KESETIAAN YG TAK TERBATAS

KESETIAAN YG TAK TERBATAS
CINTA BERTEPUK SEBELAH TANGAN


__ADS_3

Keheningan menyelimuti suasana ruangan, seolah menyelami pikiran Viola dan Teddy yang masih belum bisa menela'ah perasaan mereka dalam menyikapi apa sebenarnya yang telah terjadi dengan orang yang mereka berdua cintai.


"Lalu...Apakah kamu tahu, apa yang telah terjadi sebenarnya antara Riani dan Ethan?" tanya Teddy memecah keheningan.


"Aku juga tidak tahu pasti, tapi yang jelas Ethan telah melakukan sesuatu yang membuat kak Riani ketakutan seperti itu, apalagi saat ku lihat ekspresi wajah Ethan yang merasa bersalah dan penuh penyesalan, aku yakin pasti telah terjadi sesuatu, tapi...Apa itu kita tidak tahu"


"Mungkin lebih baik aku tanyakan langsung pada Ethan sekarang" kata Teddy dengan nada sedikit Emosi.


"Tunggu bang Teddy!" cegah Viola.


"Ada apa Vi? tolong jangan cegah aku untuk menanyakannya pada suamimu"


"Ada yang belum aku beritahu mengenai sisi lain Ethan, suamiku"


"Maksud kamu Vi?" Teddy langsung menghentikan niatnya dan berbalik kembali ke arah Viola berdiri.


"Setelah Ethan kembali sadar dari mati surinya, ternyata ada efek lain dari kehidupan barunya itu, dia menderita sakit psikologi"


"Maksud kamu Vi, aku semakin tidak mengerti?"


"Ethan menderita kepribadian ganda..."


"Ethan?! dia?" Teddy langsung terkejut mendengar perihal penyakit Ethan.


"Ya, dia memiliki tiga kepribadian, Ethan, Rifa'i dan Josh"


"Lalu tiga kepribadian itu mewakili siapa saja?"


"Tiga kepribadian Ethan mewakili masa kecil Ethan yaitu Rifa'i atau Fa'i, lalu Ethan kepribadian asli dia dan Josh dia merupakan pribadi asing dengan watak baru yang garang dan dingin, tetapi...dari semua ketiga kepribadian dengan karakter yang berbeda dan saling bertolak belakang tersebut justru hanya mengingat satu nama dan sosok yaitu kak Riani..."


"Apakah..." Kata Teddy ragu dan tidak melanjutkan pertanyaannya.


"Ya apa yang kita pikirkan hampir sama, kemungkinan paling besar pribadi yang membuat kak Riani ketakutan seperti itu adalah Josh, hanya karakter dia yang mampu melakukan hal seperti itu..."


"Tapi hal seperti itu yang seperti apa Vi? walaupun Ethan melakukannya karena dalam kepribadian yang lain, tapi jika dia menyakiti Riani, maka aku tidak akan melepaskannya, meskipun dia suamimu..."


"Aku tahu dan mengerti sekali, karena akupun tidak mau terjadi sesuatu yang tidak di inginkan dengan kak Riani, apalagi Ethan adalah suamiku..."


"Aku serahkan masalah suamimu padamu, jadi tolong kamu jaga dia baik-baik dan jangan pernah dia berani-berani lagi menyentuh Riani..."


"Aku mengerti bang, hanya saja...Saat ini keadaan psikis Ethan sedang rapuh-rapuhnya dan hanya kak Riani yang bisa membantunya..."


"Lalu haruskah Riani yang menjadi korban untuk kesembuhan suamimu?! dan jika terjadi sesuatu lagi pada Riani apakah kamu akan tanggung jawab?" tanya Teddy mulai emosi.


"Aku tahu kekhawatiran bang Teddy, tapi kesembuhan Ethan juga keinginan kak Riani, karena itu dia mau membantuku menjaga Ethan, dan tentu aku pasti akan bertanggung jawab bila terjadi sesuatu lagi pada kak Riani, ada yang perlu bang Teddy ketahui, Ethan hanya mencintai dan menyayangi kak Riani bukan aku, mungkin statusku istri Ethan tapi baginya kak Rianilah segalanya, cinta dan sayangnya, belahan hatinya bahkan hidupnya, karena aku yakin saat kejadian kecelakaan ayahnya kak Riani, mungkin Ethan mendengar teriakan kak Riani yang memilukan, hingga membuat Ethan bisa kembali hidup dari mati surinya..."


