KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
KEBAHAGIAAN SESAAT, TETAP BERSYUKUR


__ADS_3

"Kamu! kenapa bisa tahu kalau aku ada di sini?! tanya Riani terkejut hingga membuat Nando dan Iky mengalihkan pandangan mereka ke arah sosok yang berdiri di depan Riani.


"Viola?! kata Nando yang juga terkejut dengan kedatangannya.


"Maafkan aku Kak Riani...Kalau aku harus menemuimu dengan cara seperti ini, aku tahu kalau saat ini Kakak tidak ingin bertemu denganku dan Ethan, tapi aku terpaksa dan harus bertemu dengan Kak Riani, karena saat ini aku sangat membutuhkan bantuan dari Kakak, aku mohon selamatkan Ethan Kak..." Tangis Viola tiba-tiba dan duduk bersimpuh di depan Riani.


"Viola! apa yang kamu lakukan dan apa yang terjadi dengan Ethan?! tanya Riani terkejut dan segera mengangkat tubuh Viola agar kembali berdiri.


"Ethan sekarang ada di Rumah Sakit, keadaanya sangat kritis Kak..." Jawab Viola di tengah-tengah isak tangisnya.


"Memangnya apa yang sudah terjadi dengan Ethan hingga masuk ke rumah sakit?"


"Ethan mencoba bunuh diri dengan meminum racun, setelah putus asa karena tidak bisa menemukan Kak Riani setelah kakak memutuskan kontak dengan kami..." Jelas Viola.


"Tapi kenapa..." Kata Riani mengambang.


"Aku mohon Kak, jenguklah dia dan aku yakin jika Kak Riani datang maka akan membuatnya bisa lewati masa kritisnya..."


"Tapi...Tapi untuk saat ini aku belum siap untuk menemuinya lagi" jawab Riani terbata, ingatannya kembali pada perbuatan Josh yaitu pribadi lain dari Ethan pada dirinya waktu itu, hingga membuat rasa takutnya kembali menggerayangi perasaannya.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian berdua waktu itu, tapi aku tahu pasti kalau Ethan pasti melakukan sesuatu yang salah pada kak Riani, tapi aku mohon kesampingkan masalah itu dan maafkanlah dia...Aku mohon kak selamatkan suamiku, paling tidak selamatkan dia sebagai mantan cinta pertamamu yang saat ini sedang sakit dan sekarat..." Tangis Viola memohon, membuat orang-orang yang berlalu lalang melihat ke arah Viola merasa iba.


"Baiklah, kamu pulanglah dulu dan aku janji padamu pasti akan datang untuk menjenguknya, tapi aku juga memohon padamu untuk memberiku waktu menata hati dan perasaanku terlebih dahulu"


"Baiklah aku mengerti, terima kasih banyak Kak karena sudah mau membantuku"


"Iya Vi, nanti jika aku sudah siap maka aku akan menyuruh Nando untuk menghubungimu" kata Riani, menengok ke arah Nando yang mengangguk tanda mengerti.


"Baik Kak, kalau begitu aku kembali ke rumah sakit dan aku berharap Kak Riani bisa secepatnya datang menjenguk Ethan"


"Akan aku coba secepatnya"


"Sekali lagi terima kasih Kak, kalau begitu saya pamit sekarang"


"Sama-sama dan hati-hati"


Viola berbalik arah dan berjalan pergi meninggalkan mereka bertiga.


"Aku harus menghubungi papah Rolland segera dan memberitahunya kalau.lokasi dan alamat apartemenku yang baru telah bocor" kata Nando kesal dan segera mengambil ponselnya dari saku.


"Sebaiknya kita pulang sekarang, ayo Mba kita harus segera pergi dari sini" ajak Iky.


Riani hanya diam dan mengikuti langkah Iky dan Nando tanpa sepatah katapun.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan pulang pikiran Riani tidak fokus, hanya sesekali mendengar perbincangan Nando di telepon dengan om Rolland, yang marah karena bocornya informasi mengenai keberadaan Riani di apartemen baru milik Nando.


