
-Jika terluka adalah pilihannya,maka aku tidak ingin semua ini terjadi.
Salsa melanjutkan masaknya bersama Indri,tetapi pikirannya hanya bersama Renata.
" Sa,ambilin piring yang gede itu dong."
Salsa masih terdiam disaat kakaknya menyuruhnya untuk mengambil piring.
" Salsa,kamu dengar gak si apa yang kakak bilang."
" Eeh,iya kak kenapa.Kakak bilang apa tadi?."
Karena malas mengulangi perkataannya,Indri memutar bola matanya.
" Ambilin piring,yang gede itu tu disana."
Salsa segera mengambilkannya untuk Indri,karena dia takut kena marah lagi oleh kakaknya.
" Ini,kak."
Indri mulai memasukkan masakan yang sudah matang ke bagian piring,setelah selesai dia kembali menyuruh Salsa.
" Sa,ini letakan disana."
Kebetulan setelah Salsa memberikan piring itu kepada Indri,saat itu juga Salsa kembali melamun.
" Ya ampun Salsa!,kamu kenapa melamun terus si?,kamu ngelamunin siapa?,Renata?.Udah kamu lagi masak jangan pikirin anak itu,cepet ni bawa kesana."
Karena tidak rela di marahi oleh kakaknya,Salsa pun angkat bicara.
" Biasa aja kali kak ngomongnya,jangan bentak bentak kayak gitu.Aku yang ngerasainnya juga gak enak,kakak itu gak sebaik kak Rena.Sini berikan."
Salsa merebut piring yang ada di tangan Indri.
" Awas hati hati,jangan sampai tumpah."
" Tumpahin aja,lah."
Ucap Salsa dengan pelan,namun masih bisa di dengar oleh Indri.
" Apa kamu bilang,awas aja."
" Apaan si kak,orang gak bicara apa apa juga."
" Heh,kuping kakak masih berpungsi ya.Awas aja kamu."
Waktu demi waktu,akhirnya Indri dan Salsa telah menyelesaikan tugasnya.Salsa pun memanggil ayahnya untuk makan bersama mereka,
sedangkan Indri menyiapkan piring dan mengisinya dengan nasi serta lauk yang telah dia masak.
Salsa dan ayah langsung duduk ketika mereka datang disana.
" Yah,mau makan sama apa?.Biar Indri ambilin."
" Semuanya aja,nak."
__ADS_1
" Kalau ibu,mau makan sama apa?."
Saat Indri bertanya,ibu terlihat melamun.
' Gak Salsa,gak ibu ngelamun aja dari tadi.Mereka ngelamunin apa si sampai kayak gini?.'
Indri dan ayahnya bertatap tatapan,mereka saling bertanya satu sama lain.
" Ibu,ibu kenapa?,kok melamun?."
Akhirnya ibu tersadar dari lamunannya.
" Gak papa kok yah,perasaan ibu gak enak aja."
" Yasudah nanti kita bicara,sekarang kita makan aja ya jangan melamun lagi."
***
Setelah selesai makan mereka beralih ke ruangan tengah,sedangkan Indri mencuci piring terlebih dahulu.
" Bu,ibu kenapa tadi melamun?.Ibu mikirin apa?."
" Ibu gak tahu yah,dari tadi ibu kepikiran sama Renata.Saat sejak tadi tangan ibu terluka,sampai sekarang ibu masih kepikiran sama dia."
" Iya ya bu,dari tadi ayah juga kepikiran sama dia,dia juga belum pulang dari kemarin.Gak biasa dia kayak gini,biar ayah telepon dia."
Ayah mulai mencari kontak yang bernama Renata,namun sayang ayah tidak menukan nama itu.
" Astaghfirullah,ayah lupa kalau Renata gak punya hp kan bu."
" Enggak bu,dia harus mandiri.Dia udah gede biarin aja dia beli sendiri."
***
RS Harapan Sehati.
Di sebuah ruangan,terlihat Nindi yang mulai mengerjapkan matanya.Dia di temani oleh orang tuanya.
" Kamu,udah sadar nak?."
" Aku dimana,ma?."
Tanya Nindi saat dia sadar bahwa dia bukan berada di dalam kamarnya.
