KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
CURAHAN HATI RANDI


__ADS_3

Saat malam tiba barulah terlihat kehidupan malam gili trawangan, saat Randi dan Zoya mengajak Riani berjalan-jalan menuju salah satu Restoran kenalan Pekak.


Mereka berniat untuk melihat-lihat keadaan dan mencicipi makanan yang ada di restoran tersebut.


.............


Jalanan yang begitu ramai dengan hilir mudiknya orang-orang yang berkunjung keluar masuk restoran dan bar-bar yang berdiri di samping-samping jalan, mungkin karena kebetulan malam ini adalah malam Minggu, jadi banyak para wisatawan yang memilih hiburan jauh dari hiruk-pikuknya kesibukan kota.


"Beginilah suasana malam Gili trawangan mbak, apalagi apalagi ada libur panjang seperti ini" kata Randi.


"Iya kak, banyak anak-anak muda yang main ke kafe atau dugem di bar" sambung Zoya.


"Bukannya peluang kerja lebih menjanjikan di gili trawangan ini, di bandingkan dengan di Bali, tapi kenapa kalian lebih memilih bekerja dan sekolah di Bali?" tanya Riani penasaran.


"Karena bekerja di Bali selain gaji lebih besar, juga karena alasan menjaga Zoya yang bersekolah di Bali"


"Iya kak, karena Zoya memang yang menginginkan bersekolah di SMA favorit di Bali, jadi biar Pekak dan Dadong tidak khawatir, mereka menyuruh Bli Randi untuk menjaga Zoya..."


"Jadi saya mencari pekerjaan di Bali dan kami memutuskan untuk tinggal di Bali" kata Randi sambil duduk di bangku restoran menghadap pantai, sambil menatap Zoya yang sedang asyik mengobrol dengan teman prianya, mereka terlihat sangat akrab.


Riani pun ikut duduk di kursi samping Randi dan juga memandang ke arah Zoya.


Seorang pria paruh baya menghampiri mereka, dengan senyum ramahnya dia menyalami Randi dan Riani secara bergantian.


"Apa kabar Randi, sudah lama kamu dan Zoya tidak main ke sini?" tanya pria tersebut sambil memeluk erat tubuh Randi.


"Kabar baik Wak ( panggilan paman dalam bahasa Bali), bagaimana kabar wak Made?" jawab Randi, setelah pria yang di panggil oleh Randi Wak tersebut melepaskan pelukannya.


"Kamu bisa lihat sendiri..." Jawab wak Made sambil tertawa dan merentangkan kedua tangannya, yang menandakan kalau dia baik-baik saja.


"Perkenalkan Wak, ini teman saya dari Jakarta sedang berlibur di sini dan sekarang tinggal di rumah kami" kata Randi memperkenalkan Riani.


"Hallo wak Made, saya Riani...Senang berkenalan dengan Wak" kata Riani.


"Saya juga sangat senang berkenalan dengan nak Riani, selamat datang di restoran western kami ini..."


"Terima kasih banyak wak Made..."


"Wak Made!" teriak Zoya heboh seperti biasanya, dia berlari ke arah mereka dengan di ikuti temannya yang kewalahan mengikutinya.


Sesampainya di depan mereka Zoya langsung memeluk wak Made dengan sangat erat.


"Zoya kangen banget Wak..." kata Zoya manja sambil melepaskan pelukannya dan berkali-kali mencium punggung tangan wak Made.


"Wak juga sangat kangen sama kamu, gimana sekolahnya?" tanya wak Made sambil mengelus lembut kepala Zoya, terlihat sangat jelas kalau wak Made sangat menyayangi Zoya, seperti seorang ayah yang menyayangi anak perempuannya sendiri.


"Sekolah Zoya lancar-lancar saja Wak" jawab Zoya

__ADS_1


"Ajik (panggilan untuk ayah dalam bahasa Bali) kalau sudah ketemu anak perempuan kesayangan langsung lupa sama anak kandungnya..." Kata teman Zoya yang ternyata adalah anak dari wak Made.