"Kalau memang Riani segalanya bagi Ethan, lalu kenapa dia justru menyakitinya? dengan sakit yang dia derita itu bisa membuat Riani tertekan..."


"Aku tahu itu bang, tapi apa dayaku, meskipun aku adalah istrinya tapi dia tidak menganggapku pernah ada..."

__ADS_1


"Maafkan aku Vi, jika kata-kataku menyakitimu, hanya saja tadi aku terbawa emosi, aku mengerti sekali perasaanmu menjadi orang yang tidak di anggap oleh orang yang kita cintai..."


"Kita berdua menyedihkan ya bang, cinta kita berdua sama-sama bertepuk sebelah tangan..."


.............


"Pekak dan Dadong sudah menunggu di bandara bersama koper milik mba Riani, mereka berdua ingin melihat keadaan kak Riani..." Kata Randi yang tiba-tiba masuk ke dalam, membuat Teddy dan Viola menghentikan pembicaraan mereka.


"Apakah kamu menceritakan kejadian yang di alami Riani?" tanya Teddy.


"Tidak bang, mereka khawatir karena memang kak Riani kurang sehat sejak sebelum kita pergi berlayar, jadi mereka khawatir"


"Ya itulah yang membuatku juga khawatir, karena itu aku pulang untuk menemani Riani, lalu bagaimana keadaan Ethan?"


Mendengar Teddy akan pulang bersama Riani, ekspresi wajah Randi seketika berubah muram, dan tanpa sengaja Viola melihat perubahan wajah muram Randi tersebut.


"Pesona sosok Riani se-begitu kuatkah hingga banyak lelaki yang mengelilinginya dan berlomba-lomba untuk mendapatkan hatinya, termasuk suamiku..." Batin Viola, terbesit perasaan iri dan cemburu dalam hatinya, karena dia merasa sebagai sesama wanita, tidak seberuntung Riani.


"Bang Ethan masih tertidur, ada Arga yang menjaganya" jawab Randi mencoba menyembunyikan rasa cemburunya.


Jawaban Randi membuyarkan lamunan Viola.


"Aku sudah menghubungi tim dokter yang menangani Ethan, mereka sudah menunggunya di Bali, dan sampai kak Riani terbang dia masih tertidur, jadi kalian tidak perlu khawatir"


"Kalau begitu aku akan melihat mba Riani" kata Randi akan beranjak pergi.


"Riani tidak di kamarnya, dia ada di kamarku bersama Zoya"


"Kalau begitu aku ke kamar bang Teddy..."


"Kalau begitu aku akan ke kamar Ethan, mengecek keadaannya" kata Viola, dia bangun dari duduknya kemudian berjalan keluar meninggalkan Teddy dan Randi.


"Ayo, kita bersama melihat Riani" ajak Teddy tanpa tahu apa yang sedang Randi rasakan.


Keduanya menyusul Viola keluar dari ruangan tersebut, kemudian mereka bertiga berpisah menuju kamar tujuan mereka masing-masing.


.............


Saat Teddy dan Randi masuk ke dalam kamar di mana Riani dan Zoya berada, ternyata Riani sudah terbangun.


"Apakah sebentar lagi sampai Ted?" tanya Riani bangun dari duduknya di sisi ranjang dengan tubuhnya yang masih lemah.


"Sepertinya sebentar lagi sampai Ai..." Jawab Teddy berjalan mendekati Riani yang masih berdiri terpaku di sisi ranjang.


Mata Teddy menatap iba dan sedih melihat Riani yang terlihat lemah tak berdaya, di lihatnya wajah Riani oleh Teddy, kemudian angannya melayang di masa lalu, sosok Riani yang dia kenal dulu bukanlah seperti sekarang ini, dia sudah banyak berubah, dulu sosok Riani yang kuat dan ceria, bahkan bila mereka berdua sedang bercanda Riani bisa membopong tubuh Teddy karena dia tahu Riani pernah mempunyai kekuatan tenaga dasar yang kuat, tapi saat Teddy melihat Riani yang ada di hadapannya sekarang ini, bahkan Teddy tidak tega dan tidak sanggup untuk melihatnya, Riani yang lemah tidak berdaya dan wajah yang tertutup mendung kesedihan.


"Tedd?? kamu belum jawab pertanyaanku?" tanya Riani bingung dengan sikap bengongnya Teddy.