" Kamu,di rumah sakit sayang."
Nindi mengingat ingat kembali apa yang telah terjadi kepada mereka bertiga,bahwa mereka mengalami kecelakaan saat akan mengantarkan Renata ke kafenya.
" Avril,Renata.Ma,dimana mereka?."
" Sayang,kamu tenang dulu ya.Kamu baru sadar lho."
Mama Nindi berusaha menenangkan putrinya itu.
" Gimana mau tenang ma,mereka teman teman Nindi.Nindi mau tahu gimana keadaan mereka,pokoknya Nindi mau lihat mereka ma."
__ADS_1
Nindi berusaha turun dari dari atas belankarnya.
" Nindi Nindi,iya mama tahu kamu khawatir sama mereka,tapi kamu juga harus perhatiin kondisi kamu sekarang."
" Nindi gak peduli ma,yang Nindi inginkan sekarang adalah mengetahui kondisi Avril dan Renata.Nindi gak peduli sama kondisi Nindi sendiri."
" Iya iya,kalau begitu kamu jangan jalan kaki ya.Biar mama ambilkan kursi roda buat kamu,kamu duduk dulu disini mama mau kesana."
Nindi duduk di tepi belankarnya,sambil memikirkan kondisi Renata dan juga Avril.
' Avril,Renata.Semoga kalian baik baik aja ya,maffin aku yang gak becus saat nyetir,dan kalian menjadi korban atas diriku.'
Mama Nindi kembali kesana sambil membawa kursi roda.
" Ayo sini duduk,pelan pelan aja."
Nindi mulai menduduki kursi rodanya,dan ibu pun mendorongnya menuju ruangan Avril terlebih dahulu.
Saat masuk ke dalam ruangannya,Nindi terkejut melihat kondisi Avril yang terbaring di atas belankar,kepala Avril terdapat balutan perban tetapi kondisinya mungkin masih stabil.
" Avril,maafin aku ya.Maafin aku karena udah bikin kamu kayak gini,karena kecerobohan aku sendiri kamu jadi gini gara gara aku."
Nindi menangis di samping Avril sambil memegang tangan temannya itu.
" Nindi,kamu jangan salahkan diri kamu sendiri nak,ini sudah takdir kalian bahwa ini akan terjadi."
" Tapi ma,ini tetap kesalahan Nindi.Kenapa coba harus Avril,kenapa enggak Nindi aja?."
" Kamu seharusnya bersyukur,karena kamu hanya mengalami luka ringan.Jika kamu mengalami luka parah seperti mereka,lalu siapa yang akan selalu menhenguk mereka?.Jangan sedih lagi ya,udah.Kalau gitu sekarang kita lihat kondisi teman kamu yang satu lagi ya,karena kan kamu juga butuh istirahat."
Nindi kembali menaiki kursi rodanya,dan mama kembali mendorongnya.
Saat memasuki ruangannya,dia sangat terkejut melihat kondisi Renata,kondisi Renata sangat parah di bandingkan dengan kondisi Avril,kepala Renata terbalut oleh perban juga terpasang alat oksigen yang menutupi hidungnya,di bagian wajah Renata juga terdapat luka goresan pecahan kaca.
" Renata,ternyata kamu yang terluka parah.Maafin aku ya,aku udah bikin kamu merasakan semua ini.Aku janji,kalau aku akan membayar uang administrasi kamu.Semoga kondisi kamu bisa membaik ya,kamu harus sembuh ya Renata.Aku gak sanggup lihat kamu sama Avril dengan kondisi kayak gini,sekali lagi maafin aku,maafin aku Renata."
Mama Nindi menghampirinya.
" Nindi,sudah ya.Kita kembali lagi ke ruangan kamu.Kamu baru aja siuman loh,kamu juga butuh istirahat,yok kita kembali."
Renata kembali di tinggalkan oleh Nindi dan mamanya,Nindi sangat merasa bersalah kepada Renata dan juga Avril.Kejadian ini,membuat Nindi,Avril dan juga Renata terluka.
.
.
.
.
.
***Bersambung.
Jangan lupa likenya ya,dukung terus saya***......
__ADS_1