
-Jika kita sudah tidak kuat menahan suatu luka,pasti jalan keluarnya adalah menangis.
" Aku dengar pembicaraan kalian,tadi.Jadi,itu ibu kamu?."
Tanya Nindi kepada Renata yang tengah terbaring.
" Iya."
Renata menghembuskan nafas berat.
" Tapi,kenapa ibu kamu bilang bahwa dia tante kamu?,dan juga kenapa ibu kamu bilang kalau dia gak sudi punya anak kayak kamu?."
Seketika itu Renata menghadapkan tubuhnya kepada Nindi yang ada di sebelahnya,Renata menggenggam tangannya,tangisnyapun pecah seketikan itu.
" Renata,kamu kenapa?.Kenapa kamu menangis?."
Nindi sangat terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Renata.
" Kamu kenapa?,kalau kamu punya masalah bicara aja gak papa.Aku bakalan dengerin kok."
Nindi mengelus lembut kepala Renata,dia merasa sangat sedih melihat patner kerjanya itu.Nindi tidak habis pikir dengan ibunya Renata yang bersikap seperti itu kepada Renata,di situasi dan keadaan yang tidak baik itu,ibunya berani menambah rasa sakit untuk Renata.
Tidak lama dari situ,tiba tiba pintu ruangan itu kembali terbuka.Nindi langsung melihat siapa yang telah membuka pintunya.
" Avril,kenapa kamu kesini?."
Avril tidak menghiraukan pertanyaan dari Nindi,saat dia melihat Renata yang sedang menangis.
" Renata kenapa?,kenapa dia menangis?."
Avril sudah sadar dari kemarin malam,jadi siang ini dia sudah lumayan baikan dan ingin melihat keadaan Renata.
Nindi memberi isyarat kepada Avril untuk menunggu.
Karena terlalu lama menangis,Renata pun tertidur pulas.
" Oke,sekarang Renata udah tidur.Jadi Renata kenapa?."
Nindi mengajak Avril duduk di kursi yang ada di ruangan itu.
" Jadi gini ceritanya,tadi ada ibu dia datang kesini sama adiknya.Terus karena gak enak aku keluar dari ruangan ini,aku gak sengaja denger pembicaraan mereka,awal pas ibunya datang aku tanya,apakah dia ibunya atau siapanya.Terus ibunya bilang dia tantenya,pas aku udah di luar ruangan adiknya tanya sama ibunya,katanya kenapa ibu bilang gitu,kan kak Rena putrinya juga,gitu kata dia,terus ibu dia bilang,kalau ibunya gak sudi punya anak kayak Renata."
" Serius,ibu dia bilang kayak gitu?."
Nindi menganggukkan kepalanya.
' Kenapa ibu Renata mengatakan itu ya?,pasti ada suatu alasan yang membuat ibunya seperti itu kepada Renata.'
***
" Ibu dari mana bu?,dari tadi aku cari ibu."
Ucap Indri disaat ibunya tiba di rumah.
" Ibu habis dari luar barusan,tapi gak jadi."
Saat itu Salsa melintas disana dengan wajah sedikit kesal,plus sedikit sedih.
__ADS_1
" Salsa kenapa,bu?.Kok mukanya kusut kayak gitu?."
" Ibu juga gak tahu,dia kenapa."
Salsa langsung pergi ke kamarnya,saat sampai di kamarnya dia mengunci pintu kamarnya.
" Lama lama aku juga akan merasakan apa yang kak Rena rasakan,kapan ibu akan berubah sikap kepada kak Rena?.Kenapa hanya kak Rena yang merasakan ini semua,kenapa ibu hanya sayang kepada aku dan kak Indri,ayah pun sama.Sebanarnya masalah apa yang telah membuat semua ini terjadi?,ya allah semoga masalah di keluarga ku segera selesai.Aku tidak rela dan sudah tidak kuat melihat sikap mereka terhadap kak Rena."
Salsa mulai menangis di bawah bantalnya,Salsa masih mengingat apa yang ibunya katakan kepada Renata saat di rumah sakit,perkataan ibunya itu sangat terngiang ngiang di telinganya.
' Kenapa kak Rena harus terlahir dan menghadapi semua masalah ini,ya allah kenapa engkau tidak mengambil kembali kak Rena dari sejak kecil,mungkin saat ini kak Rena sudah tenang di surgamu.'
