
Setelah selesai makan siang, mereka bertiga akhirnya kembali ke kantor, meskipun banyak pertanyaan di hati Riani namun ia mencoba untuk menyimpannya dan akan mempertanyakan pada Roro di waktu yang tepat.
.............
Tepat pukul lima sore jam kerjapun selesai, setelah membereskan semua pekerjaannya, dengan segera Riani menuju ke ruang kantor Roro.
Saat baru sampai di depan kantor Roro ternyata dia juga baru saja keluar dari ruangannya sehingga mereka berdua berpapasan.
"An an, baru saja aku mau ke ruanganmu"
"Tadi karena pekerjaanku selesai lebih cepat, jadi aku langsung ke sini"
"Ya sudah, ayo kita cari tempat untuk ngobrol dan makan malam"
"Bagaimana kalau di rumahmu? kebetulan aku sekarang tinggal di hotel, syukur-syukur kamu mau menampungku di rumahmu..." Kata Riani tersenyum menggoda sambil melirik ke arah Roro.
"Boleh...Boleh, satu hari satu juta" jawab Roro bercanda.
"Busyet! rumah apa hotel?! hotelku yang sekarang aku tinggal aja nggak segitu harganya, tapi nggak apa deh...Yang penting pelayanannya Ekstra Spesial" jawab Riani membalas candaan Roro.
"Sip...Hamba siap melayani tuan putri An an" jawab Roro, merekapun tertawa lepas sambil berjalan menuju lobi.
"Wah...Kalian kelihatan kompak banget"
Suara Teddy dari arah belakang membuat mereka berdua kompak menengok ke arahnya.
"Teddy!" jawab mereka berdua lagi.
"Iya aku, hadeeehhhh...Sudah lama tidak bertemu kompaknya tetep bikin iri...Saluut...Saluuut..." Jawab Teddy sambil mengacungkan jempolnya dan tertawa.
Riani dan Roro ikut tertawa melihat tingkah Teddy.
"Kalian mau kemana?" tanya Teddy.
"Kami mau ke rumah Roro"
"An an ku ini pengin main, kayaknya dia penasaran pengin lihat rumahku..."
"Oh...Kalau begitu aku antar kalian"
"Beneran nih nggak ngrepotin?"
"Nggak Ai, kalian tunggu di depan gedung saja, aku ambil mobil dulu"
Riani dan Roro hanya mengangguk mengiyakan, Teddypun dengan segera berjalan ke arah lift menuju parkiran.
"Kelihatannya Teddy masih sangat mencintaimu An an, terlihat sangat jelas dari cara dia menatapmu" kata Roro setelah mereka sampai dan berdiri di depan gedung menunggu mobil Teddy.
"Iya aku tau itu, tapi dia masa laluku, dan tidak akan bisa di rubah Mi Ro, bagaimanapun masa kini dan masa depanku sekarang dengan Radja, meskipun hubungan kami sekarang sedang bermasalah tapi aku yakin akan ada jalan keluarnya"
"Nanti sesampainya di rumahku kamu ceritakan semuanya tentang masalahmu, oke?"
"Oke, tapi kamu terlebih dahulu ceritakan sepuluh tahunmu itu selama kita tidak bertemu"
"Sip bos..."
Riani dan Roropun menghentikan perbincangannya setelah melihat mobil Teddy berhenti di depan mereka, mereka segera masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Rumah kamu masih yang dulu kan Ro?" tanya Teddy.
"Iya, sejak kamu membantuku mencarikan rumah tiga tahun yang lalu, sampai sekarang aku tidak pernah pindah"
"Ok, aku masih ingat jalannya kok"
"Aku kira kamu sudah lupa, setelah lama tidak main ke rumahku"
"Tentu saja tidak lah..."
Mendengar perbincangan antara Roro dan Teddy yang akrab membuat Riani entah kenapa perasaannya merasa tidak nyaman, apakah karena Teddy sang mantan dan Roro sang sahabat hingga timbul perasaan itu?
"Hai An an! kok nggak jawab sih, di tanya malah nglamun?"
Suara Roro membuyarkan lamunannya, dengan segera dia menengok ke arah Roro yang duduk di sampingnya.
"Ya Mi Ro?" jawab Riani gelagapan.
"Tadi Teddy nanya, nanti pulang kamu mau dia antar tidak?"
"Nggak usah Ted thanks..."
"Oke kalau begitu" jawab Teddy dengan mata tetap fokus arah jalan.
...........
Tidak berapa lama mereka sampai di depan rumah Roro.
"Kamu tidak mampir Ted?" tanya Roro.
"Tidak Ro thanks, ada hal penting yang harus aku urus terlebih dahulu, nanti kapan- kapan kalau ada waktu aku akan mampir"
"Iya sama-sama, aku pamit dulu ya Ai..."
"Iya Ted, terima kasih ya..."
"Iya, bye..."
"Bye..." Jawab Riani dan Roro kompak.
