
-Ketika aku khawatir dengan seseorang,pasti ada sesuatu yang terjadi.
" Bang,aku mau pulang sekarang."
Renata pamit kepada abangnya,di karena kan hari sudah sore.
" Emang,kamu mau pulang kemana?."
" Aku mau pulang ke hotel,besok kita bertemu disini lagi ya,bang.Besok aku mau bileng sesuatu,dan besok aku juga mau pulang ke rumah."
" Yaudah kalau kamu mau pulang,hati hati ya.Besok kita bertemu disini sekitar jam 10 aja ya."
" Oke,dan aku pulang dulu."
Akhtar hanya melihat Renata yang semakin menjauh darinya.
' Aku masih belum percaya,kalau itu Renata.Tapi aku bersyukur udah di pertemukan sama Renata,terimakasih ya allah,karena hari ini engkau telah mempermukanku dengan seseorang yang selama ini aku cari.'
Akhtar juga pergi dari tempat itu,mencari teman temannya yang sudah tidak ada di tempatnya.
Renata menaiki taxi yang telah di pesannya,karena Rubi dan yang lainnya telah pulang terlebih dahulu.
Renata membuka handphonenya,saat dia membuka whatsap dia ingat kalau dia belum meminta nomor handphonenya.
" Ya allah,aku lupa gak minta nomor handphone bang Akhtar lagi.Mana udah setengah jalan."
Renata pun kembali menutup handphonenya dan memperhatikan jalanan yang ramai dengan kendaraan.
***
" Lucy,Lucy bangun Lucy!."
Rekan kerja di kafe mengguncang guncang tubuh Lucy yang tidak sadarkan diri.
Dia pun memanggil rekan kerja yang lainnya.
" Nathan,bantuin dong,itu Lucy pingsan disana."
" Lo serius?."
" Iya,ayo cepet."
Nathan dan Ica pergi ketempat dimana Lucy pingsan.
Setelah sampai disana Nathan meletakkan kepala Lucy di pangkuannya dan menepuk nepeuk pipinya.
" Cy,bangun.Kamu jangan bercanda,hei."
" Mending bawa ke rumah sakit aja,Than.Dari pada nanti dia kenapa napa,lagi."
" Enggak enggak,sebaiknya kita bawa ke ruangannya aja."
Nathan pun mengangkat tubuh Lucy dan membawanya ke tempat khusus Lucy.
Nathan meletakkan tubuh Lucy di atas kursi.
" Ca,ambilin minyak angin disana."
Nathan mendekatkan minyak angin ke hidung Lucy supaya Lucy biaa menghirupnya.
Setelah itu,Lucy pun mengerjapkan matanya.
" Lucy,kamu gak kenapa napa kan?."
Lucy yang meremas baju bagian dada sebelah kirinya,sambil memejamkan matanya menahan rasa sakit.
" Kamu,kenapa?."
" Enggak,aku gak papa."
Lucy menarik nafasnya dengan pelan pelan dan menghembuskannya dengan pelan juga.
__ADS_1
" Kamu kenapa bisa pingsan si?,kamu sakit?."
Tanya Ica kepada Lucy,namun Lucy langsung menggelengkan kepalanya.
" Handphone aku,dimana?."
" Ini."
Ica memberikan handphone milik Lucy yang terjatuh disaat Lucy terjatuh pingsan.
" Aku mau pulang dulu,ya.Kayaknya aku gak enak badan."
" Iya,sebaiknya kamu pulang aja.Mungkin kamu kecapean,sekarang kamu pulang dan setelah sampai kamu istirahat ya."
Lucy di antar oleh Nathan dan Ica kedepan kafe dan mereka telah memesankan taxi untuk Lucy,Lucy pun pulang di antar oleh taxi tersebut.
" Kembali kerja lagi,tapi jangan sampai kayak Lucy."
Ica mengacungkan jempolnya kepada Natham,dan mereka berdua kembali masuk ke dalam kafe.
***
" Kamu kok baru pulang?,dari mana dulu?."
Tanya Rubi ketika melihat Renata Renata yang baru tiba disana.
" Tadi ada urusan sebentar,memangnya kenapa?."
Renata meletakkan tasnya di atas meja.
" Enggak,cuman dari tadi aku sendiri disini,gak ada yang nemenin aja."
" Kamu takut tinggal disini sendirian?,kayaknya harus ada aku aja gitu ya disisi kamu."
Renata sambil sedikit tertawa.
" Isssh,,enggak juga."
Renata sangat suka dengan foto dimana dia di gendong di punggung Rubi,dan Renata berniat untuk mengabadikannya.
