
-Siapa yang tidak bahagia ketika kita di belai oleh seorang ibu apa lagi itu adalah pertama kali kita merasakannya.
Siang ini dokter kembali memeriksa kondisi Renata dan alhamdulillah kondisinya semakin membaik karena itu Renata akan segera di pindahkan ke ruang rawat inapnya.
Selama ayah dan ibunya ada di sampingnya,Renata sama sekali tidak meliriknya dan Renata hanya diam dan memejamkan matanya.
Renata memejamkan matanya di karena kan tidak ingin melihat wajah kedua orang tuanya.
Sesampainya disana dokter mengganti perban kepala Renata dan perut Renata.
" Domter,perut saya kapan akan sembuh ya?."
Renata mulai banyak bertanya kepada dokter yang sedang menjalani tugasnya.
" Sesuai kering lukanya aja,kalau mudah kering dan jahitannya tidak robek maka dalam jangka sembilan atau sepuluh hari akan segera sembuh."
" Mmm,kalau kepala?."
" Sama,hanya saja di dahi kamu terdapat retak tulang jadi akan lumayan lama proses penyembuhannya dan ingat ya kamu jangan asal menekan dahi kamu,karena ini belum seratus persen sembuh."
" Iya dok."
" Yasudah kalau begitu,saya pergi dulu ya.Kamu jangan lupa istirahat,nanti sore saya akan kembali."
" Bapak,ibu.Saya ada kabar gembira untuk kalian."
Ucap dokter ketika keluar dari ruangan dan membuat semua penasaran.
" Saya rasa ingatan yang mengganggu ingatan Renata akan segera sembuh,setelah saya memeriksanya tadi."
" Alhamdulillah,dokter serius kan?."
Dokter pun menganggukkan kepalanya.
" Apa sekarang ingatannya sudah kembali normal dok?."
" Belum pak,saya bilang baru rasa bukan sembuh.Kita bantu saja dengan do'a ya,semoga Renata cepat sembuh dan ingatannya segera di normalkan."
" Aamiin."
__ADS_1
" Bentar,kok aku jadi linglung kayak gini si?.Aku tadi,astaghfirullah tadi aku udah ngomong yang enggak enggak sama ibu dan ayah,ada apa dengan aku ini kenapa aku bisa seperti itu,apa jangan jangan aku udah bikin mereka sakit hati.Aku aneh banget sama diri aku sendiri,kenapa coba bisa lakuin itu sama ayah dan ibu."
Tidak lama dari situ Ayah dan ibu pun masuk dan Renata melihat ke arahnya.
" Ayah,ibu."
Ayah bersama ibu pun tersenyum kepada Renata,mereka senang karena apa yang di kira kira kan dokter benar benar terjadi.
" Ayah,ibu.Maafin Rena ya,Rena udah bersikap gak baik sama ayah dan ibu,Rena minta maaf sama ayah dan ibu."
Ucap Renata sambil memegangi tangan ayah dan juga ibunya dan dia pun menangis.
" Gak papa sayang,maafin ayah dan ibu juga ya tentang masa lalu kamu,ayah sama ibu minta maaf yang sebesar besarnya."
" Gak ayah sama ibu gak boleh minta maaf sama Rena,gak boleh.Rena janji Rena gak akan lakuin hal yang seperti tadi lagi,Rena janji."
Kemudian ayahnya mengecup tangan Renata yang sedang ia genggam setelah tadi ayahnya menggenggam tangan Renata.
" Yaudah kalau begitu kamu istirahat ya,ibu temenin kamu disini."
Renata pun memejamkan matanya sambil merasakan belaian tangan sang ibu di kepalanya dan itu sangat membuat Renata nyaman sampai Renata pun tertidur.
' Putriku,ini adalah belaian pertamaku kepadamu.Karena selama ini ibu tidak pernah mengelus kepalamu,nak dan disaat merasakannya ternyata ini sangat luar biasa,sungguh ibu bahagia melakukannya kepadamu.'