"Kalau sama kamu kan sudah bosan setiap hari ketemu, kamu mau tidak jadi menantu perempuan wak Made?" tanya wak Made pada Zoya.


"Zoya maunya jadi anak saja, tidak mau jadi menantu wak Made..." Jawab Zoya polos.


"Lho memangnya anak Wak ini kurangnya apa? badan tinggi dan gagah, wajah tampan menuruni wajah Wak, anak tunggal yang mapan kelak mewarisi restoran Wak, coba yang kurang apanya dari anak laki-laki Wak ini?" canda wak Made.


"Tapi Zoya pengin jadi wanita karir Wak, lagi pula bli Arga belum tentu mau sama Zoya kan?" jawab zoya lagi dengan polosnya, membuat semua tertawa mendengarnya.


"Bli Arga harus mau, bagaimana bli...Mau kan?" tanya wak Made pada anak laki-lakinya itu sambil tersenyum, membuat laki-laki yang di panggil namanya Arga itu menunduk malu.


Membuat Riani jadi tahu kalau Arga mempunyai perasaan pada Zoya, hanya malu mengungkapkannya saja, melihat gelagat itu Riani hanya tersenyum.


"Sudahlah Ajik, jangan menggodaku terus, lagian Zoya juga masih sekolah dan tadi Ajik kan juga sudah dengar sendiri kalau Zoya ingin jadi wanita karir" jawab Arga akhirnya, sambil melirik Zoya yang sudah bergelanyut manja di pundak kakaknya.


"Memangnya siapa yang melarang Zoya tidak boleh bekerja? Ajik cuma pengin menjadikan Zoya sebagai menantu kesayangan Ajik, calon istri kamu dan yang belum jelas itu justru kamunya, mau tidak sama Zoya nantinya?" tanya wak Made lagi, bercanda sambil berusaha mendesak anaknya itu.


"Kalau Arga sih mau-mau saja kalau Zoya juga mau..."Jawab Arga malu-malu.


"Oke deal! sesi perjodohan selesai" kata wak Made sambil tertawa senang.


"Perjodohan? tapi Zoya masih sekolah Wak, Pekak dan Dadong juga harus tahu..." Kata Zoya agak terkejut mendengarnya.


"Kalau masalah perjodohan yang sesungguhnya tunggu nanti kalau kamu sudah siap dan lulus sekolah, tidak sekarang, kalau untuk urusan Pekak dan Dadong kamu mereka pasti akan setuju, karena kami sudah membicarakan ini sejak kalian masih kecil..." Jawab wak Made sambil tertawa riang, karena gemas dengan keluguan calon menantunya itu.


"Ehem...Maaf kalau saya berlebihan, mari masuk ke dalam" kata wak Made sambil mengajak semuanya masuk ke dalam.


Keempatnya langsung mengikuti wak Made memasuki restorannya yang ternyata rame dengan para bule yang sedang menikmati hidangan western dari restorannya.


"Wak mau masak special untuk kalian, jadi kalian duduk dan tunggulah di sini..." Kata Wak Made sambil mempersilahkan mereka duduk di kursi yang sudah di sediakan, setelah semuanya duduk Wak Made pun segera meninggalkan mereka dan masuk ke dalam dapur restoran.


Sambil menunggu, mereka berempat ngobrol santai, hingga Arga mengajak Zoya untuk melihat toko souvenir khas lombok miliknya.


Dan karena penasaran Zoya akhirnya mau di ajak Arga, apalagi jarak toko tersebut tidak jauh dari restoran milik ayah Arga.


Setelah tinggal mereka berdua, Randi dan Riani saling terdiam, tenggelam dengan pikiran mereka masing-masing.


Saat Riani melihat sekeliling di sekitar restoran, tanpa sengaja matanya menangkap sosok pria seperti Radja, namun hatinya tidak yakin karena dia hanya melihat dari bagian belakangnya saja, meskipun dari cara berjalannya sangat mirip dengan suaminya itu.