" Kamu post foto,kita?."
" Iya,memangnya kenapa?."
" Enggak,cuman aku suka sama foto yang itu.Oke,kalau begitu aku juga mau post."
Renata meletakkan handphonenya dan pergi ke kamar mandi.
Beberapa saat setelah Renata masuk ke kamar mandi,tiba tiba saja handphonenya berdering dan Rubi pun melihat siapa yang memanggil Renata.
" Lucy,aduh gimana ya.Aku jawab aja deh."
Rubi pun menjawab telepon dari Rubi.
" Halo."
" Assalamu'alaikum,Ren."
" Wa'alaikumsalam,maaf Renatanya lagi di kamar mandi."
Rubi memberi tahu Lucy kalau Renata sedang berada di dalam kamar mandi.
" Terus ini,siapa?."
" Aku,aku Rubi teman dia."
" Terus kenapa kamu jawab telepon dari,aku?."
" Ya,karena handphone Renata lagi ada sama aku,emangnya kenapa?."
Lucy pun memutuskan panggilan teleponnya.
__ADS_1
" Aneh ni,orang."
Rubi kembali meletakkan handphone Renata di atas meja.
Renata yang sudah selesai mandi keluar dari kamar mandi,dengan menggosokkan handuk ke rambutnya yang basah .
" Tadi yang telepon,Ren."
" Siapa?."
" Lucy."
Renata langsung melihat handphonenya dan kembali menelpon nomor Lucy,Renata pergi menuju balkon kamarnya.
Ternyata nomor Lucy sedang tidak dapat di buhungi,meski Renata mengulanginya beberapa kali namun tetap nomornya masih seperti itu.
' Lucy,kamu baik baik aja kan disana?.Kenapa perasaan aku gak enak,ya.?'
Renata berjalan mondar mandir disana,sambil menggigit jari telunjuknya,dari sejak Renata mandi,dia terus memikirkan Lucy,seperti ada pirasat yang mengatakan bahwa Lucy sedang tidak baik baik saja.
" Renata,sini masuk.Kamu ngapain disana."
" Iya,bentar lagi aku masuk."
Tidak lama dari situ Aidan menelpon ke nomor telepon Renata,saat handphonenya bergetar Renata sangka itu adalah Lucy yang meneleponnya balik,ternyata itu adalah kekasihnya.
" Assalamu'alaikum,calon istri."
Ucap Aidan yang langsung membuat Renata sedikit tersenyum.
" Wa'alaikumsalam."
" Kamu,lagi ngapain?."
" Aku,aku lagi khawatir?."
" Lho,kok khawatir.Khawatir sama siapa?,aku baik baik aja kok."
Aidan sedikit menghibur Renata.
" Ish,bukan sama kamu khawatirnya.Tapi sama Lucy,tadi dia telepon aku terus yang jawab bukan aku,udah itu aku telepon balik eh malah gak ada jawaban."
" Mungkin dia lagi sibuk,kamu gak usah khawatir dia pasti baik baik aja kok,bukankah biasanya juga kayak gitu kan?."
" Iya,si."
Setelah itu,mereka pun saling diam.
" Kamu,kapan pulang?."
Tanya Aidan yang sudah rindu kepada Renata yang sedang berada di luar kota.
" Aku pulang,besok petang.Kenapa?,kamu rindu ya?."
" Kamu tahu aja,si,kalau aku ini lagi rindu sama kamu,tahu dari mana?."
" Kamu gak tahu,ya.Kalau aku ini kan paramornal,yang bisa nebak nebak."
" Apa!,paramornal?,paranormal kali,hahahah."
Aidan menertawakan ucapan Renata yang salah,Renata hanya menahan rasa malunya kepada Aidan.
" Eh iya ya,udah ah jangan ketawa gak lucu tahu.Aku matiin ni teleponnya."
" Eh,iya maaf maaf.Enggak deh enggak,maaf ya.Yaudah kamu tidur sana udah malam,besok kan kamu mau pulang,ya tidur ya,jangan bergadang gak baik ntar sakit."
" Iya baweel,iya.Ini juga mau tidur kok,kamu juga tidur ya,sampai ketemu lagi besok,assalamu'alaikum."
Renata memutuskan sambungan teleponnya dengan Aidan dan kembali masuk ke dalam kamarnya.
Saat masuk Renata sudah melihat Rubi yang tertidur pulas di atas ranjangnya,dia pun ikut merebahkan tubuhnya dan menarik selimbutnya sampai leher dan mereka berdua pun tertidur pulas.
__ADS_1
Bersambung.