KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
TETAP TEGAR


__ADS_3

Yacht 'Angsa' pun telah sampai dan bersandar di pelabuhan buleleng Bali.


Penumpang yang berada di dalamnya keluar satu persatu termasuk Riani, sedang kan tim dokter pribadi dan tim medis yang sebelumnya sempat Viola hubungi segera masuk ke dalam yacht 'Angsa' setelah mendapat komando langsung dari Viola.


Sementara yang lainnya menunggu di pelabuhan.


Tim medis membawa keluar Ethan yang masih tertidur pulas karena pengaruh obat bius yang Viola suntikkan sebelumnya.


Dengan menggunakan tandu, tim medis membawa Ethan masuk ke dalam mobil ambulance, sedangkan Riani memandang pedih sekaligus iba melihat tubuh lemas Ethan yang tak berdaya di bawah pengawasan tim medis.


Kejadian yang barusan Riani alami dengan perbuatan Josh alias Ethan meninggalkan trauma tersendiri di hati Riani.


Riani tahu kalau dia tidak bisa menyalahkan Ethan sepenuhnya, karena saat kejadian itu terjadi dia sedang menjadi kepribadian yang lain yaitu Josh.


Akan tetapi tetap saja ada perasaan marah pada Ethan, karena meskipun saat itu bukanlah pribadi asli dari Ethan, tapi tetap saja wujud fisiknya adalah Ethan.


Riani berpikir bagaimana bersikap jika kelak bertemu dengan Ethan, sedangkan dia sudah berjanji pada Viola dan dirinya sendiri untuk membantu kesembuhan Ethan.


Namun semenjak kejadian itu, terbesit ketakutan di hati Riani, jika nanti saat membantu Ethan muncul sosok Josh.


"Ai, ayo kita berangkat sekarang" ajak Teddy sambil membingbing Riani berjalan menuju parkiran taksi.


Sedangkan Arga, Zoya dan Randi mengikuti mereka dari belakang.


Dengan menggunakan dua taksi, mereka menuju ke bandara.


.............


Setelah beberapa waktu perjalanan, mereka akhirnya sampai di bandara internasional Ngurah Rai.


Saat mereka berlima masuk ke dalam bandara ternyata Pekak dan Dadong sudah menunggu mereka dengan koper milik Riani sudah berada di samping mereka.


"Dadong, Pekak..."


Panggil Riani lirih sambil memeluk kedua orang sepuh yang sudah dia anggap keluarganya sendiri itu.


Perlahan Riani melepaskan pelukannya, Dadong melihat mata Riani basah dengan air mata.


"Kenapa menangis putu, ada apa?" tanya Dadong sambil mengusap penuh kasih sayang wajah Riani yang basah, dengan sapu tangan yang Dadong bawa.


"Iya Putu, ada apa? ceritakanlah pada Pekak dan Dadongmu ini..."


"Tidak apa-apa Pekak, Dadong...Hanya saja Riani kangen sekali dengan kalian dan juga sedih karena sebentar lagi Riani akan kembali ke Jakarta dan berpisah dengan kalian semua..."


"Jangan bersedih putu, nanti kan kamu bisa datang lagi ke sini dan kami semua akan selalu menyambutmu, pintu rumah kami juga akan selalu terbuka untukmu..." Jawab Dadong sambil kembali memeluk Riani, namun pelukan kali ini lebih erat seolah tidak rela melepas kepergian Riani, itu bisa Riani rasakan dalam pelukan penuh kehangatn tersebut.


Zoya menangis sedih sekaligus terharu melihat Riani dan Dadong yang saling berpelukan.


Melihat Zoya yang menangis Arga memberi dukungan dengan memeluk pundak Zoya, tanpa sadar Zoya menyandarkan kepalanya di dada bidang Arga.


Setelah melepas pelukan Riani dan melihat adegan tersebut, dia pun tersenyum dan mengedipkan matanya penuh arti pada Arga.


Arga yang melihat reaksi Riani hanya menundukkan kepalanya dengan wajahnya yang memerah karena malu.


Teddy berjalan mendekati Riani yang masih bergelanyut manja di tangan Dadong.


"Ai, sudah saatnya kita check in"


"Baiklah...Pekak, Dadong, Riani pamit check in dulu ya..."


"Iya putu..." Jawab Dadong dan Pekak bersamaan.


Riani dan Teddy berjalan ke bagian check in dan mengantri di sana, dan saat mereka sedang menunggu antrian, ternyata mereka bedua bertemu dengan om Rolland dan Nando yang juga sedang mengantri untuk check in.


"Hai! kalian balik ke Jakarta hari ini juga?" tanya om Rolland sambil memeluk Teddy, di susul Nando yang juga melakukan hal yang sama pada Teddy.


