
_Rasa tidak ingin peduli memang selalu terlintas di hati,namun entah kenapa diri ini memaksa untuk selalu baik kepada orang selalu menyakiti.
Di rumah Renata begitu terlihat sangat sunyi,di dalamnya hanya terdengar suara jarum jam yang berputar.
Renata sudah terlihat mengerjapkan matanya,Renata langsung terduduk saat matanya sudah terbuka,dia hanya memegangi kepalanya yang terasa begitu berat,di sebelah kirinya ada genangan darah yang masih keluar dari luka di tangannya,namun Renata masih belum menyadarinya.
' Apa yang aku lakukan semalam,kenapa aku sampai senekad itu.Sekarang apa yang harus aku lakukan,aku sangat ingin pergi dari rumah ini.Tapi sepertinya,tubuhku tidak bisa aku paksakan.'
Seketika itu,bu Wida datang dan mengetuk pintu rumahnya itu.
" Rena,bisa kamu buka pintunya nak?."
Renata yang berada di dalam rumah mendengar ucapan bu Wida,namun dia tidak bisa apa apa.Untuk berdiri pun dia tidak kuasa.
" Nak,tolong buka pintunya?.Kamu gak kenapa napakan di dalam?."
Bu Wida mengecek pintu belakang dari rumah itu,ternyata kunci belakangnya tidak terkunci,dia pun langsung masuk ke dalam rumah dan mencari Renata.
Saat itu,bu Wida berniat akan pergi ke kamar Renata.Namun dia mengurungkan niatnya ketika melihat Renata terduduk lemas di lantai ruang depan.
" Rena,apa yang kamu lakukan nak?."
Bu Wida melihat darah yang di sebelah Renata.
" Kamu belum mengobati luka ini?,ayo sini ibu bantu kamu duduk di kursi."
Dengan susah payah bu Wida membantu Renata yang begitu sangat lemas dan sangat tidak memiliki tenaga.
" Sekarang,dimana kotak obatnya?."
" Gak papa bu,Rena nanti bisa obatinnya sendiri."
Ucap Renata dengan sangat pelan.
" Gak papa,beritahu ibu di mana kotak obatnya?.Agar luka kamu itu cepat kering."
" Kotak obatnya ada di laci 3,dekat rak piring."
__ADS_1
Dengan cepat bu Wida pun pergi ke dapur dan mencari kotak obatnya.
" Laci ke tiga dekat rak piring,yang mana ya?.Mungkin disini."
Bu Wida memeriksa laci yang dia lihat,ternyata benar saja kotak obatnya ada disitu.Setelah mendapatkannya bu Wida kembali ke tempat dimana Renata berada.
" Kamu kenapa membiarkan lukanya seperti ini,lihat itu di lantai,itu darah kamu lho,nak."
Saat bu Wida sedang mengobati luka Renata,disitu mata Renata kembali terpejam.Dia kembali mengingat disaat dia di tinggalkan sendiri di rumah itu,dan lagi perkataan kakaknya selalu terdengar di telinga Renata.
' Kita akan keluar kota,aku,ayah,ibu dan juga ade,dan tugas kamu adalah menjaga rumah.'
Renata langsung menutup telinganya dengan kedua tangan,untung saja bu Wida telah selesai mengobatinya.
" Kamu kenapa?."
Tanya bu Wida kepada Renata yang tiba tiba saja menutup telinganya.Tidak lama dari situ,cairan bening mulai keluar dari mata indah Renata.
" Kamu kenapa,nak?.Kenapa menangis?,apa ada yang yang sakit?."
Tiba tiba Renata menarik nafasnya dan berkata.
Renata pun memberikan senyuman samar kepada bu Wida,dan menghapus air matanya itu.
" Bu,makasih ya udah nolong aku semalam,entah apa yang terjadi padaku waktu semalam."
Renata menyandarkan kepalanya dan melihat ke langit langit rumah.
" Apa yang terjadi sama kamu semalam?,dan kenapa kamu tidak ikut bersama keluarga kamu?."
Dengan memberanikan diri akhirnya bu Wida pun mengucapkan apa yang ingin dia tanyakan kepada Renata.
" Gak papa bu,aku ngerasa aja semalam itu pikiran aku lagi buncah,hati aku lagi hancur,dan aku tidak ikut karena aku sedang malas bepergian saja."