" Bang,Renata udah baikan?."
" Alhamdulillah udah,kok kamu baru datang Cy?,biasanya juga pagi pagi kamu udah kesini."
Sebenarnya Lucy bekerja kembali di kafe dan dia menyempatkan waktu untuk datang ke rumah sakit di waktu jam makan siang.
" Sebanarnya aku kerja dulu bang,dan sekarang aku nyempetin buat kesini.Oh ya,di dalam ada siapa?."
" Di dalam ada kakak,tapi mungkin bentar lagi ke luar."
Dan benar saja tidak lama dari situ ibu Renata keluar dari ruangan dan Lucy langsung mengecup tangan ibu dari sahabatnya itu.
" Eh,kamu baru kesini ya?."
" Iya,bu soalnya Lucy udah mulai kerja lagi.Apa Lucy boleh masuk?."
__ADS_1
" Boleh,cuman Renatanya tidur."
" Oh Renata tidur,ya.Kalau gitu Lucy gak akan ketemu deh sama Renata."
" Udah,sini duduj aja sama ibu.Ceritain awal pertemuan kamu sama Renata."
Ibu pun mengajak Lucy duduk,dan ibu mulai bertanya kepada Lucy.
" Lucy,sekarang kamu kerja dimana?."
" Lucy,kerja di kafe bu dan kafe itu milik Renata."
Ibu sangat terkejut dengan apa yang di katakan oleh Lucy.
" Apa,milik Renata?."
" Iya bu,jadi dulu itu kan Lucy lagi nyari kerja susah banget,nah waktu itu Lucy lagi istirahat di depan kafe tersebut terus ada anak Remaja yang tarik dan bawa Lucy sampai ke dalam,dia bilang kalau dia itu butuh bantuan,tapi memang dia karyawannya masih sendiri karena katanya pemiliknya sibuk,jadi Lucy bantuin dia sampai Lucy bertemu sama pemiliknya yaitu Renata dan mulai dari situ Lucy bersahabat deh sama Renata."
" Kak,Renata juga udah buka restoran baru lho."
Timbal Akhtar yang duduk di sebelah kiri kakaknya.
" Restoran juga?,jadi selama ini Renata berjuang untuk mendirikan kafe dan juga restoran?."
" Iya bu,karena kan Renata itu seorang pejuang keras dan jika dia ingin sesuatu dia akan berusaha untuk mendapatkannya,dan alhamdulillah sampai saat ini restoran sama kafenya ramai pengunjung."
' Ya allah nak,ternyata kamu udah sesukses ini.Kamu berjuang tanpa siapapun untuk mendapatkan itu semua,ibu menyesal udah sia siain kamu dulu.'
" Dan Renata sudah menjadi model selama satu tahun lebih ini,dia sangat terpakai di perusahaannya sampai sampai Renata menggunakan gajinya untuk membeli rumah dan juga mobil."
Lucy terus menceritakan tentang kehidupan Renata dan semua kebaikan yang telah Renata lakukan kepada semua orang dan tidak lupa Lucy juga menceritakan soal hubungan Renata bersama Aidan yang berakhir secara tidak di inginkan.
Ibu,ayah beserta Salsa dan Akhtar tertawa disaat mendengar cerita tentang tingkah konyol yang Renata lakukan bersama Lucy.
Lucy tidak lupa menceritakan hubungan Renata dan Alodie,yang mana Renata telah berhasil membawa Alodie memeluk agama islam,Akhtar yang belum mendengar hal tersebut sangat tidak percaya kalau Re ata pernah mengajak seseorang masuk kedalam agama islam.
" Dan sampai saat ini hubungan Renata sama Alodie masih terjalin,Renata selalu membiayai kebutuhan Alodie setiap harinya,Renata sangat sayang kepada Alodie,karena menurutnya sikap dan tingkah Alodie itu sama seperti Salsa."
Bersambung.
__ADS_1