"Apa kalian sudah bertemu sebelumnya?" tanya Riani yang bingung, karena setahu dia, hanya dia, Arga dan Pekak saat mengadakan pertemuan di rumah om Rolland untuk membicarakan kerjasama usaha restoran mereka.

__ADS_1


"Papahku dengan mamahnya bang Teddy berteman, jadi kami sudah saling mengenal sejak kecil" jawab Nando menjelaskan .


"Oo begitu..."


Perbincangan mereka terhenti karena sudah tiba giliran mereka untuk check in terlebih dahulu.


Setelah Teddy dan Riani selesai check in, kemudian keduanya bersama om Rolland dan Nando kembali menemui Pekak dan Dadong juga yang lainnya.


Om Rolland dan Pekak langsung berpelukan, mereka terlihat sangat dekat, lebih dari sahabat.


"Kamu jadi pulang juga Gus, kirain kamu berat untuk ninggalin istri kamu itu di rumah..." Canda Pekak, karena yang di maksud pekak istri adalah sepeda ontel kesayangan om Rolland.


"Ya...Mau gimana lagi Bli, dia maunya tinggal di rumah saja, tidak mau ikut aku ke Jakarta..." Balas om Rolland bercanda.


"Kalian berdua kalau sudah bertemu, mulai deh konyolnya..." Kata Dadong tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Iya tuh Dadong, papah kalau sudah bertemu teman lama ya seperti itu konyolnya" sambung Nando setelah mencium punggung tangan Pekak dan Dadong.


"Ya namanya juga kita jarang sekali bertemu Mbok (panggilan untuk kakak perempuan dalam bahasa Bali), jadi sekali ketemu ya kangen-kangenan, apalagi sekarang kita akan berpisah lagi..." Jawab om Rolland wajah memelas, mode akting on.


Melihat wajah om Rolland, semuanya pun langsung tertawa.


Suara panggilan dari petugas public information service mengumumkan penerbangan menuju ke Jakarta dalam setengah jam lagi akan berangkat.


Teddy, Riani, Nando dan Om Rolland pun segera berpamitan dengan para sahabat mereka.


Dadong kembali memeluk Riani dengan erat.


"Jaga diri dan kesehatanmu baik-baik ya Nak..." Bisik Dadong, dengan ekspresi wajahnya yang sedih.


Riani mengangguk dan berusaha menahan air matanya.


"Iya Dadong, Riani pasti akan jaga diri dan kesehatan, Dadong dan Pekak juga harus jaga kesehatan..." Kata Riani sambil bergantian memandangi wajah Pekak dan Dadong.


"Iya Nak, dan jika kamu ingin kembali bertandang ke sini, pintu rumah kami selalu terbuka untukmu..." Sambung Pekak.


"Iya Nak sama-sama..." Dadong mengelus lembut kepala Dadong, semua yang melihat keakraban penuh kasih sayang tersebut tersenyum terharu, tidak terkecuali Zoya yang menangis haru melihat Dadongnya sangat menyayangi Riani.


Riani berjalan menghampiri Zoya dan Randi.


"Terima sekali untuk semuanya ya, aku pasti akan kangen dengan manjamu Zoya dan perhatianmu Randi..." Kata Riani sambil menyalami dan memeluk Zoya dan Randi secara bergantian.


Randi hanya mengangguk sambil menahan kesedihannya, sedangkan Zoya tangisnya langsung pecah dan kembali memeluk Riani dengan eratnya.


"Sudah...Sudah Zoy, kasihan mba Riani, nanti dia berat untuk pulang..." Kata Arga, sambil menepuk-nepuk lembut pundak Zoya.


"Tapi aku sedih jika ingat akan lama untuk bisa bertemu dengan kak Riani lagi..." Jawab Zoya tidak mau melepaskan pelukkannya dan merajuk.


"Nanti kalau sekolah kamu libur panjang, kita main ke Jakarta menjenguk mba Riani bagaimana?" bujuk Arga.


"Benarkah? kalau begitu baiklah...Tapi kamu harus janji ya?"


"Iya aku janji kok..."


"Lagi pula kita kan juga ada proyek bersama, jadi nanti akan sering-sering bertemu" kata Teddy mencoba membantu meyakinkan Zoya agar tenang hatinya.


"Betul itu..." Sambung Arga dan om Rolland bebarengan.


"Baiklah kalau begitu Zoya bisa tenang, karena nanti masih bisa bertemu dengan kak Riani"


Zoya melepaskan pelukkannya, semua orangpun langsung menarik nafas lega, meski Zoya menginjak usia dewasa, namun karena trauma di masa kecilnya membuat orang-orang yang berada di sekitarnya sangat menjaga perasaannya dan memanjakannya.


