
" Gue gak salah lihat kan Tur?,sumpah dia cantik banget ya ampun.Lo kenapa si,milih cewek tu yang cantik cantik amat,bisa gak bagi sama gue ".Edwart sangat terkejut melihat kecantikan Renata,dia tidak menyangka ternyata seorang Renata itu benar benar cantik." Cewek itu bukan barang,yang seenaknya harus di bagi bagi ".
" Udah cantik,baik,perhatian,solehah.Cocok banget emang sama gua ".Edwart menggeleng gelengkan kepalanya sambil melihat ke arah pintu yang tadi Renata tutup.
" Apa lo bilang?,cocok sama lo?.Enak banget lo ngomong ".
" Bercanda Tur,ya ampun.Serius banget si lo,gua do'ain semoga lo jodoh tu sama Renata,aamiin ".
" Aamiin ".
***
Renata sedang menunggu di dalam mobilnya yang terjebak oleh macet,dia takut tiba di rumah saat sudah sangat malam.Jika tidak nanti dirinya akan di marahi oleh abangnya.Sesekali Renata memeriksa hpnya,siapa tahu abangnya kembali menghubunginya atau mengirim pesan kepadanya.Namun sayang,tidak ada satu pesan yang ia terima dari abangnya.Renata kembali meletakan hpnya dan kembali melihat ke arah jalanan.
" Ya allah,panjang banget macetnya.Semoga gak kemalaman deh pas sampai di rumah ".
Dua jam sudah Renata terjebak di dalam kemacetan,dirinya sudah tidak tenang karena macetnya tidak ada ujungnya.Renata harap ada ke ajaiban,entah apa yang akan terjadi jika dirinya kemalaman.Sesekali Renata juga mengetuk ngetuk setir mobilnya dengan jari telunjuknya,mobilnya mulai maju sedikit demi sedikit.Sampai akhirnya waktu bertambah menjadi tiga jam,dan setelah itu dia dan mobilnya berhasil keluar.
__ADS_1
Renata langsung menancap gas menuju rumahnya,ia tahu kalau abangnya akan segera marah kepadanya.Renata membunyikan klakson nya disaat sudah berada di depan gerbang,gerbang pun telah di buka dia langsung memasukan mobilnya ke pekarangan rumahnya.
Dengan cepat Renata keluar dari mobil,dan saat keluar dia melihat Akhtar yang sedang melihat ke arahnya di teras rumahnya." Ngapain dulu sama si Artur?,hah?.Dari abang telepon kamu,udah tiga jam lho ".Terlihat sekali kemarahan Akhtar di wajahnya,dan itu membuat Renata sangat gugup." Enggak ngapa ngapain,tadi Rena kejebak macet ".Renata hanya menunduk,dia tidak berani meluhat ke arah abangnya,yang sedang memasang wajah marah.
" Alasan,pasti kamu ngelakuin sesuatu dulu kan sama si Artur.Abang gak suka ya,kalau dengar kamu bersamaan sama laki laki yang bukan siapa siapa kamu.Apa lagi kamu berduaan di ruangan rumah sakit,gak baik lho ".
" Kok abang jadi marah si?,aku udah kasih tau kan kalau aku kejebak macet,malah nuduh yang enggak enggak lagi.Aku juga tau,kak Artur bukan siapa siapa aku.Aku mau tanya ya,emang kalau berduaan sama seorang laki laki harus punya pangkat pacar dulu gitu?,harus punya pangkat suami dulu?.Enggak kan,teman juga bisa jadi.Udah Rena cape,Rena mau istirahat.Terserah mau abang percaya atau enggak ".Kemudian Renata melangkah melewati abangnya masih diam mematung setelah mendengar ucapan nya.
" Ren,Rena ".Akhtar memanggil Renata yang sudah pergi duluan,namun Renata tidak mengubrisnya dia tetap berjalan dan tidak mendengar apa yang abangnya ucapkan.Saat tiba di kamar,Renata langsung mengunci pintu kamar.Kemudian Renata meletakan tasnya di meja dan merebahkan tubuhnya di kasur.Renata menyembunyikan wajahnya di bantal,dan air mata yang keluar mulai membasahi bantalnya.Renata merasa lelah keadaan yang terus menyalahkan dirinya,Renata merasa lelah di hari ini.
