KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
SENYUM PENUH KETULUSAN


__ADS_3

Riani dan Viola kembali melanjutkan obrolannya, tapi kali ini mereka mengobrol santai di teras rumah.


Tanpa mereka sadari Ethan yang sedang tertidur pulas mulai terbangun karena mendengar obrolan mereka berdua...


Ethan bangun dan duduk termenung sambil menatap pemandangan luar yang sudah remang-remang menjelang senja.


Pikirannya kosong dan masih terlihat linglung saat mendengar istri dan mantan pacar yang masih sangat ia cintai sedang asyik ngobrol santai dan terdengar sangat akrab.


Setelah beberapa saat terbengong, akhirnya Ethan keluar menuju teras rumah di mana Riani dan Viola sedang duduk.


"Kalian sedang asyik ngobrol apa? Ria-ku bagaimana menurutmu rumah ini?" tanya Ethan sambil berjalan ke arah mereka berdua, kemudian berdiri di samping kursi di mana Riani duduk.


"Bagus banget, kalian bisa bulan madu di sini bagaimana Vi?" jawab Riani sambil bangkit dan berjalan ke arah Viola, di rangkulnya pundak Viola, yang langsung mengerti bahwa kini sosok Fa'i telah berganti menjadi Ethan, yang kembali pada pribadi aslinya, meskipun dalam ingatannya Rianilah orang terpenting dalam hati Ethan sekarang ini.


"Kenapa kamu bisa berada di sini bersama Riani?" tanya Ethan tanpa rasa bersalah.


"Aku sengaja mengajaknya, karena aku rasa dia berhak tahu tempat ini, kan dia istrimu..." Jawab Riani, membantu Viola untuk menjawab pertanyaan dari Ethan, karena Riani lihat Viola kebingungan ingin menjawab apa.


"Tapi rumah ini aku buat khusus untukmu dan aku ingin hanya kamu saja yang tahu tempat ini" kata Ethan dengan nada suara agak marah.


"Aku tahu, tapi kamu juga perlu tahu kalau Viola adalah istrimu, dan dia berhak tahu mengenai hal ini, kebetulan dia menyetujuimu memberikan rumah ini untukku, karena dia sudah menganggapku seperti keluarganya sendiri, beruntunglah kamu mempunyai istri yang sangat pengertian seperti dia" bujuk Riani.


"Tapi aku tidak mencintainya Ria-ku..."


"Deg!" Seketika Riani langsung melihat ke arah Viola saat mendengar pernyataan Ethan tadi, dan benar saja, di lihatnya wajah Viola langsung di tutupi awan mendung penuh kesedihan.


"Ethan bisa beri waktu sebentar untuk aku berbicara dengan istrimu?" ijin Riani.


"Kamu ingin bicara apa dengannya?" tanya Ethan penasaran.


"Aku ingin menjelaskan sesuatu padanya"


"Tidak perlu! tidak usah kamu jelaskan, bukankah dari awal sudah jelas dan sudah aku katakan berkali-kali bahwa aku tidak mencintaimu dan kamu tetap menerima itu?" jawab Ethan dan bertanya pada Viola mengenai kejelasan perasaannya pada Viola.


"A...Aku tahu Ethan, tapi..." Jawab Viola dengan mata.yang sudah berkaca-kaca.


"Ethan! please...Beri aku dan Viola waktu untuk bicara berdua saja, jika tidak maka aku akan pergi dari sini sekarang juga!" kata Riani agak marah dan tegas.


"Baiklah, aku beri waktu kalian untuk bicara sepuluh menit" jawab Ethan tunduk.


"Ayo Viola kita masuk ke dalam" kata Riani sambil menarik tubuh Viola yang dari tadi hanya diam mematung, kemudian Riani membawa Viola masuk ke dalam kamarnya.


"Aku mohon kamu jangan terlalu mengambil hati kata-kata dari Ethan tadi, aku mohon kamu percaya padaku bahwa aku tulus hanya berniat membantu Ethan demi kesembuhannya, dan kita benar-benar harus bisa bekerja sama" kata Riani setelah mereka sudah berada di dalam kamar.


"Iya kak, aku percaya padamu kok, dan terima kasih mau membantunya yang berarti juga membantuku, karena aku yakin tidak akan kuat jika aku sendirian menghadapi Ethan dengan kondisi yang seperti itu..."