"Aku titip Zoya ya Ga, ajari dia terus untuk bisa pelan-pelan melepaskan trauma di masa lalunya"


"Iya mba, pasti aku akan jaga dia dan ajari dia sepenuh hatiku"


"Kamu ngomong apaan sih kak Arga..."

__ADS_1


Wajah Zoya seketika wajahnya memerah karena malu, kemudian dia mencubit jengkel lengan Arga.


"Aduh! iya...Iya maaf..."


"Kalau begitu, semuanya kami berangkat dulu" pamit om Rolland mewakili Teddy, Riani dan Nando.


"Iya Gus, tolong bantu aku jaga mereka berdua ya Gus" jawab Pekak sambil kembali memeluk dan berjabat tangan dengan om Rolland.


Setelah semuanya sudah di pamiti, mereka berempat segera berjalan menuju ke boarding room.


.............


Sesampainya mereka di boarding room, mereka ber-empat sibuk dengan ponsel mereka masing-masing.


Terlihat Nando mencoba menghubungi seseorang yang mungkin special, karena dari ekspresi wajahnya yang bahagia dan nada bicaranya yang lembut, orang mungkin tidak akan menyangka jika wajah yang tersenyum dan tertawa itu bisanya terlihat dingin dan kaku.


Om Rolland sendiri terdrngar sedang menghubungi supirnya untuk menjemput mereka sesampainya di bandara Internasional Soekarno-Hatta.


Sedangkan Teddy sedang sibuk bicara dengan asistennya yang berada di lombok untuk menghandle pekerjaannya selama dia berada di Jakarta.


Riani sendiri sedang berusaha menghubungi Roro sahabatnya dan Radja suaminya, akan tetapi ternyata Roro tidak mengangkat panggilannya, mungkin dia masih sibuk dengan pekerjaannya, sedangkan Radja nomornya tidak aktif semenjak Riani menghubunginya terakhir kali.


Riani sibuk dengan pikirannya yang galau karena suaminya sudah lama tidak ada kabar lagi, apalagi nomornya yang tidak aktif, sedangkan pembicaraan terakhir kalinya dengan dengan Radja baik-baik saja dan sepakat untuk memperbaiki hubungan mereka juga berniat bertandang ke rumah orang tua Radja.


Tiba-tiba Riani mendengar suara Teddy yang sangat terkejut, setelah mengangkat panggilan di ponselnya.


Setelah selesai berbicara di ponselnya, Teddy segera berjalan ke arah Riani yang sedang menatapnya dengan ekspresi wajah penuh tanya.


"Ada apa Ted?" tanya Riani


"Mamahku masuk Rumah Sakit Ai..."


"Kalau begitu nanti sesampainya di bandara kamu langsung ke rumah sakit saja, tidak perlu mengantarku"


"Tapi aku mengkhawatirkanmu Ai..."


"Tapi aku lebih mengkhawatirkan mamah kamu Ted, aku bisa pulang sendiri kok"


"Tapi Ai..."


"Biar nak Riani kami yang antar, kamu tidak perlu khawatir, yang paling penting kamu jenguk mamah kamu, setelah aku mengantar dia om juga akan menjenguk mamah kamu" kata om Rolland menawarkan bantuan.


"Iya bang Teddy, kami pasti akan mengantar mba Riani sampai rumahnya dengan selamat, jadi bang Teddy bisa tenang" sambung Nando.


"Baiklah kalau begitu, terima kasih banyak om"


"Iya sama-sama Ted..."


"Terima kasih dan maaf sudah merepotkan kalian..."


"Tidak apa-apa kok mba..." Jawab Nando.


Panggilan untuk segera masuk ke dalam pesawat pun kembali terdengar.


Mereka ber-empat pun segera masuk ke dalam pesawat.


Beberapa menit kemudian pesawat pun mengudara meninggalkan Bandara International Ngurah Rai.


Pandangan Riani menatap keluar jendela pesawat.


Angannya kembali mengulang perjalanan liburannya selama hampir dua minggu lebih itu, namun banyak cerita yang dia alami selama itu, entah itu cerita bahagia, cerita duka ataupun cerita baru.


Namun tetap saja semua itu sangat berkesan dan membekas di hatinya.


Kini dia meninggalkan semuanya di pulau tiga Gili yang penuh kenangan itu, karena baginya semua yang terjadi pada dirinya di tiga gili tersebut akan lebih membuatnya untuk tetap tegar menghadapi semua itu...


...☆☆☆...

__ADS_1


__ADS_2