Dia sudah bergegas pulang cepat dari rumah sakit,tapi apa saat dia tiba di rumah,dirinya malah di tuduh melakukan hal yang tidak tidak.Dia sudah sabar menunggu selesainya kemacetan yang panjang,tapi apa perkataan nya hanya di katakan alasan.Renat lelah dengan semuanya,dia lelah karena dengan keadaan,waktu dan semua orang.
Sedangkan di rumah sakit,Artur merasakan perasaan yang aneh.Tiba tiba saja dia teringat pada Renata dan khawatir kepadanya,Artur meminta tolong kepada Edwart untuk mengambilkan hpnya,karena saat itu Artur berniat untuk menghubungi Renata.Setelah hpnya di ambilkan,Artur langsung mencari kontak Renata dan menghubunginya.
Panggilan pertama tidak ada jawaban dari Renata,panggilan kedua pun sama di karenakan hp Renata terletak dan tertinggal di dalam mobil.Jadi percuma Artur meneleponnya beberapa kali,karena tidak akan ada jawaban.
" Tur,lo kenapa?.Kayak khawatir gitu ".Ucap Edwart yang menghampiri Artur." Gak tau,tiba tiba gue ke inget sama Renata.Gue khawatir terjadi sesuatu sama dia,gue telepon dia beberapa kali tapi gak ada jawaban ".
__ADS_1
" Mungkin Renata udah tidur,lihat tu udah malam kan hampir larut lagi.Mending sekarang lo tidur juga,lagian besok Renata pasti datang lagi kesini kok.Lo harus istirahat Tur,biar lo cepat sehat ".Artur hanya memandangi layar hpnya,dia membuka galery di hpnya dan melihat foto Renata yang sedang tersenyum.Artur juga ikut tersenyum melihat foto tersebut,terlihat jelas sekali kalau senyuman Renata itu tulus.Kemudian Artur mematikan hpnya dan meletakan nya di meja,dia di bantu tidur oleh sahabat Edwart,Edwart membantu Artur untuk merebahkan tubuhnya dan menyelimbuti tubuh Artur.
" Wart,lo tidur juga ya.Lo besok harus kerja,gak papa gue gak ada yang jagain juga.Yang penting besok lo harus kerja,ya.Bantu selesain kerjaan gue yang tertunda,nanti lo gue utus buat pergi ke Amerika.Gue tau gue gak bakalan bisa datang kesana,tapi gue yakin kalau lo bisa gantiin posisi gue ".
" Apa!,ke amerika?!.Gak bisa Tur,gue gak bakalan bisa gantiin posisi lo.Peran lo itu penting disana,lo harus sembuh,lo pasti bisa ".Edwart menolak permintaan Artur,mana mungkin dirinya bisa meggantikan posisi Artur di amerika nanti." Gak bisa Wart,soalnya waktunya lusa.Lo harus bisa ya,tolong bantu gue karena gue cuma percaya sama lo ".
" Baiklah,jika ini kemauan lo.Gue mau gantiin posisi lo,gue yakin gue pasti bisa.Tapi sebelum gue pergi kesana,lo harus jadian dulu sama Renata ".Artur kira ucapan Edwart itu serius,tapi apa.Di kalimat akhirnya tersemat kata kalau dia harus jadian sama Renata.Artyr memejamkan matanya dengan membuang nafas berat.
" Wart,serius bisa kan? "." Gue juga serius Tur,gue bakalan berjuang mati matian buat lo,kalau lo udah jadian sama Renata ".Artur sudah pusing dengan sahabatnya yang satu itu,dia memang belum pernah bisa di ajak serius.Kelakuan nya bagaikan pelawak,seriusnya aja di bercandain.
" Itu urusan nanti,yang penting lusa lo terbang ke amerika,dan besok lo perhatiin apa yang asisten gue arahin,untuk lo bisa pertahanin saham perusahaan gue ".
" Iya iya,besok gue mau ikutin arahan asisten lo.Tapi gue takut,nanti sahamnya malah di rebut gimana Tur ".
" Katanya lo yakin,gimana si.Udah sekarang lo tidur,karena besok lo mulai sibuk ".
Dan akhirnya mereka mengakhiri pembicaraan nya dan berlalu tidur.
__ADS_1
Bersambung.