__ADS_1


"Kamu yakinlah pada dirimu, hatimu dan perasaanmu terhadap Ethan, dan aku yakin kelak Ethan akan menyadari keberadaanmu di hatinya"


"Tapi...Apakah itu mungkin kak?" tanya Viola ragu.


"Tentu saja mungkin, jika Tuhan sudah berkehendak seperti itu, percayalah..."


"Tapi pasti akan menunggu waktu yang lama untuk Ethan menyadari ketulusan cintaku kak..."


"Aku tahu itu, tapi kamu juga harus ingat karena waktu jugalah perasaan bisa di bolak balik dan berubah, contohnya seperti cinta aku pada Ethan, jadi asal kamu sabar dan ikhlas menunggunya, aku yakin waktu itu pasti akan datang untukmu..."


"Terima kasih kak, sekarang pikiranku terbuka dan hatiku jadi tenang, jadi selanjutnya apa yang harus kita lakukan sekarang kak?" tanya Viola dengan penuh semangat.


"Bagus! semangat yang seperti itu yang aku inginkan, nanti aku akan ajak suamimu ke kamar ini dan pelan-pelan menjelaskan mengenai perasaanku padanya setelah melihat foto ini" kata Riani sambil menunjuk ke arah foto bertiga tersebut.


"Jadi aku mohon kerjasama kamu untuk memberi waktu untukku dan Ethan agar aku bisa menjelaskan semuanya"


"Baiklah kak..." Jawab Viola mengangguk dengan senyum manisnya.


"Sekarang, sebaiknya kita keluar dan temui Ethan, saat aku bicara dengan Ethan, aku ingin kamu tetap siaga jika nanti terjadi sesuatu, karena aku takut saat aku menjelaskan semuanya dia tidak bisa menerimanya dan pribadi lain dari Ethan akan muncul "


"Baik kak, aku siap!"


"Ayo kita keluar sekarang"


Keduanya keluar dengan senyuman di kedua bibir mereka, Ethan yang melihat keakraban mereka yang seperti saudara membuat hatinya semakin bimbang, karena dia berpikir pasti akan lebih sulit mendekati dan mendapatkan lagi hati Riani.


Riani segera berjalan mendekati Ethan yang masih berdiri terbengong melihatnya dan Viola.


"Ethan aku ingin menjelaskan sesuatu, ayo ikut aku..." Kata Riani lembut.


Ethan melirik sebentar ke arah Viola yang sudah duduk kembali di tempatnya, dia segera menganggukkan kepalanya dan tersenyum, tanda dia mengijinkannya untuk ikut dengan Riani.


Ethan kemudian mengikuti langkah Riani yang masuk ke dalam kamarnya.


"Sebenarnya apa yang sudah kamu bicarakan dengan Viola? dan apa yang ingin kamu jelaskan padaku?" tanya Ethan manja sambil memeluk Riani dari belakang setelah mereka sampai di dalam kamar Riani.


"Ethan, kamu jangan begini...Istri kamu sedang ada di sini, aku tidak enak padanya jika di melihatmu seperti ini..." Kata Riani sambil buru-buru melepaskan pelukan Ethan.


"Kenapa Ria-ku, aku sangat merindukanmu, dan hari ini..." Kata Ethan tidak melanjutkan kalimatnya melainlan mengambil sebuak kotak mungil di saku celananya, dan saat dia membukanya ternyata sebuah kalung dan cincin.


Namun saat Riani mengamati lebih cermat lagi, ternyata kalung itu adalah kalung miliknya yang telah dia buang saat di kamar hotel, di malam resepsi pernikahan Ethan dengan Viola.


"Bukankah kalung itu aku sudah membuangnya, sesuai dengan permintaanmu? kenapa sekarang bisa ada di tanganmu lagi, apakah kamu mengambilnya?" tanya Riani berturut-turut.


"Ya Ria-ku, aku dengan susah payah mencarinya, akhirnya di temukan, Aku mohon maafkan aku Ria-ku...Waktu itu aku hanya mengujimu, tapi ternyata kamu benar-benar melakukannya..." Kata Ethan dengan tatapan penuh kesedihan.

__ADS_1


"Karena memang aku harus lakukan itu, kamu sekarang sudah menikah begitu juga denganku, jadi mari kita saling menyadari dan melupakan masa lalu kita Ethan..." Bujuk Riani dengan memegang lembut tangan Ethan.


