
Dengan lembut tante Grace kembali menggenggam lembut kedua telapak tangan Riani.
"Tante sangat berterima kasih sekali karena kamu sudah mau menemui tante dan menegaskan hubunganmu dengan Ethan, kita memang harus ikhlas dan menerima keadaan masa lalu sebagai napak tilas kehidupan kita untuk kehidupan selanjutnya, sekali lagi terima kasih ya nak..." Ucap tante Grace, Riani tersenyum dan mengangguk sebagai tanda setuju dengan perkataan tante Grace.
Kemudian mereka berdua akhirnya saling berpelukan hangat, melepaskan penyesalan, kebencian dan dendam di masa lalu.
Hati tante Grace merasa lega meski dia tahu kalau Riani belum sepenuhnya memaafkan dia terutama suaminya, namun dia sudah sangat bersyukur karena dia sudah merasa kalau hati Riani sekarang sudah melunak.
Sedangkan di sisi hati Riani, dia merasa kini sudah tidak ada beban lagi di hatinya.
Kebencian dan dendam masa lalu kini sudah berangsur-angsur menghilang.
Mungkin memang dia mulai saat ini harus belajar untuk ikhlas menerima kenyataan kehilangan dua orang yang sangat ia cintai, yaitu ayahnya yang Riani sangat yakin kalau ayahnya tidak ingin ada dendam dan kebencian setelah kepergiannya.
Kemudian Ethan, pria yang dulu pernah dia cintai dan kasihi sebagai cinta pertamanya, kini dia harus rela kalau pria masa remajanya dulu sudah bukan jodohnya kini dan bersanding hidup dengan wanita lain.
Pertemuan mereka kembali setelah belasan tahun tidak berjumpa, menentukan takdir lain antara dia dan Ethan, karena keduanya sudah saling memiliki pasangan masing-masing.
Mungkin memang takdir sedang mempermainkan mereka, namun apapun yang terjadi, kehidupan harus tetap berjalan...
.............
Setelah saling melepas pelukan, tante Grace dan Riani memutuskan untuk pergi dari tempat tersebut dan kembali ke restoran tadi.
Sesampainya di restoran tante Grace berniat akan menemui koleganya dan dia mengajak Riani untuk ikut, namun Riani tolak dengan sopan.
Keduanya berpisah di halaman restoran tersebut, tante Grace segera masuk ke dalam restoran untuk menemui koleganya, sedangkan Riani mencari Pekak yang katanya menunggu di sekitar tempat itu.
Akhirnya Riani menemukan Pekak, di lihatnya dia sedang mengobrol dengan pria muda yang tidak asing bagi Riani, namun samar-samar dia mengingatnya.
Di hampirinya mereka berdua yang sedang duduk dan asyik mengobrol.
"Kamu sudah selesai putu?" tanya Pekak setelah menyadari kedatangan Riani.
"Sudah Pekak..."
"Kamu sudah kenal dengan putu Arga kan nak?"
"Ah iya! Riani sudah kenal dan familiar dengan wajahnya tapi Riani lupa dengan namanya, maaf ya Arga..."
"Tidak apa-apa mbak, santai saja..." Jawab Arga dengan senyum manisnya.
"Kalau tidak salah kamu anaknya Wak Made dan kita pernah bertemu di restoran kalian kan?" tanya Riani memastikan.
"Mbak Riani betul sekali" jawab Arga kali ini dengan senyum sumringahnya.
"Apa kita kembali ke rumah sekarang putu?" tanya Pekak pada Riani.
__ADS_1
"Tidak perlu buru-buru, Pekak dan Arga lanjutkan saja dulu obrolan kalian, Riani akan beli sesuatu dulu di toko sekitar sini" jawab Riani bermaksud memberi waktu pada calon cucu mantu dan Pekak untuk melanjutkan obrolan mereka.
"Apa perlu pekak antar?"
"Tidak perlu Pekak, lagi pula tokonya dekat dari sini kok, terima kasih" tolak Riani sambil menunjuk ke arah toko yang memang terlihat dari tempat mereka.
"Baiklah, kalau begitu hati-hati ya putu..."
"Iya Pekak, kalau begitu Riani pergi dulu, Arga aku pamit dulu ya, kamu lanjutkan saja obrolanmu dengan Pekak" ucap Riani pada Arga.
