Kesuksesan Anak Ke 2

Kesuksesan Anak Ke 2
21.Kecelakaan.


__ADS_3

_Mohon bersabar dengan ujian yang allah berikan,dan harus yaqin bahwa ada kesuksesan setelah melewati pedihnya kehidupan.


" Renata,kamu jangan keras kepala ya.Kamu belum sembuh total,kamu mesti di rawat dulu disini.Ini demi kebaikan kamu,pliss kita mohon sama kamu."


Renata pun hanya bisa diam dan menuruti perkataan mereka,tidak lama dari situ seseorang pun masuk kedalam ruangan Renata.


" Bu Kristien,ibu sama siapa kesini bu?."


Ucap Avril.


" Udahlah,kamu juga udah tahu saya kesini sama siapa.Oh iya,bukan kalian kecelakaan ya?,tapi kok Avril sama Nindi gak kenapa napa?."


" Iya bu,memang kemarin kita kecelakaan.Cuman saya dan Avril gak terlalu parah si,tapi Renata bu."


Bu Kristien mendekati Renata.


" Renata,ya ampun.Itu muka kamu banya luka goresnya ya?,pasti perih ya?."


Bu Kristien berniat untuk menyentuh luka Renata,namun Renata menjauhkan wajahnya dari tangan bu Kristien.


" Jangan bu,ini sakit banget."


" Enggak,gak papa saya cuman mau lihat aja,gak bakalan saya sentuh kok."


Bu Kristien ternyata hanya ingin menyentuh wajah Renata yang tidak terluka dan melihat lukanya dari dekat.


" Renata,usahakan minggu depan kamu sembuh ya.Soalnya minggu depan perusahaan saya akan mengambil pemotretannya,dan lusa kamu juga harus segera menandatangani kontrak kerjasamanya."


" Iya bu,insyaa allah minggu depan saya sembuh,dan lusa insyaa allah juga saya bisa datang kesana."


Avril dan Nindi mengajak bosnya untuk duduk di kursi.


" Nindi,jadi bagaimana kejadian kecelakaannya?,kenapa ini bisa terjadi sama kalian bertiga?."


Nindi sudah siap menjawab pertanyaan yang bosnya tanyakan kepadanya.


" Jadi gini bu."


flash back on.


Nindi,Avril dan Renata sedang menaiki mobil honda brio berwarna kuning.


Di perjalan mereka asyik mengobrol dan bertanya tanya kepada Renata tentang kesehariaannya,namun Renata tidak menyebutkan tentang hidupnya yang selalu di pilih kasihkan oleh orang tuanya.


Di suatu waktu,tiba tiba saja Nindi menancab gas mobilnya menjadi cepat,meskipun Avril sudah melarangnya namun tetap Nindi tidak mendengarnya,Nindi hanya tersenyum kepada Avril dan menikmati perjalanannya itu.


" Nindi,kamu apa apaan,pelanin jalannya,nanti kalau kita kecelakaan gimana?."


Ujar Avril kepada Nindi.


" Udah tenang aja Vril,aku udah ahli kok kan aku mantan pembalap mobil."


Jawab Nindi.


" Ya tapikan Nin,ini itu bukan arena balapan tapi jalan raya,jalan rame."

__ADS_1


Avril kahawatir dengan dirinya dan juga kedua temannya,dia takut apa yang di takutkannya terjadi.


' Aduh,,si Nindi kok gak mau dengar,dia mau cari mati apa aku takut terjadi kecelakaan,soalnyakan bahaya kalau kebut kebutakn gini di jalan raya.'


Avril membatin.


" Kak Nindi,tolong pelanin ya laju mobilnya,ini bahaya kak.Kakak harus pikirin nasib kita kak,gimana kalau nanti kita kecelakaan,atau terjadi hal yang tidak di inginkan?."


Nindi tetap saja tidak mendengar perkataan salah satu dari mereka.


" Nindi,awas aja ya kalau terjadi kecelakaan sama kita,kamu harus tanggung jawab."


Avril sudah kesal dengan Nindi yang membawa mobil kebut kebutan dan tidak mendengar perkataan dari siapapun.


Di saat ada belokan di depan,Nindi tetap mengebutkan mobilnya,dia sama sekali tidak mengurangi kecepatan mobilnya,sampai sampai saat berada di belokan mobil mereka malah berbelok ke jalur kanan hingga akhirnya satu unit truk menabrak mobil mereka.


