
Setelah Riani selesai makan dengan di suapi oleh Teddy, Om Rolland dan Nando pun berpamitan pulang.
Beberapa menit kemudian Roro ikut pamit pulang sebentar untuk mengambil baju ganti milik Riani dan keperluan lainnya selama dia di rawat di Rumah Sakit.
Sedangkan Teddy untuk sementara menggantikan Roro yang menjaga Riani.
Sebenarnya Teddy ngotot yang akan menjaga Riani selama dia di rawat, namun Riani lebih kekeh menolak untuk di temani olehnya, karena selain ibu Teddy yang juga sedang di rawat di rumah sakit, dia juga mencoba menjaga jarak dengan Teddy sebisa mungkin.
"Mamahku sudah baikan Ai, justru dialah yang menyuruhku untuk menjagamu, karena dia sangat mengkhawatirkanmu..." Kata Teddy, menjelaskan alasannya mengapa dia ngotot sekali untuk menemani Riani.
"Aku tahu Ted, dan sampaikan terima kasihku sama mamah kamu atas perhatiannya, tapi aku lebih mengkhawatirkan beliau, jadi tolong jaga mamah kamu demi aku Ted..."
"Baiklah, kalau itu memang maumu, aku juga tidak akan memaksamu, tapi demi aku juga, jaga dirimu baik-baik oke?"
"Oke, oke...Aku janji..."
Terdengar langkah kaki yang menuju ke arah ruangan Riani, perbincangan mereka berduapun segera terdiam dan menghentikan perbincangan mereka.
Saat pintu terbuka ternyata Rorolah yang datang.
"An-an! ini aku bawakan baju ganti dan barang-barang lain yang kamu butuhkan" Seru Roro setelah dia masuk ke dalam sembari meletakkan bawaannya di atas meja dekat pintu.
"Iya Mi-Ro, terima kasih ya..."
"Karena Roro sudah datang, kalau begitu aku pulang dulu ya Ai?" pamit Teddy, yang kemudian dia bangun dari duduknya.
"Iya Ted, terima kasih sudah menjengukku dan tolong sampaikan salamku pada mamah kamu, semoga beliau cepat sembuh"
"Iya Ai, pasti akan aku sampaikan padanya, Roro...Aku titip dia dan tolong jaga dia untukku"
"Iya Ted, kamu tidak perlu khawatir, aku pasti akan menjaganya dengan baik-baik"
"Terima kasih ya Ro, kalau begitu aku keluar sekarang..."
"Hati-Hati ya Ted!"
Teddy mengangguk, kemudian dia keluar ruangan dan menutup kembali pintunya.
"An-an, sudah waktunya kamu minum obat tepat waktu, karena kata dokter kandunganmu lemah"
"Oke, thanks ya Mi-Ro, maaf...Sudah sering ngrepotin kamu"
"Kamu ini An-an...Kamu tahu betul kalau aku sangat menyayangimu melebihi segalanya, jadi jangan ngomong kayak gitu lagi ya..." Kata Roro sambil mengacak lembut rambut Riani, yang kemudian dia rapikan kembali rambutnya.
"Ayo segera minum obatnya!" lanjutnya lagi.
Riani langsung mengikuti perintah Roro dan meminum obatnya.
.............
Malampun semakin larut, namun mata Riani masih belum bisa dia pejamkan.
Pikirannya di penuh dengan perasaan yang campur aduk, ada kesedihan bercampur kebahagiaan dengan hadirnya makhluk kecil di perutnya itu.
"Kamu belum tidur An-an?" tanya Roro yang terbangun dari sofa tempatnya tidur.
"Aku tidak bisa tidur Mi-Ro..."
"Wajar kalau kamu tidak bisa tidur, karena sekarang kamu sedang bahagia dengan hadirnya buah hati yang selama ini kamu tunggu-tunggu"
__ADS_1
"Aku tidak tahu dengan perasaanku sekarang Mi-Ro, aku memang sangat bahagia karena ada calon anakku di perut ini, tapi...Aku juga sangat sedih karena, mungkin...Dia tidak bisa menikmati kasih sayang kedua orang tuanya yang utuh..."
"Maksud kamu, aku tidak mengerti An-an?" Tanya Roro yang bingung.
Akhirnya Riani menceritakan semua yang terjadi selama dia berlibur di Bali dan Lombok.