"Tapi aku tidak bisa Ria-ku...Lagi pula aku menyetujui menikahi Viola karena kita berdua sepakat membuat perjanjian, karena itulah aku mau menikahinya..."


"Perjanjian apa? pernikahan bukanlah untuk main-main Ethan, aku tidak setuju jika kalian melakukannya!" kata Riani dengan nada agak marah.


"Aku dari awal sudah menolaknya berkali-kali tapi dia dan ayahnya selalu mendesakku, hingga aku dan Viola membuat perjanjian jika aku sudah menemukanmu maka aku akan menceraikannya, tapi dia menolaknya dan sebagai gantinya agar dia tetap menjadi istriku, aku di ijinkan berpoligami dan menikahimu..."


"Apa! gila ya kalian?!" seru Riani kaget setelah mendengar penjelasan dari Ethan.


"Aku melakukannya karena dalam posisi yang serba salah Ria-ku..."


"Meskipun begitu aku sangat menentang kalian melakukan itu dan aku tidak akan pernah setuju!"


"Tapi Ria-ku, aku mohon terima kembali dulu kalung ini dan jika kamu tidak mau memakainya, maka simpanlah, aku mohon demi aku..." Pinta Ethan dengan nada memelasnya.


"Baiklah aku akan menerima kembali kalung ini dan menyimpannya, dan untuk kehidupan keluarga kalian terserah mau menjalani mahligai pernikahan seperti apa dengan perjanjian seperti itu, tapi yang jelas aku tidak akan menerimanya, dan satu lagi Ethan, ada yang perlu aku perjelas mengenai perasaanku padamu saat ini..." Kata Riani pelan-pelan menarik nafas, kembali dengan suara lembutnya, karena dia tidak ingin membuat Ethan shock dan penyakitnya kambuh.


"Maksud kamu?" tanya Ethan tidak mengerti.


"Kamu lihat foto yang kamu pajang itu? kita bisa lihat foto ayahku dan kita berdua dengan tersenyum penuh kebahagiaan layaknya sebuah keluarga bukan?" Kata Riani sambil menujuk ke arah foto tersebut.


"Iya kita seperti keluarga bahagia..." Jawab Ethan dengan wajah bahagianya, tanpa mengerti maksud perkataan Riani yang sebenarnya.


"Itulah maksudku, keluarga yang sebenarnya..." Jawab Riani lagi dengan maksud tersirat.


"Maksud kamu Ria-ku?" tanya Ethan lagi yang mulai menyadari ada maksud tersembunyi dari perkataan Riani tersebut.


"Kamu tahu kata-kata terakhir yang ayahku katakan sebelum dia meninggal?"


Ethan hanya menggelengkan kepalanya dengan ekspresi wajahnya yang polos.


Angan Riani kembali pada kenangan saat-saat terakhir ayahnya meninggal dan mengatakan kalimat yang membuatnya selalu ingat hingga sekarang...


"Anak perempuan kesayangan ayah, kamu harus menjadi perempuan yang kuat kelak, karena sebentar lagi ayah akan menyusul Ethan, nanti kalau ayah di sana bertemu dengan Ethan, ayah pasti akan menjaganya untukmu, seperti anak kesayangan ayah sendiri, jadi kamu tidak perlu cemas dan khawatir, tetaplah tersenyum meskipun ayah nanti tidak bisa menemanimu lagi..."


Mata Riani kembali menatap Ethan yang masih menunggu jawaban dari pertanyaannya itu.


Pria gagah yang sedang berdiri di hadapannya itulah yang seharusnya akan ayahnya jaga, tapi takdir berkehendak lain untuk Ethan, hingga akhirya Ethan hidup kembali.


Hingga kini Ethan menjalani kehidupannya dengan goresan luka lama yang akhirnya menciptakan jiwa lain yang tumbuh di imajinasi dan raga Ethan yang selalu menyiksanya.


Karena itu, Riani harus menyadari dan berusaha agar sebisa mungkin tidak menciptakan dan menimbulkan masalah yang bisa mengakibatkan jiwa dan pribadi lain muncul ke permukaan, dengan cara tetap tersenyum, seperti yang almarhum ayahnya inginkan, meskipun hatinya bertolak belakang dengan kenyataannya, namun di depan Ethan dia harus bisa kuat dan menjaga perasaannya dengan tetap tersenyum, senyum penuh ketulusan berharap Ethan bisa menerima kenyataan nantinya...


...☆☆☆...

__ADS_1


__ADS_2