
-Pikiran adalah beban yang sangat berat bagi tubuh kita,sehingga dia dapat mempengaruhi kehidupan kita.
Setelah selesai makan,Alodie berniat untuk kembali ke kamar Renata,namun disaat sedang berajalan dan melihat ke arah ruangan tengah,Alodie mendatangi ruangan tersebut karena dia penasaran dengan foto foto yang terpasang di dinding.
" Waw,,banyak banget kenangan kak Rena sama kak Lucy.Jika seperti ini,kak Rena akan sangat sulit melupakan masa lalunya bersama kak Lucy."
Alodie juga tersenyum disaat melihat beberapa foto bersama Renata terpajang disana.
" Kak Rena udah banyak bantu aku,udah mau nolongin aku dan biayain aku selama ini,bahkan kak Rena udah mau beliin aku handhpone mahal dan barang barang yang lumayan mahal juga."
Setelah itu Alodie pergi menuju tempat yang sebenarnya akan ia tuju.
Saat masuk ke dalam kamar,Alodie melihat Akhtar yang tertidur di kursi yang ada di kamar Renata,karena semalaman Akhtar juga tidak bisa tidur.
" Bang Akhtar kayaknya cape banget,apa lagi kak Rena."
Alodie berjalan mendekati Renata dan memandangi wajah pucat itu.Namun saat itu mata Renata langsung terbuka,saat membuka matanya Renata sangat terlihat bingung,dia langsung memijat mijat kepalanya yang terasa sangat sakit.
" Alhamdulillah,kakak udah bangun."
" Alodie,kok kamu ada disini?."
" Iya kak,aku tadi ikut sama bang Akhtar.Kakak kenapa?,apa kakak sakit kepala?."
" Iya,kepala kakak sakit banget,kenapa ya?."
' Hah,kok kayak ada yang aneh ya sama kak Rena.'
" Kakak mau makan?."
" Enggak,kakak gak mau makan.Kamu bisa gak pijitin kepala kakak."
" Boleh."
Alodie pun menaiki ranjang Renata dan membantu Renata untuk duduk.
" Ya allah,pusing banget.Mata juga perih banget,kenapa bisa kayak gini si?,perasaan dari tadi gak kemana mana."
' Tukan,ada yang aneh sama kak Rena.Kok dia bilang dia gak kemana mana,padahalkan habis pulang dari pemakaman kak Lucy.'
Renata seakan akan lupa kalau Lucy telah meninggal,dan yang dia ingat Lucy itu masih ada.Renata begitu menikmati pijatan dari Alodie,dia belum ingat benyebabnya itu apa dan bahkan dia lupa kalau dia habis menangis.
Mata Renata pun tertuju kepada Akhtar yang sedang tidur di kursi panjang yang ada di kamarnya.
" Kenapa bang Akhtar tidur disini?,bang Akhtar dari tadi tidur disana?."
__ADS_1
Tanya nya kepada Alodie.
" Iya kak,dari tadi kok.Bang Akhtar bilang dia cape dan malas pergi ke kamarnya jadi dia tidur disana."
" Emmm,dikira kenapa?."
' Tu,aneh banget kak Rena kenapa si?.Tapi bagus kayak gini,dari pada nanti kak Rena teringat lagi sama kak Lucy nanti kak Rena bisa nangid lagi.'
" Udah aja Alodie,makasih ya."
" Iya kak."
Sekarang Alodie duduk di samping Renata,sedangkan Renata mengambil air minum yang ada di atas lemari kecilnya yang dekat dengan ranjangnya.
" Hari ini kakak harus pergi ke rumah Lucy."
Alodie terkejut mendengar apa yang di katakan oleh Renata.
" Kakak,mau pergi ke rumah kak Lucy?.Mau ngapain,kak?."
" Emmm,udah ada janji sama Lucy kalau sekarang kakak mau pergi ke restoran bareng dia,kamu mau ikut?."
Alodie bingung harus melakukan apa,dia tidak salah menjawab maka dari itu Alodie hanya menjawabnya dengan senyuman.
" Emangnya,kakak mau pergi kapan?."
' Aneh bin ajaib si,tadi kak Rena gak mau pulang dari sana sekarang dia gak ingat apapun tentang kak Lucy.'
