KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
PERASAAN BAHAGIA


__ADS_3

Dengan menempuh waktu kurang lebih satu jam, akhirnya mobil yang di tumpangi Riani dengan yang lainnya telah sampai di apartemen mewah milik Nando.


Dengan di bantu sopir dan Nando yang membawakan barang-barangnya, Riani memasuki apartemen Nando setelah om Rolland membuka pintunya.


"Kamu duduklah di sini dulu, Bibi sedang mempersiapkan kamar untuk kamu dan ibumu" kata Om Rolland sambil membimbing Riani ke arah sofa di depannya, sesekali om Rolland melirik ke arah tante Widya yang hanya tersenyum.


"Baik Om, terima kasih..." Riani pun duduk di atas sofa yang empuk tanpa menyadari interaksi tersembunyi antara Ibunya dengan om Rolland.


Nando dan sang supir baru saja selesai membawa dan meletakkan barang-barang Riani di dalam kamar yang sudah di siapkan dan baru saja di rapikan oleh Bibi Ijah, asisten rumah tangga yang bekerja di apartemen Nando.


Nando segera berjalan ke arah ruang tamu di mana papahnya dan Riani beserta ibunya duduk.


"Pah, kamar Mba Riani sudah siap" kata Nando sesampainya di ruang tamu.


"Oke, baiklah...Nando kamu antar Riani dan Ibunya ke kamar mereka"


"Baik Pah...Mari mba, Tante, aku antar kalian ke kamar"


"Baik, terima kasih ya Nando" kata Riani sambil bangkit dari duduknya, yang juga di ikuti oleh Tante Widya.


"Terima kasih ya nak Nando..." Ucap tante Widya.


"Sama-sama..." Jawab Nando tulus dan segera berjalan memandu mereka berdua...


"Ini kamar kalian..." Kata Nando setelah sampai dan membukakan pintu kamar untuk mereka berdua.


"Sekali lagi terima kasih dan maaf sudah merepotkan kamu..." Kata Riani merasa tidak enak hati.


"Tidak apa-apa Mba dan tidak perlu sungkan seperti itu, baiklah saya tinggal dulu dan selamat beristirahat..."


Keduanya mengangguk dan masuk ke dalam kamar, Nando pun segera berjalan meninggalkan kamar setelah mereka menutup pintunya.


.............


Menjelang petang hari, Ibu Widya membangunkan Riani yang tertidur pulas dan menyuruhnya untuk segera mandi, karena setelahnya bu Widya berniat mengajak Riani untuk menjalankan sholat Maghrib berjama'ah.


Setelah selesai membersihkan diri, Riani dan Ibunya melaksanakan sholat maghrib dengan di Imami mang Muh, sang supir.


Selesai Sholat Mang Muh melanjutkan dengan mengaji atau membaca Alquran, mendengar suara merdu Mang Muh yang mengaji membuat hati Riani sangat damai dan tenang hingga menyentuh titik terdalam di hatinya, membuat jiwa sentimentilnya menyeruak ke permukaan yang akhirnya Riani tidak dapat menahan tangisnya, setelah Mang Muh selesai melafazkan surah Annisa.


Ingin rasanya dia mengadu pada Sang Kuasa akan derita hati dan hidupnya...


Bu Widya yang melihat anaknya menangis, dengan penuh kasih sayang di peluknya anak perempuan semata wayangnya itu...


"Yang sabar dan Ikhlas ya Nak...Insya Allah semua akan baik-baik saja nantinya..." Bisik Bu Widya penuh bijak, dia sangat mengerti perasaan yang sedang melanda dan bergejolak di hati anaknya itu.


Riani hanya mengangguk dalam pelukan Ibunya.


"Maaf Non, kalau Mamang lancang...Biasanya dengan Non lebih mendekatkan diri pada Allah, Insya Allah...Non Riani akan lebih mudah melewati semuanya, tentunya dengan hati yang Ikhlas..." Kata Mang Muh yang mencoba memberi masukan pada Riani.