"Eh...I...Iya Ai, tadi kamu tanya apa? maaf tadi aku kurang mendengar pertanyaanmu..." Jawab Teddy tergagap.

__ADS_1


"Aku dengar kamu juga mau pulang hari ini, apa benar Ted?"


"Iya Ai, jadi biar sekalian aku mengantarmu juga"


"Kalau kamu masih ada urusan di sini kamu tidak perlu mengantarku Ted, aku bisa pulang sendiri kok...


"Dengan keadaanmu yang masih seperti ini aku khawatir Ai, jadi aku harus mengantarmu, lagi pula urusanku yang di sini masih bisa aku handle nanti"


"Tapi Ted..."


"Ai...Tolonglah...Biar aku menjagamu sampai pulang, oke?"


"Terserah kamu Ted..."


Randi dan Zoya hanya diam seribu bahasa mendengar perbincangan antara Teddy dan Riani.


Zoya yang melihat perubahan wajah kakaknya ada perasaan sedih dan iba, karena dia tahu cinta kakak laki-laki kesayangannya itu pasti akan berakhir dengan terluka hatinya.


Kemudian Zoya berjalan pelan mendekati Randi kakaknya itu, dan dengan lembut di pegangnya pundak Randi.


Randi menengok ke arah adiknya yang berdiri di belakangnya dengan pandangan mata sayunya, kemudian keduanya saling tersenyum getir, seolah kakak ber-adik tersebut saling mengerti dengan perasaan yang terikat oleh tali sedarah tersebut.


"Sebentar lagi kapal segera sampai di pelabuhan Bali, jadi kita bisa bersiap-siap sekarang"


Suara Arga memecah keheningan di ruangan itu, Arga langsung merasa suasana yang kurang nyaman di ruangan tersebut, seolah ada aura tidak terlihat yang mengusik indra sensitifnya, apalagi saat keempat orang tersebut semuanya melihat ke arahnya.


"Lalu bagaimana dengan Viola dan Ethan sendiri?" tanya Riani dengan ekspresi wajah yang tidak bisa di baca oleh mereka.


"Viola masih menjaga Ethan di kamarnya, mba Riani bisa tenang karena semuanya aman terkendali"


"Terima kasih banyak ya Ga, maaf kalau selama aku di sini sudah merepotkanmu dan salam pamit saya untuk ayahmu ya Ga..."


"Sama-sama dan jangan sungkan-sungkan mba, iya nanti pasti akan aku sampaikan salam mba Riani"


"Saya sangat berterima kasih sekali dan mohon maaf jika selama aku di sini sudah merepotkan kalian semua..."


"Kami semua tidak merasa seperti itu kak, justru kami minta maaf jika selama kak Riani liburan di sini kak Riani tidak bisa menikmatinya..." Jawab Zoya sambil memeluk tubuh Riani.


"Mbak Riani kalau sudah sampai di Jakarta jangan lupa beri kabar pada kami di sini, agar Pekak dan Dadong bisa tenang, aku juga berharap Mbak Riani tidak bosan untuk kembali lagi ke sini bertandang di rumah kami lagi..."


"Iya Ran, nanti aku pasti akan ke sini lagi..."


Teddy bukannya tidak tahu kalau Randi juga menyimpan perasaan pada Riani, akan tetapi dia hanya bisa memberitahu Randi secara halus melalui sikapnya untuk bisa menyerah pelan-pelan pada Riani, karena untuk mendapatkan hati Riani sangatlah sulit, itu yang ia rasakan, meskipun dia dulu pernah menjadi mantan kekasihnya, namun tetap saja sangat menyakitkan jika akhirnya kita tahu bahwa perasaan kita pada orang yang kita cintai hanyalah cinta bertepuk sebelah tangan saja.


"Ayo sekarang kita bersiap-siap karena kapal sudah akan beesandar" ajak Arga.


Dengan sabar Teddy di samping Riani mengikuti langkah Riani yang pelan keluar.


Sedangkan Randi masih berdiri termangu menatap Riani, dia menyadari kalau perasaannya pada Riani tidak akan berujung berbalas, dan mungkin bahkan hanya berujung penolakan.

__ADS_1


Jika itu memang terjadi maka pasti akan sangat menyakitkan baginya, akan tetapi Randi sudah siap akan resiko itu dan membiarkan cinta bertepuk sebalah tangan dia tersimpan rapat-rapat di hatinya...


...☆☆☆...


__ADS_2