"Iya mbak, hati-hati"
Riani mengangguk, kemudian dia segera berjalan menuju ke arah toko seberang jalan.
.............
Setelah Riani rasa barang yang dia butuhkan sudah terbeli semua, kemudian Riani mengantri di kasir untuk membayar, bawaannya yang berat memaksanya untuk meletakkan belanjaannya di lantai.
Lumayan lama Riani berdiri menunggu antrian, hingga akhirnya giliran dia tiba, namun saat dia akan mengambil dan mengangkat barang belanjaannya, sosok Ethan yang entah sejak kapan dan datang dari mana tiba-tiba sudah ada di samping Riani dan langsung membantu mengangkat barang belanjaannya.
"Ethan?! kenapa kamu bisa ada di sini? berikan padaku, aku bisa bawa sendiri kok!" kata Riani sambil berusaha mengambil kembali barang belanjaannya dari tangan Ethan.
Namun dengan gerakan yang cepat Nathan menolak dan mengelak tanpa berkata satu katapun, dia segera berjalan menuju kasir meninggalkan Riani yang masih berdiri bengong menatap Ethan.
Riani segera tersadar dari bengongnya saat dia mendengar suara kasir yang mengatakan sejumlah uang untuk membayar barang belanjaannya, dengan segera dia berjalan menuju kasir di mana Ethan sedang berdiri di depan kasir.
Riani hanya bisa diam tak bergeming, karena selain dia tidak ingin berdebat dengan Ethan di tempat yang ramai dengan pembeli, tapi juga Riani takut jika dia terlalu memaksa menolak bantuan Ethan akan membuat keadaan mentalnya tidak stabil dan akhirnya akan memicu pribadi lainnya muncul.
Setelah Ethan membayar ke kasir, kemudian dia pergi keluar toko dengan menggandeng paksa tangan Riani dengan tetap tidak berkata satu patah katapun.
Riani hanya pasrah mengikuti langkah Ethan yang menarik tangannya keluar toko dan berjalan menjauhi tempat di mana Pekak dan Arga sedang ngobrol menunggunya.
Riani merasa tidak nyaman dan was-was saat Ethan membawanya ke tempat yang jauh dari keramaian.
"Kamu mau membawaku kemana?" tanya Riani khawatir.
"Aku akan membawamu ke suatu tempat An-an..."
Hati Riani seketika bagaikan di sambar petir saat mendengar Ethan memanggil namanya dengan sebutan An-an, yang berarti pribadi lain dari Ethan yang bernama Fa'i telah muncul.
"Tapi bukankah tante Grace bilang Fa'i sudah tidak muncul lagi semenjak mengenal Viola?" batin Riani berkata pada diri sendiri.
Tapi saat Riani amati dengan seksama, pribadi Fa'i ini tidak berperilaku layaknya anak kecil seperti yang di bilang oleh tante Grace, dia justru cenderung bersikap seperti laki-laki dewasa, sama seperti saat dia dan Ethan bertemu di salah satu tempat sewaktu mereka ada di Gili Air.
Sedang seriusnya Riani mengamati Ethan, tiba-tiba Ethan menghentikan langkahnya, yang seketika Rianipun menabrak tubuh Ethan di depannya.
Di ikutinya tatapan Ethan ke arah depan, dan alangkah terkejutnya dia saat melihat Viola sudah berdiri di depan mereka dan melihat Ethan menggandeng tangannya.
__ADS_1
Dengan segera Riani berusaha untuk melepaskan genggaman tangan Ethan, tapi sia-sia karena Ethan justru semakin menggenggam erat tangan Riani, yang membuat Riani tidak berdaya dan menjadi serba salah bersikap saat ini.
"Fa'i...Viola sedang melihat ke arah kita, tolong lepaskan tanganmu..." Bujuk Riani dengan suaranya yang lembut, karena Riani menyadari dengan kesehatan psikologis Ethan yang seperti itu, dia tidak bisa berkata yang akan membuatnya tertekan.
"Viola? apa kamu mengenalnya?" tanya Ethan yang langsung melepaskan tangannya kemudian tubuhnya berbalik menghadap Riani dengan tatapan matanya yang sangat menyedihkan, hingga membuat hati Riani sakit sesakit di sayat sembilu, nyeri yang luar biasa.