Ucapan Salsa sudah treveling,dia bertanya tanya di dalam pikirannya,tentang alasan,alasan dan alasan yang membuat semua ini terjadi.
Satu jam yang sudah,Salsa mengurung di kamarnya,sehingga kakaknya pun mengetuk pintu kamarnya untuk makan.
Tok Tok Tok..
" Salsa,kamu lagi ngapain di dalam?.Keluar dulu yuk,kita makan.Kakak udah masak banyak lho buat makan siang ini."
Namun tidak ada jawaban dari dalam sana.
" Salsa kenapa ya,apa dia tidur?.Tapi gak biasanya anak itu tidur jam segini.Salsa,bangun dulu ya kita makan."
Indri sudah mencoba untuk ke dua kalinya,namun masih belum ada jawaban dari dalam.
" Yasudah kalau kamu gak mau,biar nanti saja."
Indri pergi dari depan kamar Salsa.
***
" Dimana ini?,bukannya tadi aku lagi di rumah sakit ya?."
Renata turun dari tempat tidurnya,dan melihat seisi ruangan itu.
Disaat Renata sedang melihat lihat,tiba tiba pintu ruangan itu terbuka dan ayahnya datang sambil marah marah.
" Renata!,anak macam apa kamu ini?.Kamu berani fitnah kakak kamu sendiri."
Renata sangat bingung dengan ucapan ayahnya.
" Maksud ayah apa ya?,Rena gak ngerti."
" Kamu jangan pura pura gak tahu,jelas jelas kamu yang fitnah kakak kamu,kalau kakak kamu itu yang membunuh Rayan.Jika bisa kamu jangan fitnah fitnah orang,sudah tahu kamu sendiri pelakunya tapi kenapa kamu fitnah kakak kamu."
Ucap ayahnya dengan terus membentak bentak Renata.
" Ayah,aku gak pernah membunuh orang.Apa lagi adik aku sendiri,Rayan meninggal bukan karena aku ayah."
" Terus kalau bukan kamu siapa pelakunya?,siapa!.Hanya ada kamu kan saat itu disana."
" Iya,memang aku berada disana waktu itu.Tapi aku tidak membunuhnya,aku tidak akan membunuhnya karena aku sangat menyayangi Rayan."
Cairan bening mulai keluar dari mata Renata.
" Alah,kamu ngaku aja Renata!.Gak usah ngeles ngeles lagi."
__ADS_1
Ucap Indri sambil menghampiri Renata.
" Aku enggak membunuhnya kak,aku gak membunuhnya.Ampun kak,ampun."
Indri memukuli Renata dengan stik bisbol miliknya.
" Aku enggak membunuh Rayan,aku bukan pembunuh."
" Renata,bangun.Kamu kenapa?."
Renata membuka matanya,ternyata barusan hanya mimpi Renata.
" Kamu kenapa?,kenapa barusan kamu netesin air mata?."
Tanya Nindi kepada Renata.
" Ada apa Renata?,kenapa kamu barusan bilang kalau kamu bukan pembunuh?."
Avril pun ikut bertanya kepada Renata.
" Aku,aku gak papa kok kak.Barusan aku hanya mimpi buruk saja."
Renata menyeka air matanya.
Setelah itu Renata hanya menatap kosong ke langit langit rumah sakit,dan itu membuat Nindi juga Avril bertanya.
" Dia kenapa?."
" Kok tanya sama aku si,aku gak tahu."
Avril bertanya kepada Nindi,karena memang dari awal Renata siuman,Nindilah yang menemninya.
" Renata,kamu jangan melamun ya."
Avril mendekati Renata,dan menggenggam tangannya.
" Enggak kok kak,aku gak melamun."
" Kalau begitu,kamu makan dulu ya."
" Enggak kak,aku gak mau makan.Yang aku inginkan hanya pulang ke rumah."
" Tapi kan,kamu baru sadar.Kamu gak bisa langsung pulang,kondisi kamu juga belum normal lho."
Avril berusaha menenangkan Renata.
" Tapi kak,aku mau pulang."
Renata memohon kepada Nindi dan Avril yang menemaninya,untuk segera mengantarkan Renata pulang.Namun Nindi dan Avril menolaknya,mereka ingin kondisi Renata benar benar 100% sembuh.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.