***
Renata masih lupa dengan ke jadian di hari ini,dan di sore ini dia bernuat akan pergi ke restoran bersama Lucy,namun disaat Renata sedang berjalan menuju pintu utama Akhtar pun menghentikannya.
" Rena,kamu mau kemana?."
Tanya Akhtar sambil berjalan mendekati Renata.
" Rena mau pergi,udah ada janji sama Lucy."
Jawaban Renata membuat Akhtar menghembuskan nafas beratnya.
" Kamu jangan,pergi.Diam di rumah."
" Gak mau,Rena udah ada janji sama Lucy.Sekarang dia udah nungguin aku di rumahnya."
" Rena udah cukup,kamu lupain Lucy kamu jangan menyiksa diri kamu sendiri.Plis,ikhlaskan kepergiannya."
__ADS_1
Saat tersadar bahwa Lucy sudah tidak ada,Renata pun menundukkan kepalanya.Alodie hanya memperhatikan mereka berdua dari atas tangga.
" Tapi aku gak bisa,aku gak bisa lupain dia.Hiks,aku udah gak punya sahabat lagi,aku udah gak punya seseorang yang selalu menemaniku hiks."
" Dengerin,kamu ikhlaskan kepergian Lucy dan kamu harus yakin akan ada seseorang yang bisa menggantikan posisinya."
" Iya aku tahu,tapi orang kedua tidak akan bisa menggantikan posisi orang yang pertama."
Renata menghapus air matanya dengan tangannya,dan dia pergi menuju ruangan tengah di berhenti di depan foto foto yang terpajang disana.Renata mengambil salah satu fotonya yang bersama Lucy,yang mana saat itu mereka sedang liburan di luar kota.
Renata tersenyum samar sambil menyentuh wajah Lucy yang terdapat di foto tersebut,air matanya juga mulai membasahi kaca yang menjadi pelapisnya.
Kemudian Renata memeluk foto tersebut,tangisnya pecah saat itu juga.Renata paling tidak kuat disaat melihat foto Lucy bersamanya.
Akhtar juga kembali menghampirinya dan membawa Renata ke pelukannya.
" Jangan nangis,abang bilang kamu harus bisa ikhlaskan dia."
Akhtar pun melepaskan pelukannya,namun pada saat itu kepala Renata kembali terasa pusing,dan tubuhnya pun mulai tidak seimbang.
" E ehh,kamu kenapa?,pusing kan?ayo duduk."
Renata pun duduk bersama Akhtar di atas kursi,tidak lama dari situ Alodie pun menghampiri mereka berdua dan duduk di sebelah Renata.
" Kamu,makan ya.Supaya kamu gak pusing lagi,kamu kurang tidur,nangis terus apa lagi sekarang kamu belum makan jadi tambah pusing nanti kepala kamu."
" Enggak,Rena gak mau.Rena gak lapar."
" Ini udah sore,kamu belum makan apapun lho dari tadi.Atau abang perlu telefon orang tua kamu,supaya mereka datang kesini dan nyuruh kamu buat makan?."
Renata menggelengkan kepalanya.
" Yaudah makan,ya.Sedikit aja."
" Alodie,kamu tolong bawain nasi sama lauknya ya."
Suruh Akhtar kepada Alodie.Alodie pun pergi menuju dapur dan mengambil apa yang harus dia ambil.
" Ini,bang."
Akhtar pun mengambil piring yang Alodie berikan,dan setelah itu Renata makan dengan di suapi oleh Akhtar.Suapan demi suapan mulai masuk ke dalam mulut Renata,namun disaat suapan ke empat Renata menolaknya,sekarang perutnya begitu terasa mual.
Renata mengambil air yang ada di atas meja,lalu meneguknya.Tapi air itu tidak mampu menghilangkan mualnya,Renata pun berlari menuju kamar mandi yang ada di dapur,meski kepalanya terasa pusing tetapi Renata harus pergi ke kamar mandi untuk mengeluarkan semua isi perutnya.
Bersambung.
__ADS_1
Mmmm btw menurut kalian,bagaimana pendapai tentang novel ini?,di tunggu di komentar ya!