" Terus kenapa kamu berniat buat mengakhiri hidup kamu,semalam?."
" Aku juga gak tahu,tiba tiba aja kayak ada yang membisik aja di telinga aku."
__ADS_1
Pelan pelan bu Wida mengelus kepala Renata,Renata pun sedikit terkejut karena merasakan elusan di kepalanya.Ini adalah elusan pertama kali yang dia rasakan selama ini,inilah yang Renata ingin rasakan ketika dia sedih,ketika hatinya sedang hancur ataupun kehidupan di dunia nyatanya sedang di uji.Tapi Renata masih berpikir,bahwa kenapa harus bu Wida yang melakukannya? dan bukan ibunya sendiri?.
Renata menatap wajah bu Wida,dan tanpa ia sadari cairan bening kembali keluar dari matanya.
" Kenapa,kamu menangis lagi?."
" Enggak bu,Rena gak nangis kok.Rena cuman terharu aja."
Dengan cepat Renata menghapus air matanya.
" Ibu sudah tahu kok bagaimana perasaan kamu,bagaimana kehidupan kamu,dan bagaimana cara keluarga kamu memperlakukan kamu.Ibu sudah tahu,sudah ya jangan menangis lagi.Kamu anak yang hebat,kamu anak yang kuat,ibu salut sama kamu.Meskipun kamu udah di sakiti beberapa kali sama mereka,tapi ibu lihat kamu itu tetap menghargai mereka,tetap menghormati mereka,dan tetap sayang kepada mereka,coba lihat anak anak di luar sana,yang mana jika mereka di sakiti oleh orang tuanya atau keluarganya mereka akan pergi dari rumahnya dan juga membenci mereka,sedangkan kamu,kamu berbeda dari yang lainnya.Tetaplah jadi diri kamu sendiri yang seperti ini ya,nak.Kamu nggak boleh mau di rubah oleh keadaan,tetaplah rendah diri dan mengalah dengan waktu,jangan memaksakan jika sudah lelah tetapi istirahatkanlah supaya kamu bisa mendapatkan tenaga yang sempat terkuras."
Bu Wida masih mengelus elus kepala Renata,sikap bu Wida kepada Renata sudah seperti memperlakukannya sebagai putrinya sendiri.
' Kenapa?,kenapa harus bu Wida?,kenapa bukan ibu yang sekarang berada di sampingku?.Kemana dia selama ini?,dan kenapa aku harus merakasan kasih sayang dari ibu orang lain bukan dari ibuku sendiri?.Apa itu yang dinamakan ke tidak pedulian seorang ibu?,apakah itu yang dinamakan kebencian seorang ibu?.Yang membuatku bingung kenapa dan apa alasan di balik semua ini,itulah yang menjadi pertanyaanku.'
" Bu,apa ibu tahu,kenapa selama ini ibu,ayah dan kakak membenciku?.Aku hanya ingin tahu jawaban dari itu saja,jika sudah tahu mungkin aku bisa memperbaikinya."
Renata berpikir bahwa siapa tahu aja bu Wida tahu tentang masa lalunya.
" Ibu nggak tahu nak,ibu gak tahu betul apa yang membuat mereka benci sama kamu.Yang ibu tahu,sikap kakak kamu itu tidak pernah berubah dari sejak kamu kecil bahkan saat kamu masih bayi.Dia sangat membenci kamu,dia selalu iri jika kamu di kasih mainan sama ayah kamu,dia suka cemburu,suka marah jika melihat kamu di gendong sama ayah atau ibu kamu.Bahkan dia ibu sering melihat dia suka fitnah fitnah kamu,mungkin kamu masih ingat soal itu kan."
Renata menganggukkan kepalanya,karena waktu itu umur Renata sudah lumayan besar.
" Jadi,kakak bersikap seperti itu dari semenjak aku kecil ya bu?.Karena dia iri,atau mungkin dia tidak menginginkan kehadiranku selama ini?."
" Tidak nak,tidak.Bukan seperti itu,tapi itu adalah cara allah untuk menguji kamu lewat sikap kakak kamu terhadap kamu.Berprasangka baiklah kepada setiap orang,meskipun orang itu tidak baik kepadamu."
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.