
Menjelang malam Randi pamit pulang, dia memilih untuk menginap di rumah salah satu temannya yang jaraknya tidak jauh dari resort X.
Sedangkan Riani setelah di antar Randi sampai resort langsung pergi mandi.
Setelah merasa segar sehabis mandi, Riani merasa lapar.
Terlintas di pikirannya ke restoran untuk makan malam, karena di resort X ternyata pengguna black card termasuk Riani mendapat makan pagi dan makan malam yang mewah juga mahal, dan semua free.
Baru saja Riani keluar dan menutup pintu kamarnya, tiba-tiba Randi sudah berdiri di belakangnya yang otomatis saat Riani membalikkan badannya membuatnya terkejut.
"Randi! kamu...Kaget aku"
"Maaf mba Riani, sudah membuatmu terkejut..."
"Tidak seperti kamu yang biasanya Ran, sebelum ingin bertemu denganku, kamu selalu memberitahuku dengan menghubungiku terlebih dahulu?"
"Iya mba maaf...Kalau kedatanganku mendadak dan tidak memberitahu terlebih dahulu, ini juga karena teman kuliah dulu, mendadak mengundang saya reuni dan makan malam di hotel ini..." Jawab Randi menjelaskan alasannya, karena merasa tidak enak hati pada Riani
"Oo..." Singkat jawaban Riani dan menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Begini mba, sebenarnya maksud saya datang ke sini juga karena mau minta tolong sama mbak, kira-kira bisa tidak ya mbak?" tanya Randi ragu-ragu.
"Kamu ingin aku bantu apa dulu?" tanya Riani penasaran.
"Mbak Riani mau tidak bantu saya datang dan mendampingi saya di acara reuni teman kuliah saya?" jawab Randi hati-hati.
"Oke, lalu baju apa yang harus aku pakai untuk ke pesta reuni kamu, karena jujur, aku tidak bawa baju pesta kayaknya...?"
"Baju formal biasa saja mbak, lagian acaranya juga bukan acara besar, cuma beberapa teman saja, cuma memang di haruskan membawa pasangan..."
"Oke kalau begitu jadi lebih mudah dan cepat, kamu tunggu saja di lobi, aku mau ganti baju dulu..."
"Baik mbak, terima kasih sudah mau membantu saya..."
"Sama-sama, anggap saja aku menolong adik dan keluargaku sendiri, jadi...Tidak perlu sungkan begitu..." Jawab Riani enteng.
"Oo baiklah, sekali lagi terima kasih mbak sudah menganggap saya seperti keluarga sendiri..."Jawab Randi dengan senyum canggungnya.
"Dan lagi, mulai sekarang kalau bicara denganku jangan terlalu formal, kan kita sekarang keluarga..." Kata Riani lagi sambil menepuk pundak Randi dan berlalu masuk ke kamarnya untuk berganti baju, sedangkan Randi yang di tinggalkan masih berdiri depan pintu hanya mengangguk dan tersenyum yang berlahan seyumnya pudar berganti kesedihan seiring menghilangnya Riani di balik pintu kamarnya.
.............
Hanya butuh setengah jam Riani berganti baju dan merias tipis wajahnya.
Riani memakai baju yang kebetulan dia beli saat di Bali, baju style ala korea di padu padan dengan riasan tipis dan warna lembut di wajahnya.
__ADS_1
Dia pun segera berjalan menuju lobi di mana Randi sedang menunggunya.
Sesampainya di lobi terlihat olehnya Randi juga sudah berganti bajunya, pria yang sudah ia anggap adiknya sendiri terlihat gagah dengan baju stelan yang modis tapi santai.
Randi yang melihat kedatangan Riani, sejenak terkesima dengan penampilan Riani yang sangat berbeda dengan yang biasanya yang dia lihat sehari-hari, dia terlihat lebih anggun dan cantik saat berdandan.
Lambaian tangan Riani padanya seketika membuyarkan pandangannya yang dari tadi melekat tidak berkedip pada Riani.
Senyum Riani padanya semakin membuatnya terpesona, dengan sigap Randi tersenyum sambil berjalan menyambut Riani.
Setelah mereka bertemu, Riani langsung menggandeng lengan Randi.
"Mbak Riani, malam ini kamu sangat cantik, terima kasih sudah mau membantuku..." Kata Riani agak berbisik di telinga Riani.
"Senang bisa membantumu..." Jawab Riani sambil tersenyum, karena senang mendengar Randi sudah tidak bicara formal lagi padanya, yang menandakan kalau Randi sudah bisa menerima kalau Riani menganggapnya sebagai adik.
Keduanya segera menuju ke hall yang berukuran sedang, sesampainya di sana ternyata para tamu juga sudah berkumpul.
Melihat kedatangan mereka berdua salah satu teman Randi dengan penampilannya yang parlente dengan teman wanitanya yang berpenampilan seksi menghampirinya.
"Akhirnya kamu datang juga Bro!" katanya, mereka berpelukan sebentar dan menepuk pundak masing-masing sebagai bentuk saling menyapa.
"Perkenalkan dong Ran, Siapa wanita cantik yang ada di sampingmu itu..." Kata teman Randi itu dengan gaya tengilnya sambil melirik ke arah Riani.