__ADS_1


"Mang Muh benar nak, semakin kita lebih dekat dengan Allah maka semakin mudah kamu menjalani hidupmu, karena setiap kali kamu berkeluh kesah dengan Allah, maka beban dalam hatimu pasti akan semakin berkurang, karena hanya Allahlah Maha Penjaga Rahasia dan Ibu juga yakin hanya Dia-lah yang mau menampung segala keluh kesahmu sekaligus memberi petunjuk dan jalan keluarnya" sambung Bu Widya yang setuju dengan kata-kata Mang Muh, karena bu Widya tahu kalau selama ini Riani anaknya itu sudah mulai menjauh dari Tuhan-nya dan jarang menjalankan kewajibannya sebagai umat Allah.


"Iya Bu...Riani sadar dan merasa berdosa karena selama ini sudah jauh dari Allah, dan mulai sekarang Riani akan mencoba pelan-pelan untuk berhijrah" jawab Riani dengan perasaan menyesalnya.


"Ibu akan selalu mendukungmu nak, apalagi dengan niat baikmu itu"


Bu Widya kembali memeluk erat tubuh Riani sebagai tanda dukungan.


"Terima kasih banyak Mang Muh, karena sudah membukakan mata hati dan pikirannya saya untuk bertobat..." Ucap Riani sembari mencium punggung tangan pria paruh baya tersebut.


Di perlakukan seperti itu oleh Riani membuat Mang Muh tidak enak hati sekaligus terharu.


"Sama-sama Non, Mamang hanya melakukan yang seharusnya sesama umat Islam lakukan, terlebih anak perempuan Mamang juga seusia Non Riani jika dia masih hidup sekarang..." Jawab Mang Muh lirih dan tertunduk sedih.


"Maafkan saya Mang, jika saya telah mengingatkan Almarhumah anak Mamang, yang sabar dan ikhlas ya Mang..." Kata Riani terkejut setelah mendengar cerita Mang Muh.


"Kami turut berduka atas Almarhumah anak Mang Muh dan semoga beliau tenang di sisi Allah..." Ucap bu Widya.


"Insya Allah Non, Amin...Terima kasih Bu Widya atas doanya"


Suara Adzan yang berkumandang dari kejauhan menghentikan perbincangan mereka, dengan segera ketiganya beranjak untuk mengambil Wudhu dan menjalankan Sholat Isya berjama'ah...


.............


Bi Ijah mengetuk pintu kamar Riani beberapa kali, hingga bu Widya membuka pintunya.


"Iya Bi Ijah, ada apa?"


"Baiklah, kami akan segera keluar, terima kasih ya Bi..."


"Iya Nyonya, sama-sama...Kalau begitu saya pamit kembali ke ruang makan dahulu"


"Iya Bi, silahkan...."


Bi Ijah pun segera melangkahkan kakinya pergi menjauhi kamar Riani dan Bu Widya dan berjalan ke arah ruang makan.


Sedangkan Bu Widya kembali menutup pintu dan memberitahu Riani yang sedang bercibaku dengan laptopnya untuk segera keluar dan makan malam.


Riani segera mematikan dan menutup laptopnya, dengan pelan dia bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dengan di ikuti oleh ibunya dari belakang menuju ruang makan di mana di sana sudah duduk Nando dan Om Rolland yang sudah menunggu kedatangan mereka.


"Maafkan kami ya Om, Nando, karena kami berdua kalian jadi menunggu dan menunda malan malam kalian, padahal kami di sini sebagai tamu, tapi justru pemilik rumah yang menunggu tamu untuk bisa makan bersama..." Ucap Riani sesampainya di meja makan, merasa tidak enak hati.


"Tidak apa-apa kok Nak, lagi pula kami tidak menganggap kalian sebagai tamu kami, justru kami sudah menganggap kalian seperti keluarga kami sendiri" jawab Om Rolland.


"Iya Mba, karena kita sudah seperti keluarga sendiri, jadi tidak ada istilah tamu dan pemilik rumah di sini..." Sambung Nando.


"Kami sangat berterima kasih dan bersyukur sekali bisa di anggap keluarga oleh kalian..." Kata Riani lagi dengan nada terharu.