Mobil Teddypun melaju menjauh dari rumah Roro hingga tak terlihat lagi dari pandangan.
Roro dan Riani segera masuk kedalam rumah setelah Roro mengambil kunci rumah di dalam tasnya dan membuka pintu.
Saat masuk langsung terlihat kesan rumah yang sederhana, dengan minim hiasan dan tidak satupun foto yang tertempel di dinding.
"Ayo kita langsung ke dapur bikin makan malam An an"
"Ok Mi Ro, aku bantu kamu masak deh..."
.............
Selang beberapa jam kemudian mereka sudah terlihat tepar kekenyangan di ruang tamu setelah hampir satu jam bertempur dengan minyak panas di dapur.
"Wah...Masakan Miro memang tidak ada duanya, rasanya tidak berubah sejak dulu"
"Kamu muji atau ngledek nih?"
__ADS_1
"Muji lah...Tapi bo'ong"
"Kamu ini belum rasain pukulan centong kayuku ya!"
"Ampun...Mi Ro, aku bukan Sangkuriang!"
Merekapun saling berkejaran, mengingatkan akan masa kecil mereka dulu.
Sementara itu di sisi lain depan rumah Roro telah berdiri Teddy yang ternyata sudah kembali lagi ke rumah Roro, dia yang sedari tadi memperhatikan canda tawa mereka dari balik kaca rumah dengan tersenyum, hatinya ikut bahagia melihat wanita yang masih di cintainya itu sudah bisa tertawa lepas dan sementara bisa melupakan masalah yang sedang dia hadapi.
Dia sangat bersyukur dulu bisa di pertemukan dengan Roro teman masa kecil Riani, karena setidaknya sekarang dia bisa membantu untuk menghiburnya.
Dia berjalan menjauhi rumah Roro menuju mobilnya yang sengaja dia parkir agak jauh dari rumah Roro, agar tidak terlihat oleh Riani, dia tidak mau menciptakan suasana tidak nyaman untuknya.
Walaupun kerinduan di hatinya sudah hampir meluap sampai ubun-ubun, namun sebisa mungkin ia tahan karena dia sadar, sekarang Riani sudah bukan miliknya lagi sejak tiga tahun yang lalu.
Setelah Teddy masuk ke dalam mobilnya, segera dia melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu dengan membawa separuh hatinya.
Sementara itu di rumah Roro, mereka berdua telah berhenti dari senda gurau mereka dengan nafas terengah-engah setelah berlarian kesana kemari.
"Ternyata umur tidak bisa membohongi ya An an? Baru lari-larian sebentar aja nafas sudah senen kemis kayak gini..."
"Iya Mi Ro, apa lagi kamu sudah masuk usia oma-oma"
"Eh masih mau ada centong melayang nih kayaknya..."
"Ampun...Ampun Mi Ro"
"Lagian siapa suruh ngledek aku terus, tapi walaupun aku oma- oma, masih tetap seksi kan?"
"Iya oma seksi...Percaya aja deh, ngomong-ngomong kamu masih berhutang cerita sepuluh tahun mu lho"
"Nanti saja lah, sudah malam lagian kita masih banyak waktu, besok kan juga libur"
"Oke lah, kalau begitu aku mandi dulu, badanku terasa lengket banget gara-gara berkeringat setelah lari-larian tadi"
"Aku juga, kamu mandi duluan gih, aku siapkan pakaian dan handuk untukmu"
"Oke, thanks banget ya Mi Ro ku sayang, sudah menampung anak terlantar ini" kata Riani kembali bercanda sambil mencium pipi Roro lalu kabur.
"Kamu ini, sama-sama" jawab Roro sambil tersenyum dan berjalan menuju kamarnya untuk mengambil handuk dan baju buat Riani.
.............
Setelah mandi tubuh Riani terasa segar, dia segera masuk ke dalam kamarnya dan berbaring melepas penatnya.
Pikirannya melayang tentang perbincangannya dengan Roro, mungkin memang Roro belum siap untuk menceritakannya, dia tidak mau memaksa Roro.
Mungkin ada sesuatu yang telah terjadi padanya sepuluh tahun yang lalu yang membuatnya trauma, karena di lihat dari tidak adanya foto keluarga dan anak hasil dari perkawinannya dulu, pasti telah terjadi sesuatu.
Hingga secara kebetulan bertemu dengan Teddy tiga tabun yang lalu yang notabene sudah menjadi mantan Riani.
Dan hingga akhirnya sekarang secara kebetulan pula bertemu dengan Riani setelah bertahun- tahun dia mencoba mencari kabar tentang Roro namun hasilnya tetap nihil.
Setelah di pikir-pikir hidup memang seperti Roda Raksasa milik Tuhan, yang akan selalu berputar menurut Kehendak-Nya...
Dan Takdir Yang Kebetulan ini juga pasti karena kehendak-Nya.
__ADS_1
Percayalah Pada Takdir Tuhan...
...☆☆☆...