Serentetan kejadian yang menimpanya bertubi-tubi dari Riani melihat dengan mata kepalanya sendiri perselingkuhan antara Radja dengan Nadine yang tak lain adalah mantan pacar dari Randi di sebuah hotel, Ethan dengan pribadi lainnya yaitu Josh yang memperkosanya dan yang paling terakhir adalah Riani baru saja menemui anak dan istri lain dari Radja.
Setelah Riani selesai menceritakan semuanya, tangis Roro seketika meledak, hatinya terasa sangat sakit saat mendengar semua cerita Riani, dia seolah ikut merasakan penderitaan yang Riani alami.
Melihat Roro yang menangis pilu dengan suaranya yang lumayan keras, membuat Riani bingung.
Dia segera turun dari Ranjangnya dengan hati-hati, sambil membawa infus dan memegang perutnya dia melangkah pelan menuju sofa di mana Roro duduk.
Di peluknya tubuh Roro, di elus-elusnya punggung Roro dengan lembut.
"Sudah...Berhentilah menangis, seharusnya akulah yang menangis karena aku yang mengalaminya, tapi kenapa justru kamu yang menangis Miro?"
"Karena aku bisa merasakan betapa sangat menderitanya kamu saat mengalami semua itu..." Jawab Roro dengan tangisnya yang semakin tersedu-sedu.
"Bahkan kesedihan dan penderitaanku saat kehilangan suami dan anakku itu tidak ada apa-apanya di banding dengan penderitaanmu..." Lanjut Roro lagi.
"Aku sangat bersyukur karena memiliki sahabat sepertimu Mi-Ro..."
"Aku bangga bisa mengenalmu, karena An-an ku yang dulu masih adik kecilku yang manja, kini sudah berubah menjadi seorang wanita yang kuat"
"Karena keadaanlah yang membuatku harus kuat dan ikhlas Mi-Ro..."
"Harus terus bertahan dan tetap kuat ya adikku sayang...Aku ingin akulah yang menjadi orang pertama yang akan kamu cari jika kamu membutuhkan tempat bersandar dan bantuanku"
"Iya Mi-Ro, aku pasti akan selalu membutuhkamu, terima kasih..."
Keduanya saling berpelukan dengan iringan tangis penuh kepiluan.
.............
"Lalu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya An-an?" tanya Roro kemudian.
"Untuk saat ini, aku belum tahu apa yang akan aku lakukan selanjutnya, karena yang aku utamakan sekarang ini adalah menjaga kesehatan bayi dalam perutku ini" jawab Riani sambil mengelus pelan perutnya yang masih belum kelihatan buncit meskipun usia kandungannya jalan tiga bulan.
"Aku sangat setuju denganmu An-an, lupakan masalah yang lain, lupakan orang-orang yang telah menyakitimu, saat ini yang paling penting adalah menjaga kesehatanmu dan calon bayimu, jadi...Kamu juga tidak boleh terlalu stres"
"Iya Mi-Ro, itu juga yang terpikirkan olehku, sambil menunggu perkembangan hasil pemeriksaan dari dokter"
"Ya sudah, sekarang kamu tidurlah, lihatlah hari sudah terlalu malam, lebih banyaklah beristirahat demi bayi yang kamu kandung ini..." Kata Roro sambil melihat ke arah jam dinding dan mengelus lembut perut Riani.
"Iya Mi-Ro, kamu juga harus segera tidur karena besok kamu harus berangkat kerja kan?"
"Iya aku besok memang berangkat kerja, tapi untuk mengurus ijin cutiku selama kamu di rawat, jadi aku bisa selalu menjagamu"
"Terima kasih Mi-Ro..." Peluk Riani lagi dengan tangis penuh haru.
"An-an ku sayang...Aku menyayangimu lebih dari siapapun, karena bagiku kamulah keluargaku satu-satunya.
"Dan bagiku, kamu jugalah kakak perempuanku satu-satunya..."
Mereka berduapun kembali saling berpelukan.
"Sudah! sudah...Kita kok dari tadi melo terus, buruan kamu tidur gih! ayo aku antar..." Roro langsung mengambil kantong infus yang dari tadi Riani pegang, kemudian dia menuntunnya menuju ranjang.
__ADS_1
Dengan pelan Riani naik ke atas ranjangnya dengan di bantu penuh sabar oleh Roro.