"Hallo, perkenalkan saya Riani..." Jawab Riani sambil mengulurkan tangannya ke arah temannya Randi itu.
"Wow...Riani, Randi! nama yang serasi, sepasang dan cocok banget, maaf...Saya Alex dan dia Nindi, pacar saya" jawab teman Randi yang bernama Alex tersebut, sambil menjabat tangan Riani.
"Kamu itu Lex, jangan bicara sembarangan..."
"Oo sorry Bro..."
"Hallo, senang bertemu dengan anda" kata Riani sambil gantian menjabat tangan Nindi.
"Hallo, senang juga bisa bertemu dengan anda" jawab Nindi dengan senyum manis dan ramahnya.
"Selamat bergabung di acara reuni kami!" kata Alex dengan suara kerasnya sambil mepersilahkan Randi dan Riani untuk bergabung dengan rekan-rekannya yang sudah menikmati jamuan makan malam.
Randi dan Riani segera bergabung dengan mereka, satu persatu Randi memperkenalkan pada Riani teman-teman kuliahnya dulu.
Dengan sifat Riani yang supel dan mudah bergaul dia pun bisa berbaur dengan teman-teman Randi yang umurnya jauh di bawahnya.
Melihat Riani yang ngobrol sambil tertawa lepas dengan yang lainnya, Randi sangat bahagia karena Riani bisa membaur dengan teman-temannya.
Suasana pesta makan malam pun semakin seru dengan berbagai permainan.
__ADS_1
Hingga jam telah menunjukkan pukul sebelas malam, acara pun selesai dan para tamu membubarkan diri.
Randi dan Riani tidak langsung pulang dulu, mereka berniat untuk jalan-jalan sebentar menikmati kehidupan malam di sekitar resort X.
Mereka berdua menyusuri jalan sekitar hotel sambil mengobrol santai.
"Bagaimana kesan-kesan mbak Riani setelah bertemu dengan teman-temanku?" tanya Randi.
"Mungkin karena mereka masih tergolong usia muda jadi enjoy saja dan welcome banget..."
"Aku juga minta maaf ya mbak, kalau sikap Alex seperti itu..."
"Tidak apa-apa kok, mungkin memang sudah pembawaannya seperti itu, tapi ku rasa dia bukan tipe pria nakal, karena ku lihat dia sangat menghargai wanita..."
"Dulu, dia tidak seperti itu, saat kuliah dia sosok yang pendiam dan hanya mempunyai beberapa teman saja, termasuk aku, dia mahasiswa terpintar di Universitas kita, namun semenjak ayahnya di penjara gara-gara membunuh selingkuhannya yang ketahuan selingkuh, dan ibunya yang bunuh diri karena terlalu shock dengan semua kejadian itu, dan setelah kejadian itulah dia berubah total seperti yang mbak Riani lihat sekarang ini.
"Tapi aku tahu dia hanya dari dari luarnya seperti itu, tapi tidak dalam hatinya tidak, karena aku lihat dia memperlakukan Dini dengan sangat lembut..."
"Itu mungkin karena dia sangat menyayangi mendiang ibunya, dan merasa sangat kehilangan"
"Ya...Jika kita kehilangan orang yang sangat kita sayangi, pasti akan merubah segalanya, entah akan lebih baik atau lebih buruk..."
"Betul sekali, aku sangat setuju, dan kehilangan orang yang kita sayangi akan meninggalkan kesedihan dan trauma, contohnya aku dan Zoya, kita melihat secara langsung saat kedua orang tua kita lebih memilih menyelamatkan kami dan rela di gulung banjir bandang hingga menghilang dari pandangan kita berdua, itu membuat kita hingga sampai sekarang trauma melihat ombak besar dan berenang..." Kata Randi menceritakan pengalaman sedihnya dengan mata menerawang jauh ke arah laut lepas.
"Jadi itu alasan kalian tidak mau aku ajak berenang dan snorkeling saat di Gili Meno waktu itu?" tanya Riani ingat kejadian waktu itu.
"Betul mbak..."
"Maaf, waktu itu aku tidak tahu dan aku juga ikut prihatin atas meninggalnya orang tua kalian..."
"Tidak apa-apa mbak, dan terima kasih sudah mau mendengar ceritaku..."
"Justru aku senang jika kamu mau berbagi cerita denganku..."
"Lalu...Apa mbak Riani juga mau berbagi cerita denganku?" tanya Randi memancing Riani.
"Kapan-kapan saja, aku pasti cerita padamu, tapi...Untuk sekarang ini aku belum siap, maaf ya Ran..."
"Tidak apa-apa mbak, aku tidak akan memaksa"
Keduanya berhenti di pinggir pantai, mereka berdua menatap lautan di depannya yang gelap bercahayakan bintang dan lampu perahu nelayan.
Angin berhembus kencang, melihat Riani kedinginan Randi berinisiatif memberikan dan memakaikan jasnya pada tubuh Riani, dia tersenyum pada Randi.
"Terima kasih..." Ucap Riani, Randi mengangguk dan tersenyum lembut.
Keduanya kembali menatap ke laut dan tenggelam dalam hati dan pikiran mereka yang menela'ah trauma hidup yang mereka alami masing-masing...
__ADS_1
...☆☆☆...