" Nondi,itu belokan lho,pelanin lajunya."


Avril sudah memiliki pirasat.


" Tenang aja,aku bisa kok."


Ucapnya dengan tenang dan santai.


" Nindi awas Nindi,Nindi!!!!...."


Brak!!.


Akhirnya,mobil berwarna kuning yang mereka naiki pun tertabrak oleh truk oleng,mobil yang tertabraknya tepat di mana Renata dan Avril duduk,sedangkan Nindi dia duduk di bagian supirnya jadi dia tidak terluka parah.


" Avril,Renata."


Itulah kata terakhir yang Nindi ucapkan,semua orang yang sedang berkendara menghentikan kendaraannya dan menolong korban korbannya.


Mereka pun membawa Avril,Nindi dan Renata ke rumah sakit terdekat disana.


flash back off.


" Jadi gitu ceritanya,bu."


" Makanya,kamu Nindi gak boleh kebut kebutan.Dengerin apa yang orang katakan,akhirnya kayak beginikan kejadiannya,2 teman kamu yang mengalaminya sedangkan kamu,lihat kamu baik baik aja kan?,kamu gak terluka parah.Semua larangan itu terkadang menguntungkan bagi kita,dan juga akan membuat kita selamat dari hal yang bahaya.Jangan kayak gitu lagi ya,kalau saya lihat kamu kayak begitu lagi atau dengar kamu kayak gitu lagi,kamu akan saya pecat."


Mendengar kata pecat,Nindi langsung membulatkan matanya.


" Jangan bu,jangan pecat saya.Saya janji deh saya gak akan lakuin hal yang kayak gitu lagi,saya janji sama diri saya sendiri dan ibu dan semua orang,gak bakalan lakuin hal yang kayak gitu dan akan mendengar perkataan orang orang."


Nindi menundukan kepalanya dengan duduk bersimpuh di hadapan bosnya,dia benar benar tidak ingin di pecat oleh bosnya itu,karena kalau dia di pecat dia akan membiayai hidupnya dari mana,sedangkan perusahaan itulah yang membuat Nindi dan keluarganya bisa hidup.


" Yaudah kamu bangun,ngapain duduk di lantai kayak gitu."


Dengan cepat Nindi berdiri dan memeluk bosnya.


" Makasi ibu,aku sayang ibu."


' Aduh,si Nindi berulah lagi ni.'

__ADS_1


Avril hanya menepuk jidatnya.


" Nindi lepaskan,mau saya pecat?."


Kristien mengancam Nindi yang sedang memeluknya.


" Ahhh,,,iya bu maafin saya ya bu maaf hehe."


Kristien hanya menggelengkan kepala,dan berpamitan kepada mereka bertiga.


" Yasudah,ibu pulang dulu.Renata,semoga kamu cepat sembuh ya.Jangan lupa lusa,kamu datang ke perusahaan saya oke."


" Iya bu,insyaa allah."


" Kalau begitu saya pulang dulu,Avril,Nindi,Renata."


" Iya,bu."


Ucap mereka bertiga bersamaan.


" Hati hati,bu."


Tambah Nindi.


" Kan,kamu dengar apa kata bu Kristien,kalau kamu itu gak boleh kebut kebutan,lihat aja bukan hanya aku dan Renata yang sayang sama kamu,yang peduli sama kamu tapi bu Kristien juga.Lain kali jangan gitu ya."


" What the **** you men."


Tambah Nindi sambil ngakak.


" Ya ampun,kamu di bilangin malah what the **** what the ****.Dengerin napa."


Avril sudah kesal kepada Nindi yang selalu membuat darahnya naik.


" Iya iya,maaf suhu.Hahaha."


" Tau ah."


Avril pergi dari ruangan itu,sedangkan Nindi masih tertawa di disana,Renata hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan kakak kakak seniornya.Tapi hal ini membuat Renata terhibur,dari asalnya dia bersedih akhirnya dia bisa terhibur dengan kelakuan kedua seniornya.


" Aduhhh,,si Avril.Bikin aku ngakak aja,untung sayang."


Ucap Nindi di tengah ngakaknya.


.


.


.


.


.


***Bersambung.

__ADS_1


Hai,maaf ya baru bisa update lagi.Semangat trus ya buat baca dan buat aku yang nulis***.


__ADS_2