatimu, segeralah sembuh dan berbahagialah dengan hidup yang sedang kamu jalani, sehingga aku bisa tenang melepasmu..." Bisik Riani dengan deraian air mata sambil mengecup lembut kepala Ethan.
Setelah dia menunggu beberapa saat dan yakin Ethan masih tertidur dengan pulasnya, dengan pelan di letakkannya kepala Ethan di sandaran kursi tempat Ethan duduk.
Kemudian dia masuk ke dalam salah satu ruangan yang ternyata kamar tidur, segera di carinya selimut di dalam lemari pakaian dan saat di buka ternyata sudah tergantung berbagai model baju wanita dengan merk ternama, Riani langsung menyadari kalau kamar ini telah di persiapkan Ethan khusus untuknya, karena saat dia melihat di sekeliling kamar, berbagai pernak pernik dan barang-barang kesukaan Riani tertata dengan rapi.
Dan ada dua foto dengan ukuran besar dan berbingkai emas dengan ukiran yang indah terpajang di sana.
Seketika Riani menangis sejadinya, namun dengan segera tangannya menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara keras yang bisa membangunkan tidur Ethan.
Dua foto yang membuat Riani menangis adalah foto dirinya dengan Ethan saat remaja, dan mereka resmi menjadi sepasang kekasih, dan foto kedua adalah dirinya, ayahnya dan Ethan saat keduanya berumur lima tahun, tepatnya saat mereka rekreasi bersama ke kebun binatang di foto tersebut Riani kecil di gendong di atas pundak ayahnya, sedangkan Ethan berdiri di depan ayah Riani yang sedang posisi jongkok dan merangkul hangat pundak Ethan.
Ketiganya berfoto dengan bibir tersenyum bahagia.
"Maafkan aku Ethan...Tidak seharusnya aku membencimu yang ayahku sendiri sangat menyayangimu...Kepergiannya telah membutakan ku dan menyalahkanmu atas kesalahan kedua orang tuamu..." Kata Riani dengan suaranya yang lirih di sela-sela tangis sesenggukkannya...
.............
Setelah tangisnya reda dan menata hatinya kembali hingga tenang, kemudian dia melanjutkan kembali mencari selimut untuk Ethan.
Akhirnya selimut di temukan, Riani kemudian mengambil selimut tersebut dan membawanya ke arah ruang tamu, di mana Ethan sedang tertidur.
Sesampainya di ruang tamu di lihatnya Ethan masih tertidur pulas.
Riani mendekatinya kemudian dengan pelan dia menyelimuti tubuh Ethan.
Di tatapnya kembali wajah gagah berkumis tipis di depannya itu.
Di elusnya lembut kepala Ethan kemudian dia membisikkan lembut kata-kata di telinga Ethan...
" Tidurlah dengan nyenyak dan ketenangan hatimu, karena aku ingin saat kamu bangun nanti, jadilah seorang Ethan, yang selama ini aku kenal, aku menantikannya, biarkanlah Fa'i tetap hidup di kenangan masa kecil kita dulu..."
Setelah Riani selesai, dia segera meninggalkan ruangan tersebut dan berjalan menemui Viola yang menunggunya di luar.
__ADS_1
Angin mulai berhembus dingin, seolah mengiringi hati nelangsa dua orang perempuan saat ini...
...☆☆☆...