"Kami juga bersyukur sekali karena kita bisa berkumpul sebagai keluarga seperti ini..." Jawab Om Rolland lagi dengan tatapan penuh haru ke arah Riani dan Bu Widya.

__ADS_1


"Ehem...Ehem...Sebaiknya kita segera makan, mumpung lauknya masih hangat" kata Nando berdehem memberi kode pada ayahnya yang masih menatap dalam-dalam ke arah Bu Widya, membuat Om Rolland segera tersadar.


"I...Iya, mari kita makan..." Kata Om Rolland canggung.


Bu Widya tersenyum melihat sikap canggung Om Rolland, dalam hatinya menahan tawa karena menurutnya sikap Rolland yang canggung dan salah tingkah seperti itu sangatlah lucu.


"Baik Om, terima kasih..."


Dengan pelan Riani menyendok nasi beserta lauknya, kemudian memasukkan ke dalam mulut dan menelannya.


Hatinya merasa lega karena perasaan mual dan ingin muntah sudah tidak terasa lagi, yang itu berarti obat pereda mual rekomendasi dari dokter rumah sakit di mana dia di rawat sebelumnya itu manjur dan cocok, karena sebelum-sebelumnya meskipun Riani sudah mengkonsumsi obat pereda mual, namun pada saatnya makan masih tetap saja mual-mual dan muntah setiap kali ada makanan masuk ke dalam perutnya, terkecuali saat ada Teddy yang menyuapinya setiap kali dia makan, itu pula yang membuat Riani merasa heran.


.............


Selesai makan malam, sebenarnya Riani berniat membantu membereskan dan membersihkan piring, namun niatnya itu segera di cegah om Rolland dan menyuruhnya untuk duduk dan beristirahat saja, mengingat usia muda kandungan Riani yang masih rawan.


Nando yang baru saja keluar dari dapur sambil membawa segelas jus Delima berjalan ke arah tempat di mana Riani duduk.


Sesampainya di hadapan Riani di berikannya gelas yang berada di tangannya pada Riani.


"Minumlah jus Delima ini Mbak, tadi aku sengaja mendadak membuatnya karena agar tetap terjaga rasa segarnya"


"Terima kasih banyak atas niat baikmu ini yang rela repot-repot membuat jus untukku..."


"Tidak perlu sungkan begitu Mba, aku tulus membuatnya karena bagiku Mbak Riani sudah seperti kakak perempuanku sendiri, Minumlah..."


"Baiklah, sekali lagi terima kasih


sudah menganggapku seperti itu"


Nando hanya menganggup dengan senyum tulusnya.


Riani segera meminum jus Delima buatan Nando seteguk demi seteguk, lehernya terasa sejuk karena jus yang mengaliri tenggorokkannya.


Namun tak sebanding dengan kesejukkan yang mengalir di hatinya dan juga perasaan bahagia yang dia peroleh karena perhatian dan sambutan hangat dari Nando, Om Rolland dan semua orang yang tinggal di rumah tersebut.


Begitu pula dengan Bu Widya saat melihat keakraban dan perhatian Rolland juga Nando pada Riani membuat perasaannya ikut terharu.


Karena sebagai Ibu, dia tahu betul bahwa putrinya itu saat ini pasti sudah merasa nyaman dengan Rolland dan Nando.


Dan baru kali ini juga di hatinya timbul perasaan bahagia setelah sekian lamanya, semenjak kepergian suami tercintanya puluhan tahun yang lalu...


Almarhum Muhammad Alfiz Bukhori...


Senyum wanita paruh baya tersebut mengembang seketika, saat melihat Riani dan Nando saling tertawa lebar seolah tanpa ada beban di hati mereka.


Sedangkan di sudut ruang tertentu tampak Rolland menatap Riani, Nando dan Widya secara bergantian, dia pun ikut tersenyum.


Di hatinya juga timbul perasaan bahagia, meskipun harus seperti ini dan dengan cara yang berbeda untuk dia mendapatkan perasaan bahagia tersebut, namun dia rela dan ikhlas...

__ADS_1


...☆☆☆...


__ADS_2