Sosok Ethan yang dulu dia kenal adalah sosok remaja yang kuat dan ceria, tapi...Kini berubah, pria dewasa yang kini di hadapannya terlihat menjadi lebih rapuh dan sangat menyedihkan.
Hampir saja Riani melepaskan air mata kesedihannya namun dengan segera dia berusaha untuk tidak menangis.
"Iya aku mengenalnya, dia sahabatku"
"An-an apakah kamu tidak mengenaliku? aku Fa'i, sekarang aku sudah menjadi laki-laki dewasa dan sekarang aku bisa menepati janji masa kecil kita dulu" kata Ethan dengan penuh semangat.
"Iya...Iya aku mengenalimu kok, sebenarnya kamu mau mengajakku kemana?" tanya Riani mengalihkan pembicaraan sambil memberi tanda dengan tangannya ke arah Viola agar memberinya dia waktu untuk membujuk Ethan.
Viola langsung mengerti dan mengangguk, dengan tetap berdiri di tempatnya dan menatap ke arah Riani dan Ethan, meski di hatinya timbul perasaan cemburu, namun dia tahu dan percaya pada Riani karena tadi dia mendengar kalau Ethan mengakui dirinya sebagai Fa'i dan memanggil Riani dengan nama An-an, jadi dia langsung menyadari kalau sosok anak kecil Fa'i kini sudah kembali dan berubah menjadi sosok Fa'i sebagai pria dewasa.
Viola yakin kalau Riani bisa membantu Ethan yang notabene suaminya itu, meskipun saat ini dia hanya bisa menyaksikan pertunjukkan reuni antara Fa'i dan An-an, namun dia tetap harus ikhlas demi kesembuhan suaminya itu.
"An-an ayo ikuti aku, ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu..." Jawab Ethan sambil kembali menggandeng tangan Riani.
"Oke, oke...Aku akan ikut, tapi temanku juga harus ikut dengan kita, boleh kan?" kata Riani sambil menunjuk ke arah Viola yang wajahnya langsung berubah tersenyum ramah ke arah Ethan, mau tidak mau dia harus mengikuti sandiwara Riani, karena saat ini yang muncul adalah pribadi lain dari Ethan jadi dia tahu pasti kalau saat ini dia tidak akan mengenal dirinya.
"Kenapa dia harus ikut? aku hanya ingin menunjukkan padamu saja An-an..." Jawab Ethan melihat ke arah Viola dengan wajah tidak senangnya.
"Dia itu sahabat baikku, dan aku tidak bisa tidak mengajaknya, karena dia sangat baik padaku, tolonglah...Boleh ya?" rayu Riani sambil mengelus lembut punggung tangan Ethan.
"Baiklah, kamu boleh ajak dia, aku memperbolehkannya ikut karena dia baik padamu" jawab Ethan yang akhirnya luluh dengan rayuan Riani.
Keduanya berjalan menuju ke arah Viola.
"Ayo Viola, kamu ikut dengan kita, Fa'i mengajak kita untuk melihat sesuatu yang ingin Fa'i tunjukkan padaku" ajak Riani sambil menggandeng lembut tangan Viola.
"Baiklah, terima kasih sudah memperbolehkanku ikut dengan kalian" jawab Viola ramah dan mengikuti langkah Riani yang menggandeng tangannya.
"Aku mengajakmu karena kamu baik pada An-an ku jadi tidak perlu sungkan begitu" jawab Ethan.
Viola hanya mengangguk tersenyum getir.
Melihat ekspresi wajah Viola, Riani sangat tahu perasaannya, karena jika dia berada di posisinya pasti akan terasa sakit dan sedih hatinya.
Bagaimana tidak, Ethan yang notabena suami Viola, tidak mengenalnya dan menggandeng mesra perempuan lain, itu akan terasa sangat menyakitkan.
Namun Riani salut pada Viola karena dia mampu mengimbangi sandiwaranya tadi, Riani yakin, Viola bisa melakukan itu tidak lain karena rasa cinta Viola yang kuat pada Ethan, yang kini sedang sakit kejiwaannya dan menerima keadaan suaminya itu dengan penuh ikhlas...
...☆☆☆...
__ADS_1