
-Kuharap aku akan baik baik saja bersama dengan orang yang paling baik.
" Yang tadi itu,siapa Tar?."
Tanya temannya kepada Akhtar yang sedang merapikan baju.
" Tadi itu,ponakan."
" Hah,masa ponakan lo udah segede gitu?.Gak mungkin,gua gak percaya."
" Yaudah kalau gak percaya,gak papa."
Temannya itu sangat bingung dengan jawaban dari Akhtar,dia masih berpikir mustahil jika itu ponakannya,karena dia melihat kalau Renata itu sudah hampir dewasa.
" Kalau itu ponakan lo,boleh dong."
" Boleh apaan?,awas aja kalo berani deketin dia,gua tampol lo."
" Hahahaa,dia cantik banget sumpah,wajahnya aja terngiangiange."
Dia membayangkan wajah Renata sambil melihat ke atap kamarnya.
Lalu Akhtar melemparkan bantal yang berada di kursi tepat ke wajah temannya itu.
" Aduh,lo apaan si?,main lempar lempar aja."
" Gua tahu,lo pasti lagi ngebayangin wajah ponakan gua kan?,awaa lo."
" Iya iya ah,udah udah gua mau tidur dah larut ni.Sini tidur lo."
" Kayaknya,lu pengen aja gitu ya tidur sama gua."
" Malas banget,naj*s."
" Astaghfirullah,bahasa jaga bahasa."
Akhtar duduk di tepi ranjang sambil memandangi layar handphonenya.
" Aku juga harus tidur,karena besok aku akan bertemu sama Renata."
***
Di jam 01.19 Rubi terbangun karena dia ingin membuang air kecil,Rubi pun menyalakan lampu di kamarnya dan pergi ke kamar mandi.
Saat Rubi akan kembali ke ranjang,tiba tiba saja dia mendengar suara dari arah balkon.
" Hah,suara apa itu?."
Jantung Rubi berdetak dengan sangat kencang,wajahnya mulai berubah menjadi cemas,dia takut ada seseorang yang masuk ke dalam kamarnya.Dia pun berjalan mengendap endap menuju ranjangnya,tetapi suara itu semakin keras,Rubi mencoba untuk membangunkan Renata.
" Renata,Ren,Renata bangun."
Renata hanya bergerak sebentar dan menarik selimbutnya.
" Renata,bangun."
Karena merasa terganggu,Renata pun terbangun dan menanyakan apa yang terjadi kepada Rubi.
__ADS_1
" Ada apa si?,ganggu aja."
" Ren,kamu dengerin deh ada suara dari sana,aku takut banget."
" Ahhh,,,paling juga angin,udah ah tidur lagi,ini masih malam tahu."
Renata kembali merebahkan tubuhnya dan kembali terlelap dalam tidurnya.
Rubi pun ikut menyusul Renata,karena saking takutnya,dia tidur dengan memeluk tubuh Renata yang tidur membelakanginya.
Rubi berusaha memejamkan matanya supaya cepat tertidur dan melupakan semua yang terjadi.
Ternyata suara itu berasal dari pintu balkon yang tidak tertutup rapat setelah Renata pergi dari sana tadi.
***
Di pagi hari Renata sudah selesai mandi,berbeda dengan Rubi yang masih terlelap dalam tidurnya,karena semalam dia tidak bisa kembali tidur.
Renata memesan sarapan untuk pagi ini bersama Rubi,sambil duduk di kursi dan rambut yang masih terbalut dengan handuk,kebetulan saat itu belum adzan subuh dan toko yang di pesankan makanan pun belum buka,Renata pun mengurungkan niatnya,dia membuka handuk yang membalut rambutnya,dan menyisir rambutnya.
Setelah itu Renata melentangkan sejadah di dekat ranjang,dan memakai mukena,sambil menunggu adzan subuh Renata membaca alqur'an yang selalu dibawa olehnya kemana pun dia pergi.
Ayat demi ayat telah bacakan,dan waktu waktu demi waktu semakin berjalan,akhirnya waktu subuh pun telah tiba,terlebih dahulu Renata menunaikan shalat subuh dua raka'at,tidak lupa setelah shalat dia berdo'a untuk di kuatkan iman dan islam,dan selebihnya berdo'a untuk dirinya sendiri.
Jam 10 kemudian.
Renata telah tiba di tempat kemarin dimana dia bertemu dengan Akhtar,Renata sulit untuk menemukan Akhtar di antara banyaknya orang disana.Ternyata di jam pagi seperti ini sangat ramai orang orang disana,tempat yang kemarin Renata pakai pemotretan sekarang di penuhi banyak orang,Renata berusaha mencari tempat kemarin dia bertemu dengan Akhtar.
" Mana si,bang Akhtar dimana ya?."
