
Sementara itu Riani yang masih berkutat dengan laptopnya, sudah tidak bisa fokus lagi dengan layar di depannya.
Angannya kembali dengan ekspresi wajah Radja yang kecewa dan sedih saat Riani menolak untuk di cium kening olehnya.
Ada perasaan bersalah hadir di hatinya.
"Ahhh...Apakah aku sudah keterlaluan padanya ya?" tanya Riani dalam hati penuh sesal, karena biar bagaimanapun dia masih suaminya dan juga pria yang pernah mengisi hari-harinya bersama, hanya saja...Kalau untuk perasaan cinta, mungkin bagi Riani sudah tidak mungkin lagi, karena perasaan itu pelan-pelan telah terkikis seiring berjalannya waktu, apalagi semenjak kejadian di mana dia mengetahui bahwa ada anak kandung Radja dari wanita lain, dia tidak membenci anak itu, karena dia tidak bersalah, apalagi dengan sakit yang sedang dia derita, karena itulah dia lebih memilih untuk mengalah.
"Hufff..." Hela Riani, kemudian tangannya mengelus-elus lembut perutnya.
"Kamu tidak perlu cemas ya nak, karena Bunda akan selalu menjagamu, walau apapun yang terjadi..." Bisiknya, dan seolah mengerti dengan ucapan Bundanya, bayi dalam perutnya menunjukkan gerakan tangangannya yang membuat perut Riani semakin mengerucut.
Melihat itu, Riani tersenyum penuh haru, kemudian dia mengatupkan telapak tangannya dengan telapak tangan sang bayi yang hanya terhalang oleh kulit perutnya dan kembali mengelus-elus lembut, hingga akhirnya siluet telapak bayinya pelan-pelan menghilang.
Riani meregangkan pelan tubuh dan pinggangnya yang terasa pegal-pegal, mungkin pengaruh dari duduk yang terlalu lama di depan layar laptopnya tadi.
Segera Riani bangun dari duduknya dan berjalan keluar dari kamarnya.
Terlihat olehnya si Lana sedang ngobrol santai bersama Iky dan Nando di teras rumah sambil menikmati teh hangat dan pisang goreng.
Segera Riani menghampiri mereka bertiga.
"Ibu di mana Dek?" tanya Riani pada Maulana.
"Tadi Ibu bersama Om Rolland, keluar untuk mengurus sesuatu yang penting katanya..." Jawab Lana polos.
"Oo...Sudah lama mereka perginya" tanya Riani lagi, sembari duduk di kursi samping Iky.
"Baru saja Mba..." Jawab Nando.
"Heemmm..." Gumam Riani, karena mulutnya penuh dengan pisang goreng yang baru saja dia gigit.
Iky memberikan segelas air putih yang masih penuh ke arah Riani.
"Ini, minum dulu Mba...Masih utuh kok, belum aku minum"
"Terima kasih Ky..."
"Aku pergi jalan-jalan dulu," pamit Riani setelah meneguk habis teh hangatnya.
"Perlu kita temani Mba?" tanya Nando.
"Tidak perlu, cuma sebentar, keliling komplek dekat sini aja kok, kalian lanjutkan saja ngobrolnya"
"Beneran Kak gak papa?" tanya Lana dengan wajah cemasnya.
"Beneran Dek, nggak papa..."
"Ya sudah, kalau begitu hati-hati ya Kak dan jangan terlalu lelah"
"Iya Adikku sayang..." Jawab Riani sambil mencium gemas pipi chabi Maulana yang tersenyum malu-malu.
Riani melangkahkan kakinya meninggalkan mereka bertiga yang masih memandang kepergiannya.
.............
Riani berjalan santai sambil menghirup udara yang masih segar.
Titik embun sisa hujan semalam yang berjatuhan dari pepohonan dan angin sejuk yang menerpa tubuh Riani juga paparan hangat dari sinar matahari yang menelisik dari balik dedaunan membuat damai suasana hatinya.