Setelah Riani berbaring, kembali dia mengelus lembut perutnya.
"Mi-Ro...Aku benar-benar masih belum percaya kalau Tuhan memberiku hadiah istimewa si malaikat mungil di perutku ini"
Roro duduk di tepian ranjang samping Riani berbaring.
Dengan penuh kasih sayang di belainya kepala adik tak sedarah kesayangannya itu.
"Tuhan itu Maha Adil An-an...Dia sudah memberimu ujian yang begitu berat, maka kini Dia memberimu hadiah yang teristimewa dan yang terbaik untukmu dengan menghadirkan malaikat kecil di perutmu ini..."
"Haaahhhh...Aku juga tidak menyangka, di tengah-tengah carut-marut dan kacaunya hidupku Tuhan masih memberiku harapan untuk tetap tegar menjalani hidup ini, entah haruskah aku bahagia ataukah bersedih?"
"Tentu saja kamu harus bahagia An-an...Anggap saja ini bonus terindah, hasil dari kesabaran, ketegaran dan keikhlasan kamu dalam menghadapi berbagai cobaan pahit selama ini"
"Apakah aku pantas untuk bahagia dan mendapatkan hadiah istimewa ini Mi-Ro?"
"Pastinya An-an ku sayang...Bahkan kamu sangat pantas untuk mendapatkan hadiah yang sangat special ini, ya semua ini pantas untukmu..."
"Terima kasih banyak Mi-ro sayang, karena selama ini sudah selalu mendukungku..."
"Iya An-an sayang, aku akan selalu dan selamanya akan mendukungmu, apapun keputusanmu, karena aku yakin keputusan apapun yang nantinya akan kamu ambil, itulah yang terbaik untukmu, sudah kamu istirahat dan tidurlah, kasihan bayimu ini..."
"Baiklah, tapi...kenapa tidak ada pergerakan, apakah memang usia kandungan tiga bulan, bayi belum waktunya ada gerakan?"
"Waktu aku mengandung Wyne, di usia tiga bulan sudah ada pergerakan sih, tapi...Sepertinya itu tergantung rahim kita masing-masing, karena setiap wanita mempunyai kekuatan rahim yang berbeda"
"Jadi, apakah rahimku lemah Mi-Ro?"
"Tidak tahu juga An-an, yang terpenting kamu jangan terlalu stres dan selalu jaga kesehatanmu, banyakin istirahat, sedangkan untuk mengetahui lebih rincinya mengenai kandungan dan bayimu, besok nanti kita tanyakan langsung dengan dokter Anita, ayo sekarang kamu harus benar-benar tidur"
"Baiklah, tapi...pengin di elus-elus perutnya Mi-Ro..." Rengek Riani manja.
"Iya, sini aku elus-elus dedek bayinya" jawab Roro sambil mengelus-elus lembut perut Riani.
"Manjanya adik kesayanganku ini, dedek bayi jangan nakal dan yang nurut ya sama mamahmu..."
Riani tersenyum mendengar ocehan Roro yang seperti mamahnya itu.
Perlahan mata Riani terpejam, hingga terlelap dalam tidurnya.
Sedangkan Roro masih tetap mengelus lembut perut Riani.
Di tatapnya wajah yang terlelap dan terlihat lelah itu.
Tanpa dia sadari air matanya mengalir, ada perasaan iba dan sedih saat dia kembali mengingat cerita Riani dan kejadian yang menimpanya bertubi-tubi.
Di elusnya pelan sekali kepala Riani.
"Aku tahu kamu wanita yang kuat, sekuat Srikandi, tetaplah seperti itu adikku tersayang..." Bisik Roro dalam hatinya.
Riani menggeliatkan tubuhnya dengan tangan memegangi perutnya.
Dan seolah mengerti, Roro kembali mengelus lembut perut Riani.
Terlihat wajah Riani kembali tenang dan kembali tertidur dengan lelapnya.
"Jadilah anak yang nurut, tidak boleh rewel, tidak boleh nakal dan jangan pernah merepotkan mamahmu ya wahai cabang bayi...Kelak jika kamu besar nanti, jadilah Srikandi masa depan yang kuat agar bisa menjaga mamah kamu..." Bisik Roro lagi mengutarakan doa dan keinginannya dalam hati...
__ADS_1
Amin...
...☆☆☆...