Renata terus mencari keberadaan Akhtar yang masih belum terlihat.Tiba tiba saat itu ada yang menepuk pundak Renata,Renata langsung memutar tubuhnya dan melihat siapa yang telah menepuk pundaknya,saat Renata melihat ternyata dia seorang peria yang bermata indah hanya saja wajahnya tertutup oleh masker,lalu peria itu membuka maskernya dan ternyata itu adalah Akhtar.
" Ayo kita pergi dari sini,disini banyak orang."
Akhtar menarik tangan Renata,dan membawanya pergi dari sana."
" Kamu udah makan?."
" Udah tadi,sama teman aku di hotel.Oh iya bang,nanti petang kan aku pulang,gimana kalau abang ikut aja sama aku."
" Pulang kemana?,abangkan tinggal di kontrakan nanti kalau di tinggalin bisa marah ibu kontrakannya."
" Gini aja,setelah ini kita pergi ke kontrakan abang.Udah itu kita bicarakan baik baik sama ibu kontrakannya,kalau abang mau pindah,gampang kan?."
" Iya juga ya,tapi abang takut nanti kamu malah ngerepotin kamu disana."
" Abang mah,jangan gitu.Kitakan sodara,jadi gak usah segan lah bang."
" Okelah,abang mau kalau begitu."
" Yeeee,kalau gitu sekarang aja yuk bang ke kontrakannya."
" Yuk."
Renata di bawa oleh Akhtar menaiki motor miliknya,ini adalah pertama kali Renata di bonceng kembali setelah lama tidak bertemu dengan abangnya.
Saat sampai disana,kebetulan temannya Akhtar yang bernama Ciko ada di luar kontrakannya.
__ADS_1
" Wah wah,tu si Akhtar sama cewek cantik itu."
Ciko hanya memperhatikannya dari tempat yang saat ini dia tempati.
" Sekarang abang langsung aja panggil ibu kontrakannya,kita langsung bicara."
" Mending sekarang kita masuk aja dulu,ke dalam."
Kemudian Akhtar membawa Renata masuk ke dalam kontrakannya,saat akan masuk Akhtar berpapasan dengan Ciko yang sedang duduk di kursi yang ada di dekat pintu.
" Selamat datang di rumah kami."
Renata hanya tersenyum melihat perlakuan Ciko yang sangat kocak.
" Apaan,siapin air sana."
Coki menganggukkan kepala sambil matanya tetap memandang Renata.
" Haduh ya allah,mimpi apa gua semalam?.Kalau hari ini gua ketemu sama cewek yang cantik banget."
Ucapnya sambil menuangkan air ke dalam gelas.
Ciko pun membawakan air untuk Renata dan juga Akhtar.
Saat dia kedepan,ternyata disana Akhtar sedang mengobrol dengan ibu pemilik kontrakan.
" Bentar bentar,kok ada ibu kontrak?.Ada apa ni?,bukannya gua sama Akhtar sama gua udah bayar buat bulan ini ya?,tapi kok?,ah udah ah biar gua tanya sama Akhtar nanti."
Ciko meletakkan nampan yang berisi gelas itu.
" Akhirnya,di izinin juga bang.Kalau begitu abang berkemas aja sekarang,siapin semua barang barang yang akan abang bawa,aku udah pesan taxi buat angkut barang barangnya nanti."
" Oke kalau begitu,abang kemasin dulu barangnya ya."
" Oke."
Akhtar pergi ke kamarnya untuk mengemas semua barang barang miliknya,yang mana saat itu Ciko berada disana.
Akhtar mengambil tas besar miliknya,dan mulai memasukkan baju bajunya ke dalam tas tersebut.
" Bentar ni,bentar.Ada apa?,kenapa tiba tiba lo kemasin baju baju lo?,lo mau kemana Tar?."
Akhtar menghentikan aktivitasnya dan menjawab pertanyaan Ciko.
" Gini bro,mulai hari ini gua gak bakalan tinggal disini lagi.Mulai sekarang gua mau pindah ke rumah ponakan gua,jadi ya gua mau kemasin semua barang barang gua,karena gua mau pindah sekarang."
" Lha,nanti gua sendiri dong disini?.Ah lu,gimana si,lu tega lu tinggalin gua disini."
Akhtar kembali dengan aktivitasnya.
" Ya,mau gimana lagi.Gua juga berat si pergi dari sini,cuman ponakan gua lebih butuh gua,maaf ya bro,gua harus pergi dari sini,tenang aja untuk tiga bulan kedepan lo gak usah bayar kontrakan,karena udah gua bayarin."
" Iya deh kalau gitu,tapi lu jangan lupain gua.Lu harus ingat terus sama gua."
" Iya,tenang aja.Sekarang tolong bantuin akut barang barangnya ke depan."
Ciko sangat berat untuk di tinggalkan Akhtar,karena baginya Akhtar sudah menjadi kakak plus sahabat terbaik untuknya,dan sekarang dia akan pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Ciko pun membantu mengankat barang barang Akhtar dan memasukkannya ke dalam bagasi taxi.
Bersambung.