Langkah Riani terhenti di sebuah taman kecil yang di tanami berbagai macam bunga.
__ADS_1
Rupanya sang pemilik rumah sangat menyukai bunga, hingga pelataran depan rumahnya di sulap menjadi taman bunga yang elok.
Senyum takjub terlihat di bibir Riani saat dia melihat salah satu bunga yang kuncupnya berlahan mulai mekar, matanya seolah terbuka akan dunia, betapa banyak hal-hal kecil menakjubkan yang terjadi dan terlewatkan di sekitar kita.
"Lihatlah nak...Betapa Elok Tuhan menciptakan makhluknya ini..." Bisik Riani, berbicara dengan bayi dalam perutnya.
Gerakan aktif sang bayi di perut pun seolah ingin mengajak sang bundanya untuk bermain.
"Bunda tahu Nak...Kamu ingin segera melihat dunia ini kan? Bunda janji akan selalu di sampingmu di setiap langkahmu melihat duni fana ini..." Bisik Riani.
Riani kembali melanjutkan langkahnya sambil bercerita kecil dengan bayi dalam perutnya, hingga tiba-tiba langkahnya terhenti saat matanya melihat sosok yang berdiri di depannya.
"Ethan...?!" Ucap Riani terkejut.
Ethan yang berdiri dari kursi rodanya tersenyum melihat ekspresi terkejut di wajah Riani.
Dengan tertatih-tatih dia mencoba berjalan ke arah Riani.
Melihat keadaan berbahaya seperti itu, Riani dengan cepat berjalan ke arah Ethan dan segera memapahnya kembali ke kursi roda.
"Kamu ke sini sendirian? Vio tidak ikut denganmu?" rentetan pertanyaan yang keluar dari mulut Riani dengan mata mengelilingi sekitar mencari sosok Viola, istri Ethan.
"Aku datang ke sini sendirian bersama supir"
"Lalu di mana supirnya? kenapa kamu tidak di temani supir kamu?"
"Karena aku yang memintanya untuk tetap tinggal dan menungguku di mobil"
"Kenapa?!"
"Karena ada yang ingin aku bicarakan denganmu, hanya denganmu"
"Hal penting apa yang ingin kamu bicarakan denganku Than?"
"Baiklah, tapi sebelumnya aku hubungi orang rumah dulu dan memberitahu mereka, biar tidak cemas nantinya jika aku pulangnya agak lama, soalnya tadi aku pamitnya cuma keluar sebentar"
"Oke, kamu telepon lah dulu"
Riani segera menghubungi Lana dan memberitahu padanya bahwa dia sekarang sedang bersama Ethan, dan akan terlambat pulang.
Setelah selesai menelepon adiknya, Riani segera mendorong kursi roda Ethan menuju ke arah tempat di mana mobilnya di parkirkan.
Sang supir segera keluar dari mobilnya, saat melihat kedatangan Ethan bersama wanita yang sedang hamil besar.
Dengan sigap sang supir membantu bosnya tersebut untuk naik ke dalam mobil.
"Jalan Pak! dan cari pantai yang terdekat di sekitar sini"
"Baik Mas Bos!"
Sang supir memasang google Maps di ponselnya setelah sudah mendapatkan lokasinya dia pun segera meluncurkan mobilnya meninggalkan kompleks perumahan tersebut.
"Pak nanti mampir di Mini Mart sebentar, kita beli sesuatu dulu" kata Ethan di tengah perjalanan.
"Baik Mas Bos!"
Tidak beberapa lama kemudian mobilpun berhenti di depan Mini Market, sang supir kembali membantu Ethan untuk turun dari mobil dengan kursi rodanya.
Riani dan Ethan masuk ke dalam Mini Market untuk membeli minuman dan makanan untuk mereka nikmati di pantai nantinya.
Tidak butuh waktu lama, keduanya keluar dengan belanjaan yang di bantu bawakan oleh sang supir.