Selama perjalanan pulang, Riani hanya terdiam membisu seribu bahasa, hatinya yang kalut dan pikirannya yang kusut membuat perasaannya campur aduk tak bersudut, hanya berputar-putar membuat lingkaran asap berwarna abu-abu yang membuat Riani linglung dan bingung ke arah mana dia harus langkahkan kakinya untuk mencari jawabannya, sedangkan hanya ada titik tengah di hadapannya dan dia terjebak di dalamnya.


Seolah mengerti dengan keadaan Riani, Iky dan Nando hanya bisa mengikuti untuk diam, meskipun dalam hati Iky ada rasa penasaran, gerangan apa yang sebenarnya sedang terjadi?


Begitu pula dengan Nando, yang meski terdiam namun dalam hatinya ingin sekali menjelaskan bahwa dia juga tidak tahu kenapa alamat apartemennya yang baru tersebut bisa bocor dan dia sangat menyesal mengenai hal itu, namun melihat ekspresi wajah Riani yang tertekan membuat niatnya segera ia urungkan kembali.


.............


Sesampainya di apartemen mereka bertiga pun segera masuk kedalam dan langsung di sambut semua orang rumah yang terlihat khawatir, termasuk om Rolland yang terlihat sangat jelas dan lebih cemas dengan kaeadaan Riani.


"Kamu tidak apa-apa kan nak? Nando sudah cerita semuanya" tanya Om Rolland.


"Riani tidak apa-apa kok Om, maaf...Kalau sudah membuat Om Rolland khawatir"


"Harusnya Om yang minta maaf sama kamu, karena tidak bisa menjaga keberadaanmu agar bisa tetap aman"


"Riani tahu ini bukan kesalahan Om Rolland, dan Riani juga sangat yakin jika kejadian ini bukanlah kesengajaan, jadi Om Rolland tidak perlu merasa bersalah seperti itu..."


"Om yakin sekali kalau kebocoran ini pasti karena ulah si Ronand ayah dari Viola! dia pasti menyuruh orang-orangnya untuk memata-matai Om..." Kata Om Rolland geram.


"Sudahlah Pak Rolland, jangan di bawa emosi, apalagi semuanya sudah terlanjur terjadi seperti ini, jadi untuk bagaimana selanjutnya biarlah Riani sendiri yang memutuskan..." Kata Bu Widya bijak, berusaha meredakan emosi dari Rolland.


"Riani juga belum tahu Om, jujur...Saat ini Riani masih bimbang..."


"Apa sebaiknya di percepat saja keberangkatan kita, tentunya dengan pengawasan dan pengawalan yang lebih ketat, biar kita tidak kecolongan lagi?" usul Om Rolland.


"Atau mungkin sebaiknya kita tunda dulu dan memberi waktu Mba Riani untuk berpikir lagi" usul Nando yang seakan mengerti dengan keadaan hati Riani setelah kejadian tadi.


"Bagaimana menurutmu Nak? Ibu akan selalu mendukung apapun keputusanmu karena Ibu yakin itulah yang terbaik untukmu" kata Bu Widya.


"Maaf Om...Bisakah beri Riani waktu beberapa hari lagi? karena ada yang harus Riani selesaikan sebelum Riani pergi..." Pinta Riani pada Om Rolland.


"Tentu saja boleh Nak, berapa haripun yang kamu butuhkan dan kapanpun kamu siap untuk pergi ke Bali, Om akan selalu siap dan mendukungmu"


"Terima kasih banyak dan maaaf sekali karena sekali lagi Riani sudah sangat merepotkan Om dan keluarga..." Tangis Riani pecah, beban dalam hatinya seakan sudah tidak bisa ia tampung lagi.


" Menangislah sepuasnya Nak, jangan pernah beban dalam hatimu kamu pendam sendiri, tidak baik untuk bayi dalam kandunganmu..." Ucap Om Rolland lembut


Mendengar perkataan Om Rolland seketika Riani merasa sangat merindukan sosok almarhum ayahnya, tangisnya pun tertumpahkan dalam pelukan Om Rolland, yang pada kenyataannya adalah ayah kandung Riani, sosok yang seharusnya dia Rindukan.


Hati Om Rolland sendiri ikut merasakan sakit dan perih karena harus menyembunyikan identitas yang sebenarnya dan tidak bisa mengatakan kenyataannya pada Riani, putri kandungnya.