"Ada apa mbak?" tanya Randi, suaranya sedikit membuat Riani terkejut.


"Tidak apa-apa hanya saja tadi melihat seseorang yang ku kenal tapi...mungkin saja salah lihat" jawab Riani ragu.


"Maaf mbak...Bukannya Randi mau ikut campur tapi Randi cuma mau tanya satu hal saja, bolehkah?" tanya Randi hati-hati.


"Tentu saja boleh, kamu mau tanya apa? kalau aku bisa jawab pasti akan aku jawab"

__ADS_1


"Maaf sekali...Apakah laki-laki yang bernama Radja itu suami mbak Riani?"


"Iya, kamu betul...Dia suamiku, apa ada pertanyaan lagi?" tanya Riani sambil tersenyum.


"Oh tidak, cukup...Maaf ya mbak kalau saya lancang" kata Randi merasa tidak enak hati.


"Tidak apa-apa Ran, lalu... Bolehkah aku juga tanya sesuatu?"


"Silahkan, mbak mau tanya apa?"


"Apa orang tua kalian sudah tidak ada?"


"Iya, orang tua kami meninggal saat menyelamatkan kami dari banjir bandang"


"Banjir? di sini?" tanya Riani bingung, kurang mengerti.


"Orang tua kami bukan orang asli Lombok, papah kami orang keturunan Jepang-Kanada dan mamah kami keturunan Indonesia-Amerika tapi mamah tinggal di Amerika hingga akhirnya mereka saling bertemu secara kebetulan karena sama-sama di tugaskan bekerja di Indonesia, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menikah dan menetap di indonesia"


"Owh begitu, maaf sekali...Jika pertanyaaku membuatmu mengingat kembali kesedihan itu"


"Tidak apa-apa mbak, terkadang saya juga ingin sekali punya teman berbagi cerita masa lalu kami..."


"Kalau begitu kamu boleh menganggapku teman atau bahkan keluarga untuk berbagi kesedihan itu Ran..."


"Terima kasih mbak, kalau memang mbak Riani tidak keberatan"


"Tentu saja aku tidak keberatan, lalu bagaimana dengan keluarga papah dan mamah kamu di luar negeri?"


"Mereka tidak tahu kalau kami berdua selamat, dan hingga sekarang kami berdua juga tidak tahu alasannya, mengapa papah dan mamah kami lebih memilih menitipkan kami pada Pekak dan Dadong yang notabene mereka bukan keluarga kandung kami berdua..."


"Maksud kamu...Pekak dan Dadong yang sekarang merawat kalian bukanlah kakek dan nenek kandung kalian?!" tanya Riani terkejut.


"Betul mbak, mereka berdua dulu adalah pembantu kami dan ketulusan mereka saat merawat kami selama ini dengan penuh *c*inta dan kasih sayang mereka telah membuktikan jika ikatan darah tidaklah penting..."


"Kamu benar Ran dan aku sangat setuju itu, karena jika kamu tidak memberitahuku mengenai hal ini, maka aku tidak akan pernah tahu kalau mereka bukanlah keluarga kandung kalian, karena ketulusan mereka dan kasih sayang mereka benar-benar nyata seperti pada cucu kandung mereka sendiri"


Belum selesai mereka berdua melanjutkan obrolannya, wak Made keluar dari dapur dengan dua asistennya yang membawa baki besar berisikan menu makanan spesial buatan wak Made.


Terlihat Arga dan Zoya juga sudah kembali dari toko souvenir milik Arga, mereka sedang berjalan menuju ke arah Riani dan Randi.


.............


Tidak butuh lama, mereka semua menikmati makanan yang di hidangkan wak Made.


Dengan di selingi candaan ringan, suasana terasa menjadi lebih hangat, sehangat sebuah keluarga meskipun tidak ada ikatan darah diantara mereka...


...☆☆☆...

__ADS_1


__ADS_2