__ADS_1
Setelah keduanya masuk ke dalam mobil, sang supir pun segera melajukan kembali mobilnya, melanjutkan perjalanan menuju ke arah pantai.
Setengah jam kemudian mobilpun telah sampai di sebuah pantai yang air lautnya masih jernih dan pasirnya pun masih putih bersih.
Setelah sang supir membuka gelaran untuk tempat duduk Ethan dan Riani, kemudian menaruh barang belanjaan yang tadi mereka beli, sang supir kembali menuju ke mobilnya dan menunggu majikannya di sana.
Riani dan Ethanpun duduk dengan berselonjor kaki.
"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan denganku Than?" tanya Riani.
Ethan tidak langsung menjawab pertanyaan dari Riani, matanya tertuju pada ujung kaki Riani yang menyentuh pasir.
"Than??"
Ethan mengela nafas panjangnya.
"Satu bulan ke depan aku akan terbang ke Amerika, untuk menjalani pengobatanku di sana, jadi...Nanti saat kamu melahirkan aku sudah tidak di sini..." Jawab Ethan dengan tatapan sedihnya.
"Tidak apa-apa Than, bagiku kesembuhanmulah yang terpernting"
"Aku tahu itu, karena aku juga ingin cepat sembuh dari penyakit ini, tapi...Aku juga ingin sekali ikut menyaksikan kelahiran bayi ini dan menggendongnya untuk yang pertama kalinya..." Jawab Ethan sedih, tangannya kembali mengelus-elus lembut perut Riani.
"Nanti saat bayi ini lahir, akan ku kirimkan video dan fotonya padamu"
"Baiklah, An-an...Sebelum aku pergi, bisakah kamu mengabulkan satu permintaanku?" tanya Ethan, matanya menatap dalam-dalam ke arah mata Riani.
Riani merasa ada yang berbeda dan aneh pada diri Ethan hari ini.
"Apa itu Than? selama aku bisa dan mampu, pasti akan ku kabulkan"
"Bisakah bila bayimu lahir nanti aku mohon selipkan namaku saat akan memberi nama si bayi...?" Dengan ekspresi wajahnya yang memohon
"Tentu saja bisa Than..."
"Benarkah? kamu tidak keberatan?!" tanya Ethan penuh semangat, ekspresi wajahnya berubah sumringah seketika.
Riani hanya mengangguk dan tersenyum.
"Kalau begitu ayo janji kelingking!"
Riani tertawa kecil melihat tingkah Ethan, namun akhirnya dia mengikuti permintaan Ethan tersebut.
Di kaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking milik Ethan, janji yang juga pernah mereka lakukan di masa remaja saat mereka masih pacaran dulu.
Perlahan tapi pasti wajah Ethan semakin mendekat ke arah wajah Riani, kemudian dengan lembut di kecupnya bibir Riani.
Dan entah kenapa, Riani menerima ciuman tersebut begitu saja, bahkan bibir mereka saling berpagut menikmati ciuman mereka, bahkan dengan mesra tangan Riani bergelanyut di leher Ethan.
Hingga gairah mereka tak terkontrol lagi dan semakin terjatuh dalan birahi yang membara.
Namun di saat tanpa sengaja tangan Ethan menyentuh perut Riani, seketika kesadaran Ethan kembali dan segera melepaskan ciuman panas mereka.
"Maaf...Maafkan aku..." Ucap Ethan terbata-bata penuh sesal sembari memeluk erat tubuh Riani.
Riani yang juga menyadari kesalahannya hanya menangis dalam diam.
Dalam hatinya mengutuk perbuatan yang barusan dia lakukan bersama Ethan.
Dalam bisikan bibirnya mengucapkan maaf penuh penyesalan pada sang bayi dalam perutnya.
"Maafkan Bunda Nak..." Bisik Riani dalam tangisan penuh dosa...
__ADS_1
Tanpa mereka berdua sadari tidak jauh dari tempat mereka duduk, tampak sepasang mata menatap nanar dan penuh kemarahan ke arah Riani dan Ethan...
...☆☆☆...