__ADS_1


Dan di melakukan itu sebagai bentuk penebusan dosa dirinya pada Isabella atau Widya yang adalah ibu dari Riani.


Melihat Bapak dan anak yang saling berpelukan membuat hati Widya trenyuh dan terharu, dalam hatinya timbul perasaan bersalah pada Riani karena semenjak dia bayi hingga dewasa Widya tidak pernah menceritakan asal usul dirinya, karena permintaan dari Almarhum suami tercintanya.


Namun kini setelah ayah kandung Riani hadir, dirinya justru semakin merasa bersalah karena tidak bisa mengatakan bahwa Rolland adalah ayah kandungnya.


Dan bahkan dirinya menghukum Rolland untuk berjanji padanya agar tidak mengungkap fakta yang sebenarnya pada Riani.


Airmata yang sedari tadi terbendung di sudut mata akhirnya tidak dapat tertahankan lagi dan mengalir deras membasahi wajah Widya, Maulana yang melihat Ibunya menangis ikut sedih dan memeluk erat pundak Widya, untuk menguatkan hati Ibunya itu.


Maulana hanya mengerti kalau Ibunya bersedih karena melihat kakak perempuan satu-satunya itu menderita dengan masalah yang sekarang sedang ia hadapi.


Setelah tangis Riani reda, dia melepas pelukannya, dengan lembut Om Rolland mengelus penuh kasih sayang kepala putrinya itu.


"Om tahu kamu seorang putri yang kuat, dan Om juga yakin kamu pasti bisa melewati semua ini..."


"Terima kasih banyak Om karena selalu mendukung dan membantu Riani di saat-saat seperti ini..."


"Om akan selalu mendukung kamu dan akan selalu ada kapanpun kamu membutuhkan bantuan Om..." Jawab Om Rolland dan kembali memeluk Riani...


"Papah akan selalu ada untuk menjaga, melindungi dan membantumu nak...Meskipun harus dengan cara seperti ini, asalkan kamu bisa bahagia dan tidak bersedih lagi..." Ucap Om Rolland dalam hatinya.


Riani hanya terdiam saat Om Rolland memeluknya, dalam hatinya ada perasaan nyaman dan hangat, sama seperti perasaannya saat di peluk Almarhum ayahnya.


"Sudah...Sudah sebaiknya kita segera bicarakan masalah ini, dan bagaimana jalan keluarnya" kata Bu Widya mendekati anak dan bapak tersebut.


Keduanya saling melepaskan pelukannya, kemudian tanpa di komando semua orang yang sedari tadi hanyut dalam suasana haru, langsung serempak berjalan ke arah ruang tamu untuk membahas masalah yang sedang terjadi.


Saat semuanya sudah berkumpul dan Riani duduk diantara mereka, satu-persatu di lihatnya wajah mereka oleh Riani.


Ada wajah yang memang sudah lama Riani kenal dan juga ada wajah yang baru beberap hari ini Riani kenal, akan tetapi perhatian mereka semua sama pada dirinya yang menempatkan kepentingan dirinya di atas kepentingan mereka sendiri, terlihat sangat jelas kasih sayang mereka untuknya.


Kasih sayang yang sama Riani rasakan saat dia berada di keluarga Zoya dan Randi di mana Pekak dan Dadong sangat menyayanginya seperti putri kandungnya.


Tiba-tiba ada perasaan rindu akan keluarga tersebut, apalagi akhir-akhir ini dirinya jarang berkomunikasi dengan mereka.


"Hhhhhhhh..." Tanpa sadar Riani menghela nafasnya panjang, membuat Maulana yang duduk di sampingnya menoleh ke arahnya, kemudian adiknya tersebut merangkul pundaknya berusaha untuk memberi dukungan dan menguatkan dirinya.


Riani tersenyum, dia menyadari jika kebahagiaan sesaat ini akan segera berakhir, namun dia tetap bersyukur karena meskipun sesaat namun dia sudah sangat menikmatinya...


"Terima kasih Tuhan..." Ucap Riani dalam hati...


...☆☆☆...

__ADS_1


__ADS_2